
Gangguan Integritas Mukosa Oral
Pendahuluan
Rongga mulut, khususnya mukosa oral, memainkan peran penting dalam kesehatan dan fungsi mulut sehari-hari, termasuk berbicara, menelan, mengecap, serta melindungi dari infeksi. Kerusakan atau gangguan terhadap mukosa ini dapat menurunkan kualitas hidup, mempengaruhi nutrisi, menyebabkan nyeri, dan menjadi pintu masuk infeksi. Oleh karena itu, menjaga integritas mukosa oral adalah aspek esensial dalam perawatan kesehatan, terutama pada populasi rentan (lansia, pasien dengan penyakit kronis, pasien mendapat kemoterapi/radiasi, dan lain-lain). Artikel ini membahas secara mendalam mengenai pengertian, faktor penyebab, tanda-gejala, penilaian, intervensi keperawatan, edukasi pasien, hingga contoh kasus gangguan mukosa oral.
Definisi Gangguan Integritas Mukosa Oral
Definisi Gangguan Integritas Mukosa Oral Secara Umum
Secara umum, “gangguan integritas mukosa oral” mengacu pada kondisi di mana mukosa dalam rongga mulut (termasuk pipi bagian dalam, bibir, gingiva, lidah, palatum, dan dasar mulut) mengalami perubahan struktur atau fungsi, misalnya peradangan, luka, kekeringan, ulserasi, kerusakan pelindung, yang mengganggu keseimbangan normal mukosa, menyebabkan rasa tidak nyaman, nyeri, disfungsi mulut, atau risiko infeksi.
Definisi Gangguan Integritas Mukosa Oral dalam KBBI
Menurut definisi dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), istilah “integritas” merujuk pada keadaan utuh, tidak rusak, atau keutuhan. Sedangkan “mukosa oral” berarti selaput lendir di rongga mulut. Maka, “integritas mukosa oral” dapat diartikan sebagai keutuhan selaput lendir di dalam rongga mulut. Dengan demikian, “gangguan integritas mukosa oral” berarti kondisi di mana keutuhan selaput lendir rongga mulut terganggu, baik secara struktural maupun fungsional.
Definisi Gangguan Integritas Mukosa Oral Menurut Para Ahli
Berikut beberapa definisi dari literatur/kajian ilmiah:
-
Menurut studi oleh Hasibuan dan kolega dalam tulisan tentang perawatan mulut untuk pencegahan Mukositis Oral, mukosa rongga mulut (pipi, bibir, gingiva, lidah, palatum, dasar mulut) dapat mengalami peradangan atau kerusakan jaringan akibat interaksi kompleks antara kerusakan sel, kondisi lingkungan rongga mulut, dan faktor predisposisi pasien. [Lihat sumber Disini - cdkjournal.com]
-
Dalam konteks xerostomia, istilah gangguan mukosa terjadi ketika penurunan sekresi saliva menyebabkan hilangnya fungsi saliva sebagai pelindung mukosa dan menyebabkan gejala seperti rasa kering, bibir kering, lidah berfisur, serta meningkatkan risiko lesi, karies, dan infeksi. [Lihat sumber Disini - jurnal.poltekkespalembang.ac.id]
-
Dalam manajemen pasien kritis (misalnya pasien intubasi di ICU), perawatan mukosa oral yang baik, termasuk menjaga kelembapan dan kebersihan, disebut sebagai aspek penting untuk mempertahankan apa yang disebut “oral health status” dan mencegah komplikasi berat, termasuk infeksi saluran napas. [Lihat sumber Disini - elsevier.es]
-
Studi keperawatan pada pasien anak dengan kemoterapi menunjukkan bahwa gangguan mukosa (mukositis) terjadi sebagai akibat kerusakan sel epitel oral oleh terapi, sehingga integritas mukosa, baik struktur maupun fungsinya, terganggu. [Lihat sumber Disini - jurnal.unpad.ac.id]
Dengan demikian, gangguan integritas mukosa oral mencakup kondisi patologi maupun patofisiologi yang mengganggu keutuhan, fungsi protektif, dan keseimbangan lingkungan mukosa rongga mulut, baik berupa kerusakan fisik, peradangan, kekeringan, ulserasi, maupun predisposisi terhadap infeksi.
Faktor Penyebab Kerusakan Mukosa
Gangguan integritas mukosa oral bisa disebabkan oleh berbagai faktor, baik intrinsik maupun ekstrinsik. Berikut faktor-faktornya:
-
Infeksi & Mikroorganisme
-
Infeksi jamur (misalnya Kandidiasis Oral) dapat menyebabkan lesi pada mukosa oral. [Lihat sumber Disini - repository.unair.ac.id]
-
Infeksi bakteri/organisme patogen, terutama jika kebersihan mulut buruk, meningkatkan risiko ulserasi atau peradangan mukosa. [Lihat sumber Disini - cdkjournal.com]
-
-
Kekurangan Saliva / Xerostomia
-
Xerostomia, keluhan subjektif “mulut kering”, sering diakibatkan berkurangnya sekresi saliva (hiposalivasi). [Lihat sumber Disini - jurnal.unpad.ac.id]
-
Pada lansia, penurunan fungsi kelenjar saliva secara fisiologis, konsumsi obat, atau radiasi kepala/leher dapat memperburuk sekresi saliva. [Lihat sumber Disini - repository.unhas.ac.id]
-
Dampak xerostomia: bibir dan mukosa kering, lidah berfisur, mulut terasa panas atau “terbakar”, kesulitan menelan atau berbicara, peningkatan karies, infeksi, serta penurunan kualitas hidup. [Lihat sumber Disini - jurnal.poltekkespalembang.ac.id]
-
-
Obat-obatan
-
Penggunaan obat dengan efek antikolinergik, simpatomimetik, antihistamin, diuretik, antihipertensi, atau obat lain tertentu dapat menurunkan produksi saliva dan menyebabkan xerostomia. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
-
Studi kasus di Indonesia menunjukkan pasien yang mengalami drug-induced xerostomia akibat obat anti-kecemasan atau obat psikiatrik. [Lihat sumber Disini - stoma.jurnal.unej.ac.id]
-
-
Terapi Medis (Radiasi / Kemoterapi)
-
Pasien yang menjalani radiasi di area kepala dan leher sering mengalami kerusakan kelenjar saliva → xerostomia → gangguan mukosa. [Lihat sumber Disini - repository.unhas.ac.id]
-
Terapi kemoterapi pada anak juga terkait dengan kejadian mukositis, kerusakan mukosa yang luas di rongga mulut. [Lihat sumber Disini - jurnal.unpad.ac.id]
-
-
Kebersihan Mulut yang Buruk / Faktor Pribadi
-
Kebersihan mulut yang kurang optimal, higiene buruk, atau kebiasaan yang merusak mukosa dapat memperbesar risiko lesi mukosa. [Lihat sumber Disini - cdkjournal.com]
-
Faktor usia, perubahan fisiologis (elastisitas jaringan menurun), kondisi sistemik (diabetes, penyakit kronis), serta riwayat luka/lesi mukosa sebelumnya juga berkontribusi. [Lihat sumber Disini - jurnal.unpad.ac.id]
-
Tanda dan Gejala Gangguan Mukosa Oral
Gangguan integritas mukosa oral dapat menampakkan diri melalui berbagai gejala klinis. Beberapa tanda dan gejala umum:
-
Rasa “mulut kering” / sensasi kering di bibir, pipi dalam, dan langit-langit mulut. (terkait xerostomia) [Lihat sumber Disini - jurnal.unpad.ac.id]
-
Bibir kering, pecah-pecah atau lecet; lidah berfisur; papila lidah membesar; sensasi terbakar di lidah atau rongga mulut. [Lihat sumber Disini - jurnal.umsb.ac.id]
-
Ulserasi, luka, lesi merah atau putih, plak, atau lesi mukosa lainnya (mis. akibat infeksi jamur, mukositis, ulseratif). [Lihat sumber Disini - repository.unair.ac.id]
-
Nyeri pada mulut, terutama saat makan, menelan, berbicara, atau membersihkan mulut. (frekuen pada mukositis / lesi mukosa) [Lihat sumber Disini - jurnal.unpad.ac.id]
-
Kesulitan makan, menelan, mengecap rasa dengan normal; penurunan nafsu makan; perubahan nutrisi; penurunan berat badan; berkurangnya kualitas hidup. [Lihat sumber Disini - jurnal.poltekkespalembang.ac.id]
-
Risiko infeksi sekunder meningkat, terutama pada pasien imunokompromais, anak-anak, lansia, atau pasien dengan kondisi sistemik. [Lihat sumber Disini - cdkjournal.com]
Penilaian Kebersihan dan Kelembapan Oral
Penilaian terhadap kondisi mukosa oral meliputi pemeriksaan kebersihan mulut, kelembapan, dan adanya lesi atau abnormalitas lain. Berikut beberapa aspek dan cara penilaian:
-
Pemeriksaan visual dan inspekulo mukosa: pemeriksaan pipi dalam, bibir, gingiva, lidah, palatum, dasar mulut, untuk mendeteksi lesi, luka, ulserasi, plak, perubahan warna, atau perubahan struktur.
-
Penilaian kelembapan: menilai apakah mukosa terasa kering, apakah saliva cukup, apakah bibir/langit-langit/bibir terasa kering atau pecah. Ini penting terutama pada pasien dengan xerostomia atau terapi radiasi/kemoterapi.
-
Cek riwayat medis dan faktor penyebab: menanyakan penggunaan obat, riwayat radiasi/kemoterapi, penyakit sistemik (diabetes, autoimun), kondisi hidrasi, kebiasaan oral hygiene, frekuensi pembersihan mulut.
-
Indeks atau instrumen penilaian klinis: Dalam praktik keperawatan, beberapa penelitian menggunakan instrumen seperti Beck Oral Assessment Scale (BOAS), yang menilai beberapa sub-skala: bibir, gingiva & mukosa, lidah, gigi, dan saliva. Skor BOAS yang lebih tinggi menunjukkan status kesehatan mulut yang lebih buruk. [Lihat sumber Disini - elsevier.es]
-
Penilaian kebersihan mulut dan lesi mukosa pada populasi lanjut usia / komunitas: Studi di Indonesia menunjukkan bahwa kebersihan mulut dan jumlah lesi mukosa berhubungan negatif dengan kualitas hidup berbasis kesehatan mulut. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Penilaian rutin dan sistematis penting, khususnya pada pasien lanjut usia, pasien yang menerima terapi radiasi/kemoterapi, pasien dengan polifarmasi, atau pasien kritis, karena gangguan mukosa bisa berkembang cepat dan berdampak luas.
Intervensi Keperawatan untuk Mukosa Oral
Dalam konteks keperawatan, beberapa intervensi dapat dilakukan untuk menjaga atau memulihkan integritas mukosa oral, terutama pada pasien berisiko. Berikut intervensi yang direkomendasikan berdasarkan literatur:
-
Perawatan mulut rutin & oral hygiene: Menjaga kebersihan rongga mulut secara teratur (menyikat gigi, menyikat lidah, membersihkan pipi dalam) dengan sikat lembut, menghindari trauma, serta menggunakan teknik pembersihan yang lembut agar tidak merusak mukosa. Studi menunjukkan bahwa kebersihan mulut yang baik berperan besar dalam mencegah lesi mukosa. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Menjaga kelembapan mukosa (moisturizing oral mucosa): Untuk pasien dengan xerostomia atau risiko kekeringan, pemberian air liur buatan, meningkatkan hidrasi, menggunakan agen topikal yang melembapkan (misalnya madu topikal, sesuai penelitian pada pasien intubasi) dapat membantu menjaga kelembapan dan integritas mukosa. [Lihat sumber Disini - elsevier.es]
-
Penggunaan agen pelindung / antiseptik jika perlu: Pada pasien berisiko infeksi (misalnya imunokompromais, kemoterapi, radiasi), penggunaan antiseptik/mouthwash dapat dipertimbangkan dengan hati-hati, sambil memantau efek samping seperti iritasi atau deskuamasi. [Lihat sumber Disini - elsevier.es]
-
Edukasi pasien / keluarga tentang perawatan mulut: Menjelaskan pentingnya kebersihan mulut, hidrasi cukup, mengenali tanda awal gangguan mukosa, bagaimana merawat mulut dengan benar (menyikat dengan lembut, menjaga kelembapan, menghindari iritan), serta mengenali kapan harus melapor ke tenaga kesehatan.
-
Pencegahan dan monitoring berkala: Terutama pada kelompok berisiko, lansia, pasien polifarmasi, pasien terapi radiasi/kemoterapi, pasien kritis, perlu dilakukan evaluasi berkala kondisi mulut, kelembapan, lesi, serta adaptasi intervensi sesuai kebutuhan.
-
Kolaborasi interdisipliner: Jika diperlukan, misalnya bagi pasien dengan kondisi sistemik (diabetes), pasien kanker, pasien di ICU, perawat bekerja sama dengan dokter gigi, dokter, ahli gizi, untuk mengoptimalkan perawatan dan pencegahan komplikasi.
Penelitian menunjukkan bahwa penerapan pedoman oral care keperawatan secara konsisten dapat meningkatkan integritas mukosa dan mengurangi kejadian lesi pada pasien. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Edukasi Pasien Mengenai Perawatan Mulut
Penting bagi pasien (atau keluarga/care giver) untuk mendapat edukasi komprehensif mengenai:
-
Pentingnya menjaga kebersihan mulut secara rutin: menyikat gigi 2× sehari dengan sikat lembut, menyikat lidah, membersihkan pipi dalam dan palatum dengan lembut.
-
Menjaga hidrasi cukup dan merangsang produksi saliva bila perlu, misalnya minum air putih cukup, mengunyah permen karet tanpa gula atau xylitol (jika tidak ada kontraindikasi), menggunakan salvia buatan atau agen pelembap mulut bila direkomendasikan. Banyak pasien dengan xerostomia menunjukkan perbaikan setelah mendisiplinkan asupan cairan dan kebiasaan oral hygiene. [Lihat sumber Disini - jurnal.umsb.ac.id]
-
Menghindari faktor pencetus kerusakan mukosa: misalnya tidak merokok, menghindari makanan atau minuman terlalu panas atau asam, menghindari trauma pada mulut, membatasi penggunaan obat yang tidak perlu, dan jika memakai obat, diskusikan dengan dokter mengenai efek samping mulut.
-
Mengenali tanda peringatan: seperti bibir/alis/kering, luka, ulserasi, nyeri saat makan atau menelan, sensasi terbakar, lidah berfisur, serta segera lapor ke tenaga kesehatan jika muncul.
-
Bagi pasien dengan kondisi khusus (misalnya kemoterapi, radiasi, diabetes, lanjut usia), penting untuk melakukan perawatan mulut ekstra, pemeriksaan rutin, dan mengikuti saran dari profesional kesehatan gigi/keperawatan.
Edukasi ini bertujuan agar pasien dan keluarga memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan untuk menjaga kesehatan mukosa dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Contoh Kasus Gangguan Mukosa Oral
Berikut contoh kasus yang mencerminkan bagaimana gangguan integritas mukosa oral dapat terjadi, beserta intervensi dan edukasi:
Kasus: Pasien lansia berusia 68 tahun dengan riwayat hipertensi dan penyakit kronis, menggunakan beberapa obat dengan efek samping mulut kering. Dia mengeluh mulut sering kering, bibir dan pipi dalam terasa kasar, lidah terasa kering dan berfisur, kesulitan menelan makanan keras, serta menurun nafsu makan. Pemeriksaan intraoral menunjukkan mukosa kering, beberapa area tampak sedikit putih dan kasar, dan subyektif pasien mengatakan sering merasa tidak nyaman saat makan.
Analisis: Kemungkinan besar pasien mengalami xerostomia akibat efek samping obat dan penurunan fungsi kelenjar saliva seiring usia, menyebabkan gangguan integritas mukosa. Faktor risiko: usia lanjut, polifarmasi, penurunan sekresi saliva.
Intervensi keperawatan: Terapkan oral care rutin: mengajarkan menyikat gigi dengan sikat lembut, menyikat lidah, menjaga hidrasi; memberikan salvia buatan atau pelembap mulut bila perlu; memantau kondisi mukosa; mengedukasi pasien tentang pentingnya kebersihan mulut dan hidrasi; menganjurkan konsultasi ke dokter gigi jika lesi atau ulserasi berkembang; memantau nutrisi dan kemampuan menelan.
Edukasi pasien: Beri informasi tentang bagaimana efek obat bisa mempengaruhi mulut, pentingnya minum air cukup, teknik oral hygiene yang lembut, mengenali tanda awal gangguan mukosa, dan kapan harus kontrol ke tenaga kesehatan/ dokter gigi.
Hasil yang diharapkan: mukosa mulut kembali lembap, keluhan mulut kering berkurang, kemampuan makan dan menelan membaik, risiko lesi atau infeksi mulut mengecil, sehingga kualitas hidup meningkat.
Kesimpulan
Gangguan integritas mukosa oral adalah kondisi serius yang dapat berdampak besar pada kenyamanan, fungsi mulut, nutrisi, dan kualitas hidup seseorang. Faktor penyebabnya beragam, mulai dari infeksi, xerostomia, efek obat, terapi medis, hingga kebersihan mulut yang buruk. Penting adanya penilaian rutin terhadap kebersihan dan kelembapan rongga mulut, serta intervensi keperawatan yang tepat: kebersihan mulut, menjaga kelembapan, edukasi pasien, dan kolaborasi antarprofesional. Edukasi pasien dan keluarga menjadi fondasi perawatan agar gangguan mukosa dapat dicegah atau dikelola dengan baik. Dengan pendekatan komprehensif, integritas mukosa oral dapat dipertahankan, mendukung fungsi mulut optimal dan kualitas hidup yang lebih baik.