
Faktor yang Mempengaruhi Ketuban Pecah Dini
Pendahuluan
Kehamilan adalah periode rentan yang memerlukan perhatian ekstra terhadap kesehatan ibu dan janin. Salah satu komplikasi obstetri yang patut mendapat perhatian serius adalah Ketuban Pecah Dini (KPD). KPD bisa terjadi sebelum proses persalinan berlangsung dan berpotensi menimbulkan berbagai risiko bagi ibu maupun janin, dari prematuritas, infeksi, hingga komplikasi persalinan. Oleh karena itu penting bagi calon ibu, tenaga kesehatan, dan masyarakat umum untuk memahami faktor penyebab, cara mendeteksi, serta upaya pencegahan KPD.
Dalam artikel ini akan dibahas definisi KPD, faktor risiko medis dan non-medis, peran infeksi, gaya hidup, deteksi dini, dampak bagi ibu & janin, serta strategi pencegahan dan manajemen berdasarkan literatur ilmiah terkini.
Definisi Ketuban Pecah Dini
Definisi Ketuban Pecah Dini secara Umum
Ketuban Pecah Dini (KPD) adalah kondisi di mana selaput ketuban (amniotik) pecah sebelum proses persalinan dimulai, yaitu sebelum ada kontraksi persalinan atau sebelum pembukaan serviks mencapai fase persalinan. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
Menurut literatur, jika ketuban pecah terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu → disebut Preterm Premature Rupture of Membranes (PPROM). Sedangkan jika terjadi pada atau setelah 37 minggu, disebut Premature Rupture of Membranes (PROM) atau KPD aterm. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Definisi Ketuban Pecah Dini dalam KBBI
Menurut definisi formal dalam kamus bahasa Indonesia (KBBI), meskipun istilah “Ketuban Pecah Dini” secara spesifik mungkin tidak tersedia, “ketuban” merujuk pada “selaput air ketuban” dan “pecah dini” berarti “terbelah / pecah lebih awal dari waktu yang wajar.” Dengan demikian, KPD dapat diartikan sebagai pecahnya selaput air ketuban lebih awal sebelum persalinan dimulai secara normal.
Definisi Ketuban Pecah Dini Menurut Para Ahli
Beberapa definisi menurut literatur dan ahli, antara lain:
-
Menurut Suryanti (2021), KPD adalah kejadian pecahnya membran ketuban sebelum persalinan (baik dalam keadaan preterm maupun aterm), atau sebelum pembukaan serviks mencapai fase aktif persalinan. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
-
Dalam publikasi internasional, PROM/PPROM didefinisikan sebagai pecah selaput ketuban sebelum munculnya kontraksi persalinan reguler. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Sejumlah literatur menyatakan bahwa pecah dini membran berkaitan dengan faktor predisposisi seperti abnormalitas selaput ketuban, over-distensi uterus, atau kondisi serviks yang lemah. [Lihat sumber Disini - rumah-jurnal.com]
-
Dari meta-analisis literatur, tercatat bahwa riwayat PROM sebelumnya, kelainan serviks (misalnya panjang serviks pendek), infeksi genital, anemia, merokok, serta paritas tinggi (multipara) adalah faktor signifikan KPD. [Lihat sumber Disini - comphi.sinergis.org]
Faktor Risiko Medis dan Non-Medis
Berbagai penelitian, baik nasional maupun internasional, telah mengidentifikasi banyak faktor yang berhubungan dengan kejadian KPD. Faktor-faktor ini bisa dibedakan menjadi faktor medis (internal) dan non-medis (eksternal / lingkungan / gaya hidup).
-
Usia Ibu: Ibu hamil dengan usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami KPD. [Lihat sumber Disini - ejr.umku.ac.id]
-
Paritas: Baik primigravida (kehamilan pertama) maupun multipara (baik angka paritas sangat tinggi) dilaporkan dalam beberapa penelitian memiliki kaitan dengan peningkatan risiko KPD. [Lihat sumber Disini - ejr.umku.ac.id]
-
Anemia dan kondisi nutrisi buruk: Anemia selama kehamilan dikaitkan dengan meningkatnya kejadian PROM/KPD. Studi di Tangerang menunjukkan prevalensi PROM lebih tinggi pada ibu hamil anemia. [Lihat sumber Disini - midwifery.iocspublisher.org]
-
Riwayat KPD, abortus, atau operasi sebelumnya: Ibu dengan riwayat ketuban pecah dini sebelumnya, riwayat abortus, atau riwayat operasi (misalnya sesar / SC) memiliki risiko lebih besar mengalami KPD. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Kelainan letak janin / presentasi / overdistensi uterus: Kondisi seperti kehamilan kembar, janin besar, atau letak janin abnormal dapat memicu tekanan berlebih pada selaput ketuban → meningkatkan kemungkinan pecah dini. [Lihat sumber Disini - journalofmedula.com]
-
Aspek obstetrik dan persepsi pelayanan kesehatan: Faktor seperti umur kehamilan (gestational age), perujukan kasus, dan riwayat penyakit kronis ikut berdampak. Sebuah penelitian 2025 menemukan bahwa usia kehamilan, status referral, paritas, dan riwayat infeksi kronis signifikan berhubungan dengan PROM. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
-
Pendidikan, pekerjaan, status sosial & ekonomi: Dalam beberapa studi, ibu dengan tingkat pendidikan rendah, status pekerjaan tertentu, atau kondisi sosial-ekonomi kurang mendukung menunjukkan insiden KPD lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id]
Peran Infeksi dalam Ketuban Pecah Dini
Infeksi, baik pada saluran genital, serviks, maupun saluran kemih, sering disebut sebagai faktor dominan dalam terjadinya KPD.
-
Beberapa penelitian di Indonesia menegaskan bahwa infeksi genitalia (vaginal, serviks, Vagina bacterial overgrowth, infeksi menular seksual) secara signifikan meningkatkan risiko KPD. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Literatur review global menunjukkan bahwa inflamasi, bakteri, atau gangguan mikrobioma pada membran janin/selaput ketuban dapat melemahkan struktur membran → mempermudah pecah dini. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Infeksi juga berperan dalam komplikasi setelah KPD, seperti infeksi neonatal, sepsis, dan kematian perinatal. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Gaya Hidup dan Kebiasaan yang Memengaruhi
Selain faktor medis, gaya hidup dan kebiasaan sehari-hari juga dapat memengaruhi risiko KPD. Beberapa di antaranya:
-
Merokok atau paparan asap rokok: Merokok maternal maupun paparan asap (passive smoking) disebut dalam literatur sebagai faktor risiko PROM/KPD. [Lihat sumber Disini - comphi.sinergis.org]
-
Perawatan antenatal (ANC) yang kurang memadai: Ibu yang tidak rutin melakukan pemeriksaan kehamilan sering kali melewatkan deteksi dini faktor-risiko seperti anemia, infeksi, atau masalah serviks → berisiko lebih tinggi KPD. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Kondisi nutrisi dan defisiensi energi kronis: Gizi buruk atau kekurangan asupan (malnutrisi) memberi kontribusi pada lemahnya jaringan membran ketuban sehingga lebih rentan pecah. [Lihat sumber Disini - ejurnal.poltekkes-tjk.ac.id]
-
Riwayat aktivitas seksual, hubungan suami-istri, jarak kehamilan, dan faktor reproduksi lain: Ditemukan hubungan antara frekuensi hubungan seksual, jarak kehamilan, atau riwayat obstetri dengan kejadian KPD dalam beberapa kajian. [Lihat sumber Disini - ejournal.unjaya.ac.id]
Upaya Deteksi Dini KPD
Deteksi dini terhadap ibu hamil yang berisiko KPD penting untuk mencegah komplikasi. Upaya deteksi dini antara lain:
-
Pemeriksaan antenatal rutin, memantau hemoglobin, status gizi, tanda-tanda infeksi, serta riwayat kehamilan/partus.
-
Pemeriksaan serviks dan kondisi serviks, pengukuran panjang serviks, pemeriksaan adanya infeksi serviks atau vagina, serta observasi gejala keputihan abnormal atau perdarahan. Banyak literatur menyarankan surveilans mikrobioma vagina serta pemeriksaan serviks secara berkala. [Lihat sumber Disini - ejournal.unjaya.ac.id]
-
Riwayat kehamilan & kelahiran, identifikasi wanita dengan riwayat abortus, operasi sesar, KPD sebelumnya, jarak kehamilan dekat, paritas ekstrem. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Pendidikan dan edukasi ibu hamil, memberikan informasi mengenai gejala awal KPD (misalnya keluarnya cairan atau air ketuban), pentingnya kontrol kehamilan, serta menjaga kebersihan genital.
Dampak KPD terhadap Ibu dan Janin
KPD dapat membawa berbagai konsekuensi serius jika tidak ditangani dengan benar, baik bagi ibu maupun janin.
-
Untuk janin: KPD dapat menyebabkan kelahiran prematur, yang meningkatkan risiko sindrom distress pernapasan (RDS), berat lahir rendah, infeksi neonatal, hingga kematian perinatal. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
-
Untuk ibu: Risiko infeksi maternal (chorioamnionitis), pendarahan, komplikasi persalinan, serta morbiditas dan mortalitas meningkat. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Secara demografis, jika insiden KPD tinggi dalam populasi, kontribusinya terhadap angka kematian ibu dan bayi akan signifikan. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
Pencegahan dan Manajemen KPD
Beberapa strategi pencegahan dan manajemen KPD yang direkomendasikan berdasarkan literatur:
-
Perawatan ANC yang optimal, termasuk pemeriksaan gizi, anemia, infeksi, dan kondisi obstetrik secara teratur.
-
Deteksi dan pengobatan dini infeksi genital atau saluran kemih selama kehamilan, untuk mencegah kerusakan struktural membran ketuban.
-
Peningkatan edukasi ibu hamil dan masyarakat, pentingnya kontrol rutin, mengenali gejala awal (misalnya kebocoran cairan), dan menjaga kebersihan genital.
-
Manajemen obstetrik yang tepat ketika KPD terjadi: jika terjadi prematuritas, dilakukan perawatan intensif, pemberian antibiotik, monitor janin, serta persiapan asuhan neonatal bila diperlukan (misalnya untuk mencegah RDS). Beberapa kasus (misalnya kehamilan kembar) memerlukan intervensi khusus. [Lihat sumber Disini - journalofmedula.com]
-
Faktor gaya hidup: menghimbau untuk menghindari merokok, menjaga nutrisi, dan menjalani kehamilan dengan jarak aman, serta manajemen stres dan lingkungan yang sehat.
Kesimpulan
Ketuban Pecah Dini (KPD) adalah komplikasi kehamilan serius yang terjadi ketika selaput ketuban pecah sebelum persalinan berlangsung. Definisinya bisa mencakup pecah sebelum 37 minggu (PPROM) maupun pada atau setelah 37 minggu (PROM), tergantung usia kehamilan. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya KPD, medis maupun non-medis, seperti paritas, usia ibu, anemia, riwayat kehamilan/partus, infeksi genital, kondisi nutrisi, gaya hidup, dan pelayanan perawatan kehamilan.
Infeksi terutama mikrobioma genital dan saluran kemih memiliki peran penting dalam memicu KPD melalui mekanisme melemahkan struktur membran ketuban. Gaya hidup seperti merokok, malnutrisi, serta kurangnya kontrol kehamilan meningkatkan risiko lebih lanjut.
Dampak KPD terhadap ibu dan janin bisa sangat berat, termasuk prematuritas, infeksi neonatal, morbiditas dan mortalitas. Oleh karena itu deteksi dini, perawatan antenatal optimal, edukasi, dan manajemen komprehensif sangat penting untuk mencegah dan mengurangi risiko.
Dengan mengenali faktor risiko dan menerapkan langkah pencegahan serta perawatan yang tepat, harapannya angka insiden dan komplikasi KPD bisa ditekan, demi keselamatan ibu dan bayi.