
Gangguan Fungsi Sensorik: Pendengaran, Penglihatan, dan Rasa
Pendahuluan
Sistem indera (sensorik) manusia berperan penting dalam menerima rangsangan dari lingkungan, baik berupa cahaya, suara, bau, rasa, maupun sensasi fisik, lalu mengubahnya menjadi persepsi yang memungkinkan interaksi, komunikasi, dan adaptasi terhadap lingkungan. Namun, fungsi sensori ini bisa terganggu, baik sebagian maupun total, yang dapat berdampak serius terhadap kualitas hidup, kemandirian, dan kesehatan fisik maupun psikososial seseorang.
Gangguan fungsi sensorik, terutama pada pendengaran, penglihatan, dan indera rasa/penciuman/pengecapan, seringkali kurang mendapat perhatian, padahal mampu menurunkan partisipasi sosial, kemampuan berkomunikasi, serta produktivitas. Oleh karena itu, penting bagi tenaga kesehatan, khususnya keperawatan, untuk memahami definisi, jenis, penyebab, gejala, cara penilaian, serta intervensi keperawatan yang sesuai agar dapat memberi asuhan optimal.
Artikel ini membahas secara komprehensif mengenai gangguan fungsi sensorik, dengan fokus pada pendengaran, penglihatan, dan indera rasa.
Definisi Gangguan Fungsi Sensorik
Definisi Umum
“Gangguan fungsi sensorik” merujuk pada kondisi di mana sistem indera manusia, organ reseptor sensorik dan jalur saraf terkait, tidak mampu menerima, mengirimkan, atau menginterpretasikan rangsangan eksternal/ internal secara normal. Hal ini bisa berupa penurunan sensitivitas, hilangnya fungsi, atau distorsi persepsi.
Secara umum, gangguan sensorik ini dapat memengaruhi satu atau lebih indra (misalnya pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecapan, peraba), dan berdampak pada kemampuan seseorang dalam menerima informasi dari lingkungan, berinteraksi sosial, serta menjalankan aktivitas sehari-hari. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Definisi “Gangguan Sensorik” dalam Kamus (KBBI)
Menurut definisi kamus …
(Catatan: karena saat ini tidak tersedia langsung definisi “gangguan sensorik” di situs KBBI yang bisa diakses publik, soalnya istilah ini lebih bersifat terminologi keilmuan; oleh karena itu definisi dalam konteks ini lebih merujuk literatur keperawatan/ kesehatan daripada kamus umum.)
Definisi Menurut Para Ahli
Berikut beberapa definisi gangguan sensorik menurut ahli/ literatur keperawatan dan kesehatan:
-
Dalam penelitian Sistem Indera pada Manusia Ketertarikan Antara Gangguan pada Sistem Indera dan Kesehatan Manusia (2025), gangguan sistem indera didefinisikan sebagai kondisi yang dapat “memengaruhi komunikasi, mobilitas, dan aktivitas sehari-hari, ” terutama bila terjadi pada indera penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, atau pengecapan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Gambaran Pengelolaan Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran dan Penglihatan pada Klien Skizofrenia Paranoid (2023) mendefinisikan gangguan persepsi sensori sebagai “perubahan persepsi terhadap stimulus, internal maupun eksternal, yang disertai respons yang berkurang, berlebihan, atau terdistorsi.” [Lihat sumber Disini - e-abdimas.unw.ac.id]
-
Dalam literatur keperawatan gerontik, istilah “impairment of hearing and vision” (gangguan pendengaran dan penglihatan) digambarkan sebagai kondisi di mana fungsi indera menurun baik secara konduktif maupun sensorineural, sering kali disebabkan proses penuaan atau degenerasi organ indera. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
-
Sebuah tinjauan di Sistem Indra: Penglihatan, Pendengaran, Pembau, Peraba, dan Perasa (2025) menekankan bahwa gangguan pada sistem indera dapat menurunkan kualitas hidup, sehingga memerlukan deteksi dini dan intervensi keperawatan serta edukasi kesehatan. [Lihat sumber Disini - indojurnal.com]
Berdasarkan beberapa rujukan di atas, dapat disimpulkan bahwa “gangguan fungsi sensorik” mencakup kondisi di mana indera tidak berfungsi normal, secara struktural, fisiologis, maupun perseptual, sehingga menghambat penerimaan atau interpretasi rangsangan.
Jenis Gangguan Sensorik
Dalam praktik keperawatan dan literatur kesehatan, gangguan sensorik bisa diklasifikasikan berdasarkan indera yang terlibat. Dalam konteks artikel ini, fokus pada tiga domain: audiologis (pendengaran), visual (penglihatan), dan sensorik rasa (penciuman & pengecapan). Berikut penjelasannya:
Audiologis (Gangguan Pendengaran)
-
Gangguan pendengaran dapat berbentuk kehilangan sebagian atau seluruh kemampuan mendengar, baik temporer maupun permanen. Kerusakan bisa di telinga luar, tengah (konduktif), atau telinga dalam & saraf (sensorineural). [Lihat sumber Disini - poltekkes-solo.ac.id]
-
Dalam literatur pendidikan anak berkebutuhan khusus, gangguan pendengaran (tunarungu / hard-of-hearing) diklasifikasikan berdasarkan intensitas kehilangan pendengaran: ringan, sedang, berat, hingga total (tuli). [Lihat sumber Disini - poltekkes-solo.ac.id]
Visual (Gangguan Penglihatan)
-
Gangguan penglihatan bisa dalam bentuk penurunan ketajaman visual, rabun jauh/dekat, kebutaan parsial/total, atau kondisi khusus seperti katarak, degenerasi retina, dsb. Hal ini sangat umum dijumpai pada lansia. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Penurunan fungsi penglihatan mengakibatkan kesulitan dalam mobilitas, membaca, orientasi ruang, serta aktivitas harian. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
Sensorik Rasa (Indera Pengecapan & Penciuman)
-
Meskipun literatur yang menekankan “gangguan rasa (taste)” agak jarang dibanding pendengaran/penglihatan, sistem indera manusia meliputi indera pengecapan dan penciuman sebagai bagian dari fungsi sensorik. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Pada gangguan sensori umum, penurunan sensasi pengecapan atau penciuman dapat terjadi, misalnya akibat kerusakan saraf sensorik, infeksi, atau penyakit sistemik. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Distorsi persepsi rasa, seperti perubahan rasa, hilangnya rasa (ageusia / hypogeusia), atau perubahan pendeteksian bau (anosmia), termasuk dalam kategori gangguan sensorik. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Faktor Penyebab Gangguan Sensorik
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan atau mempengaruhi timbulnya gangguan fungsi sensorik sangat beragam. Berikut beberapa penyebab utama:
-
Proses Penuaan (Degenerasi)
-
Pada lansia, degenerasi organ indera, misalnya degenerasi sel-sel epitel pendengaran, penurunan elastisitas lensa mata, degenerasi retina, dapat mengurangi fungsi indera, menyebabkan pendengaran menurun atau rabun penglihatan. [Lihat sumber Disini - eprints.umpo.ac.id]
-
Penurunan fungsi ini sering terjadi progresif dan simetris, terutama terkait dengan frekuensi tinggi (untuk pendengaran) atau ketajaman visual (untuk penglihatan). [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
-
-
Faktor Genetik / Bawaan
-
Kelainan genetik bisa menyebabkan gangguan indera sejak lahir, misalnya cacat pada struktur telinga, retina, atau saraf sensorik. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
-
Cedera / Trauma
-
Cedera kepala, wajah, atau bagian telinga/mata dapat merusak organ indera atau jalur saraf sensorik, yang berpotensi menyebabkan gangguan permanen. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
-
Infeksi / Penyakit
-
Penyakit yang menyerang organ sensorik, misalnya infeksi telinga (otitis media), infeksi mata, jika tidak ditangani dengan tepat dapat menimbulkan gangguan pendengaran atau penglihatan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Selain itu, kondisi sistemik seperti diabetes, hipertensi, penyakit neurodegeneratif bisa memengaruhi suplai darah atau fungsi saraf sensorik yang berakibat pada penurunan sensasi.
-
-
Faktor Lingkungan & Gaya Hidup
-
Paparan suara terlalu keras secara berulang-ulang, polusi suara, paparan cahaya matahari langsung tanpa pelindung, kondisi kebersihan indera yang buruk, semuanya bisa mempercepat penurunan fungsi indera. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Kurangnya stimulasi sensori dalam waktu lama (sensory deprivation) juga dapat mengurangi sensitivitas indera, terutama pada populasi rentan seperti lansia lanjut atau pasien yang terisolasi. [Lihat sumber Disini - repositori.uin-alauddin.ac.id]
-
-
Faktor Neurologis / Saraf
-
Kerusakan saraf sensorik (misalnya saraf pendengaran, saraf optik, saraf pengecapan/penciuman) akibat trauma, pembedahan, atau penyakit neurodegeneratif dapat menyebabkan gangguan fungsi sensorik. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Karena penyebabnya beragam, deteksi dini dan penilaian komprehensif sangat penting agar intervensi sesuai dan optimal.
Tanda dan Gejala Gangguan Sensorik
Tergantung pada indera yang terpengaruh, gejala gangguan sensorik bisa berbeda. Berikut beberapa tanda dan gejala yang umum dijumpai:
-
Pada gangguan pendengaran: kesulitan mendengar suara halus atau frekuensi tinggi, sulit mengikuti percakapan, sering meminta orang lain mengulang bicara, sensasi telinga penuh atau nyeri, kadang tinnitus (denging telinga). [Lihat sumber Disini - repositori.uin-alauddin.ac.id]
-
Pada gangguan penglihatan: penglihatan kabur, sulit melihat di malam hari, sulit membedakan warna atau detail, kesulitan membaca tulisan kecil, sering menyenggol objek, kehilangan penglihatan periferal atau total. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Pada gangguan rasa/penciuman (indera rasa): hilangnya kemampuan mengecap rasa (manis, asam, pahit, asin, umami), perubahan rasa (misalnya rasa logam), hilangnya penciuman (anosmia), atau distorsi bau/ rasa, meskipun literatur spesifik di masyarakat Indonesia masih terbatas. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Dampak non-fisik: isolasi sosial, kesulitan komunikasi, kecemasan, depresi, penurunan kualitas hidup, kesulitan dalam aktivitas sehari-hari, menurunnya kemandirian. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Dalam beberapa kasus gangguan persepsi sensorik, seperti halusinasi pendengaran atau penglihatan, individu bisa mengalami persepsi palsu tanpa rangsangan eksternal nyata. [Lihat sumber Disini - e-abdimas.unw.ac.id]
Metode Penilaian Sensorik
Penilaian terhadap fungsi sensorik dilakukan melalui beberapa cara, tergantung pada indera yang diperiksa:
-
Anamnesis dan Riwayat Klinis: Menanyakan keluhan subjektif (kesulitan melihat, mendengar, mengecap, penciuman), faktor risiko (usia lanjut, riwayat penyakit, cedera, paparan lingkungan), serta riwayat perkembangan (untuk kasus bawaan).
-
Pemeriksaan Fisik / Objektif: Meliputi pemeriksaan fungsi indera, misalnya tes audiometri untuk pendengaran, pemeriksaan ketajaman visual (snellen chart), pemeriksaan fundus mata, uji pengecapan / penciuman (jika tersedia), inspeksi organ indera. Beberapa literatur keperawatan menyebut pentingnya pemeriksaan panca indera secara rutin. [Lihat sumber Disini - e-journal.poltek-kampar.ac.id]
-
Penilaian Psikososial & Fungsional: Evaluasi dampak gangguan sensorik terhadap aktivitas sehari-hari, komunikasi, mobilitas, partisipasi sosial, serta kualitas hidup klien. [Lihat sumber Disini - ejournal-nipamof.id]
-
Observasi & Dokumentasi Klinis (untuk kasus gangguan persepsi sensorik/ halusinasi): misalnya perubahan perilaku, respons terhadap rangsangan, orientasi realitas, kemampuan berinteraksi, kontak mata, dan lain-lain. Ini penting terutama di setting keperawatan jiwa. [Lihat sumber Disini - e-abdimas.unw.ac.id]
Penilaian yang komprehensif akan membantu tenaga kesehatan menentukan diagnosis keperawatan dan merancang intervensi yang tepat.
Intervensi Keperawatan untuk Gangguan Sensorik
Peran keperawatan sangat penting dalam asuhan pasien dengan gangguan sensorik, baik untuk deteksi dini, edukasi, penanganan, maupun rehabilitasi/fasilitasi adaptasi. Berikut beberapa intervensi yang direkomendasikan berdasarkan literatur:
-
Pendampingan dan Edukasi Kesehatan
Edukasi kepada klien dan keluarga tentang pentingnya menjaga kesehatan indera: misalnya menjaga kebersihan telinga/mata, melindungi dari suara terlalu keras atau paparan cahaya ekstrem, pemeriksaan rutin, penggunaan alat bantu (kacamata, alat bantu dengar) bila diperlukan. Studi menunjukkan bahwa edukasi pada lansia dengan katarak membantu meningkatkan pengetahuan dan mengurangi masalah gangguan penglihatan. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Pemasangan Alat Bantu
Untuk penderita gangguan pendengaran, penggunaan alat bantu dengar atau intervensi medis jika diperlukan (misalnya implant koklea, bila relevan). [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
Untuk penglihatan, kacamata koreksi, lensa, atau intervensi oftalmologis sesuai penyebabnya. -
Stimulasi Sensorik & Rehabilitasi
Terapi dan stimulasi sensori, terutama pada lansia atau individu dengan penurunan fungsi indera, bisa membantu mempertahankan atau memaksimalkan fungsi sisa. Contohnya, pada lansia di panti wredha, stimulasi sensori melalui aktivitas kelompok (terapi aktivitas kelompok / TAK) terbukti membantu meningkatkan respons sensorik. [Lihat sumber Disini - repository.urecol.org]
Dalam konteks keperawatan jiwa (misalnya pasien dengan halusinasi), intervensi bisa berupa pengalihan (distraction), orientasi realitas, komunikasi kontinyu, serta pendampingan untuk minum obat dan aktivitas rutin. [Lihat sumber Disini - e-abdimas.unw.ac.id] -
Deteksi & Intervensi Dini
Skrining rutin terutama pada populasi rentan (lansia, penderita penyakit kronis, atau yang memiliki faktor risiko) agar gangguan sensorik dapat dikenali dini. Intervensi sedini mungkin akan membantu mencegah dampak lebih lanjut pada kualitas hidup. [Lihat sumber Disini - ejournal-nipamof.id]
-
Pendekatan Multidisipliner
Kolaborasi antara perawat, dokter spesialis (THT, mata), terapi okupasi, rehabilitasi, dan keluarga agar asuhan holistik bisa diberikan, termasuk penyesuaian lingkungan (lighting, suara), alat bantu, edukasi, dan dukungan psikososial. Berdasarkan literatur, pendekatan komprehensif ini penting untuk menjaga fungsi indera dan kualitas hidup. [Lihat sumber Disini - indojurnal.com]
Contoh Kasus Gangguan Sensorik
Salah satu studi kasus aktual: pada artikel “Gambaran Pengelolaan Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran dan Penglihatan pada Klien Skizofrenia Paranoid”, klien dilaporkan mendengar suara almarhum orang tua dan melihat bayangan, padahal stimulus tersebut tidak nyata, menunjukkan gangguan persepsi sensorik (halusinasi). Intervensi keperawatan selama 3 hari meliputi pengkajian, diagnosis keperawatan, intervensi (misalnya menghardik halusinasi, mengajak bicara, aktivitas positif, kontrol minum obat), dan evaluasi. Hasil menunjukkan perbaikan sebagian gejala. [Lihat sumber Disini - e-abdimas.unw.ac.id]
Kasus ini menunjukkan bahwa gangguan sensorik tidak selalu berarti kerusakan organ, tetapi bisa berupa distorsi persepsi, sehingga butuh penilaian menyeluruh, pemahaman etiologi, dan intervensi tepat berdasarkan penyebab dan manifestasinya.
Kesimpulan
Gangguan fungsi sensorik, mencakup pendengaran, penglihatan, dan indera rasa (penciuman/pengecapan), merupakan kondisi yang bisa sangat mempengaruhi kualitas hidup, kemandirian, dan partisipasi sosial seseorang. Penyebabnya beragam, mulai dari proses penuaan, faktor genetik, cedera, infeksi, sampai faktor lingkungan, sehingga penilaian dan penanganannya harus komprehensif dan sesuai konteks.
Peran perawat dan tenaga kesehatan sangat penting dalam deteksi dini, edukasi, pemasangan alat bantu, rehabilitasi, serta pendekatan multidisipliner agar individu yang mengalami gangguan sensorik tetap dapat berfungsi optimal dan memiliki kualitas hidup yang baik.
Dengan pemahaman mendalam dan penanganan yang tepat, dampak negatif dari gangguan sensorik dapat diminimalkan.