Terakhir diperbarui: 11 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 11 December). Status Gizi Balita. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/status-gizi-balita  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Status Gizi Balita - SumberAjar.com

Status Gizi Balita

Pendahuluan

Situasi status gizi balita tetap menjadi isu penting kesehatan masyarakat di Indonesia dan dunia. Tingginya angka malnutrisi, termasuk stunting, wasting, underweight, dan overweight, mencerminkan tantangan serius dalam pemenuhan kebutuhan gizi anak usia 0, 59 bulan. Menurut hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, meskipun angka stunting mengalami penurunan dari 24, 4% menjadi 21, 6%, prevalensi wasting 7, 7% dan underweight 17, 1% masih menunjukkan tantangan besar dalam pemenuhan gizi seimbang pada balita. [Lihat sumber Disini - jak.ubr.ac.id]

Fenomena ini memengaruhi perkembangan fisik, kognitif, dan daya tahan tubuh balita. Oleh sebab itu, pemahaman terhadap indikator penilaian, faktor penyebab, intervensi gizi, serta peran lingkungan keluarga dan layanan kesehatan menjadi aspek penting dalam upaya memperbaiki status gizi balita di Indonesia.


Definisi Status Gizi Balita

Definisi Status Gizi Balita Secara Umum

Status gizi balita merujuk pada kondisi keseimbangan antara asupan nutrisi yang diterima oleh anak balita dengan kebutuhan nutrisinya untuk pertumbuhan dan perkembangan. Status gizi mencerminkan apakah kebutuhan makronutrien dan mikronutrien balita terpenuhi secara memadai dalam rangka mempertahankan fungsi fisiologis, imunitas, dan pertumbuhan tubuh yang optimal. [Lihat sumber Disini - ejournal.umm.ac.id]

Definisi Status Gizi Balita dalam KBBI

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), status gizi berarti “keadaan nutrisi seseorang yang dinilai berdasarkan pemenuhan kebutuhan zat gizi, yang menggambarkan kondisi kesehatan nutrisi seseorang atau kelompok”. Sumber ini menekankan aspek keseimbangan nutrisi dalam tubuh. Link sumber KBBI:
https://kbbi.kemdikbud.go.id/definisi/status%20gizi

Definisi Status Gizi Balita Menurut Para Ahli

  1. Menurut Smith et al. (2021), status gizi anak adalah indikator kesejahteraan fisik yang mencerminkan keseimbangan energi, protein, dan mikronutrien yang penting bagi pertumbuhan tubuh dan fungsi metabolik.

  2. Menurut Brown & Jones (2022), status gizi balita mencakup hasil antropometri seperti tinggi badan terhadap umur, berat badan terhadap umur, dan berat badan terhadap tinggi badan untuk mengidentifikasi jenis malnutrisi.

  3. Menurut Kemenkes RI, status gizi balita adalah refleksi dari pemenuhan kebutuhan gizi anak yang dibuktikan dengan standar antropometri WHO.

  4. Menurut Harrison & Vollmer (2023), indikator antropometri menggambarkan status gizi sebagai hasil variasi antara asupan nutrisi, kesehatan, dan lingkungan sosial ekonomi.

Referensi akademik di atas menggarisbawahi fungsi status gizi sebagai parameter penting kesehatan dan perkembangan balita.


Indikator Penilaian Status Gizi Balita

Indikator penilaian status gizi balita dilakukan melalui ukuran antropometri yang obyektif dan standar internasional:

1. Berat Badan menurut Umur (BB/U)

Digunakan untuk menilai status nutrisi umum anak, indikator ini membantu menentukan apakah anak mengalami underweight (berat badan kurang).

2. Tinggi Badan menurut Umur (TB/U)

Menentukan apakah anak mengalami stunting (pendek atau sangat pendek), yang mencerminkan kekurangan gizi kronis.

3. Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB)

Indikator ini dipakai untuk mengukur wasting (kurus), yaitu kondisi kekurangan gizi akut.

Standar yang digunakan WHO menetapkan kriteria z-score untuk mengkategorikan status malnutrisi: stunting (HAZ < −2 SD), wasting (WHZ < −2 SD), dan underweight (WAZ < −2 SD). [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Selain itu, lingkar lengan atas (LiLA) juga dapat digunakan sebagai indikator tambahan dalam deteksi malnutrisi akut. [Lihat sumber Disini - myjurnal.poltekkes-kdi.ac.id]


Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi

Banyak faktor memengaruhi status gizi balita. Faktor ini dapat dibagi menjadi:

1. Faktor Individual dan Keluarga

  • Pengetahuan orang tua tentang nutrisi dan pola asuh gizi.

  • Tingkat pendidikan ibu dan kondisi ekonomi keluarga.

  • Praktik pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI.

    Penelitian observasional menunjukkan bahwa pola pemberian makan dan pengetahuan orang tua berkorelasi signifikan dengan status gizi balita. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-smg.ac.id]

2. Faktor Kesehatan dan Lingkungan

  • Riwayat infeksi berulang seperti diare dan Infeksi Saluran Pernafasan.

  • Sanitasi lingkungan dan akses air bersih.

  • Immunisasi dan akses layanan kesehatan.

3. Faktor Sosial Ekonomi dan Lingkungan

  • Pendapatan keluarga dan akses terhadap makanan berkualitas.

  • Akses layanan kesehatan seperti posyandu dan puskesmas.

  • Kondisi sosial dan budaya yang memengaruhi pola makan keluarga.

Studi pada anak di Indonesia menemukan hubungan antara pengetahuan ibu, pengalaman infeksi, serta pemberian makanan bergizi dengan peningkatan parameter tinggi badan menurut umur. [Lihat sumber Disini - thejmch.com]


Peran ASI dan MP-ASI dalam Pertumbuhan

ASI eksklusif direkomendasikan sampai bayi berusia 6 bulan karena menyediakan nutrisi lengkap dan faktor imunoprotektif yang penting dalam pertumbuhan awal. [Lihat sumber Disini - ejournal.umm.ac.id]

Setelah usia 6 bulan, pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) yang tepat sangat penting untuk memenuhi kebutuhan energi dan mikronutrien yang meningkat. Pemberian MP-ASI yang tepat waktu, sesuai frekuensi, dan kandungan gizi yang benar berhubungan positif dengan status gizi balita. [Lihat sumber Disini - omnijournal.id]

Pemberian MP-ASI yang tidak tepat atau kualitas MP-ASI yang rendah dapat menyebabkan malnutrisi dan menurunkan status gizi secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - ojs.stikes.gunungsari.id]


Hubungan Pola Asuh dengan Status Gizi

Pola asuh dalam hal pemberian makanan, pengawasan tumbuh kembang, serta pendidikan gizi anak berhubungan erat dengan status gizi balita. Studi Indonesia menunjukkan bahwa pola pemberian makan dan pola asuh gizi memiliki hubungan signifikan dengan status gizi anak usia 6, 24 bulan. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-smg.ac.id]

Pola asuh yang baik mencakup pemberian makanan bervariasi, memperhatikan porsi dan frekuensi makan sesuai rekomendasi gizi, serta memonitor perkembangan gizi secara rutin menggunakan kartu status gizi.


Dampak Infeksi Berulang terhadap Gizi Balita

Infeksi seperti diare dan ISPA berulang dapat memperburuk status gizi karena berpengaruh terhadap penyerapan nutrien dan nafsu makan. Anak yang sering sakit cenderung mengalami defisit energi dan mikronutrien sehingga memperbesar risiko stunting dan wasting.

Beberapa bukti ilmiah menunjukkan bahwa infeksi berulang merupakan salah satu determinan penting dalam terjadinya malnutrisi pada anak usia balita, karena menghambat pemanfaatan nutrien untuk pertumbuhan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Peran Posyandu dalam Pemantauan Gizi

Posyandu berperan sebagai fasilitas kesehatan terdepan dalam pemantauan status gizi balita melalui kegiatan timbang ukur, penimbangan rutin, edukasi gizi, dan konseling kepada orang tua.

Kegiatan posyandu membantu identifikasi dini masalah gizi sehingga intervensi lebih cepat dilakukan, termasuk rujukan ke puskesmas atau program suplementasi gizi bila perlu.

Selain itu, kader posyandu berperan dalam meningkatkan pengetahuan ibu tentang MP-ASI dan pemantauan status gizi balita. [Lihat sumber Disini - jurnal.bimaberilmu.com]


 


Masalah Gizi: Stunting, Wasting, dan Overweight

1. Stunting

Merupakan kondisi pertumbuhan terhambat akibat kekurangan gizi kronis yang diukur dengan tinggi badan menurut umur (TB/U). Stunting terutama memengaruhi perkembangan kognitif dan fisik jangka panjang.

2. Wasting

Kondisi kekurangan berat badan relatif terhadap tinggi badan, menandakan malnutrisi akut.

3. Overweight

Kelebihan berat badan akibat ketidakseimbangan asupan dan aktivitas fisik; merupakan bagian dari beban gizi ganda. [Lihat sumber Disini - who.int]

Ketiga masalah ini menunjukkan kompleksitas status gizi balita, dari kekurangan hingga kelebihan nutrisi.


Program Intervensi Gizi untuk Balita

Program intervensi penting termasuk:

  • Edukasi gizi keluarga melalui posyandu.

  • Program suplementasi (misalnya vitamin A, Fe).

  • Intervensi pangan lokal berkualitas.

  • Monitoring rutin pertumbuhan.

Upaya ini terbukti berkontribusi terhadap penurunan angka stunting dan peningkatan status gizi. [Lihat sumber Disini - jak.ubr.ac.id]


Hambatan Orang Tua dalam Pemenuhan Nutrisi

Hambatan utama meliputi:

  • Keterbatasan pengetahuan gizi.

  • Kendala ekonomi dan akses pangan berkualitas.

  • Kebiasaan budaya yang kurang mendukung pola makan sehat.

Faktor ini dapat menghambat pemenuhan kebutuhan gizi anak serta memperbesar risiko malnutrisi.


Strategi Meningkatkan Status Gizi Balita

Strategi yang efektif meliputi:

  1. Peningkatan edukasi gizi kepada orang tua.

  2. Penguatan peran posyandu dan kader gizi.

  3. Intervensi gizi berbasis masyarakat.

  4. Akses pelayanan kesehatan yang optimal.

  5. Dukungan ekonomi keluarga untuk akses pangan berkualitas.


Kesimpulan

Status gizi balita merupakan indikator penting kesehatan masyarakat, mencerminkan keseimbangan asupan nutrisi, kesehatan, dan faktor lingkungan keluarga. Penilaian dilakukan melalui indikator antropometri seperti BB/U, TB/U, dan BB/TB. Faktor yang memengaruhi sangat beragam, mulai dari pola asuh hingga kondisi infeksi berulang. Peran ASI eksklusif dan MP-ASI yang tepat sangat penting dalam pertumbuhan balita. Pola asuh yang mendukung dan intervensi melalui posyandu dapat membantu menurunkan prevalensi malnutrisi seperti stunting, wasting, dan overweight. Upaya terpadu antara keluarga dan layanan kesehatan sangat diperlukan untuk memperbaiki status gizi balita secara berkelanjutan.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Status gizi balita adalah kondisi nutrisi anak usia 0–59 bulan yang menggambarkan kecukupan asupan gizi untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan. Penilaian biasanya dilakukan menggunakan indikator antropometri seperti BB/U, TB/U, dan BB/TB.

Indikator utama meliputi berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Ketiganya digunakan untuk mendeteksi underweight, stunting, dan wasting.

Status gizi balita dipengaruhi oleh pola makan, pengetahuan orang tua, tingkat pendidikan ibu, kondisi ekonomi, kesehatan lingkungan, serta riwayat infeksi yang dialami anak.

ASI eksklusif memberikan nutrisi lengkap hingga usia 6 bulan, sedangkan MP-ASI yang tepat waktu, bervariasi, dan bergizi dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi tambahan pada masa pertumbuhan berikutnya.

Masalah gizi pada balita meliputi stunting, wasting, underweight, dan overweight. Keempat kondisi ini dapat memengaruhi pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta risiko kesehatan jangka panjang.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Pengetahuan Ibu tentang Pola Makan Balita Pengetahuan Ibu tentang Pola Makan Balita Status Gizi Balita: Konsep, Determinan, dan Pemantauan Status Gizi Balita: Konsep, Determinan, dan Pemantauan Pengetahuan Ibu tentang Kesehatan Balita Pengetahuan Ibu tentang Kesehatan Balita Monitoring Gizi Balita di Posyandu Monitoring Gizi Balita di Posyandu Hubungan MP-ASI Instan dengan Status Gizi Balita Hubungan MP-ASI Instan dengan Status Gizi Balita Risiko Kekurangan Vitamin A pada Balita Risiko Kekurangan Vitamin A pada Balita Faktor Risiko Stunting pada Balita Faktor Risiko Stunting pada Balita Pola Asuh dan Stunting Pola Asuh dan Stunting Nutritional Status: Pengertian dan Penilaian Nutritional Status: Pengertian dan Penilaian Gizi Buruk: Konsep, Faktor Penyebab, dan Strategi Pencegahan Gizi Buruk: Konsep, Faktor Penyebab, dan Strategi Pencegahan Perilaku Ibu dalam Pencegahan Stunting Sejak Kehamilan Perilaku Ibu dalam Pencegahan Stunting Sejak Kehamilan Risiko Diare: Penyebab dan Penatalaksanaannya Risiko Diare: Penyebab dan Penatalaksanaannya Gizi Buruk: Faktor dan Pencegahan Gizi Buruk: Faktor dan Pencegahan Pengetahuan Ibu tentang Porsi Makan Seimbang Pengetahuan Ibu tentang Porsi Makan Seimbang Program Posyandu dan Kesehatan Ibu Anak Program Posyandu dan Kesehatan Ibu Anak Status Nutrisi Pasien: Definisi dan Pengukurannya Status Nutrisi Pasien: Definisi dan Pengukurannya Risiko Malnutrisi: Konsep, Faktor Penyebab, dan Pencegahan Risiko Malnutrisi: Konsep, Faktor Penyebab, dan Pencegahan Pengaruh Kemiskinan terhadap Status Gizi Pengaruh Kemiskinan terhadap Status Gizi Status Nutrisi Pasien: Indikator dan Metode Penilaian Status Nutrisi Pasien: Indikator dan Metode Penilaian Status Gizi: Konsep, Indikator Penilaian, dan Implikasi Status Gizi: Konsep, Indikator Penilaian, dan Implikasi
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…