
Teknik Sampling Sistematis: Pengertian dan Contoh
Pendahuluan
Dalam penelitian kuantitatif maupun survei, pemilihan sampel yang tepat sangat krusial agar hasil penelitian dapat mewakili populasi secara akurat. Namun seringkali populasi terlalu besar sehingga tidak memungkinkan untuk meneliti seluruh anggota. Oleh karena itu, peneliti menggunakan sampel, sebagian kecil dari populasi, untuk mewakili keseluruhannya. Teknik pemilihan sampel (sampling) pun memiliki banyak metode, tergantung karakteristik populasi dan tujuan penelitian. Salah satu teknik yang banyak digunakan adalah teknik sampling sistematis (systematic sampling). Teknik ini populer karena kesederhanaannya dan efisiensinya dalam memilih sampel, terutama ketika populasi sudah diurutkan atau memiliki daftar lengkap.
Artikel ini akan membahas secara mendalam pengertian teknik sampling sistematis, definisinya baik menurut literatur umum maupun definisi formal, pandangan dari ahli, cara kerja, kelebihan dan kekurangannya, serta contoh penerapan di lapangan. Tujuannya agar pembaca, terutama mahasiswa atau peneliti pemula, memahami cara menggunakan teknik ini dengan benar dan memahami konteks kapan teknik ini tepat diterapkan.
Definisi Teknik Sampling Sistematis
Definisi Umum
Teknik sampling sistematis adalah metode pengambilan sampel di mana elemen sampel dipilih dari populasi berdasarkan interval tertentu dari daftar populasi yang telah diurutkan. Dalam praktiknya, peneliti menentukan satu elemen pertama secara acak, kemudian memilih setiap elemen ke-k berikutnya secara sistematis sesuai interval yang telah ditentukan. [Lihat sumber Disini - binus.ac.id]
Dengan kata lain, setelah daftar populasi (sampling frame) tersedia dan diurutkan, peneliti tidak lagi menarik sampel secara acak penuh setiap kali, melainkan mengikuti pola tetap, misalnya setiap orang ke-5, ke-10, dan seterusnya, sehingga sampel tersebar dengan relatif merata di seluruh populasi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Definisi dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “sampel” berarti bagian dari populasi yang diambil sehingga mewakili seluruh populasi. Sedangkan “sistematis” mengandung arti dilakukan menurut sistem atau urutan tertentu. Digabungkan, “sampel sistematis” dapat dilihat sebagai pengambilan bagian representatif dari populasi dengan menggunakan urutan atau sistem tertentu.
Meskipun KBBI tidak secara eksplisit mendefinisikan “sampling sistematis”, pemaknaan berdasarkan istilah “sampel” dan “sistematis” sesuai dengan praktik pengambilan sampel berdasarkan interval teratur dalam populasi.
Definisi Menurut Para Ahli
Beberapa ahli dan literatur metodologi penelitian mengemukakan definisi teknik sampling sistematis sebagai berikut:
- Menurut literatur metodologi umum, sampling sistematis adalah salah satu bentuk probability sampling di mana setiap kasus ke-n setelah awal acak dipilih dari populasi. [Lihat sumber Disini - journal.formosapublisher.org]
- Dalam buku “Statistik untuk Penelitian”, dijelaskan bahwa sampling sistematis dilakukan dengan menggunakan urutan tertentu dari sampling frame, memilih elemen secara sistematis setelah memilih titik awal secara acak. [Lihat sumber Disini - lppm.stieganesha.ac.id]
- Berdasarkan artikel review teknik sampling umum, sampling sistematis memungkinkan peneliti mengambil sampel dengan interval tetap dari populasi yang telah diurutkan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
- Dalam literatur pendidikan dan survei, sampling sistematis dijelaskan sebagai memilih anggota populasi secara sistematis menggunakan interval yang telah ditentukan sebelumnya, setelah daftar populasi tersedia. [Lihat sumber Disini - jipp.unram.ac.id]
Secara umum, definisi-definisi tersebut memiliki kesamaan: sampling sistematis merupakan metode probabilitas, memerlukan sampling frame, menentukan satu titik awal acak, lalu memilih sampel selanjutnya berdasarkan interval tetap.
Prinsip dan Mekanisme Kerja Sampling Sistematis
Sebelum menggunakan sampling sistematis, ada beberapa langkah dan prinsip dasar yang perlu diperhatikan:
- Menyediakan sampling frame
Artinya populasi harus tersedia dalam daftar lengkap (misalnya daftar nama, ID, daftar pelanggan, daftar rumah tangga, dsb), urut secara sistematis. Tanpa sampling frame yang lengkap dan valid, teknik ini tidak bisa diterapkan. [Lihat sumber Disini - binus.ac.id] - Menentukan ukuran sampel (n)
Peneliti harus menentukan berapa banyak sampel yang diinginkan sesuai tujuan penelitian dan ketersediaan sumber daya. - Menghitung interval (k)
Interval (k) adalah jarak antar sampel yang diambil, dihitung sebagai Rasio antara total populasi (N) dengan jumlah sampel (n), atau k = N ÷ n. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org] - Menentukan titik awal secara acak
Setelah k dihitung, peneliti memilih satu elemen awal secara acak dari daftar. Misalnya, jika k = 10, maka elemen awal bisa nomor 4; setelah itu, elemen 4, 14, 24, 34, ... akan terpilih sebagai sampel. [Lihat sumber Disini - binus.ac.id] - Mengambil sampel secara sistematis
Berdasarkan interval yang ditetapkan, peneliti mengambil elemen pada posisi interval tersebut berulang sampai jumlah sampel terpenuhi. Proses ini membuat distribusi sampel relatif merata di seluruh populasi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org] - Kondisi di mana sampling sistematis cocok diterapkan
Teknik ini paling cocok ketika populasi besar, sampling frame lengkap tersedia, populasi relatif homogen, dan tidak ada pola periodik tersembunyi dalam daftar yang bisa mempengaruhi representativitas. [Lihat sumber Disini - penerbitdeepublish.com]
Kelebihan dan Kekurangan Teknik Sampling Sistematis
Kelebihan
- Efisiensi dan kemudahan pelaksanaan
Karena hanya perlu menentukan titik awal dan interval, teknik ini lebih cepat dan mudah dilakukan dibandingkan teknik acak penuh yang memerlukan undian atau tabel random ulang untuk setiap elemen. [Lihat sumber Disini - binus.ac.id] - Penyebaran sampel yang merata di seluruh populasi
Dengan pemilihan secara interval tetap, sampel terdistribusi relatif merata dari awal sampai akhir daftar, sehingga dapat mewakili seluruh populasi lebih baik ketimbang mengambil sampel dari satu bagian saja. [Lihat sumber Disini - penerbitdeepublish.com] - Minim bias dalam pemilihan sampel (jika tidak ada pola tersembunyi)
Karena pemilihan elemen setelah titik awal bersifat sistematis (bukan berdasarkan preferensi peneliti), peluang subjektivitas berkurang. [Lihat sumber Disini - penerbitdeepublish.com] - Cocok untuk penelitian dengan populasi besar
Untuk populasi besar, misalnya ribuan atau lebih, sampling sistematis memungkinkan peneliti mengambil sampel representatif tanpa harus meneliti semuanya. [Lihat sumber Disini - penerbitdeepublish.com]
Kekurangan
- Rentan bias jika terdapat pola periodik dalam populasi
Jika daftar populasi memiliki pola tertentu (misalnya tiap 10 baris ada kelompok khusus, shift kerja, distribusi umur, dsb), maka interval tetap bisa menyebabkan sampel terpusat pada elemen dengan karakteristik tertentu, sehingga hasil tidak representatif. [Lihat sumber Disini - penerbitdeepublish.com] - Tidak benar-benar acak setelah elemen pertama
Hanya elemen pertama yang dipilih acak; selebihnya mengikuti pola, sehingga semua elemen tidak punya peluang yang sama untuk terpilih, berbeda dengan metode acak penuh (random sampling). [Lihat sumber Disini - penerbitdeepublish.com] - Kurang cocok untuk populasi heterogen atau populasi tanpa daftar lengkap
Jika populasi sangat beragam dan daftar anggota tidak tersedia secara lengkap, teknik ini bisa gagal mewakili karakteristik seluruh populasi. [Lihat sumber Disini - binus.ac.id] - Kesulitan bila populasi tidak diketahui jumlah pastinya
Karena interval tergantung pada ukuran populasi (N), jika N tidak diketahui atau sulit ditentukan, menentukan interval menjadi tidak mungkin. [Lihat sumber Disini - penerbitdeepublish.com]
Contoh Penerapan Sampling Sistematis
Berikut beberapa contoh konkret penerapan teknik sampling sistematis dalam penelitian:
- Dalam penelitian tentang penyakit dan pertumbuhan anak yang dilakukan di wilayah kerja puskesmas, peneliti mengambil 100 orang dari populasi ibu dengan menggunakan teknik sampling sistematis. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
- Dalam survei kepuasan konsumen di toko ritel: misalnya ada 1.000 pelanggan dalam daftar pelanggan dan peneliti ingin mengambil 100 sampel, maka bisa dipilih satu pelanggan acak sebagai titik awal, lalu setiap pelanggan ke-10 berikutnya dijadikan sampel. [Lihat sumber Disini - penerbitdeepublish.com]
- Untuk penelitian pegawai di pabrik dengan total 500 karyawan, peneliti bisa memilih setiap pegawai ke-5 berdasarkan daftar abjad atau nomor ID, untuk memperoleh sampel representatif dari seluruh lini produksi tanpa mewawancarai semuanya. [Lihat sumber Disini - penerbitdeepublish.com]
- Penelitian quick count (penghitungan cepat) pada pemilu di sebuah provinsi juga pernah memanfaatkan sampling sistematis; meskipun penelitian ini juga menunjukkan keterbatasan SYS, sehingga peneliti mengusulkan modifikasi sebagai bentuk optimasi. [Lihat sumber Disini - komputasi.fmipa.unila.ac.id]
Ketika Teknik Ini, dan Kapan Harus Berhati-hati
Teknik sampling sistematis sangat cocok ketika:
- Populasi besar dan daftar (sampling frame) tersedia.
- Populasi relatif homogen, artinya karakteristik populasi tidak terlalu beragam secara ekstrem.
- Tidak ada pola periodik dalam daftar populasi yang bisa mengganggu representativitas.
- Peneliti memerlukan cara cepat dan efisien untuk mengambil sampel.
Namun, peneliti harus berhati-hati bila:
- Populasi heterogen, misalnya variasi umur, jenis kelamin, latar belakang, di mana metode stratifikasi atau cluster mungkin lebih sesuai.
- Daftar populasi mengandung pola tertentu (misalnya shift kerja, distribusi geografis, klaster, urutan khusus) yang dapat membuat interval tetap menghasilkan bias.
- Tidak tersedia sampling frame yang lengkap, teknik ini menjadi tidak bisa diterapkan.
- Populasi jumlahnya tidak diketahui secara pasti, interval dan pemilihan tidak bisa dihitung.
Kesimpulan
Teknik sampling sistematis merupakan metode probabilitas yang efisien dan mudah diterapkan untuk memilih sampel dari populasi yang memiliki daftar lengkap. Dengan memilih satu elemen awal secara acak dan kemudian mengambil elemen berikutnya berdasarkan interval tetap, sampling ini membantu memperoleh sampel yang tersebar merata dan dapat mewakili populasi, dengan catatan bahwa populasi relatif homogen dan daftar populasi (sampling frame) tersedia serta tidak memiliki pola tersembunyi.
Kelebihan dari teknik ini meliputi kemudahan pelaksanaan, efisiensi waktu dan biaya, serta distribusi sampel yang merata. Namun, peneliti tetap harus berhati-hati terhadap potensi bias, terutama jika ada pola periodik dalam populasi, atau jika populasi heterogen. Oleh karena itu, pemilihan teknik sampling harus disesuaikan dengan karakteristik populasi dan tujuan penelitian, kadang teknik lain seperti stratified sampling atau cluster sampling bisa lebih tepat.
Secara keseluruhan, sampling sistematis merupakan alat metodologis yang sangat berguna dalam penelitian, selama syarat dan kondisi penerapannya diperhatikan dengan seksama.