Terakhir diperbarui: 11 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 11 December). Risiko Malnutrisi pada Pasien Rawat Inap. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/risiko-malnutrisi-pada-pasien-rawat-inap  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Risiko Malnutrisi pada Pasien Rawat Inap - SumberAjar.com

Risiko Malnutrisi pada Pasien Rawat Inap

Pendahuluan

Malnutrisi pada pasien rawat inap adalah salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi di rumah sakit dan berpotensi memperburuk hasil klinis pasien. Di berbagai penelitian dilaporkan bahwa malnutrisi dapat mempengaruhi antara 20, 50 % pasien rawat inap, dan banyak dari mereka mengalami perburukan status gizi selama masa perawatan jika tidak dilakukan identifikasi dini dan penanganan gizi yang tepat. [Lihat sumber Disini - rsudza.acehprov.go.id]

Kondisi ini bukan sekadar “kurang makan”, melainkan merupakan keadaan di mana tubuh tidak mendapatkan atau tidak dapat memanfaatkan nutrisi secara adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh dan penyembuhan dari penyakit. Dampak klinisnya sangat signifikan: peningkatan risiko infeksi, komplikasi medis, keterlambatan penyembuhan luka, serta peningkatan lama rawat inap dan biaya perawatan. [Lihat sumber Disini - rsudza.acehprov.go.id]

Hook konten: Bayangkan seorang pasien yang awalnya dirawat karena penyakit dasar, lalu kondisinya justru makin buruk bukan karena penyakitnya, tetapi karena kurangnya asupan atau penggunaan nutrisi tubuh secara optimal, fenomena inilah yang membuat malnutrisi rumah sakit menjadi ancaman serius yang perlu mendapatkan perhatian klinis dan gizi yang profesional.

Dalam artikel ini akan dibahas secara komprehensif berbagai aspek risiko malnutrisi pada pasien rawat inap mulai dari definisi, faktor penyebab, dampak, peran tenaga gizi, hubungan dengan penyakit kronis, hingga intervensi gizi yang dapat dilakukan.


Definisi Risiko Malnutrisi pada Pasien Rawat Inap

Definisi Risiko Malnutrisi Secara Umum

Malnutrisi secara umum merujuk pada keadaan tubuh yang mengalami kekurangan, kelebihan, atau ketidakseimbangan dalam asupan energi dan/atau nutrisi penting seperti protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral sehingga berdampak negatif terhadap fungsi tubuh, komposisi jaringan, dan hasil klinis pasien. [Lihat sumber Disini - reset.alomedika.com]

Dalam konteks rumah sakit, risiko malnutrisi sering disebut sebagai kondisi di mana pasien mengalami penurunan status gizi atau berpotensi mengalami penurunan nutrisi sepanjang masa rawatan jika tidak dilakukan tindakan pencegahan. Hal ini bisa muncul meskipun pasien pada awal masuk rumah sakit terlihat “cukup gizi”, tetapi berubah menjadi kurang gizi akibat penyakit yang mendasari, kurangnya asupan makanan, atau efek dari perawatan medis. [Lihat sumber Disini - rsudza.acehprov.go.id]

Definisi Risiko Malnutrisi dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), malnutrisi didefinisikan sebagai kondisi kurang gizi atau gangguan status gizi yang dapat memengaruhi fungsi fisiologis tubuh. (misalnya kurangnya asupan zat gizi makro seperti protein dan energi atau asupan zat gizi mikro)., (Catatan: Sumber dari KBBI daring sesuai permintaan, cantumkan link pada versi akhir artikel)

Definisi Risiko Malnutrisi Menurut Para Ahli

  1. Cederholm et al. (ESPEN / European Society for Clinical Nutrition and Metabolism): Malnutrisi merupakan kondisi yang terjadi akibat kurangnya asupan atau pemanfaatan nutrisi yang menyebabkan perubahan komposisi tubuh (penurunan massa bebas lemak), menurunnya fungsi fisik dan mental, serta memperburuk hasil klinis pasien. [Lihat sumber Disini - espen.org]

  2. Ostrowska et al. (penelitian terkait malnutrisi rumah sakit): Malnutrisi di rumah sakit sering merupakan hasil kombinasi dari kurang asupan nutrisi, penurunan bioavailabilitas nutrisi, dan meningkatnya kebutuhan metabolik akibat penyakit, yang berkontribusi pada komplikasi klinis lebih lanjut. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

  3. Pacheco-Acosta et al.: Malnutrisi yang diperoleh di rumah sakit dapat didefinisikan sebagai penurunan status gizi yang terjadi saat masa perawatan dengan indikasi klinis seperti penurunan berat badan tertentu, menurunnya indeks massa tubuh atau indikator antropometri lain selama masa rawat. [Lihat sumber Disini - jki.ui.ac.id]

  4. Studi klinis lain tentang malnutrisi: Malnutrisi merupakan kondisi yang tidak hanya mencakup kurang energi dan protein, tetapi juga deficit mikronutrien yang berdampak pada respon inflamasi dan kemampuan tubuh dalam mengatasi penyakit akut maupun kronis. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]


Faktor Penyebab Malnutrisi pada Pasien Rawat Inap

Malnutrisi pada pasien rawat inap dapat dipicu oleh banyak faktor, yang sering saling terkait satu sama lain dalam konteks klinis rumah sakit.

  1. Asupan Nutrisi yang Tidak Adekuat

    Pasien sering mengalami penurunan nafsu makan atau kesulitan makan akibat kondisi penyakit, pengaruh obat, nyeri, mual, atau prosedur medis yang membatasi asupan oral. Ketidakcukupan asupan ini, bila berlangsung lama, dapat dengan cepat mengakibatkan penurunan status gizi terutama pada pasien yang sudah rentan. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

  2. Kebutuhan Metabolik Meningkat

    Pada fase penyakit akut atau cedera, tubuh mengalami peningkatan kebutuhan energi dan protein untuk proses perbaikan jaringan dan respon imun. Bila kebutuhan ini tidak terpenuhi oleh asupan makanan atau dukungan gizi, defisit nutrisi akan terjadi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  3. Gangguan Absorpsi Nutrisi

    Beberapa kondisi penyakit yang memengaruhi saluran pencernaan (misalnya gastrointestinal penyakit kronis), serta obat-obatan tertentu, dapat mengganggu tubuh dalam menyerap nutrisi secara efektif dari makanan yang dikonsumsi. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

  4. Lama Rawat dan Penyakit yang Mendasari

    Durasi masa rawat inap yang lebih lama sering kali dikaitkan dengan risiko malnutrisi yang meningkat karena kombinasi penyakit berat, perawatan jangka panjang, dan gangguan fungsi metabolik tubuh. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  5. Kurangnya Skrining dan Penilaian Nutrisi yang Tepat

    Tanpa prosedur skrining nutrisi yang rutin pada saat admisi dan masa perawatan, risiko malnutrisi sering tidak terdeteksi hingga gejala klinisnya lebih parah. Ini terutama terjadi di rumah sakit yang belum menerapkan nutrition risk screening secara sistematis dalam standar perawatan. [Lihat sumber Disini - rsudza.acehprov.go.id]

  6. Faktor Klinis dan Demografis Lainnya

    Usia lanjut, penyakit infeksi akut, penyakit kronis seperti diabetes, penyakit hati, gangguan ginjal, kanker, hingga status fungsional yang buruk merupakan faktor yang meningkatkan kerentanan terhadap malnutrisi selama rawat inap. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]


Dampak Malnutrisi terhadap Proses Penyembuhan

Malnutrisi bukan sekadar masalah status gizi, ia memiliki dampak besar pada proses penyembuhan klinis pasien rawat inap:

  1. Penurunan Fungsi Imun dan Risiko Komplikasi Infeksi

    Pasien malnutrisi memiliki sistem imun yang lebih lemah, sehingga rentan terhadap infeksi nosokomial maupun komplikasi infeksi yang memperlambat penyembuhan. [Lihat sumber Disini - rsudza.acehprov.go.id]

  2. Memperpanjang Lama Rawat Inap

    Berbagai penelitian menunjukkan bahwa risiko malnutrisi berkorelasi dengan meningkatnya length of stay (LOS) di rumah sakit, yang berarti proses penyembuhan menjadi lebih panjang dan rumit. [Lihat sumber Disini - etd.repository.ugm.ac.id]

  3. Penurunan Kemampuan Penyembuhan Luka

    Nutrisi yang tidak mencukupi menghambat sintesis kolagen dan regenerasi jaringan, yang memperlambat proses penyembuhan luka baik dari operasi maupun kerusakan jaringan akibat penyakit. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

  4. Peningkatan Morbiditas dan Mortalitas

    Pasien yang malnutrisi memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi medis, cacat jangka panjang, serta meningkatnya angka kematian dibandingkan dengan pasien berstatus gizi baik. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  5. Beban Ekonomi Perawatan Kesehatan

    Malnutrisi tidak hanya berdampak pada pasien, tetapi juga sistem kesehatan secara keseluruhan, karena memperpanjang durasi rawat, kebutuhan intervensi medis lebih intensif, dan biaya perawatan yang meningkat. [Lihat sumber Disini - rsudza.acehprov.go.id]


Peran Tenaga Gizi dalam Identifikasi Risiko

Tenaga gizi profesional (dietitian atau ahli gizi klinik) memiliki peran penting dalam manajemen gizi pasien rawat inap, termasuk:

  1. Skrining Nutrisi Awal dan Berkala

    Penerapan alat skrining seperti Malnutrition Screening Tool (MST) atau Nutrition Risk Screening (NRS 2002) pada 24, 48 jam pertama setelah masuk rumah sakit sangat penting untuk mendeteksi risiko malnutrisi sejak dini. [Lihat sumber Disini - rsudza.acehprov.go.id]

  2. Penilaian Gizi yang Komprehensif

    Ahli gizi melakukan evaluasi status gizi lengkap termasuk intake makanan, status antropometri, pemeriksaan biokimia dan faktor risiko klinis yang memengaruhi kebutuhan nutrisi pasien.

  3. Perumusan Rencana Asuhan Gizi Individual

    Berdasarkan hasil skrining dan penilaian, ahli gizi menyusun rencana nutrisi yang disesuaikan dengan kondisi pasien (misalnya kebutuhan energi, protein, rute pemberian nutrisi).

  4. Kolaborasi Tim Perawatan Multidisiplin

    Ahli gizi bekerja bersama dokter, perawat, farmasi, dan profesional kesehatan lain untuk memastikan intervensi gizi terintegrasi dalam rencana perawatan pasien secara keseluruhan.

  5. Monitoring dan Evaluasi Terus-Menerus

    Monitoring berkala terhadap respons terhadap terapi gizi penting untuk menyesuaikan rencana perawatan dan mencegah penurunan gizi lebih lanjut.


Hubungan Penyakit Kronis dengan Risiko Malnutrisi

Pasien dengan penyakit kronis memiliki risiko malnutrisi yang lebih tinggi karena berbagai sebab:

  1. Diabetes dan Gangguan Endokrin

    Penyakit metabolik kronis sering kali mengganggu metabolisme nutrisi dan meningkatkan kebutuhan energi yang sulit dipenuhi melalui asupan diet biasa.

  2. Penyakit Ginjal Kronis

    Gangguan fungsi ginjal mengubah kebutuhan nutrisi serta dapat menyebabkan kehilangan protein melalui dialisis.

  3. Penyakit Hati Kronis

    Gangguan pada metabolism hati memengaruhi sintesis protein dan penggunaan nutrisi.

  4. Kanker dan Penyakit Inflammatory Kronis

    Kondisi inflamasi kronis meningkatkan kebutuhan energi tubuh sementara nafsu makan menurun, menyebabkan “cachexia” malnutrisi.

Berbagai studi menunjukkan bahwa pasien dengan penyakit kronis cenderung memiliki prevalensi malnutrisi yang lebih tinggi dan komplikasi yang lebih berat jika tidak dikelola dengan baik secara gizi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Intervensi Gizi untuk Pencegahan Malnutrisi

Strategi intervensi gizi yang efektif dapat mencegah dan mengatasi malnutrisi pada pasien rawat inap:

  1. Optimalisasi Asupan Oral

    Meningkatkan kualitas dan kuantitas makanan pasien, misalnya melalui diet tinggi energi dan protein, penggunaan suplemen oral. [Lihat sumber Disini - jptcp.com]

  2. Enteral Nutrition (EN)

    Pemberian nutrisi melalui selang jika pasien tidak dapat makan oral tetapi saluran cerna masih berfungsi dapat membantu memenuhi kebutuhan energi dan protein lebih cepat. [Lihat sumber Disini - jptcp.com]

  3. Parenteral Nutrition (PN)

    Jika saluran cerna tidak dapat digunakan, PN memberikan nutrisi langsung melalui vena untuk memenuhi kebutuhan metabolik pasien. [Lihat sumber Disini - jptcp.com]

  4. Rencana Gizi Individual dan Intervensi Dini

    Intervensi yang dipersonalisasi berdasarkan kebutuhan individual pasien dapat meningkatkan status gizi dan mengurangi komplikasi serta durasi rawat. [Lihat sumber Disini - jptcp.com]

  5. Pencegahan Penurunan Gizi dengan Skrining Berkala

    Skrining gizi berkala membantu mengidentifikasi perubahan status gizi pasien lebih awal dan menyesuaikan terapi gizi secara tepat.


Kesimpulan

Risiko malnutrisi pada pasien rawat inap merupakan kondisi klinis penting yang berdampak negatif pada proses penyembuhan dan hasil perawatan secara keseluruhan. Malnutrisi tidak hanya muncul akibat asupan kurang, tetapi merupakan kombinasi dari kebutuhan metabolik yang meningkat akibat penyakit, gangguan absorpsi nutrisi, lama rawat yang panjang, serta faktor klinis lain seperti penyakit kronis. Dampaknya meliputi peningkatan risiko infeksi, penurunan fungsi imun dan penyembuhan luka, meningkatnya lama perawatan serta morbiditas dan mortalitas pasien.

Peran tenaga gizi profesional sangat krusial dalam mengidentifikasi risiko sejak dini, melakukan skrining dan penilaian nutrisi yang komprehensif, serta menerapkan intervensi gizi individual yang efektif untuk mencegah malnutrisi berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. Intervensi nutrisi yang tepat dapat mempercepat pemulihan pasien, mengurangi masa rawat, dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap hasil klinis yang lebih baik.

Dengan demikian, malnutrisi pada pasien rawat inap bukan sekadar masalah gizi saja, tetapi merupakan masalah klinis yang memerlukan pendekatan multidisipliner dan penanganan nutrisi yang terintegrasi dalam perjalanan perawatan rumah sakit.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Risiko malnutrisi pada pasien rawat inap adalah kondisi ketika pasien berpotensi mengalami kekurangan asupan atau gangguan pemanfaatan nutrisi selama dirawat di rumah sakit, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya penurunan status gizi dan komplikasi klinis.

Faktor penyebab meliputi asupan nutrisi yang tidak adekuat, meningkatnya kebutuhan metabolik akibat penyakit, gangguan absorpsi nutrisi, durasi rawat yang panjang, serta kurangnya skrining gizi sejak awal perawatan.

Malnutrisi dapat menurunkan fungsi imun, memperlambat penyembuhan luka, meningkatkan risiko infeksi, memperpanjang lama rawat inap, dan meningkatkan morbiditas serta mortalitas pasien.

Tenaga gizi melakukan skrining nutrisi awal, penilaian gizi menyeluruh, menyusun rencana asuhan gizi individual, bekerja sama dengan tim medis, serta memonitor perkembangan status gizi pasien secara berkala.

Intervensi meliputi peningkatan asupan oral, pemberian nutrisi enteral atau parenteral bila diperlukan, intervensi gizi yang dipersonalisasi, serta skrining dan monitoring status gizi secara berkelanjutan.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Risiko Malnutrisi: Konsep, Faktor Penyebab, dan Pencegahan Risiko Malnutrisi: Konsep, Faktor Penyebab, dan Pencegahan Status Nutrisi Pasien: Definisi dan Pengukurannya Status Nutrisi Pasien: Definisi dan Pengukurannya Risiko Malnutrisi pada Anak Penderita Infeksi Risiko Malnutrisi pada Anak Penderita Infeksi Mutu Pelayanan Kesehatan Rawat Jalan Mutu Pelayanan Kesehatan Rawat Jalan Nutrisi Buruk sebagai Faktor Risiko Efek Samping Obat Nutrisi Buruk sebagai Faktor Risiko Efek Samping Obat Status Gizi Pasien sebagai Faktor Respons Terapi Status Gizi Pasien sebagai Faktor Respons Terapi Mutu Pelayanan Kesehatan Rawat Inap Mutu Pelayanan Kesehatan Rawat Inap Pola Istirahat dan Tidur Pasien Pola Istirahat dan Tidur Pasien Gangguan Pola Nutrisi: Faktor dan Penatalaksanaan Gangguan Pola Nutrisi: Faktor dan Penatalaksanaan Sistem Informasi Ketersediaan Kamar Rumah Sakit Sistem Informasi Ketersediaan Kamar Rumah Sakit Pola Penggunaan Obat pada Pasien Rawat Inap Pola Penggunaan Obat pada Pasien Rawat Inap Perubahan Pola Komunikasi Pasien Perubahan Pola Komunikasi Pasien Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan: Konsep, Indikator Mutu Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan: Konsep, Indikator Mutu Risiko Kekurangan Nutrisi: Konsep dan Pencegahan Risiko Kekurangan Nutrisi: Konsep dan Pencegahan Dampak Kurangnya Edukasi Gizi pada Pasien Rawat Jalan Dampak Kurangnya Edukasi Gizi pada Pasien Rawat Jalan Evaluasi Konseling Farmasis pada Pasien Rawat Jalan Evaluasi Konseling Farmasis pada Pasien Rawat Jalan Hubungan Status Gizi dengan Efek Samping Obat Hubungan Status Gizi dengan Efek Samping Obat Edukasi Pasien Berkelanjutan Edukasi Pasien Berkelanjutan Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Rawat Jalan Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Rawat Jalan Keterlibatan Pasien: Konsep, Partisipasi Aktif, dan Pengambilan Keputusan Keterlibatan Pasien: Konsep, Partisipasi Aktif, dan Pengambilan Keputusan
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…