Terakhir diperbarui: 13 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 13 December). Hubungan Stres dengan Kebiasaan Makan. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/hubungan-stres-dengan-kebiasaan-makan  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Hubungan Stres dengan Kebiasaan Makan - SumberAjar.com

Hubungan Stres dengan Kebiasaan Makan

Pendahuluan

Stres merupakan fenomena universal yang hampir setiap orang alami dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang menghadapi tuntutan, tekanan waktu, atau tanggung jawab yang berat, tubuh dan pikiran bereaksi melalui serangkaian respons fisiologis dan psikologis yang kompleks. Reaksi ini tidak hanya memengaruhi suasana hati atau kinerja kerja, tetapi juga dapat berdampak signifikan pada kebiasaan makan seseorang. Perubahan pola makan yang dipicu oleh stres menjadi isu penting dalam kesehatan masyarakat karena dapat memengaruhi status gizi individu, meningkatkan risiko obesitas, malnutrisi, dan gangguan kesehatan lainnya. Pemahaman tentang bagaimana stres berhubungan dengan kebiasaan makan menjadi krusial untuk merancang intervensi gizi dan kesehatan mental yang efektif.


Definisi Hubungan Stres dengan Kebiasaan Makan

Definisi Hubungan Stres dengan Kebiasaan Makan Secara Umum

Hubungan antara stres dan kebiasaan makan merujuk pada keterkaitan antara kondisi psikologis seseorang saat mengalami tekanan (stres) dengan cara individu mengonsumsi makanan dalam jumlah, jenis, atau frekuensi tertentu. Ini mencakup perubahan perilaku makan seperti makan lebih banyak (overeating), makan kurang, atau memilih jenis makanan tertentu saat menghadapi stres. Banyak penelitian menunjukkan bahwa tingkat stres yang tinggi berkorelasi dengan perilaku makan yang tidak sehat, seperti konsumsi makanan tinggi lemak dan gula sebagai mekanisme koping emosional (emotional eating). [Lihat sumber Disini - tandfonline.com]

Definisi Hubungan Stres dengan Kebiasaan Makan dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), stres adalah gangguan mental dan emosional yang disebabkan oleh faktor eksternal berupa ketegangan. Dalam konteks hubungan stres dengan kebiasaan makan, definisi ini menegaskan bahwa ketegangan psikologis yang dirasakan karena stres dapat memengaruhi keseimbangan emosional dan perilaku, termasuk kebiasaan makan yang tidak teratur atau berubah dari pola normalnya. [Lihat sumber Disini - repository.bku.ac.id]

Definisi Hubungan Stres dengan Kebiasaan Makan Menurut Para Ahli

  1. Hans Selye mendeskripsikan stres sebagai respons non-spesifik tubuh terhadap tuntutan atau tekanan yang ada, yang dapat memicu perubahan fisiologis seluruh sistem tubuh termasuk yang mengatur nafsu makan. [Lihat sumber Disini - repository.uinfasbengkulu.ac.id]

  2. Lazarus dan Folkman (dalam konteks psikologi stres) menekankan stres sebagai ketidakseimbangan antara tuntutan lingkungan dan kemampuan individu untuk mengatasinya, yang dapat memicu perubahan perilaku termasuk dalam konsumsi makanan. [Lihat sumber Disini - repository.uin-suska.ac.id]

  3. Hill et al. (2022) dalam meta-analisis menemukan bahwa stres dapat mengganggu pola makan normal dan kuat kaitannya dengan perubahan perilaku makan seperti makan berlebihan atau tidak teratur. [Lihat sumber Disini - tandfonline.com]

  4. Ramadhani et al. (2021) menjelaskan bahwa stres akademik meningkatkan kemungkinan perilaku makan emosional, di mana individu mengonsumsi makanan sebagai respons terhadap emosi negatif. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]


Mekanisme Pengaruh Stres terhadap Nafsu Makan

Stres mengaktifkan respons biologis kompleks dalam tubuh melalui sistem saraf dan hormonal. Ketika stres terjadi, tubuh mengaktifkan sumbu hipotalamus, pituitari, adrenal (HPA), yang memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol. Peningkatan kadar kortisol secara kronis terkait dengan perubahan nafsu makan yang signifikan, terutama dorongan untuk mengonsumsi makanan berenergi tinggi seperti makanan manis dan berlemak yang dikenal sebagai comfort foods. [Lihat sumber Disini - psychiatry.org]

Di satu sisi, pada beberapa individu, respons stres akut dapat menekan sistem pencernaan dan menyebabkan penurunan nafsu makan, sehingga individu cenderung makan lebih sedikit dari biasanya. Sementara itu, pada individu lain, terutama yang mengalami stres kronis, peningkatan kortisol dapat memicu rasa lapar dan keinginan kuat untuk makan lebih sering, terutama makanan dengan kandungan gula dan lemak tinggi. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

Selain itu, respons stres dapat memengaruhi hormon lain yang berperan dalam pengaturan nafsu makan seperti ghrelin dan leptin. Ketidakseimbangan hormon-hormon ini dapat memperkuat rasa lapar atau bahkan menyebabkan perilaku makan kompulsif sebagai mekanisme koping terhadap tekanan emosional. [Lihat sumber Disini - journal.unika.ac.id]


Perubahan Pola Konsumsi saat Stres

Perubahan pola konsumsi selama masa stres umumnya berbeda antar individu, namun terdapat dua pola dominan yang sering dilaporkan dalam literatur ilmiah:

1. Meningkatnya Konsumsi Makanan Tidak Sehat

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa individu yang mengalami tingkat stres tinggi cenderung memilih makanan yang tinggi kalori, gula, dan lemak sebagai respons terhadap tekanan emosional. Makanan-makanan ini berfungsi sebagai sumber kenyamanan dan memberikan efek dopamin yang sementara meningkatkan suasana hati meskipun tidak memberikan nutrisi yang sehat jangka panjang. [Lihat sumber Disini - psychiatry.org]

2. Penurunan Nafsu Makan

Tidak semua individu menunjukkan peningkatan konsumsi saat stres. Sebagian orang justru mengalami gangguan pencernaan, mual, dan berkurangnya nafsu makan karena stres yang mengganggu fungsi normal pencernaan. Kondisi ini dapat menyebabkan pola makan yang tidak teratur dan penurunan asupan nutrisi. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]

3. Emotional Eating dan Kebiasaan Konsumsi

Beberapa penelitian di Indonesia menunjukkan hubungan signifikan antara stres dan emotional eating, di mana individu menggunakan makanan sebagai respons terhadap tekanan emosional seperti stres, cemas, atau bosan. Kelompok ini sering kali mengonsumsi camilan, makanan manis, dan makanan olahan sebagai bentuk coping mekanisme. [Lihat sumber Disini - jurnal.balitbangda.lampungprov.go.id]

4. Kebiasaan Konsumsi dan Kinerja Akademik

Penelitian pada mahasiswa mengungkap bahwa stres akademik berkorelasi dengan peningkatan konsumsi makanan siap saji dan pilihan makanan yang kurang sehat. Mahasiswa dengan tingkat stres tinggi lebih cenderung mengadopsi pola makan yang tidak seimbang karena keterbatasan waktu dan mekanisme koping yang buruk. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Dampak Jangka Panjang Stres terhadap Status Gizi

Dampak jangka panjang stres terhadap status gizi berpotensi luas dan kompleks. Studi terbaru dari Indonesia menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat stres dan status gizi mahasiswa, di mana stres memengaruhi pola makan yang kemudian berdampak pada status gizi individu (baik risiko malnutrisi maupun obesitas). [Lihat sumber Disini - cmhp.lenterakaji.org]

Stres kronis yang berkepanjangan dapat menyebabkan perubahan hormonal yang berdampak pada metabolisme, distribusi lemak tubuh, dan respons insulin yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko obesitas, resistensi insulin, dan gangguan metabolik lainnya. Pemicu biologis seperti kortisol yang terus terproses secara tinggi dapat mendorong simpanan lemak visceral dan memengaruhi pengaturan berat badan. [Lihat sumber Disini - psychiatry.org]

Selain itu, stres jangka panjang dapat mengganggu kebiasaan makan sehat, mengurangi motivasi untuk menyiapkan makanan bergizi, serta meningkatkan kemungkinan konsumsi makanan cepat saji yang rendah nutrisi namun tinggi kalori. Ini dapat mengakibatkan defisit nutrisi tertentu atau peningkatan konsumsi energi yang tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh sehingga mengancam status gizi yang optimal. [Lihat sumber Disini - cmhp.lenterakaji.org]


Peran Manajemen Stres dalam Menjaga Pola Makan

Manajemen stres merupakan strategi penting untuk mencegah dampak negatif stres terhadap kebiasaan makan dan status gizi. Teknik-teknik seperti relaksasi, mindfulness, olahraga teratur, tidur cukup, hingga konseling psikologis dapat membantu individu mengelola respons stres mereka sehingga perilaku makan tetap terjaga dengan baik. [Lihat sumber Disini - thejnp.org]

Penelitian pada populasi mahasiswa menunjukkan bahwa intervensi pengelolaan stres terbukti secara signifikan meningkatkan status gizi dan menurunkan tingkat kecemasan. Mereka yang terlibat dalam program manajemen stres cenderung lebih mampu menjaga pola makan yang seimbang sehingga status gizinya juga lebih stabil setelah dilakukan pengukuran. [Lihat sumber Disini - thejnp.org]

Pemberdayaan strategi koping positif seperti perencanaan makan sehat, pemantauan asupan makanan, dan teknik relaksasi dapat memitigasi efek stres pada nafsu makan dan konsumsi makanan tidak sehat. Dengan dukungan profesional kesehatan dan lingkungan sosial yang mendukung, individu dapat belajar untuk mengelola stres tanpa bergantung pada makanan sebagai satu-satunya mekanisme koping.


Hubungan Kesehatan Mental dan Nutrisi

Kesehatan mental dan nutrisi saling berinteraksi satu sama lain. Nutrisi yang baik dapat mendukung fungsi otak dan stabilitas emosi, sementara gangguan kesehatan mental seperti stres, kecemasan, atau depresi dapat memengaruhi pola makan dan preferensi makanan seseorang. Jurnal kajian translasi terbaru menekankan bahwa sistem saraf, hormon, dan regulasi energi tubuh saling terkait erat sehingga diet yang buruk dapat memperburuk stres dan sebaliknya stres dapat merusak pilihan makanan yang sehat. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

Asupan nutrisi berkualitas, termasuk konsumsi buah, sayur, protein, dan lemak sehat, telah dikaitkan dengan penurunan gejala stres dan peningkatan suasana hati. Pola makan yang kaya nutrisi membantu menjaga keseimbangan hormon, mendukung fungsi neurotransmitter, dan menstabilkan kadar gula darah yang semuanya berkontribusi pada kesejahteraan mental secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]


Kesimpulan

Hubungan antara stres dan kebiasaan makan sangat kompleks dan melibatkan interaksi antara sistem hormonal, psikologis, dan perilaku. Stres dapat memicu perubahan dalam nafsu makan dan pola konsumsi melalui respons fisiologis seperti peningkatan kortisol yang berdampak pada keinginan akan makanan tinggi energi serta melalui mekanisme koping emosional seperti emotional eating. Perubahan ini dapat berkontribusi pada masalah status gizi jangka panjang jika tidak diatasi dengan manajemen stres yang efektif. Intervensi yang menggabungkan pengelolaan stres dengan edukasi gizi dapat membantu individu mempertahankan pola makan sehat meskipun sedang menghadapi tekanan emosional atau kehidupan yang menantang.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Hubungan stres dan kebiasaan makan adalah keterkaitan antara kondisi stres yang dialami seseorang dengan perubahan perilaku makan, baik dari segi jumlah, frekuensi, maupun jenis makanan yang dikonsumsi. Stres dapat menyebabkan peningkatan atau penurunan nafsu makan serta mendorong pemilihan makanan tertentu sebagai respons emosional.

Stres memengaruhi nafsu makan melalui aktivasi sistem hormonal tubuh, terutama peningkatan hormon kortisol. Pada sebagian orang, stres meningkatkan keinginan makan, khususnya makanan tinggi gula dan lemak, sedangkan pada orang lain stres justru menurunkan nafsu makan akibat gangguan pencernaan dan tekanan emosional.

Emotional eating adalah perilaku makan yang dipicu oleh emosi negatif seperti stres, cemas, atau sedih, bukan karena rasa lapar fisik. Individu dengan emotional eating cenderung mengonsumsi makanan manis, berlemak, atau tinggi kalori sebagai cara untuk meredakan tekanan emosional.

Stres jangka panjang dapat menyebabkan gangguan status gizi, baik berupa kelebihan gizi seperti obesitas maupun kekurangan gizi akibat pola makan tidak teratur. Perubahan hormonal dan kebiasaan konsumsi yang tidak sehat akibat stres berperan besar dalam terjadinya ketidakseimbangan nutrisi.

Manajemen stres dapat dilakukan melalui teknik relaksasi, olahraga teratur, tidur yang cukup, mindfulness, serta perencanaan pola makan yang sehat. Pengelolaan stres yang baik membantu menjaga nafsu makan tetap stabil dan mencegah kebiasaan makan yang tidak sehat.

Kesehatan mental dan nutrisi saling memengaruhi. Kondisi mental seperti stres dan kecemasan dapat mengubah pola makan, sementara asupan nutrisi yang seimbang berperan penting dalam menjaga fungsi otak, kestabilan emosi, dan kesehatan mental secara keseluruhan.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Hubungan Stres Kehamilan dengan Pola Makan Ibu Hamil Hubungan Stres Kehamilan dengan Pola Makan Ibu Hamil Pola Makan Tidak Teratur: Konsep, Dampak Metabolik, dan Kesehatan Pola Makan Tidak Teratur: Konsep, Dampak Metabolik, dan Kesehatan Pola Makan Tidak Teratur: Dampak Kesehatan dan Faktor Perilaku Pola Makan Tidak Teratur: Dampak Kesehatan dan Faktor Perilaku Pola Makan Tidak Teratur dan Masalah Pencernaan Pola Makan Tidak Teratur dan Masalah Pencernaan Perilaku Makan Tidak Teratur pada Mahasiswa Perilaku Makan Tidak Teratur pada Mahasiswa Hubungan Stress dan Pola Makan Hubungan Stress dan Pola Makan Pengetahuan Remaja tentang Makan Malam Sehat Pengetahuan Remaja tentang Makan Malam Sehat Dampak Stres terhadap Pola Konsumsi Remaja Dampak Stres terhadap Pola Konsumsi Remaja Pola Makan Tidak Teratur: Faktor dan Dampaknya Pola Makan Tidak Teratur: Faktor dan Dampaknya Pola Makan Keluarga dan Risiko Obesitas Anak Pola Makan Keluarga dan Risiko Obesitas Anak Pengaruh Obat terhadap Nafsu Makan Pengaruh Obat terhadap Nafsu Makan Hubungan Kualitas Tidur dengan Nafsu Makan Anak Hubungan Kualitas Tidur dengan Nafsu Makan Anak Pengaruh Pola Tidur terhadap Nafsu Makan Pengaruh Pola Tidur terhadap Nafsu Makan Evaluasi Pola Makan Harian berdasarkan Pedoman Gizi Seimbang Evaluasi Pola Makan Harian berdasarkan Pedoman Gizi Seimbang Hubungan Pola Makan dengan IMT Hubungan Pola Makan dengan IMT Regulasi Stres: Konsep dan Strategi Adaptif Regulasi Stres: Konsep dan Strategi Adaptif Pengetahuan Ibu tentang Pola Makan Balita Pengetahuan Ibu tentang Pola Makan Balita Stres Kronis: Konsep dan Dampak Psikologis Stres Kronis: Konsep dan Dampak Psikologis Pengelolaan Stres Pasien: Konsep, Pendekatan Keperawatan, dan Dukungan Pengelolaan Stres Pasien: Konsep, Pendekatan Keperawatan, dan Dukungan Pengelolaan Stres Pasien Pengelolaan Stres Pasien
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…