Terakhir diperbarui: 28 November 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 28 November). Teknik Sampling Sistematis: Pengertian dan Contoh. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/teknik-sampling-sistematis-pengertian-dan-contoh  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Teknik Sampling Sistematis: Pengertian dan Contoh - SumberAjar.com

Teknik Sampling Sistematis: Pengertian dan Contoh

Pendahuluan

Dalam penelitian kuantitatif maupun survei, pemilihan sampel yang tepat sangat krusial agar hasil penelitian dapat mewakili populasi secara akurat. Namun seringkali populasi terlalu besar sehingga tidak memungkinkan untuk meneliti seluruh anggota. Oleh karena itu, peneliti menggunakan sampel, sebagian kecil dari populasi, untuk mewakili keseluruhannya. Teknik pemilihan sampel (sampling) pun memiliki banyak metode, tergantung karakteristik populasi dan tujuan penelitian. Salah satu teknik yang banyak digunakan adalah teknik sampling sistematis (systematic sampling). Teknik ini populer karena kesederhanaannya dan efisiensinya dalam memilih sampel, terutama ketika populasi sudah diurutkan atau memiliki daftar lengkap.

Artikel ini akan membahas secara mendalam pengertian teknik sampling sistematis, definisinya baik menurut literatur umum maupun definisi formal, pandangan dari ahli, cara kerja, kelebihan dan kekurangannya, serta contoh penerapan di lapangan. Tujuannya agar pembaca, terutama mahasiswa atau peneliti pemula, memahami cara menggunakan teknik ini dengan benar dan memahami konteks kapan teknik ini tepat diterapkan.


Definisi Teknik Sampling Sistematis

Definisi Umum

Teknik sampling sistematis adalah metode pengambilan sampel di mana elemen sampel dipilih dari populasi berdasarkan interval tertentu dari daftar populasi yang telah diurutkan. Dalam praktiknya, peneliti menentukan satu elemen pertama secara acak, kemudian memilih setiap elemen ke-k berikutnya secara sistematis sesuai interval yang telah ditentukan. [Lihat sumber Disini - binus.ac.id]

Dengan kata lain, setelah daftar populasi (sampling frame) tersedia dan diurutkan, peneliti tidak lagi menarik sampel secara acak penuh setiap kali, melainkan mengikuti pola tetap, misalnya setiap orang ke-5, ke-10, dan seterusnya, sehingga sampel tersebar dengan relatif merata di seluruh populasi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Definisi dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “sampel” berarti bagian dari populasi yang diambil sehingga mewakili seluruh populasi. Sedangkan “sistematis” mengandung arti dilakukan menurut sistem atau urutan tertentu. Digabungkan, “sampel sistematis” dapat dilihat sebagai pengambilan bagian representatif dari populasi dengan menggunakan urutan atau sistem tertentu.

Meskipun KBBI tidak secara eksplisit mendefinisikan “sampling sistematis”, pemaknaan berdasarkan istilah “sampel” dan “sistematis” sesuai dengan praktik pengambilan sampel berdasarkan interval teratur dalam populasi.

Definisi Menurut Para Ahli

Beberapa ahli dan literatur metodologi penelitian mengemukakan definisi teknik sampling sistematis sebagai berikut:

  • Menurut literatur metodologi umum, sampling sistematis adalah salah satu bentuk probability sampling di mana setiap kasus ke-n setelah awal acak dipilih dari populasi. [Lihat sumber Disini - journal.formosapublisher.org]
  • Dalam buku “Statistik untuk Penelitian”, dijelaskan bahwa sampling sistematis dilakukan dengan menggunakan urutan tertentu dari sampling frame, memilih elemen secara sistematis setelah memilih titik awal secara acak. [Lihat sumber Disini - lppm.stieganesha.ac.id]
  • Berdasarkan artikel review teknik sampling umum, sampling sistematis memungkinkan peneliti mengambil sampel dengan interval tetap dari populasi yang telah diurutkan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
  • Dalam literatur pendidikan dan survei, sampling sistematis dijelaskan sebagai memilih anggota populasi secara sistematis menggunakan interval yang telah ditentukan sebelumnya, setelah daftar populasi tersedia. [Lihat sumber Disini - jipp.unram.ac.id]

Secara umum, definisi-definisi tersebut memiliki kesamaan: sampling sistematis merupakan metode probabilitas, memerlukan sampling frame, menentukan satu titik awal acak, lalu memilih sampel selanjutnya berdasarkan interval tetap.


Prinsip dan Mekanisme Kerja Sampling Sistematis

Sebelum menggunakan sampling sistematis, ada beberapa langkah dan prinsip dasar yang perlu diperhatikan:

  • Menyediakan sampling frame
    Artinya populasi harus tersedia dalam daftar lengkap (misalnya daftar nama, ID, daftar pelanggan, daftar rumah tangga, dsb), urut secara sistematis. Tanpa sampling frame yang lengkap dan valid, teknik ini tidak bisa diterapkan. [Lihat sumber Disini - binus.ac.id]
  • Menentukan ukuran sampel (n)
    Peneliti harus menentukan berapa banyak sampel yang diinginkan sesuai tujuan penelitian dan ketersediaan sumber daya.
  • Menghitung interval (k)
    Interval (k) adalah jarak antar sampel yang diambil, dihitung sebagai Rasio antara total populasi (N) dengan jumlah sampel (n), atau k = N ÷ n. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
  • Menentukan titik awal secara acak
    Setelah k dihitung, peneliti memilih satu elemen awal secara acak dari daftar. Misalnya, jika k = 10, maka elemen awal bisa nomor 4; setelah itu, elemen 4, 14, 24, 34, ... akan terpilih sebagai sampel. [Lihat sumber Disini - binus.ac.id]
  • Mengambil sampel secara sistematis
    Berdasarkan interval yang ditetapkan, peneliti mengambil elemen pada posisi interval tersebut berulang sampai jumlah sampel terpenuhi. Proses ini membuat distribusi sampel relatif merata di seluruh populasi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
  • Kondisi di mana sampling sistematis cocok diterapkan
    Teknik ini paling cocok ketika populasi besar, sampling frame lengkap tersedia, populasi relatif homogen, dan tidak ada pola periodik tersembunyi dalam daftar yang bisa mempengaruhi representativitas. [Lihat sumber Disini - penerbitdeepublish.com]

Kelebihan dan Kekurangan Teknik Sampling Sistematis

Kelebihan

  • Efisiensi dan kemudahan pelaksanaan
    Karena hanya perlu menentukan titik awal dan interval, teknik ini lebih cepat dan mudah dilakukan dibandingkan teknik acak penuh yang memerlukan undian atau tabel random ulang untuk setiap elemen. [Lihat sumber Disini - binus.ac.id]
  • Penyebaran sampel yang merata di seluruh populasi
    Dengan pemilihan secara interval tetap, sampel terdistribusi relatif merata dari awal sampai akhir daftar, sehingga dapat mewakili seluruh populasi lebih baik ketimbang mengambil sampel dari satu bagian saja. [Lihat sumber Disini - penerbitdeepublish.com]
  • Minim bias dalam pemilihan sampel (jika tidak ada pola tersembunyi)
    Karena pemilihan elemen setelah titik awal bersifat sistematis (bukan berdasarkan preferensi peneliti), peluang subjektivitas berkurang. [Lihat sumber Disini - penerbitdeepublish.com]
  • Cocok untuk penelitian dengan populasi besar
    Untuk populasi besar, misalnya ribuan atau lebih, sampling sistematis memungkinkan peneliti mengambil sampel representatif tanpa harus meneliti semuanya. [Lihat sumber Disini - penerbitdeepublish.com]

Kekurangan

  • Rentan bias jika terdapat pola periodik dalam populasi
    Jika daftar populasi memiliki pola tertentu (misalnya tiap 10 baris ada kelompok khusus, shift kerja, distribusi umur, dsb), maka interval tetap bisa menyebabkan sampel terpusat pada elemen dengan karakteristik tertentu, sehingga hasil tidak representatif. [Lihat sumber Disini - penerbitdeepublish.com]
  • Tidak benar-benar acak setelah elemen pertama
    Hanya elemen pertama yang dipilih acak; selebihnya mengikuti pola, sehingga semua elemen tidak punya peluang yang sama untuk terpilih, berbeda dengan metode acak penuh (random sampling). [Lihat sumber Disini - penerbitdeepublish.com]
  • Kurang cocok untuk populasi heterogen atau populasi tanpa daftar lengkap
    Jika populasi sangat beragam dan daftar anggota tidak tersedia secara lengkap, teknik ini bisa gagal mewakili karakteristik seluruh populasi. [Lihat sumber Disini - binus.ac.id]
  • Kesulitan bila populasi tidak diketahui jumlah pastinya
    Karena interval tergantung pada ukuran populasi (N), jika N tidak diketahui atau sulit ditentukan, menentukan interval menjadi tidak mungkin. [Lihat sumber Disini - penerbitdeepublish.com]

Contoh Penerapan Sampling Sistematis

Berikut beberapa contoh konkret penerapan teknik sampling sistematis dalam penelitian:

  • Dalam penelitian tentang penyakit dan pertumbuhan anak yang dilakukan di wilayah kerja puskesmas, peneliti mengambil 100 orang dari populasi ibu dengan menggunakan teknik sampling sistematis. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
  • Dalam survei kepuasan konsumen di toko ritel: misalnya ada 1.000 pelanggan dalam daftar pelanggan dan peneliti ingin mengambil 100 sampel, maka bisa dipilih satu pelanggan acak sebagai titik awal, lalu setiap pelanggan ke-10 berikutnya dijadikan sampel. [Lihat sumber Disini - penerbitdeepublish.com]
  • Untuk penelitian pegawai di pabrik dengan total 500 karyawan, peneliti bisa memilih setiap pegawai ke-5 berdasarkan daftar abjad atau nomor ID, untuk memperoleh sampel representatif dari seluruh lini produksi tanpa mewawancarai semuanya. [Lihat sumber Disini - penerbitdeepublish.com]
  • Penelitian quick count (penghitungan cepat) pada pemilu di sebuah provinsi juga pernah memanfaatkan sampling sistematis; meskipun penelitian ini juga menunjukkan keterbatasan SYS, sehingga peneliti mengusulkan modifikasi sebagai bentuk optimasi. [Lihat sumber Disini - komputasi.fmipa.unila.ac.id]

Ketika Teknik Ini, dan Kapan Harus Berhati-hati

Teknik sampling sistematis sangat cocok ketika:

  • Populasi besar dan daftar (sampling frame) tersedia.
  • Populasi relatif homogen, artinya karakteristik populasi tidak terlalu beragam secara ekstrem.
  • Tidak ada pola periodik dalam daftar populasi yang bisa mengganggu representativitas.
  • Peneliti memerlukan cara cepat dan efisien untuk mengambil sampel.

Namun, peneliti harus berhati-hati bila:

  • Populasi heterogen, misalnya variasi umur, jenis kelamin, latar belakang, di mana metode stratifikasi atau cluster mungkin lebih sesuai.
  • Daftar populasi mengandung pola tertentu (misalnya shift kerja, distribusi geografis, klaster, urutan khusus) yang dapat membuat interval tetap menghasilkan bias.
  • Tidak tersedia sampling frame yang lengkap, teknik ini menjadi tidak bisa diterapkan.
  • Populasi jumlahnya tidak diketahui secara pasti, interval dan pemilihan tidak bisa dihitung.

Kesimpulan

Teknik sampling sistematis merupakan metode probabilitas yang efisien dan mudah diterapkan untuk memilih sampel dari populasi yang memiliki daftar lengkap. Dengan memilih satu elemen awal secara acak dan kemudian mengambil elemen berikutnya berdasarkan interval tetap, sampling ini membantu memperoleh sampel yang tersebar merata dan dapat mewakili populasi, dengan catatan bahwa populasi relatif homogen dan daftar populasi (sampling frame) tersedia serta tidak memiliki pola tersembunyi.

Kelebihan dari teknik ini meliputi kemudahan pelaksanaan, efisiensi waktu dan biaya, serta distribusi sampel yang merata. Namun, peneliti tetap harus berhati-hati terhadap potensi bias, terutama jika ada pola periodik dalam populasi, atau jika populasi heterogen. Oleh karena itu, pemilihan teknik sampling harus disesuaikan dengan karakteristik populasi dan tujuan penelitian, kadang teknik lain seperti stratified sampling atau cluster sampling bisa lebih tepat.

Secara keseluruhan, sampling sistematis merupakan alat metodologis yang sangat berguna dalam penelitian, selama syarat dan kondisi penerapannya diperhatikan dengan seksama.

 

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Teknik sampling sistematis adalah metode pengambilan sampel dengan memilih satu elemen awal secara acak, kemudian mengambil elemen berikutnya berdasarkan interval tertentu dari daftar populasi. Teknik ini digunakan ketika populasi memiliki daftar lengkap dan terurut.

Kelebihan teknik sampling sistematis meliputi kemudahan pelaksanaan, efisiensi waktu, distribusi sampel yang merata, serta mengurangi potensi bias subjektif dalam pemilihan sampel.

Kekurangannya mencakup potensi bias jika terdapat pola periodik pada populasi, tidak sepenuhnya acak setelah titik awal, dan tidak cocok jika populasi heterogen atau tidak memiliki daftar lengkap.

Teknik sampling sistematis sebaiknya digunakan ketika populasi relatif homogen, terdapat daftar populasi lengkap, tidak ada pola khusus dalam urutan populasi, dan peneliti membutuhkan proses sampling yang cepat serta efisien.

Interval ditentukan dengan membagi jumlah populasi (N) dengan jumlah sampel yang dibutuhkan (n). Rumus intervalnya adalah k = N Γ· n, yang kemudian digunakan untuk memilih elemen berikutnya setelah titik awal.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Sampling: Definisi, Jenis, dan Contoh dalam Penelitian Sampling: Definisi, Jenis, dan Contoh dalam Penelitian Sampling Error: Pengertian, Penyebab, dan Contoh Sampling Error: Pengertian, Penyebab, dan Contoh Nonprobability Sampling: Definisi, Jenis, dan Contoh Nonprobability Sampling: Definisi, Jenis, dan Contoh Teknik Snowball Sampling: Cara Kerja dan Penerapan Teknik Snowball Sampling: Cara Kerja dan Penerapan Teknik Sampling Klaster: Pengertian dan Contoh Teknik Sampling Klaster: Pengertian dan Contoh Teknik Sampling Random: Langkah dan Penerapan Teknik Sampling Random: Langkah dan Penerapan Quota Sampling: Pengertian, Langkah, dan Contoh Quota Sampling: Pengertian, Langkah, dan Contoh Teknik Sampling Non-Random: Jenis dan Contohnya Teknik Sampling Non-Random: Jenis dan Contohnya Teknik Sampling Acak Berstrata: Fungsi dan Langkah Teknik Sampling Acak Berstrata: Fungsi dan Langkah Random Sampling: Definisi, Langkah, dan Contoh Random Sampling: Definisi, Langkah, dan Contoh Teknik Sampling Purposive: Kelebihan dan Kekurangannya Teknik Sampling Purposive: Kelebihan dan Kekurangannya X-Sample Design: Pengertian, Prinsip, dan Contoh Implementasi X-Sample Design: Pengertian, Prinsip, dan Contoh Implementasi Populasi dan Sampel Penelitian: Perbedaan dan Contoh Populasi dan Sampel Penelitian: Perbedaan dan Contoh Riset Kuantitatif di Era Digital Riset Kuantitatif di Era Digital Populasi dan Sampel: Pengertian, Perbedaan, dan Contohnya Populasi dan Sampel: Pengertian, Perbedaan, dan Contohnya Teknik Pengumpulan Data dalam Penelitian Eksperimen Teknik Pengumpulan Data dalam Penelitian Eksperimen Teknik Relaksasi: Konsep, Penerapan, dan Implikasi Keperawatan Teknik Relaksasi: Konsep, Penerapan, dan Implikasi Keperawatan Bias Seleksi: Pengertian, Penyebab, dan Cara Mengatasinya Bias Seleksi: Pengertian, Penyebab, dan Cara Mengatasinya Penelitian Kualitatif Virtual: Metode dan Etika Penelitian Kualitatif Virtual: Metode dan Etika Desain Penelitian Kuantitatif: Struktur dan Contohnya Desain Penelitian Kuantitatif: Struktur dan Contohnya
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…