Terakhir diperbarui: 13 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 13 December). Pengetahuan Ibu tentang Pola Makan Balita. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/pengetahuan-ibu-tentang-pola-makan-balita  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Pengetahuan Ibu tentang Pola Makan Balita - SumberAjar.com

Pengetahuan Ibu tentang Pola Makan Balita

Pendahuluan

Periode balita (usia 1, 5 tahun) merupakan fase penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak yang sangat dipengaruhi oleh kecukupan gizi. Asupan nutrisi yang tepat pada balita dapat menentukan kemampuan fisik, daya tahan terhadap penyakit, perkembangan kognitif, serta kualitas hidup anak di masa mendatang. Di Indonesia, masalah gizi pada balita, termasuk kekurangan gizi kronis seperti stunting dan gizi kurang lainnya, masih menjadi tantangan utama kesehatan masyarakat. Salah satu faktor utama yang menentukan tercapainya pola makan yang sehat dan kebutuhan nutrisi balita adalah pengetahuan ibu sebagai pengasuh utama dalam keluarga tentang gizi dan pola makan yang seimbang. Pengetahuan ibu akan memengaruhi keputusan pemberian makanan, pemilihan jenis makanan, serta pemahaman tentang pentingnya memenuhi kebutuhan nutrisi mikro dan makro untuk pertumbuhan optimal. Penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan ibu dapat berkorelasi dengan status gizi balita; ibu dengan pengetahuan gizi yang baik cenderung memberikan pola makan lebih sehat sehingga mendukung pertumbuhan optimal pada balita. [Lihat sumber Disini - ojs3.poltekkes-mks.ac.id]


Definisi Pengetahuan Ibu tentang Pola Makan Balita

Definisi Pengetahuan Ibu tentang Pola Makan Balita Secara Umum

Pengetahuan dalam konteks kesehatan merujuk pada kumpulan informasi dan pemahaman yang dimiliki individu tentang suatu aspek, dalam hal ini tentang makanan dan nutrisi yang mendukung tumbuh kembang balita. Pengetahuan ibu tentang pola makan balita mencakup pemahaman mengenai jenis makanan yang sehat, frekuensi makan yang tepat, komposisi gizi (karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral), serta kebutuhan energi sesuai dengan tahap pertumbuhan anak. Pengetahuan yang baik memungkinkan ibu untuk merencanakan menu bergizi yang memenuhi kebutuhan nutrisi balita sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak berjalan optimal dan risiko gizi buruk dapat ditekan. Selain itu, pengetahuan ini juga mencakup pemahaman tentang bahaya pemberian makanan yang tidak sehat seperti makanan ultra-proses atau tinggi gula yang dapat memicu masalah kesehatan jangka panjang. [Lihat sumber Disini - genius.inspira.or.id]

Definisi Pengetahuan Ibu tentang Pola Makan Balita dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengetahuan adalah “hasil tangkapan indra atau akal pikiran yang dimiliki seseorang tentang sesuatu sebagai hasil belajar dari pengalaman atau pendidikan” (KBBI Online). Dalam konteks ini, pengetahuan ibu tentang pola makan balita berarti kumpulan informasi, fakta, dan pemahaman yang diperoleh oleh ibu mengenai pola makan yang tepat, kebutuhan nutrisi balita, serta praktik pemberian makanan yang sehat dan sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan anak usia dini. Pola makan sendiri dalam KBBI diartikan sebagai “cara atau kebiasaan mengatur jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari.” Sehingga secara bahasa ini berarti ibu menguasai cara memilih, menyiapkan, dan mengatur jadwal makan balita sesuai kebutuhan tubuh mereka.

(Sumber: KBBI Online, akses langsung KBBI untuk istilah “pengetahuan” dan “pola makan”.)

Definisi Pengetahuan Ibu tentang Pola Makan Balita Menurut Para Ahli

  1. Sutrisno et al. (2023) menyatakan bahwa pengetahuan gizi orang tua, khususnya ibu, merupakan faktor penting yang mempengaruhi kemampuan untuk menyediakan makanan yang sesuai kebutuhan gizi anak. Pengetahuan ini mencakup pemilihan bahan makanan, penyusunan menu, serta tingkat penerapan prinsip gizi seimbang dalam asupan harian anak. [Lihat sumber Disini - genius.inspira.or.id]

  2. Amel et al. (2023) menjelaskan bahwa pemahaman ibu tentang nutrisi berperan dalam kemampuan memilih jenis makanan yang tepat, menentukan porsi, serta menyesuaikan dengan kebutuhan energi dan zat gizi penting bagi balita agar tumbuh dan berkembang secara optimal. [Lihat sumber Disini - genius.inspira.or.id]

  3. Handayani & Sulistyowati (2021) dalam penelitian gizi anak balita menyebutkan bahwa pengetahuan ibu bukan saja soal kemampuan teori, tetapi juga pengalaman praktis dalam memilih dan menyiapkan makanan bergizi pada balita sehingga dapat meminimalkan risiko gizi kurang atau kelebihan gizi. [Lihat sumber Disini - ejournal.unklab.ac.id]

  4. Artini et al. (2024) menekankan pentingnya pengetahuan ibu dalam hubungan dengan pola pemberian makanan pada balita, menunjukkan bahwa ibu yang memahami prinsip gizi lebih mungkin menerapkan pola makan yang lebih bervariasi dan seimbang. [Lihat sumber Disini - jurnal.uimedan.ac.id]


Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Kebutuhan Nutrisi Balita

Pengetahuan ibu tentang kebutuhan nutrisi balita merupakan aspek krusial yang memengaruhi keberhasilan pemberian pola makan yang sehat dan tepat. Berbagai penelitian menunjukkan variasi tingkat pengetahuan ibu berbeda-beda di masyarakat, yang tergantung pada faktor pendidikan, akses informasi kesehatan, pengalaman dan wawasan ibu itu sendiri.

Hasil penelitian deskriptif di Kabupaten Gresik menggambarkan bahwa sebagian besar ibu memiliki pengetahuan yang baik tentang pemberian makanan bergizi pada balita; dalam studi tersebut ditemukan bahwa sekitar 70% responden memiliki pengetahuan baik, 11% pengetahuan cukup, dan 19% pengetahuan kurang. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun mayoritas memiliki pemahaman yang baik, masih terdapat kelompok ibu yang kurang memahami nutrisi seimbang untuk balita. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeswilliambooth.ac.id]

Dalam penelitian lain di Desa Pakuan Aji, Kabupaten Lampung Timur, tingkat pengetahuan ibu juga diidentifikasi sebagai faktor utama dalam pola pemberian makan balita. Penelitian memperlihatkan bahwa pengetahuan ibu tentang gizi dan pola makan balita memengaruhi kemungkinan balita mengalami gizi kurang karena pola pemberian makan yang kurang tepat. [Lihat sumber Disini - ojs3.poltekkes-mks.ac.id]

Selain itu, data penelitian di berbagai wilayah Indonesia menunjukkan hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan ibu tentang gizi dan status gizi balita. Ibu dengan pengetahuan cukup atau baik cenderung memiliki balita dengan status gizi normal dibandingkan ibu dengan pengetahuan rendah. [Lihat sumber Disini - journal.stikessuryaglobal.ac.id]

Pengetahuan yang baik termasuk pemahaman tentang kebutuhan energi harian, kecukupan protein, vitamin dan mineral, serta pemilihan makanan sesuai usia balita. Misalnya, ibu yang memahami pentingnya asupan protein akan memilih sumber protein hewani dan nabati yang bervariasi untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan kekebalan tubuh balita. [Lihat sumber Disini - unair.ac.id]


Faktor yang Mempengaruhi Penerapan Pola Makan Seimbang

Pola makan seimbang pada balita tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan ibu, tetapi juga oleh sejumlah faktor sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan yang kompleks.

1. Tingkat Pendidikan dan Akses Informasi

Tingkat pendidikan formal ibu berpengaruh terhadap kemampuan memahami informasi kesehatan, termasuk tentang gizi dan pola makan seimbang. Pendidikan yang lebih tinggi memungkinkan ibu lebih mudah menyerap informasi dari buku, seminar, atau sumber digital tentang kebutuhan nutrisi balita. Ibu dengan pendidikan lebih tinggi cenderung menunjukkan pola makan yang lebih sehat pada anaknya dibandingkan ibu dengan pendidikan rendah.

Akses pada informasi gizi dan kesehatan juga sangat memengaruhi keputusan pemberian makanan. Ibu yang mendapatkan edukasi dari tenaga kesehatan atau media terpercaya cenderung memiliki praktik makan yang lebih sesuai standar gizi seimbang.

2. Faktor Sosial Ekonomi

Kondisi sosial ekonomi keluarga memainkan peran penting dalam penerapan pola makan seimbang. Keluarga dengan pendapatan lebih tinggi umumnya mampu menyediakan variasi makanan bergizi yang lebih baik dan berkualitas tinggi, seperti protein hewani, buah-buahan, sayuran segar, dan produk susu. Sebaliknya, keterbatasan ekonomi sering kali membatasi pilihan makanan sehingga pola makan balita kurang beragam dan kurang nutrisi.

3. Budaya dan Kebiasaan Makan

Budaya dan kebiasaan lokal menentukan jenis makanan yang biasa dikonsumsi keluarga setiap hari. Beberapa masyarakat mungkin lebih banyak mengonsumsi makanan pokok tertentu yang kaya karbohidrat tetapi kurang protein atau vitamin. Kebiasaan ini berkontribusi secara langsung pada pola makan balita karena makanan yang dibuat di rumah mengikuti tradisi kuliner setempat.

4. Dukungan Tenaga Kesehatan dan Lembaga Kesehatan Masyarakat

Peran tenaga kesehatan di posyandu, pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas), atau fasilitas layanan kesehatan lainnya menyediakan edukasi gizi yang berkelanjutan kepada ibu sangat penting untuk meningkatkan pemahaman dan praktik pola makan seimbang bagi balita. Program pemberian makanan tambahan, kampanye gizi, dan konsultasi gizi memiliki dampak positif dalam membantu ibu menerapkan pola makan yang tepat. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]

5. Ketersediaan Sumber Makanan

Ketersediaan bahan makanan bergizi di lingkungan juga memengaruhi pola makan balita. Di daerah yang sulit memperoleh sayur segar, buah-buahan atau produk protein berkualitas, ibu cenderung menghadapi tantangan dalam menyediakan asupan yang seimbang sehingga pola makan balita bisa kurang optimal.


Dampak Pengetahuan terhadap Status Gizi Anak

Pengetahuan ibu tentang gizi dan pola makan balita tidak hanya bersifat teoretis tetapi berdampak langsung terhadap status gizi dan kesehatan anak. Beragam penelitian ilmiah telah membuktikan hubungan ini di berbagai daerah.

Dalam studi di Desa Srimulyo wilayah kerja Puskesmas Piyungan Bantul, ditemukan bahwa pengetahuan gizi ibu memiliki hubungan signifikan dengan status gizi balita; ibu yang memiliki pengetahuan lebih baik cenderung membesarkan balita dengan status gizi normal. [Lihat sumber Disini - journal.stikessuryaglobal.ac.id]

Penelitian lain juga melaporkan bahwa adanya hubungan signifikan antara pengetahuan ibu tentang pola pemberian makan dan status gizi anak usia 1-3 tahun. Artinya, semakin tinggi pengetahuan ibu, semakin baik kemungkinan balita mendapatkan asupan nutrisi yang memadai untuk tumbuh. [Lihat sumber Disini - journals.stikim.ac.id]

Namun, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa tidak selalu pengetahuan ibu saja yang menentukan status gizi anak; faktor genetik, lingkungan, serta praktik pemberian makan juga berpengaruh. Sebuah studi menemukan bahwa meskipun pengetahuan ibu cukup baik dan pola makan sehat, tidak ada pengaruh langsung yang signifikan terhadap status gizi balita, menunjukkan bahwa aspek lain seperti kondisi kesehatan umum dan kebiasaan masyarakat juga berperan. [Lihat sumber Disini - jurnal-ppni.org]

Secara umum, mayoritas bukti ilmiah menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan ibu tentang gizi berkontribusi secara positif terhadap status gizi balita, terutama bila disertai praktik pemberian makanan yang tepat sesuai kebutuhan usia anak. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]


Peran Edukasi Tenaga Kesehatan dalam Pola Makan Balita

Edukasi oleh tenaga kesehatan merupakan intervensi krusial dalam meningkatkan pengetahuan ibu tentang pola makan balita.

Penelitian di Desa Dalan Naman, Kabupaten Langkat menunjukkan bahwa edukasi gizi secara signifikan meningkatkan pengetahuan dan perilaku ibu terkait pemberian makanan bergizi kepada balita. Setelah edukasi, persentase ibu yang menerapkan praktik pemberian makanan sehat meningkat tajam, menunjukkan efektivitas pendidikan gizi oleh tenaga kesehatan. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]

Tenaga kesehatan seperti bidan, perawat, ahli gizi, dan kader posyandu dapat membantu ibu memahami prinsip dasar gizi seimbang, mempraktikkan cara menyiapkan menu yang bervariasi, serta memantau pertumbuhan balita secara teratur. Edukasi ini juga mencakup informasi tentang pencegahan masalah gizi seperti stunting, obesitas, kekurangan vitamin, serta dampak dari makanan yang tidak bergizi.

Selain itu, strategi edukasi melalui kelompok ibu balita, kelas gizi di posyandu dan media sosial kesehatan terus berkembang sebagai sarana efektif untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat luas tentang nutrisi balita.


Hambatan Ibu dalam Menyusun Menu Bergizi

Walaupun pengetahuan merupakan modal penting, ibu sering menghadapi hambatan nyata dalam menerapkan pola makan seimbang bagi balita. Hambatan ini meliputi:

1. Terbatasnya Waktu

Banyak ibu yang sibuk dengan pekerjaan rumah tangga atau pekerjaan lain sehingga waktu untuk menyusun menu bergizi, belanja bahan makanan terbaik, serta memasak menu seimbang menjadi terbatas.

2. Keterbatasan Finansial

Keterbatasan ekonomi sering menjadi tantangan utama untuk menyediakan variasi makanan bergizi seperti protein hewani, buah segar dan sayuran organik. Ibu terkadang harus memilih makanan yang lebih murah tetapi kurang bergizi karena keterbatasan anggaran.

3. Pengetahuan yang Masih Terbatas

Meskipun ada ibu yang memiliki pengetahuan gizi dasar, kemampuan untuk menerjemahkan pengetahuan teori tersebut ke dalam praktik sehari-hari terkadang masih kurang, terutama dalam memahami kebutuhan nutrisi spesifik balita. Edukasi dan keterampilan memasak sehat perlu terus ditingkatkan. [Lihat sumber Disini - ejournal.unklab.ac.id]

4. Akses dan Ketersediaan Bahan Makanan

Di beberapa daerah, terutama pedesaan atau wilayah terpencil, ketersediaan bahan makanan bergizi masih menjadi masalah. Beberapa bahan makanan bergizi mungkin sulit ditemukan atau mahal sehingga menyulitkan ibu dalam merancang menu seimbang setiap hari.

5. Pengaruh Lingkungan dan Budaya

Kebiasaan lokal dan preferensi makanan tradisional kadang tidak sejalan dengan prinsip gizi seimbang. Ibu sering kali menyesuaikan pola makan keluarga dengan kebiasaan sosial daripada berdasarkan kebutuhan gizi balita.


Kesimpulan

Pengetahuan ibu tentang pola makan balita merupakan aspek fundamental yang menentukan keberhasilan pemberian nutrisi seimbang pada anak usia dini. Pengetahuan ini mencakup pemahaman tentang jenis makanan, kebutuhan nutrisi mikro dan makro, frekuensi makan, serta praktik pemberian makanan yang sehat. Tingkat pengetahuan ibu dipengaruhi oleh pendidikan, akses informasi, kondisi sosial ekonomi, budaya, dan dukungan tenaga kesehatan. Bukti penelitian ilmiah menunjukkan bahwa pengetahuan ibu yang baik berkorelasi positif dengan status gizi balita dan praktik pemberian makanan yang lebih sehat, meskipun dipengaruhi juga oleh faktor lain seperti lingkungan dan kondisi ekonomi keluarga. Edukasi oleh tenaga kesehatan terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan perilaku pemberian makanan bergizi. Namun, hambatan seperti keterbatasan waktu, finansial, akses bahan makanan, serta budaya perlu diatasi secara sistematis agar pola makan balita lebih optimal. Secara keseluruhan, peningkatan pengetahuan ibu melalui edukasi yang tepat menjadi langkah penting untuk mendukung pemenuhan kebutuhan nutrisi balita dan meningkatkan kualitas kesehatan generasi masa depan.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Pengetahuan ibu tentang pola makan balita adalah pemahaman mengenai kebutuhan nutrisi, jenis makanan yang tepat, serta cara menyusun menu seimbang untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini.

Pengetahuan ibu penting karena membantu menentukan jenis makanan, porsi, frekuensi makan, dan kualitas nutrisi yang diberikan kepada balita sehingga berpengaruh langsung pada status gizi dan kesehatan anak.

Beberapa faktor meliputi tingkat pendidikan ibu, kondisi ekonomi keluarga, budaya makan, ketersediaan bahan makanan bergizi, serta dukungan edukasi dari tenaga kesehatan.

Pengetahuan ibu yang baik dapat meningkatkan peluang balita mendapatkan asupan nutrisi optimal sehingga status gizi anak lebih baik dan risiko gizi buruk dapat diminimalkan.

Hambatan yang sering muncul antara lain keterbatasan waktu, kondisi ekonomi, kurangnya kemampuan menerapkan pengetahuan gizi, ketersediaan bahan makanan, serta pengaruh budaya makan keluarga.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Pengetahuan Ibu tentang Kesehatan Balita Pengetahuan Ibu tentang Kesehatan Balita Status Gizi Balita: Konsep, Determinan, dan Pemantauan Status Gizi Balita: Konsep, Determinan, dan Pemantauan Monitoring Gizi Balita di Posyandu Monitoring Gizi Balita di Posyandu Status Gizi Balita Status Gizi Balita Pola Makan Tidak Teratur: Dampak Kesehatan dan Faktor Perilaku Pola Makan Tidak Teratur: Dampak Kesehatan dan Faktor Perilaku Pola Makan Tidak Teratur: Konsep, Dampak Metabolik, dan Kesehatan Pola Makan Tidak Teratur: Konsep, Dampak Metabolik, dan Kesehatan Hubungan MP-ASI Instan dengan Status Gizi Balita Hubungan MP-ASI Instan dengan Status Gizi Balita Pola Makan Tidak Teratur dan Masalah Pencernaan Pola Makan Tidak Teratur dan Masalah Pencernaan Perilaku Makan Tidak Teratur pada Mahasiswa Perilaku Makan Tidak Teratur pada Mahasiswa Pola Asuh dan Stunting Pola Asuh dan Stunting Pengetahuan Remaja tentang Makan Malam Sehat Pengetahuan Remaja tentang Makan Malam Sehat Risiko Kekurangan Vitamin A pada Balita Risiko Kekurangan Vitamin A pada Balita Hubungan Stres Kehamilan dengan Pola Makan Ibu Hamil Hubungan Stres Kehamilan dengan Pola Makan Ibu Hamil Pola Makan Tidak Teratur: Faktor dan Dampaknya Pola Makan Tidak Teratur: Faktor dan Dampaknya Faktor Risiko Stunting pada Balita Faktor Risiko Stunting pada Balita Pola Makan Keluarga dan Risiko Obesitas Anak Pola Makan Keluarga dan Risiko Obesitas Anak Pengaruh Obat terhadap Nafsu Makan Pengaruh Obat terhadap Nafsu Makan Pengetahuan Ibu tentang Porsi Makan Seimbang Pengetahuan Ibu tentang Porsi Makan Seimbang Hubungan Stress dan Pola Makan Hubungan Stress dan Pola Makan Hubungan Kualitas Tidur dengan Nafsu Makan Anak Hubungan Kualitas Tidur dengan Nafsu Makan Anak
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…