
Hubungan Stres dengan Kebiasaan Makan
Pendahuluan
Stres merupakan fenomena universal yang hampir setiap orang alami dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang menghadapi tuntutan, tekanan waktu, atau tanggung jawab yang berat, tubuh dan pikiran bereaksi melalui serangkaian respons fisiologis dan psikologis yang kompleks. Reaksi ini tidak hanya memengaruhi suasana hati atau kinerja kerja, tetapi juga dapat berdampak signifikan pada kebiasaan makan seseorang. Perubahan pola makan yang dipicu oleh stres menjadi isu penting dalam kesehatan masyarakat karena dapat memengaruhi status gizi individu, meningkatkan risiko obesitas, malnutrisi, dan gangguan kesehatan lainnya. Pemahaman tentang bagaimana stres berhubungan dengan kebiasaan makan menjadi krusial untuk merancang intervensi gizi dan kesehatan mental yang efektif.
Definisi Hubungan Stres dengan Kebiasaan Makan
Definisi Hubungan Stres dengan Kebiasaan Makan Secara Umum
Hubungan antara stres dan kebiasaan makan merujuk pada keterkaitan antara kondisi psikologis seseorang saat mengalami tekanan (stres) dengan cara individu mengonsumsi makanan dalam jumlah, jenis, atau frekuensi tertentu. Ini mencakup perubahan perilaku makan seperti makan lebih banyak (overeating), makan kurang, atau memilih jenis makanan tertentu saat menghadapi stres. Banyak penelitian menunjukkan bahwa tingkat stres yang tinggi berkorelasi dengan perilaku makan yang tidak sehat, seperti konsumsi makanan tinggi lemak dan gula sebagai mekanisme koping emosional (emotional eating). [Lihat sumber Disini - tandfonline.com]
Definisi Hubungan Stres dengan Kebiasaan Makan dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), stres adalah gangguan mental dan emosional yang disebabkan oleh faktor eksternal berupa ketegangan. Dalam konteks hubungan stres dengan kebiasaan makan, definisi ini menegaskan bahwa ketegangan psikologis yang dirasakan karena stres dapat memengaruhi keseimbangan emosional dan perilaku, termasuk kebiasaan makan yang tidak teratur atau berubah dari pola normalnya. [Lihat sumber Disini - repository.bku.ac.id]
Definisi Hubungan Stres dengan Kebiasaan Makan Menurut Para Ahli
-
Hans Selye mendeskripsikan stres sebagai respons non-spesifik tubuh terhadap tuntutan atau tekanan yang ada, yang dapat memicu perubahan fisiologis seluruh sistem tubuh termasuk yang mengatur nafsu makan. [Lihat sumber Disini - repository.uinfasbengkulu.ac.id]
-
Lazarus dan Folkman (dalam konteks psikologi stres) menekankan stres sebagai ketidakseimbangan antara tuntutan lingkungan dan kemampuan individu untuk mengatasinya, yang dapat memicu perubahan perilaku termasuk dalam konsumsi makanan. [Lihat sumber Disini - repository.uin-suska.ac.id]
-
Hill et al. (2022) dalam meta-analisis menemukan bahwa stres dapat mengganggu pola makan normal dan kuat kaitannya dengan perubahan perilaku makan seperti makan berlebihan atau tidak teratur. [Lihat sumber Disini - tandfonline.com]
-
Ramadhani et al. (2021) menjelaskan bahwa stres akademik meningkatkan kemungkinan perilaku makan emosional, di mana individu mengonsumsi makanan sebagai respons terhadap emosi negatif. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Mekanisme Pengaruh Stres terhadap Nafsu Makan
Stres mengaktifkan respons biologis kompleks dalam tubuh melalui sistem saraf dan hormonal. Ketika stres terjadi, tubuh mengaktifkan sumbu hipotalamus, pituitari, adrenal (HPA), yang memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol. Peningkatan kadar kortisol secara kronis terkait dengan perubahan nafsu makan yang signifikan, terutama dorongan untuk mengonsumsi makanan berenergi tinggi seperti makanan manis dan berlemak yang dikenal sebagai comfort foods. [Lihat sumber Disini - psychiatry.org]
Di satu sisi, pada beberapa individu, respons stres akut dapat menekan sistem pencernaan dan menyebabkan penurunan nafsu makan, sehingga individu cenderung makan lebih sedikit dari biasanya. Sementara itu, pada individu lain, terutama yang mengalami stres kronis, peningkatan kortisol dapat memicu rasa lapar dan keinginan kuat untuk makan lebih sering, terutama makanan dengan kandungan gula dan lemak tinggi. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Selain itu, respons stres dapat memengaruhi hormon lain yang berperan dalam pengaturan nafsu makan seperti ghrelin dan leptin. Ketidakseimbangan hormon-hormon ini dapat memperkuat rasa lapar atau bahkan menyebabkan perilaku makan kompulsif sebagai mekanisme koping terhadap tekanan emosional. [Lihat sumber Disini - journal.unika.ac.id]
Perubahan Pola Konsumsi saat Stres
Perubahan pola konsumsi selama masa stres umumnya berbeda antar individu, namun terdapat dua pola dominan yang sering dilaporkan dalam literatur ilmiah:
1. Meningkatnya Konsumsi Makanan Tidak Sehat
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa individu yang mengalami tingkat stres tinggi cenderung memilih makanan yang tinggi kalori, gula, dan lemak sebagai respons terhadap tekanan emosional. Makanan-makanan ini berfungsi sebagai sumber kenyamanan dan memberikan efek dopamin yang sementara meningkatkan suasana hati meskipun tidak memberikan nutrisi yang sehat jangka panjang. [Lihat sumber Disini - psychiatry.org]
2. Penurunan Nafsu Makan
Tidak semua individu menunjukkan peningkatan konsumsi saat stres. Sebagian orang justru mengalami gangguan pencernaan, mual, dan berkurangnya nafsu makan karena stres yang mengganggu fungsi normal pencernaan. Kondisi ini dapat menyebabkan pola makan yang tidak teratur dan penurunan asupan nutrisi. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
3. Emotional Eating dan Kebiasaan Konsumsi
Beberapa penelitian di Indonesia menunjukkan hubungan signifikan antara stres dan emotional eating, di mana individu menggunakan makanan sebagai respons terhadap tekanan emosional seperti stres, cemas, atau bosan. Kelompok ini sering kali mengonsumsi camilan, makanan manis, dan makanan olahan sebagai bentuk coping mekanisme. [Lihat sumber Disini - jurnal.balitbangda.lampungprov.go.id]
4. Kebiasaan Konsumsi dan Kinerja Akademik
Penelitian pada mahasiswa mengungkap bahwa stres akademik berkorelasi dengan peningkatan konsumsi makanan siap saji dan pilihan makanan yang kurang sehat. Mahasiswa dengan tingkat stres tinggi lebih cenderung mengadopsi pola makan yang tidak seimbang karena keterbatasan waktu dan mekanisme koping yang buruk. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Dampak Jangka Panjang Stres terhadap Status Gizi
Dampak jangka panjang stres terhadap status gizi berpotensi luas dan kompleks. Studi terbaru dari Indonesia menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat stres dan status gizi mahasiswa, di mana stres memengaruhi pola makan yang kemudian berdampak pada status gizi individu (baik risiko malnutrisi maupun obesitas). [Lihat sumber Disini - cmhp.lenterakaji.org]
Stres kronis yang berkepanjangan dapat menyebabkan perubahan hormonal yang berdampak pada metabolisme, distribusi lemak tubuh, dan respons insulin yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko obesitas, resistensi insulin, dan gangguan metabolik lainnya. Pemicu biologis seperti kortisol yang terus terproses secara tinggi dapat mendorong simpanan lemak visceral dan memengaruhi pengaturan berat badan. [Lihat sumber Disini - psychiatry.org]
Selain itu, stres jangka panjang dapat mengganggu kebiasaan makan sehat, mengurangi motivasi untuk menyiapkan makanan bergizi, serta meningkatkan kemungkinan konsumsi makanan cepat saji yang rendah nutrisi namun tinggi kalori. Ini dapat mengakibatkan defisit nutrisi tertentu atau peningkatan konsumsi energi yang tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh sehingga mengancam status gizi yang optimal. [Lihat sumber Disini - cmhp.lenterakaji.org]
Peran Manajemen Stres dalam Menjaga Pola Makan
Manajemen stres merupakan strategi penting untuk mencegah dampak negatif stres terhadap kebiasaan makan dan status gizi. Teknik-teknik seperti relaksasi, mindfulness, olahraga teratur, tidur cukup, hingga konseling psikologis dapat membantu individu mengelola respons stres mereka sehingga perilaku makan tetap terjaga dengan baik. [Lihat sumber Disini - thejnp.org]
Penelitian pada populasi mahasiswa menunjukkan bahwa intervensi pengelolaan stres terbukti secara signifikan meningkatkan status gizi dan menurunkan tingkat kecemasan. Mereka yang terlibat dalam program manajemen stres cenderung lebih mampu menjaga pola makan yang seimbang sehingga status gizinya juga lebih stabil setelah dilakukan pengukuran. [Lihat sumber Disini - thejnp.org]
Pemberdayaan strategi koping positif seperti perencanaan makan sehat, pemantauan asupan makanan, dan teknik relaksasi dapat memitigasi efek stres pada nafsu makan dan konsumsi makanan tidak sehat. Dengan dukungan profesional kesehatan dan lingkungan sosial yang mendukung, individu dapat belajar untuk mengelola stres tanpa bergantung pada makanan sebagai satu-satunya mekanisme koping.
Hubungan Kesehatan Mental dan Nutrisi
Kesehatan mental dan nutrisi saling berinteraksi satu sama lain. Nutrisi yang baik dapat mendukung fungsi otak dan stabilitas emosi, sementara gangguan kesehatan mental seperti stres, kecemasan, atau depresi dapat memengaruhi pola makan dan preferensi makanan seseorang. Jurnal kajian translasi terbaru menekankan bahwa sistem saraf, hormon, dan regulasi energi tubuh saling terkait erat sehingga diet yang buruk dapat memperburuk stres dan sebaliknya stres dapat merusak pilihan makanan yang sehat. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Asupan nutrisi berkualitas, termasuk konsumsi buah, sayur, protein, dan lemak sehat, telah dikaitkan dengan penurunan gejala stres dan peningkatan suasana hati. Pola makan yang kaya nutrisi membantu menjaga keseimbangan hormon, mendukung fungsi neurotransmitter, dan menstabilkan kadar gula darah yang semuanya berkontribusi pada kesejahteraan mental secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Kesimpulan
Hubungan antara stres dan kebiasaan makan sangat kompleks dan melibatkan interaksi antara sistem hormonal, psikologis, dan perilaku. Stres dapat memicu perubahan dalam nafsu makan dan pola konsumsi melalui respons fisiologis seperti peningkatan kortisol yang berdampak pada keinginan akan makanan tinggi energi serta melalui mekanisme koping emosional seperti emotional eating. Perubahan ini dapat berkontribusi pada masalah status gizi jangka panjang jika tidak diatasi dengan manajemen stres yang efektif. Intervensi yang menggabungkan pengelolaan stres dengan edukasi gizi dapat membantu individu mempertahankan pola makan sehat meskipun sedang menghadapi tekanan emosional atau kehidupan yang menantang.