
Stres Kerja: Konsep, Sumber Stres, dan Pengelolaan Kerja
Pendahuluan
Stres kerja menjadi salah satu fenomena yang semakin diperhatikan oleh organisasi modern karena dampaknya yang signifikan terhadap kesejahteraan pekerja dan kinerja organisasi secara keseluruhan. Banyak pekerja mengalami tekanan mental dan emosional akibat tuntutan pekerjaan yang melebihi kapasitas individu, ketidakpastian dalam lingkungan kerja, maupun interaksi dinamis antara tuntutan pekerjaan dan kemampuan pekerja. Fenomena ini tidak hanya memengaruhi produktivitas, tetapi juga kesehatan fisik dan psikologis pekerja dalam jangka panjang. Pemahaman mendalam tentang stres kerja, sumber-sumbernya, faktor-faktor yang memengaruhi, serta strategi pengelolaannya menjadi penting untuk membangun lingkungan kerja yang sehat dan produktif.
Definisi Stres Kerja
Definisi Stres Kerja Secara Umum
Stres kerja umumnya dipahami sebagai kondisi ketegangan yang dialami oleh individu ketika tuntutan pekerjaan melebihi sumber daya atau kemampuan yang dimiliki untuk menghadapinya. Stres ini dapat berupa reaksi fisik, emosional, kognitif, maupun perilaku terhadap tuntutan pekerjaan yang berat atau berlebihan, yang menyebabkan tekanan psikologis serta perasaan kewalahan dalam menjalankan tugas pekerjaan. Penelitian menunjukkan bahwa stres kerja sering kali muncul karena ketidakseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kemampuan individu untuk mengatasi tekanan tersebut, sehingga dapat mengganggu performa serta kesejahteraan pekerja di tempat kerja. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])
Definisi Stres Kerja dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “stres” diartikan sebagai gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang disebabkan oleh faktor luar; ketegangan. Meskipun KBBI tidak membedakan stres berdasarkan konteks kerja secara spesifik, makna ini dapat diterjemahkan ke dalam konteks pekerjaan sebagai gangguan mental dan emosional yang dialami seseorang akibat tekanan pekerjaan yang signifikan. ([Lihat sumber Disini - kbbi.web.id])
Definisi Stres Kerja Menurut Para Ahli
Para ahli psikologi dan manajemen organisasi juga memberikan definisi yang lebih rinci mengenai stres kerja, antara lain:
-
Menurut World Health Organization (WHO), stres kerja merupakan reaksi atau respons terhadap ketidakmampuan pekerja untuk mengatasi tekanan dan tuntutan pekerjaan yang melebihi kapasitas individu, baik secara fisik maupun mental. ([Lihat sumber Disini - repository.bku.ac.id])
-
Handoko (dalam penelitian UAJY) menyatakan bahwa stres kerja adalah kondisi ketegangan yang memengaruhi emosi, proses berpikir, serta kondisi fisik seseorang sebagai respons terhadap tuntutan pekerjaan yang dirasakan mengancam atau melebihi kapasitas individu. ([Lihat sumber Disini - e-journal.uajy.ac.id])
-
Rivai (2004) menjelaskan stres kerja sebagai kondisi ketegangan yang menyebabkan ketidakseimbangan fisik dan psikis, memengaruhi proses berpikir serta emosi karyawan ketika menghadapi tekanan di lingkungan kerja. ([Lihat sumber Disini - repository.ump.ac.id])
-
Dalam kajian manajemen sumber daya manusia, stres kerja diartikan sebagai respons individu terhadap tuntutan kerja yang tidak seimbang dengan kemampuan yang dimiliki, sehingga menghasilkan ketegangan psikologis yang memengaruhi perilaku kerja. ([Lihat sumber Disini - repository.usm.ac.id])
Jenis dan Sumber Stres Kerja
Stres kerja dapat muncul dari berbagai jenis tekanan dan faktor di lingkungan kerja. Secara umum, sumber stres kerja dibedakan menjadi stresor dari lingkungan internal dan eksternal pekerjaan.
1. Beban Kerja Berlebih
Beban kerja yang terlalu berat atau jumlah tugas yang sangat besar sering kali menjadi sumber utama stres kerja. Situasi di mana pekerja dihadapkan pada volume pekerjaan yang tinggi dalam waktu terbatas akan meningkatkan tekanan mental dan perasaan tidak mampu menyelesaikan tugas sesuai harapan. Penelitian menunjukkan beban kerja yang tinggi berhubungan langsung dengan meningkatnya tingkat stres kerja pada karyawan, terutama ketika tuntutan pekerjaan melebihi kapasitas individu. ([Lihat sumber Disini - jurnal.um-palembang.ac.id])
2. Target Tugas dan Kekakuan Waktu
Tuntutan untuk mencapai target tertentu dalam waktu yang ketat juga menjadi faktor penting yang memicu stres kerja. Ketidakseimbangan antara target yang ditetapkan dengan kemampuan untuk mencapainya menciptakan tekanan tambahan pada pekerja, yang dapat mengganggu keseimbangan emosional dan meningkatkan kecemasan terhadap hasil kerja. ([Lihat sumber Disini - jurnal.polgan.ac.id])
3. Ketidakpastian dan Ancaman Posisi Kerja
Rasa tidak aman tentang masa depan pekerjaan atau kemungkinan penurunan status kerja dapat menimbulkan stres psikologis. Ketidakpastian ini sering muncul ketika organisasi mengalami perubahan besar, seperti restrukturisasi atau penyesuaian operasional, yang membuat pekerja merasa terancam terhadap stabilitas kerja mereka. ([Lihat sumber Disini - repository.usm.ac.id])
4. Lingkungan Fisik dan Budaya Organisasi
Faktor lingkungan kerja seperti kebisingan, suhu tidak nyaman, atau budaya kerja yang tidak mendukung juga dapat berkontribusi pada peningkatan tingkat stres kerja. Lingkungan yang tidak kondusif dapat mengganggu konsentrasi pekerja serta memperburuk respons stres yang dialami secara keseluruhan. ([Lihat sumber Disini - jurnal.umk.ac.id])
5. Interaksi Sosial di Tempat Kerja
Hubungan interpersonal yang buruk dengan rekan kerja atau atasan juga menjadi sumber stres kerja yang signifikan. Konflik, kurangnya dukungan sosial, kebijakan yang tidak adil, atau kurangnya komunikasi dalam organisasi dapat memperparah ketegangan psikologis pekerja. ([Lihat sumber Disini - journal.unika.ac.id])
Faktor Individu dan Organisasi dalam Stres Kerja
Baik faktor individu maupun faktor organisasi memiliki peran penting dalam menentukan tingkat stres kerja yang dialami oleh seorang pekerja.
Faktor Individu
Faktor individu mencakup karakteristik pribadi yang memengaruhi bagaimana seseorang merespons tekanan pekerjaan. Beberapa faktor individu yang sering diidentifikasi dalam penelitian meliputi:
-
Usia dan Jenis Kelamin: Perbedaan demografis seperti usia dan jenis kelamin bisa memengaruhi tingkat kerentanan terhadap stres. Pekerja yang lebih muda atau yang berada dalam fase kehidupan tertentu mungkin merasakan tekanan yang berbeda dibandingkan pekerja yang lebih berpengalaman. ([Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id])
-
Tingkat Pendidikan dan Kompetensi: Karyawan dengan tingkat pendidikan dan keterampilan yang lebih rendah atau tidak sesuai dengan tuntutan pekerjaan cenderung lebih rentan mengalami stres kerja karena merasa kurang mampu memenuhi tuntutan pekerjaan. ([Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id])
-
Respons Psikologis Individu: Cara individu memandang situasi tekanan, seperti kecenderungan untuk melihat tuntutan sebagai tantangan atau ancaman, juga akan memengaruhi tingkat stres yang mereka alami. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])
Faktor Organisasi
Faktor organisasi mencakup elemen-elemen struktural dan budaya dalam lingkungan kerja yang dapat memicu stres, antara lain:
-
Desain Pekerjaan: Tuntutan tugas yang tidak realistis atau tidak jelas dapat menyebabkan stres karena pekerja tidak tahu bagaimana mengatasi pekerjaan dengan baik. ([Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id])
-
Iklim Organisasi: Suasana tempat kerja yang negatif, seperti kurangnya dukungan dari manajemen atau persaingan yang berlebihan, dapat meningkatkan tekanan psikologis pekerja. ([Lihat sumber Disini - journal.ubaya.ac.id])
-
Lingkungan Fisik Kerja: Faktor lingkungan seperti pencahayaan yang buruk, kebisingan, atau kondisi kerja yang tidak aman dapat berdampak langsung pada kesejahteraan fisik dan mental pekerja. ([Lihat sumber Disini - jurnal.umk.ac.id])
Dampak Stres Kerja terhadap Kinerja
Stres kerja dapat berdampak pada berbagai aspek kinerja individu dan organisasi. Dampak ini dapat muncul baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
1. Penurunan Produktivitas Kerja
Stres kerja yang tinggi sering kali berkaitan dengan penurunan produktivitas kerja. Ketika pekerja mengalami tekanan yang berlebihan, fokus dan konsentrasi mereka akan menurun, yang berdampak langsung pada efisiensi serta kualitas hasil kerja. Penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat stres kerja dengan produktivitas kerja karyawan di berbagai jenis industri. ([Lihat sumber Disini - journal.stiemb.ac.id])
2. Peningkatan Turnover dan Absensi
Pekerja yang mengalami stres tinggi cenderung memiliki niat lebih besar untuk meninggalkan pekerjaan atau mengambil cuti sakit lebih sering sebagai bentuk menghindari tekanan lingkungan kerja. Hal ini tidak hanya berdampak pada individu tetapi juga menjadi beban bagi organisasi dalam hal biaya rekrutmen dan pelatihan pekerja baru. ([Lihat sumber Disini - journal.lajagoe.com])
3. Penurunan Kepuasan Kerja dan Kinerja Individu
Stres kerja juga dapat menurunkan tingkat kepuasan kerja, yang berkontribusi pada penurunan komitmen terhadap tugas serta tujuan organisasi. Penurunan kepuasan kerja dapat menyebabkan kinerja individu menurun, termasuk hasil evaluasi kinerja yang lebih rendah. ([Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id])
4. Gangguan Kesehatan Mental dan Perilaku Kerja
Tekanan kerja yang berkepanjangan dapat mengakibatkan gangguan psikologis seperti kecemasan, depresi, atau kelelahan mental. Gangguan-gangguan ini tidak hanya mengurangi kinerja tetapi juga membuat pekerja sulit berinteraksi secara efektif dengan rekan kerja. ([Lihat sumber Disini - journal.unika.ac.id])
Stres Kerja dan Kesehatan Karyawan
Stres kerja tidak hanya berdampak pada kinerja, tetapi juga kesehatan fisik dan mental pekerja.
1. Dampak Fisiologis
Respon stres yang berkepanjangan dapat menimbulkan gejala fisik seperti sakit kepala, gangguan tidur, gangguan pencernaan, hingga tekanan darah tinggi. Reaksi tubuh terhadap tekanan terus-menerus dapat meningkatkan risiko penyakit kronis jika tidak diatasi dengan tepat. ([Lihat sumber Disini - repository.usm.ac.id])
2. Dampak Psikologis
Stres kerja yang tidak dikelola dapat menyebabkan gangguan psikologis, termasuk kecemasan, depresi, dan burnout. Gangguan psikologis ini akan memperburuk kualitas hidup pekerja serta kemampuan mereka untuk menghadapi tantangan pekerjaan sehari-hari. ([Lihat sumber Disini - journal.unika.ac.id])
3. Dampak Perilaku
Perilaku kerja juga dapat terpengaruh, seperti meningkatnya kecenderungan absensi, konflik interpersonal, dan kurangnya keterlibatan dalam tim. Stres dapat membuat pekerja lebih sensitif terhadap kritik dan menciptakan suasana kerja yang tidak harmonis. ([Lihat sumber Disini - jurnal.unprimdn.ac.id])
Strategi Pengelolaan dan Pengendalian Stres Kerja
Manajemen stres kerja melibatkan serangkaian strategi yang dapat diterapkan baik oleh individu maupun organisasi untuk meminimalkan dampak negatif dari tekanan kerja.
1. Perencanaan dan Perbaikan Desain Pekerjaan
Organisasi perlu menyusun deskripsi tugas yang jelas, menetapkan target yang realistis, serta memperhatikan kecocokan antara tugas dan kompetensi pekerja. Pendekatan ini membantu mengurangi ketidakpastian dan tekanan yang dirasakan pekerja. ([Lihat sumber Disini - jurnal.um-palembang.ac.id])
2. Dukungan Sosial dan Iklim Kerja Positif
Membangun lingkungan kerja yang suportif, seperti melalui dukungan atasan dan hubungan yang baik antar rekan kerja, dapat membantu pekerja merasa lebih dihargai dan mampu menghadapi tekanan pekerjaan. Dukungan sosial terbukti dapat mengurangi respons stres yang dialami oleh pekerja dalam situasi tekanan tinggi. ([Lihat sumber Disini - journal.ubaya.ac.id])
3. Program Pengembangan Keterampilan Koping
Pelatihan manajemen stres, seperti teknik relaksasi, time management, dan strategi pemecahan masalah, dapat membantu pekerja menghadapi tekanan kerja secara lebih efektif. Pendekatan ini memungkinkan pekerja untuk meningkatkan kontrol diri dalam menghadapi tuntutan pekerjaan yang kompleks. ([Lihat sumber Disini - journal.untar.ac.id])
4. Promosi Kesehatan Mental dan Fasilitas Kesehatan
Organisasi dapat menyediakan layanan konseling, program kesehatan fisik, dan dukungan psikologis untuk membantu pekerja menjaga kesejahteraan mental dan fisik mereka. Program kesehatan mental ini dapat membantu mengidentifikasi tanda-tanda stres yang berbahaya lebih awal dan memberikan intervensi yang tepat. ([Lihat sumber Disini - repository.usm.ac.id])
Kesimpulan
Stres kerja merupakan fenomena kompleks yang melibatkan interaksi antara tuntutan pekerjaan dan kemampuan individu dalam menghadapinya. Secara umum, stres kerja dapat didefinisikan sebagai kondisi ketegangan fisik, psikologis, dan emosional yang terjadi ketika tuntutan pekerjaan melebihi kapasitas individu. Faktor-faktor penyebab stres kerja meliputi beban kerja berlebihan, target tugas yang ketat, ketidakpastian pekerjaan, serta lingkungan dan interaksi sosial di tempat kerja. Baik faktor individu maupun faktor organisasi memainkan peranan penting dalam menentukan tingkat stres yang dialami oleh pekerja.
Dampak stres kerja sangat luas, mulai dari penurunan produktivitas, meningkatnya turnover dan absensi, hingga gangguan kesehatan fisik dan mental. Untuk itu, strategi pengelolaan stres kerja yang efektif perlu diterapkan oleh organisasi dan individu, termasuk perbaikan desain pekerjaan, dukungan sosial yang kuat, pelatihan keterampilan koping, serta promosi kesehatan mental. Dengan penerapan strategi-strategi ini, organisasi dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan mendukung kesejahteraan serta kinerja karyawan dalam jangka panjang.