Terakhir diperbarui: 13 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 13 December). Pola Asuh dan Stunting. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/pola-asuh-dan-stunting  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Pola Asuh dan Stunting - SumberAjar.com

Pola Asuh dan Stunting

Pendahuluan

Stunting atau pertumbuhan gagal pada balita merupakan salah satu persoalan kesehatan masyarakat yang kompleks dan multidimensional yang masih menjadi tantangan utama di banyak wilayah, termasuk Indonesia. Stunting ditandai oleh tinggi badan yang lebih rendah dari standar usia anak akibat defisit gizi kronis yang berlangsung sejak masa kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupan. Dampaknya sangat luas, mulai dari gangguan perkembangan kognitif, imunitas yang lemah, sampai keterbatasan produktivitas di masa dewasa. Berbagai faktor sosio-kultural, ekonomi, perilaku pengasuhan, serta akses terhadap gizi berkualitas menjadi determinan utama kejadian stunting. Pola asuh orang tua khususnya ibu memiliki peran penting dalam menentukan pola makan, stimulasi psikososial, kebersihan, serta perilaku pencegahan kesehatan pada balita.
Hubungan antara pola asuh dan kejadian stunting telah banyak dibahas di berbagai studi ilmiah, yang menunjukkan bahwa praktik pengasuhan dan pemberian makan yang tepat dapat meminimalkan risiko stunting, sedangkan pola asuh yang kurang baik berpotensi meningkatkan kemungkinan terjadinya pertumbuhan tumbuh yang tidak optimal. Faktor pengetahuan ibu tentang gizi, frekuensi pemberian makan, serta keterlibatan keluarga dalam pengasuhan menjadi variabel penting yang perlu diperhatikan dalam intervensi pencegahan stunting. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]


Definisi Pola Asuh dan Stunting

Definisi Pola Asuh dan Stunting Secara Umum

Pola asuh secara umum mencakup cara orang tua atau pengasuh memberikan pengasuhan, pendidikan, kasih sayang, dan aturan kepada anak. Dalam konteks kesehatan dan gizi, pola asuh juga melibatkan bagaimana orang tua merencanakan serta memberikan makan, stimulasi psikososial, pemantauan pertumbuhan, serta praktik kebersihan dan sanitasi. Sementara stunting secara umum merupakan kondisi di mana anak memiliki tinggi badan di bawah standar usia karena defisit gizi kronis dan faktor lingkungan yang tidak mendukung pertumbuhan optimal.

Definisi Pola Asuh dan Stunting dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pola asuh diartikan sebagai cara atau gaya dalam membesarkan dan mendidik anak, mencakup ketegasan, dukungan, serta disiplin yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari anak. Sementara stunting tidak secara eksplisit didefinisikan di KBBI sebagai istilah teknis kesehatan, tetapi biasanya dijelaskan sebagai kondisi kurang tinggi badan akibat pertumbuhan yang terhambat. Untuk definisi stunting yang resmi biasanya merujuk pada standar pertumbuhan WHO yang mengukur tinggi menurut usia anak.

Definisi Pola Asuh dan Stunting Menurut Para Ahli

  1. Menurut Siti Sholikha dkk, pola asuh mencakup perilaku pemberian makanan, praktik pemberian makanan pendamping ASI, serta kegiatan stimulasi yang diberikan orang tua yang berpengaruh terhadap pertumbuhan balita, termasuk stunting. [Lihat sumber Disini - midwiferia.umsida.ac.id]

  2. Munawar dalam reviewnya menyatakan bahwa parenting and feeding practices merupakan proses interaksi antara orang tua dan anak yang berkaitan dengan pemberian makanan serta pengasuhan emosional yang dapat memengaruhi perilaku makan dan pertumbuhan anak. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]

  3. Studi Putri menunjukkan bahwa pola asuh ibu tidak hanya makan tetapi juga stimulasi psikososial, sanitasi, dan penggunaan layanan kesehatan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak. [Lihat sumber Disini - fmj.fk.umi.ac.id]

  4. Siboro menyatakan bahwa pola asuh makan dan pengetahuan orang tua merupakan faktor dominan dalam kejadian stunting, di mana praktik pemberian makan yang tidak memadai secara signifikan meningkatkan risiko anak mengalami stunting. [Lihat sumber Disini - journal-jps.com]


Hubungan Pola Asuh Makan dengan Status Gizi Balita

Hubungan antara pola asuh makan dan status gizi balita telah menjadi fokus banyak penelitian di Indonesia. Studi empiris menunjukkan bahwa pola pemberian makanan yang tepat dan konsisten memiliki pengaruh signifikan terhadap status gizi anak. Misalnya, hasil penelitian di Bekasi menunjukkan bahwa pola asuh pemberian makan yang baik terkait dengan status gizi yang normal pada anak usia 3-6 tahun, di mana mayoritas anak dengan pola asuh baik memiliki status gizi normal. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]

Selain itu, penelitian di beberapa wilayah lain juga mengidentifikasi bahwa pola asuh ibu dan pola pemberian makanan berhubungan dengan kejadian stunting. Pola asuh ibu yang baik dan pola makan yang tepat dapat mencegah anak mengalami stunting, karena anak memperoleh asupan nutrisi yang cukup dan seimbang sesuai kebutuhan tumbuh kembangnya. [Lihat sumber Disini - journal.unhasa.ac.id]

Faktor ini mencakup pemberian makanan bergizi, frekuensi makan, serta cara orang tua memotivasi anak untuk makan makanan bergizi. Ketika pola asuh makan kurang baik, misalnya pemberian makanan yang tidak sesuai kebutuhan nutrisi, kurangnya variasi gizi, atau praktik makan yang buruk, anak lebih berisiko mengalami gizi buruk sampai stunting. Pola asuh makan pun terbukti berkorelasi secara signifikan dengan status gizi balita dalam banyak studi, meskipun di beberapa penelitian hasilnya bervariasi tergantung faktor lain seperti sanitasi dan pengetahuan ibu. [Lihat sumber Disini - journal.yp3a.org]

Dalam konteks stunting, pemberian makan yang tepat mencakup pemberian makanan yang kaya protein, vitamin, mineral, dan cukup kalori, serta penerapan pemberian makan yang rutin dan sesuai anjuran usia, yang selaras dengan prinsip gizi seimbang. Praktik ini harus didukung oleh pengawasan orang tua terhadap apa yang anak makan serta kesadaran pentingnya makanan bergizi bagi tumbuh kembang anak. Pola pemberian makan yang baik menjadi landasan bagi status gizi yang optimal pada balita dan berperan penting dalam pencegahan stunting. [Lihat sumber Disini - ejurnaladhkdr.com]


Pengaruh Pengetahuan Ibu pada Perilaku Pengasuhan

Pengetahuan ibu tentang gizi dan kesehatan anak merupakan salah satu determinan penting dalam perilaku pengasuhan dan pola asuh makan yang diterapkan di rumah. Ibu yang memiliki pengetahuan baik tentang kebutuhan gizi anak cenderung mampu memberikan makanan yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi balita serta mampu menerapkan praktik pengasuhan yang mendukung tumbuh kembang optimal.

Berbagai studi menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan ibu berhubungan erat dengan perilaku pemberian makan dan pola asuh yang diterapkan. Misalnya, penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan ibu dengan pola asuh makan berkorelasi signifikan; semakin tinggi pengetahuan ibu tentang nutrisi, semakin baik praktik pola asuh makan yang diterapkan, yang pada gilirannya berpotensi memperbaiki status gizi anak. [Lihat sumber Disini - online-journal.unja.ac.id]

Namun beberapa penelitian lainnya menemukan bahwa hubungan antara pengetahuan gizi ibu dan status gizi anak tidak selalu signifikan jika hanya dilihat secara langsung tanpa mempertimbangkan faktor lain seperti akses pangan, kondisi ekonomi keluarga, serta praktik pola asuh secara menyeluruh. Ini menunjukkan bahwa meskipun pengetahuan ibu penting, keberhasilan mencegah stunting juga dipengaruhi oleh faktor sosial dan lingkungan lain yang saling berinteraksi. [Lihat sumber Disini - jurnal.politeknikyakpermas.ac.id]

Pengetahuan ibu yang baik membantu ibu memahami kebutuhan nutrisi anak berdasarkan usia, mengenali tanda-tanda gizi buruk, serta menerapkan strategi pemberian makan yang benar seperti memberikan makanan yang kaya gizi, variasi makanan yang cukup, serta stimulasi yang tepat untuk mendukung tumbuh kembang. Kesadaran ini memberi dasar kuat bagi praktik pola asuh yang sehat, termasuk pengawasan makan, respon terhadap tanda lapar dan kenyang, serta pengaturan jadwal makan yang konsisten. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]


Faktor Emosional dan Psikologis dalam Pola Asuh

Aspek emosional dan psikologis pengasuhan memainkan peran tak kalah penting dalam pola asuh yang memengaruhi perkembangan anak, termasuk potensi risiko stunting. Pola asuh yang penuh kasih sayang, responsif terhadap kebutuhan anak, serta mampu memberikan stimulasi emosional yang positif dapat mendukung interaksi makan yang sehat dan perilaku makan anak yang baik. Sebaliknya, pola asuh yang penuh tekanan, kurang responsif, atau tidak konsisten dapat mengganggu hubungan orang tua dan anak, yang akhirnya berdampak pada kebiasaan makan dan kesejahteraan emosional anak.

Penelitian yang menelaah pola asuh dalam konteks psikososial menunjukkan bahwa stimulasi psikososial yang baik berkaitan dengan praktik pengasuhan yang sehat, termasuk memberikan respon positif terhadap keinginan dan kebutuhan anak. Ketika stimulasi psikososial diberikan bersama praktik pemberian makan yang tepat, anak cenderung merasa aman saat makan, menunjukkan respons makan yang lebih baik, dan memperoleh asupan gizi yang memadai. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]

Faktor emosi dan psikologis juga terkait dengan kesiapan ibu dalam menerapkan pola asuh yang baik. Tekanan stres, kurangnya dukungan sosial, serta dinamika keluarga yang kurang harmonis dapat menghambat proses pengasuhan yang ideal. Anak yang tumbuh dalam lingkungan emosional yang stabil cenderung menunjukkan perilaku makan yang lebih baik serta respon kesehatan yang lebih optimal dibandingkan anak yang mengalami stres emosional di keluarga.

Secara keseluruhan, aspek psikologis ini menunjukkan bahwa pola asuh yang efektif harus memperhatikan tidak hanya pemberian makanan tetapi juga keadaan emosional dan interaksi antara orang tua dan anak sebagai pondasi tumbuh kembang yang sehat.


Peran Keterlibatan Keluarga dalam Pencegahan Stunting

Keterlibatan keluarga secara luas, tidak hanya ibu tetapi juga ayah, saudara, dan pengasuh lain, berkontribusi signifikan terhadap keberhasilan pencegahan stunting. Keluarga yang terlibat aktif dalam pengasuhan menyediakan lingkungan yang mendukung pemberian makanan bergizi, stimulasi psikososial, serta kebiasaan hidup sehat yang konsisten.

Dalam pencegahan stunting, dukungan emosional, pembagian tugas dalam pemberian makan, serta pendidikan keluarga tentang kebutuhan gizi anak meningkatkan kemampuan memberikan asupan yang tepat sesuai usia. Keluarga yang mendukung ibu dalam praktik pemberian makan mempunyai peluang lebih baik untuk memastikan asupan gizi yang konsisten dan cukup bagi balita.

Peran keluarga juga mencakup pengawasan terhadap kebiasaan makan, kesehatan lingkungan rumah, serta upaya bersama dalam menjaga kebersihan dan sanitasi, yang merupakan elemen penting dalam mencegah infeksi dan gangguan kesehatan lain yang memperburuk status gizi.


Dampak Pola Asuh Tidak Tepat terhadap Pertumbuhan

Pola asuh yang kurang tepat dapat memperburuk risiko stunting dan berbagai gangguan pertumbuhan pada anak. Ketika pola pemberian makanan tidak memperhatikan kebutuhan nutrisi anak, misalnya kurangnya variasi makanan, frekuensi makan yang tidak sesuai, atau respons orang tua yang tidak tepat terhadap kebutuhan anak, asupan nutrisi menjadi tidak optimal, sehingga anak lebih rentan terhadap defisit gizi kronis.

Akibatnya, anak dapat mengalami gangguan pertumbuhan seperti tinggi badan kurang dari standar usia, gangguan perkembangan kognitif, serta sistem kekebalan tubuh yang lemah. Dampak ini dapat bersifat jangka panjang, tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik tetapi juga kemampuan belajar serta kualitas hidup di masa dewasa.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa praktik pola asuh yang buruk dikaitkan dengan kejadian stunting yang lebih tinggi dibandingkan dengan pola asuh yang baik. Ini menunjukkan bahwa selain faktor ekonomi dan akses pangan, praktik pengasuhan dan pemberian makan yang kurang optimal juga merupakan determinan kuat dalam pertumbuhan anak. [Lihat sumber Disini - midwiferia.umsida.ac.id]


Kesimpulan

Pola asuh, terutama yang berkaitan dengan pemberian makanan dan praktik pengasuhan sehat, memiliki hubungan erat dengan status gizi dan risiko stunting pada balita. Pola asuh makan yang baik berperan dalam memastikan asupan nutrisi yang cukup dan seimbang, sedangkan pola asuh yang kurang baik dapat meningkatkan risiko anak mengalami stunting. Pengetahuan ibu tentang gizi serta keterlibatan keluarga merupakan faktor pendukung penting dalam praktik pengasuhan yang efektif. Aspek emosional dan psikologis juga memengaruhi hubungan makan anak dan respons keluarga terhadap kebutuhan nutrisi. Secara keseluruhan, pendekatan yang komprehensif terhadap pola asuh dan pemberian makan yang melibatkan seluruh keluarga serta dukungan lingkungan sangat penting untuk mencegah stunting dan memastikan tumbuh kembang optimal pada balita.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Pola asuh berpengaruh pada asupan gizi, kebiasaan makan, kebersihan, serta stimulasi psikososial anak. Pola asuh yang kurang baik dapat menyebabkan kekurangan nutrisi jangka panjang yang memicu stunting.

Pola asuh makan yang tepat memastikan anak mendapatkan nutrisi lengkap sesuai usia. Pemberian makan yang tidak teratur, tidak bergizi, atau tidak sesuai kebutuhan dapat menyebabkan gizi buruk hingga stunting.

Ibu yang memiliki pengetahuan gizi yang baik lebih mampu menentukan jenis, porsi, dan frekuensi makanan yang tepat, sehingga membantu mencukupi nutrisi anak secara optimal.

Pola asuh yang tidak tepat dapat menyebabkan kurang gizi kronis, gangguan pertumbuhan tinggi badan, perkembangan kognitif terhambat, serta peningkatan risiko stunting.

Keluarga berperan dalam mendukung pola makan sehat, menjaga kebersihan rumah, memberi stimulasi, serta memberikan dukungan emosional dan pengasuhan yang konsisten untuk mencegah stunting.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Perilaku Ibu dalam Pencegahan Stunting Sejak Kehamilan Perilaku Ibu dalam Pencegahan Stunting Sejak Kehamilan Stunting dan Faktor Perilaku Stunting dan Faktor Perilaku Hubungan Sanitasi dan Stunting Hubungan Sanitasi dan Stunting Pengetahuan Ibu tentang Pencegahan Stunting Pengetahuan Ibu tentang Pencegahan Stunting Stunting: Pengertian dan Penyebab Stunting: Pengertian dan Penyebab Stunting: Konsep, Determinan Gizi, dan Pencegahan Stunting: Konsep, Determinan Gizi, dan Pencegahan Faktor Risiko Stunting pada Balita Faktor Risiko Stunting pada Balita Pencegahan Stunting Berbasis Keluarga Pencegahan Stunting Berbasis Keluarga Monitoring Gizi Balita di Posyandu Monitoring Gizi Balita di Posyandu Status Gizi Balita Status Gizi Balita Pengetahuan Ibu tentang Sumber Protein Hewani Pengetahuan Ibu tentang Sumber Protein Hewani Pengaruh Kemiskinan terhadap Status Gizi Pengaruh Kemiskinan terhadap Status Gizi Sanitasi Lingkungan: Konsep, risiko kesehatan, dan pencegahan Sanitasi Lingkungan: Konsep, risiko kesehatan, dan pencegahan Pengaruh Edukasi Gizi terhadap Asupan Makanan Ibu Hamil Pengaruh Edukasi Gizi terhadap Asupan Makanan Ibu Hamil Gizi Buruk: Faktor dan Pencegahan Gizi Buruk: Faktor dan Pencegahan Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Susu Pertumbuhan Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Susu Pertumbuhan Gizi Seimbang pada Anak Gizi Seimbang pada Anak Status Gizi Balita: Konsep, Determinan, dan Pemantauan Status Gizi Balita: Konsep, Determinan, dan Pemantauan Pola Makan Selama Kehamilan Pola Makan Selama Kehamilan Gangguan Pola Nutrisi: Faktor dan Penatalaksanaan Gangguan Pola Nutrisi: Faktor dan Penatalaksanaan
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…