
Risiko Operasional: Konsep, Gangguan Operasional, dan Mitigasi
Pendahuluan
Setiap organisasi/perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya pasti menghadapi berbagai bentuk ketidakpastian yang dapat mengganggu tercapainya tujuan operasionalnya. Risiko yang muncul dari aktivitas sehari-hari, seperti kesalahan manusia, gangguan sistem, atau faktor eksternal, sering kali dikenal sebagai risiko operasional. Risiko ini tidak hanya dapat menimbulkan kerugian finansial langsung, tetapi juga berdampak negatif terhadap proses bisnis, reputasi organisasi, dan keberlanjutan operasional secara keseluruhan.
Menurut penelitian literatur akademik, risiko operasional merupakan fenomena yang mengancam beragam sektor industri, terutama dalam era digital dan globalisasi yang memperkuat kompleksitas operasional organisasi modern. Kondisi inilah yang menjadikan pemahaman dan pengelolaan risiko operasional sebagai komponen kunci dalam menjaga daya saing dan stabilitas perusahaan. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
Definisi Risiko Operasional
Definisi Risiko Operasional Secara Umum
Secara umum, risiko operasional adalah potensi terjadinya kerugian yang muncul ketika suatu organisasi gagal dalam menjalankan proses internal, terjadi kesalahan oleh manusia, kegagalan sistem, atau terdapat kejadian eksternal yang menghambat proses operasional normal. Definisi ini menempatkan risiko operasional sebagai risiko yang melekat secara langsung pada aktivitas operasional suatu organisasi, bukan pada risiko keuangan seperti pasar atau kredit. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
Risiko operasional juga sering diartikan sebagai risiko yang timbul akibat ketidaktepatan atau kekurangan dalam prosedur internal, manajemen yang lemah, maupun perubahan eksternal yang tidak terduga. Dalam artikel penelitian di Indonesia, dijelaskan bahwa risiko ini bisa dihasilkan dari proses bisnis yang buruk, SDM yang kurang terlatih, serta teknologi yang tidak andal. ([Lihat sumber Disini - repository.uinsu.ac.id])
Definisi Risiko Operasional dalam KBBI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), risiko didefinisikan sebagai kemungkinan terjadinya kerugian atau akibat yang tidak diinginkan dari suatu kejadian yang belum tentu terjadi. Risiko operasional secara spesifik meskipun belum tercantum secara eksplisit sebagai istilah tersendiri di KBBI, dapat ditafsirkan sebagai bagian dari definisi risiko yang berfokus pada ancaman terhadap operasi perusahaan atau organisasi. Definisi KBBI mempertegas bahwa risiko adalah sebuah kondisi ketidakpastian yang dapat berdampak negatif pada hasil usaha atau kegiatan yang dilakukan organisasi. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
Definisi Risiko Operasional Menurut Para Ahli
-
Basel Committee on Banking Supervision
Menurut Basel II (Regulator internasional di sektor perbankan), risiko operasional didefinisikan sebagai risiko terjadinya kerugian akibat proses internal yang gagal, kesalahan manusia, sistem yang tidak memadai, atau peristiwa eksternal seperti bencana atau tindakan kriminal. Definisi ini mencakup semua aspek dalam proses operasional yang dapat berdampak pada kinerja organisasi. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net]) -
Muslich (2007)
Muslich mendefinisikan risiko operasional sebagai risiko atau kerugian yang disebabkan oleh faktor seperti kegagalan proses internal, kesalahan sumber daya manusia, kegagalan teknologi, dan faktor lain yang berasal dari mekanisme operasional organisasi. ([Lihat sumber Disini - journal.umg.ac.id]) -
Lubis (2022)
Dalam jurnal Manajemen Bisnis dan Inovasi, Irham Fahmi (dikutip oleh Devita Sari Lubis) menyatakan bahwa risiko operasional umumnya bersumber dari masalah internal organisasi karena sistem kontrol atau manajemen yang tidak berjalan baik, serta dapat diperburuk oleh kejadian eksternal. ([Lihat sumber Disini - repository.uinsu.ac.id]) -
ISO 31000:2018 (dalam Azzahra, 2025)
ISO 31000:2018 menjelaskan bahwa risiko adalah akibat ketidakpastian terhadap tujuan, termasuk tujuan operasional suatu organisasi. Risiko operasional yang dimaksud dalam konteks ini mencakup potensi kegagalan proses bisnis, sistem internal, atau kejadian luar yang mempengaruhi operasional normal. ([Lihat sumber Disini - ejournal-nipamof.id])
Sumber dan Jenis Risiko Operasional
Risiko operasional tidak muncul begitu saja, melainkan berasal dari berbagai sumber. Menurut jurnal akademik dan penelitian empiris, beberapa sumber utama risiko operasional antara lain:
1. Proses Internal yang Tidak Optimal
Risiko operasional sering kali berasal dari proses internal perusahaan yang tidak berjalan dengan baik atau tidak efisien. Misalnya, prosedur kerja yang tidak terdokumentasi dengan baik dapat menyebabkan kesalahan dalam pelaksanaan tugas sehingga berdampak negatif pada hasil proses produksi atau layanan pelanggan. ([Lihat sumber Disini - jurnal.iainponorogo.ac.id])
2. Faktor Sumber Daya Manusia (Human Error)
Salah satu sumber utama risiko adalah faktor manusia, seperti kesalahan dalam entri data, ketidakpatuhan terhadap standar operasional prosedur, atau kurangnya pelatihan untuk menghadapi situasi tertentu. Manusia adalah elemen yang paling rentan dalam rantai operasional karena keputusan atau tindakan individu dapat memicu terjadinya gangguan operasional. ([Lihat sumber Disini - ejournal.uit-lirboyo.ac.id])
3. Sistem Teknologi dan Infrastruktur Tidak Handal
Kegagalan teknologi atau sistem informasi dapat menjadi sumber risiko operasional yang signifikan, terutama karena banyak proses bisnis modern yang bergantung pada sistem TI. Gangguan pada sistem TI atau serangan siber dapat menghentikan operasi atau menyebabkan kerugian data penting organisasi. ([Lihat sumber Disini - ejournal.uit-lirboyo.ac.id])
4. Faktor Eksternal
Selain risiko yang muncul dari dalam organisasi, risiko eksternal seperti bencana alam, perubahan regulasi, gangguan rantai pasokan, dan krisis ekonomi juga dapat menyebabkan gangguan operasional. Faktor ini sering sulit diprediksi dan membutuhkan strategi khusus untuk mitigasi. ([Lihat sumber Disini - ejournal-nipamof.id])
5. Risiko Proses dan Teknologi lainnya
Beberapa jenis risiko operasional lainnya yang diidentifikasi dalam literatur termasuk risiko proses (inefisiensi proses bisnis), risiko teknologi, risiko eksternal, dan risiko sumber daya manusia. Jenis-jenis ini memetakan sumber risiko yang lebih spesifik dan memungkinkan perusahaan mengklasifikasikan risiko lebih rinci. ([Lihat sumber Disini - jurnal.ustjogja.ac.id])
Dampak Risiko terhadap Operasional Bisnis
Risiko operasional memiliki dampak yang luas atas berjalannya suatu bisnis. Dampaknya tidak hanya berupa kerugian finansial, tetapi juga dapat memengaruhi berbagai aspek lain:
1. Kerugian Finansial
Salah satu dampak paling jelas dari risiko operasional adalah kemungkinan terjadinya kerugian finansial, seperti biaya perbaikan, biaya hukum, dan kehilangan pendapatan akibat gangguan operasi. Sebagai contoh, kegagalan sistem produksi dapat menyebabkan downtime yang merugikan secara finansial. ([Lihat sumber Disini - jurnal.iainponorogo.ac.id])
2. Gangguan Proses Bisnis dan Produksi
Ketika terjadi risiko operasional yang signifikan, seperti kesalahan dalam proses produksi, maka proses bisnis secara keseluruhan dapat terhenti atau berjalan tidak optimal. Hal ini berdampak pada produktivitas, kualitas hasil, dan kepuasan pelanggan. ([Lihat sumber Disini - ilomata.org])
3. Reputasi Organisasi
Risiko operasional yang menyebabkan kesalahan layanan, pelanggaran data, atau kegagalan komitmen kepada pelanggan dapat merusak reputasi organisasi. Dampak reputasi ini dapat berdampak jangka panjang dan memengaruhi loyalitas pelanggan serta kepercayaan pasar. ([Lihat sumber Disini - ilomata.org])
4. Gangguan terhadap Keberlanjutan Operasional
Risiko yang tidak dikelola dengan baik dapat menghambat kelangsungan operasional organisasi. Dampak jangka panjangnya termasuk kemampuan organisasi untuk mempertahankan posisi pasar dan menciptakan pertumbuhan berkelanjutan. ([Lihat sumber Disini - sciendo.com])
Identifikasi Risiko Operasional
Identifikasi risiko operasional merupakan langkah awal yang penting dalam manajemen risiko, karena tanpa identifikasi yang akurat, langkah selanjutnya seperti analisis dan mitigasi tidak akan efektif. Proses identifikasi risiko mencakup:
1. Pemetaan Proses Bisnis
Pemahaman menyeluruh terhadap proses bisnis membantu organisasi mengidentifikasi titik-titik potensi risiko. Analisis terhadap langkah-langkah operasional yang ada memungkinkan organisasi untuk menentukan tahapan yang paling rentan terhadap gangguan. ([Lihat sumber Disini - journal.ipb.ac.id])
2. Penggunaan Metode Risk Assessment
Beragam metode dapat digunakan untuk identifikasi risiko, seperti Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) dan Fault Tree Analysis (FTA), yang menganalisis potensi penyebab dan dampak kegagalan dalam proses. ([Lihat sumber Disini - journal.ipb.ac.id])
3. Monitoring dan Audit Internal
Audit internal berkala membantu mengungkap risiko yang mungkin tidak terlihat dalam operasi sehari-hari. Evaluasi log aktivitas, kepatuhan SOP, dan pemantauan kinerja sistem adalah bagian dari mekanisme pengawasan internal. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
4. Analisis Data Historis dan Insiden Sebelumnya
Data keuntungan, laporan gangguan, maupun catatan insiden dapat membantu memetakan pola kejadian risiko sebelumnya, sehingga memungkinkan organisasi memperkirakan risiko yang mungkin terulang atau berkembang. ([Lihat sumber Disini - ejournal-nipamof.id])
Strategi Mitigasi Risiko Operasional
Mitigasi risiko operasional bertujuan mengurangi kemungkinan dan dampak kejadian risiko. Strategi yang bisa diterapkan meliputi:
1. Perbaikan Proses Internal dan SOP
Mengembangkan dan meninjau standar operasi prosedur secara berkala akan meningkatkan efisiensi proses dan mengurangi risiko kesalahan operasional. ([Lihat sumber Disini - journal.ipb.ac.id])
2. Pelatihan dan Pengembangan Karyawan
Investasi pada pelatihan SDM membantu memperkecil terjadinya human error yang sering menjadi sumber risiko operasional. Pelatihan rutin terutama terkait teknologi baru dan prosedur keselamatan menjadi faktor kunci. ([Lihat sumber Disini - ejournal.uit-lirboyo.ac.id])
3. Penguatan Sistem Teknologi dan TI
Implementasi sistem TI yang andal, pemeliharaan terjadwal, pembaruan keamanan, serta backup data rutin menjadi strategi mitigasi risiko teknologi yang efektif. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
4. Perencanaan Kontinjensi dan Backup
Rencana cadangan seperti backup sistem, database, dan sumber daya alternatif meminimalkan dampak ketika risiko operasional terjadi. ([Lihat sumber Disini - ejournal-nipamof.id])
5. Continuous Monitoring dan Audit Berkala
Monitoring yang terus-menerus terhadap proses operasional dan kontrol internal dapat segera mengidentifikasi ketidaksesuaian sehingga respons mitigasi dapat dilakukan lebih cepat. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
Risiko Operasional dan Keberlanjutan Bisnis
Pemahaman hubungan antara risiko operasional dan keberlanjutan bisnis menjadi aspek penting dalam strategi manajemen jangka panjang. Penelitian menunjukkan bahwa risiko operasional yang tidak dikelola secara efektif dapat berdampak pada keberlanjutan ekonomi, sosial, maupun lingkungan organisasi. Risiko yang memengaruhi keberlanjutan ini mencakup gangguan proses, kegagalan fungsi teknologi, atau kejadian yang memengaruhi reputasi perusahaan, yang semuanya berpotensi memengaruhi kelangsungan bisnis dalam jangka panjang. ([Lihat sumber Disini - sciendo.com])
Pendekatan manajemen risiko yang terintegrasi dengan strategi keberlanjutan organisasi mampu memberikan organisasi kemampuan adaptasi terhadap perubahan eksternal, meningkatkan efisiensi operasional, serta meminimalkan dampak negatif yang mungkin timbul dari berbagai kejadian risiko operasional. Integrasi ini semakin relevan di era bisnis modern di mana perusahaan dituntut tidak hanya bertahan tetapi juga berkontribusi pada pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. ([Lihat sumber Disini - sciendo.com])
Kesimpulan
Risiko operasional merupakan komponen risiko yang melekat dalam aktivitas operasional organisasi yang mencakup kegagalan proses internal, kesalahan manusia, gangguan teknologi, maupun kejadian eksternal lainnya. Dampak dari risiko ini tidak hanya berupa kerugian finansial tetapi juga mampu menghambat proses, merusak reputasi, serta mengancam keberlanjutan operasi bisnis.
Identifikasi risiko operasional adalah langkah fundamental yang melibatkan pemetaan proses, analisis data historis, serta penggunaan metode penilaian risiko yang terstruktur. Strategi mitigasi seperti perbaikan proses, pelatihan SDM, penguatan teknologi, serta monitoring berkelanjutan menjadi fondasi dalam mengurangi frekuensi dan dampak kejadian risiko.
Hubungan antara manajemen risiko operasional dan keberlanjutan bisnis menunjukkan bahwa organisasi yang efektif dalam mengelola risiko operasional memiliki peluang yang lebih baik untuk mempertahankan operasionalnya secara berkelanjutan di tengah tantangan eksternal dan internal. Integrasi konsep risiko operasional ke dalam strategi keberlanjutan organisasi menjadi langkah penting dalam menciptakan organisasi yang adaptif, efisien, dan resilient di era bisnis modern.