Terakhir diperbarui: 08 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 8 December). Gangguan Integritas Mukosa Oral. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/gangguan-integritas-mukosa-oral  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Gangguan Integritas Mukosa Oral - SumberAjar.com

Gangguan Integritas Mukosa Oral

Pendahuluan

Rongga mulut, khususnya mukosa oral, memainkan peran penting dalam kesehatan dan fungsi mulut sehari-hari, termasuk berbicara, menelan, mengecap, serta melindungi dari infeksi. Kerusakan atau gangguan terhadap mukosa ini dapat menurunkan kualitas hidup, mempengaruhi nutrisi, menyebabkan nyeri, dan menjadi pintu masuk infeksi. Oleh karena itu, menjaga integritas mukosa oral adalah aspek esensial dalam perawatan kesehatan, terutama pada populasi rentan (lansia, pasien dengan penyakit kronis, pasien mendapat kemoterapi/radiasi, dan lain-lain). Artikel ini membahas secara mendalam mengenai pengertian, faktor penyebab, tanda-gejala, penilaian, intervensi keperawatan, edukasi pasien, hingga contoh kasus gangguan mukosa oral.


Definisi Gangguan Integritas Mukosa Oral

Definisi Gangguan Integritas Mukosa Oral Secara Umum

Secara umum, “gangguan integritas mukosa oral” mengacu pada kondisi di mana mukosa dalam rongga mulut (termasuk pipi bagian dalam, bibir, gingiva, lidah, palatum, dan dasar mulut) mengalami perubahan struktur atau fungsi, misalnya peradangan, luka, kekeringan, ulserasi, kerusakan pelindung, yang mengganggu keseimbangan normal mukosa, menyebabkan rasa tidak nyaman, nyeri, disfungsi mulut, atau risiko infeksi.

Definisi Gangguan Integritas Mukosa Oral dalam KBBI

Menurut definisi dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), istilah “integritas” merujuk pada keadaan utuh, tidak rusak, atau keutuhan. Sedangkan “mukosa oral” berarti selaput lendir di rongga mulut. Maka, “integritas mukosa oral” dapat diartikan sebagai keutuhan selaput lendir di dalam rongga mulut. Dengan demikian, “gangguan integritas mukosa oral” berarti kondisi di mana keutuhan selaput lendir rongga mulut terganggu, baik secara struktural maupun fungsional.

Definisi Gangguan Integritas Mukosa Oral Menurut Para Ahli

Berikut beberapa definisi dari literatur/kajian ilmiah:

  • Menurut studi oleh Hasibuan dan kolega dalam tulisan tentang perawatan mulut untuk pencegahan Mukositis Oral, mukosa rongga mulut (pipi, bibir, gingiva, lidah, palatum, dasar mulut) dapat mengalami peradangan atau kerusakan jaringan akibat interaksi kompleks antara kerusakan sel, kondisi lingkungan rongga mulut, dan faktor predisposisi pasien. [Lihat sumber Disini - cdkjournal.com]

  • Dalam konteks xerostomia, istilah gangguan mukosa terjadi ketika penurunan sekresi saliva menyebabkan hilangnya fungsi saliva sebagai pelindung mukosa dan menyebabkan gejala seperti rasa kering, bibir kering, lidah berfisur, serta meningkatkan risiko lesi, karies, dan infeksi. [Lihat sumber Disini - jurnal.poltekkespalembang.ac.id]

  • Dalam manajemen pasien kritis (misalnya pasien intubasi di ICU), perawatan mukosa oral yang baik, termasuk menjaga kelembapan dan kebersihan, disebut sebagai aspek penting untuk mempertahankan apa yang disebut “oral health status” dan mencegah komplikasi berat, termasuk infeksi saluran napas. [Lihat sumber Disini - elsevier.es]

  • Studi keperawatan pada pasien anak dengan kemoterapi menunjukkan bahwa gangguan mukosa (mukositis) terjadi sebagai akibat kerusakan sel epitel oral oleh terapi, sehingga integritas mukosa, baik struktur maupun fungsinya, terganggu. [Lihat sumber Disini - jurnal.unpad.ac.id]

Dengan demikian, gangguan integritas mukosa oral mencakup kondisi patologi maupun patofisiologi yang mengganggu keutuhan, fungsi protektif, dan keseimbangan lingkungan mukosa rongga mulut, baik berupa kerusakan fisik, peradangan, kekeringan, ulserasi, maupun predisposisi terhadap infeksi.


Faktor Penyebab Kerusakan Mukosa

Gangguan integritas mukosa oral bisa disebabkan oleh berbagai faktor, baik intrinsik maupun ekstrinsik. Berikut faktor-faktornya:

  1. Infeksi & Mikroorganisme

  2. Kekurangan Saliva / Xerostomia

  3. Obat-obatan

  4. Terapi Medis (Radiasi / Kemoterapi)

  5. Kebersihan Mulut yang Buruk / Faktor Pribadi


Tanda dan Gejala Gangguan Mukosa Oral

Gangguan integritas mukosa oral dapat menampakkan diri melalui berbagai gejala klinis. Beberapa tanda dan gejala umum:


Penilaian Kebersihan dan Kelembapan Oral

Penilaian terhadap kondisi mukosa oral meliputi pemeriksaan kebersihan mulut, kelembapan, dan adanya lesi atau abnormalitas lain. Berikut beberapa aspek dan cara penilaian:

  • Pemeriksaan visual dan inspekulo mukosa: pemeriksaan pipi dalam, bibir, gingiva, lidah, palatum, dasar mulut, untuk mendeteksi lesi, luka, ulserasi, plak, perubahan warna, atau perubahan struktur.

  • Penilaian kelembapan: menilai apakah mukosa terasa kering, apakah saliva cukup, apakah bibir/langit-langit/bibir terasa kering atau pecah. Ini penting terutama pada pasien dengan xerostomia atau terapi radiasi/kemoterapi.

  • Cek riwayat medis dan faktor penyebab: menanyakan penggunaan obat, riwayat radiasi/kemoterapi, penyakit sistemik (diabetes, autoimun), kondisi hidrasi, kebiasaan oral hygiene, frekuensi pembersihan mulut.

  • Indeks atau instrumen penilaian klinis: Dalam praktik keperawatan, beberapa penelitian menggunakan instrumen seperti Beck Oral Assessment Scale (BOAS), yang menilai beberapa sub-skala: bibir, gingiva & mukosa, lidah, gigi, dan saliva. Skor BOAS yang lebih tinggi menunjukkan status kesehatan mulut yang lebih buruk. [Lihat sumber Disini - elsevier.es]

  • Penilaian kebersihan mulut dan lesi mukosa pada populasi lanjut usia / komunitas: Studi di Indonesia menunjukkan bahwa kebersihan mulut dan jumlah lesi mukosa berhubungan negatif dengan kualitas hidup berbasis kesehatan mulut. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

Penilaian rutin dan sistematis penting, khususnya pada pasien lanjut usia, pasien yang menerima terapi radiasi/kemoterapi, pasien dengan polifarmasi, atau pasien kritis, karena gangguan mukosa bisa berkembang cepat dan berdampak luas.


Intervensi Keperawatan untuk Mukosa Oral

Dalam konteks keperawatan, beberapa intervensi dapat dilakukan untuk menjaga atau memulihkan integritas mukosa oral, terutama pada pasien berisiko. Berikut intervensi yang direkomendasikan berdasarkan literatur:

  • Perawatan mulut rutin & oral hygiene: Menjaga kebersihan rongga mulut secara teratur (menyikat gigi, menyikat lidah, membersihkan pipi dalam) dengan sikat lembut, menghindari trauma, serta menggunakan teknik pembersihan yang lembut agar tidak merusak mukosa. Studi menunjukkan bahwa kebersihan mulut yang baik berperan besar dalam mencegah lesi mukosa. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  • Menjaga kelembapan mukosa (moisturizing oral mucosa): Untuk pasien dengan xerostomia atau risiko kekeringan, pemberian air liur buatan, meningkatkan hidrasi, menggunakan agen topikal yang melembapkan (misalnya madu topikal, sesuai penelitian pada pasien intubasi) dapat membantu menjaga kelembapan dan integritas mukosa. [Lihat sumber Disini - elsevier.es]

  • Penggunaan agen pelindung / antiseptik jika perlu: Pada pasien berisiko infeksi (misalnya imunokompromais, kemoterapi, radiasi), penggunaan antiseptik/mouthwash dapat dipertimbangkan dengan hati-hati, sambil memantau efek samping seperti iritasi atau deskuamasi. [Lihat sumber Disini - elsevier.es]

  • Edukasi pasien / keluarga tentang perawatan mulut: Menjelaskan pentingnya kebersihan mulut, hidrasi cukup, mengenali tanda awal gangguan mukosa, bagaimana merawat mulut dengan benar (menyikat dengan lembut, menjaga kelembapan, menghindari iritan), serta mengenali kapan harus melapor ke tenaga kesehatan.

  • Pencegahan dan monitoring berkala: Terutama pada kelompok berisiko, lansia, pasien polifarmasi, pasien terapi radiasi/kemoterapi, pasien kritis, perlu dilakukan evaluasi berkala kondisi mulut, kelembapan, lesi, serta adaptasi intervensi sesuai kebutuhan.

  • Kolaborasi interdisipliner: Jika diperlukan, misalnya bagi pasien dengan kondisi sistemik (diabetes), pasien kanker, pasien di ICU, perawat bekerja sama dengan dokter gigi, dokter, ahli gizi, untuk mengoptimalkan perawatan dan pencegahan komplikasi.

Penelitian menunjukkan bahwa penerapan pedoman oral care keperawatan secara konsisten dapat meningkatkan integritas mukosa dan mengurangi kejadian lesi pada pasien. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Edukasi Pasien Mengenai Perawatan Mulut

Penting bagi pasien (atau keluarga/care giver) untuk mendapat edukasi komprehensif mengenai:

  • Pentingnya menjaga kebersihan mulut secara rutin: menyikat gigi 2× sehari dengan sikat lembut, menyikat lidah, membersihkan pipi dalam dan palatum dengan lembut.

  • Menjaga hidrasi cukup dan merangsang produksi saliva bila perlu, misalnya minum air putih cukup, mengunyah permen karet tanpa gula atau xylitol (jika tidak ada kontraindikasi), menggunakan salvia buatan atau agen pelembap mulut bila direkomendasikan. Banyak pasien dengan xerostomia menunjukkan perbaikan setelah mendisiplinkan asupan cairan dan kebiasaan oral hygiene. [Lihat sumber Disini - jurnal.umsb.ac.id]

  • Menghindari faktor pencetus kerusakan mukosa: misalnya tidak merokok, menghindari makanan atau minuman terlalu panas atau asam, menghindari trauma pada mulut, membatasi penggunaan obat yang tidak perlu, dan jika memakai obat, diskusikan dengan dokter mengenai efek samping mulut.

  • Mengenali tanda peringatan: seperti bibir/alis/kering, luka, ulserasi, nyeri saat makan atau menelan, sensasi terbakar, lidah berfisur, serta segera lapor ke tenaga kesehatan jika muncul.

  • Bagi pasien dengan kondisi khusus (misalnya kemoterapi, radiasi, diabetes, lanjut usia), penting untuk melakukan perawatan mulut ekstra, pemeriksaan rutin, dan mengikuti saran dari profesional kesehatan gigi/keperawatan.

Edukasi ini bertujuan agar pasien dan keluarga memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan untuk menjaga kesehatan mukosa dan mencegah komplikasi lebih lanjut.


Contoh Kasus Gangguan Mukosa Oral

Berikut contoh kasus yang mencerminkan bagaimana gangguan integritas mukosa oral dapat terjadi, beserta intervensi dan edukasi:

Kasus: Pasien lansia berusia 68 tahun dengan riwayat hipertensi dan penyakit kronis, menggunakan beberapa obat dengan efek samping mulut kering. Dia mengeluh mulut sering kering, bibir dan pipi dalam terasa kasar, lidah terasa kering dan berfisur, kesulitan menelan makanan keras, serta menurun nafsu makan. Pemeriksaan intraoral menunjukkan mukosa kering, beberapa area tampak sedikit putih dan kasar, dan subyektif pasien mengatakan sering merasa tidak nyaman saat makan.

Analisis: Kemungkinan besar pasien mengalami xerostomia akibat efek samping obat dan penurunan fungsi kelenjar saliva seiring usia, menyebabkan gangguan integritas mukosa. Faktor risiko: usia lanjut, polifarmasi, penurunan sekresi saliva.

Intervensi keperawatan: Terapkan oral care rutin: mengajarkan menyikat gigi dengan sikat lembut, menyikat lidah, menjaga hidrasi; memberikan salvia buatan atau pelembap mulut bila perlu; memantau kondisi mukosa; mengedukasi pasien tentang pentingnya kebersihan mulut dan hidrasi; menganjurkan konsultasi ke dokter gigi jika lesi atau ulserasi berkembang; memantau nutrisi dan kemampuan menelan.

Edukasi pasien: Beri informasi tentang bagaimana efek obat bisa mempengaruhi mulut, pentingnya minum air cukup, teknik oral hygiene yang lembut, mengenali tanda awal gangguan mukosa, dan kapan harus kontrol ke tenaga kesehatan/ dokter gigi.

Hasil yang diharapkan: mukosa mulut kembali lembap, keluhan mulut kering berkurang, kemampuan makan dan menelan membaik, risiko lesi atau infeksi mulut mengecil, sehingga kualitas hidup meningkat.


Kesimpulan

Gangguan integritas mukosa oral adalah kondisi serius yang dapat berdampak besar pada kenyamanan, fungsi mulut, nutrisi, dan kualitas hidup seseorang. Faktor penyebabnya beragam, mulai dari infeksi, xerostomia, efek obat, terapi medis, hingga kebersihan mulut yang buruk. Penting adanya penilaian rutin terhadap kebersihan dan kelembapan rongga mulut, serta intervensi keperawatan yang tepat: kebersihan mulut, menjaga kelembapan, edukasi pasien, dan kolaborasi antarprofesional. Edukasi pasien dan keluarga menjadi fondasi perawatan agar gangguan mukosa dapat dicegah atau dikelola dengan baik. Dengan pendekatan komprehensif, integritas mukosa oral dapat dipertahankan, mendukung fungsi mulut optimal dan kualitas hidup yang lebih baik.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Gangguan integritas mukosa oral adalah kondisi ketika keutuhan selaput lendir rongga mulut mengalami kerusakan seperti kekeringan, ulserasi, infeksi, atau peradangan sehingga mengganggu fungsi mulut.

Penyebab utama meliputi infeksi, penurunan produksi saliva (xerostomia), efek samping obat, radiasi atau kemoterapi, kebersihan mulut buruk, dan kondisi sistemik seperti usia lanjut atau penyakit kronis.

Gejalanya dapat berupa mulut kering, bibir pecah, lidah berfisur, nyeri, ulserasi, plak, kesulitan makan atau menelan, dan risiko infeksi meningkat.

Penilaian dilakukan melalui inspeksi visual, pemeriksaan kelembapan, riwayat medis pasien, kebiasaan kebersihan mulut, serta penggunaan instrumen seperti Beck Oral Assessment Scale.

Intervensi meliputi oral hygiene rutin, menjaga kelembapan mulut, penggunaan salivary substitute jika diperlukan, edukasi pasien tentang perawatan mulut, monitoring lesi, dan kolaborasi dengan tenaga medis terkait.

Edukasi berfokus pada menjaga kebersihan mulut, hidrasi cukup, menghindari iritan, memahami efek obat, mengenali tanda awal gangguan mukosa, serta pentingnya pemeriksaan rutin.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Gangguan Integritas Mukosa Oral: Konsep, Implikasi, dan Perawatan Gangguan Integritas Mukosa Oral: Konsep, Implikasi, dan Perawatan Integritas Akademik: Pengertian, Prinsip, dan Contohnya Integritas Akademik: Pengertian, Prinsip, dan Contohnya Risiko Gangguan Integritas Kulit Risiko Gangguan Integritas Kulit Prinsip Integritas Ilmiah dalam Penulisan Riset Prinsip Integritas Ilmiah dalam Penulisan Riset Kerusakan Integritas Kulit: Konsep, Indikator Klinis, dan Pencegahan Kerusakan Integritas Kulit: Konsep, Indikator Klinis, dan Pencegahan Kerusakan Integritas Kulit: Indikator dan Pencegahannya Kerusakan Integritas Kulit: Indikator dan Pencegahannya Risiko Gangguan Integritas Kulit: Pencegahan dan Pengendalian Risiko Gangguan Integritas Kulit: Pencegahan dan Pengendalian Pengaruh Makanan Pedas terhadap Kesehatan Lambung Pengaruh Makanan Pedas terhadap Kesehatan Lambung Efek Suplemen Zat Besi terhadap Gangguan Pencernaan Efek Suplemen Zat Besi terhadap Gangguan Pencernaan Nutrisi Mikrobiota dan Kesehatan Usus Nutrisi Mikrobiota dan Kesehatan Usus Risiko Dehidrasi: Konsep, Faktor Penyebab, dan Pencegahan Risiko Dehidrasi: Konsep, Faktor Penyebab, dan Pencegahan Gangguan Memori: Konsep, Faktor Penyebab, dan Dampak Gangguan Memori: Konsep, Faktor Penyebab, dan Dampak Gangguan Memori: Definisi, Penyebab, dan Penanganan Gangguan Memori: Definisi, Penyebab, dan Penanganan Gangguan Fungsi Sensorik: Pendengaran, Penglihatan, dan Rasa Gangguan Fungsi Sensorik: Pendengaran, Penglihatan, dan Rasa Risiko Dehidrasi: Identifikasi dan Pencegahan Risiko Dehidrasi: Identifikasi dan Pencegahan Gangguan Fungsi Sensorik: Konsep, Jenis, dan Implikasi Gangguan Fungsi Sensorik: Konsep, Jenis, dan Implikasi Perubahan Pola Bicara: Pengertian dan Contoh Kasus Perubahan Pola Bicara: Pengertian dan Contoh Kasus Perubahan Pola Bicara: Konsep, Gangguan Neurologis, dan Implikasi Perubahan Pola Bicara: Konsep, Gangguan Neurologis, dan Implikasi Pengaruh Defisiensi Mikronutrien terhadap Efek Samping Obat Pengaruh Defisiensi Mikronutrien terhadap Efek Samping Obat Prinsip Etika Akademik dalam Penulisan Ilmiah Prinsip Etika Akademik dalam Penulisan Ilmiah
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…