Terakhir diperbarui: 08 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 8 December). Gangguan Konsep Diri: Penyebab dan Penanganan. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/gangguan-konsep-diri-penyebab-dan-penanganan  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Gangguan Konsep Diri: Penyebab dan Penanganan - SumberAjar.com

Gangguan Konsep Diri: Penyebab dan Penanganan

Pendahuluan

Konsep diri, bagaimana seseorang memandang, menilai, dan merasakan dirinya sendiri, menjadi salah satu aspek fundamental dalam psikologi manusia. Ketika konsep diri berkembang secara sehat, ia berfungsi sebagai fondasi bagi rasa percaya diri, identitas, dan kesehatan mental. Namun, jika konsep diri terganggu, misalnya membentuk persepsi negatif atau distorsi terhadap diri sendiri, maka individu dapat mengalami berbagai masalah psikologis maupun sosial. Artikel ini membahas tentang pengertian konsep diri, jenis-jenis gangguan konsep diri, penyebab, dampak, bagaimana menilai adanya gangguan, intervensi keperawatan untuk membantu pemulihan, serta contoh kasus nyata.


Definisi Konsep Diri

Definisi Konsep Diri Secara Umum

Dalam psikologi, konsep diri (self-concept) merujuk pada gambaran mental dan persepsi seseorang terhadap dirinya, termasuk bagaimana ia menilai aspek fisik, psikologis, sosial, prestasi, dan aspirasi yang dimilikinya. [Lihat sumber Disini - repository.ubaya.ac.id]

Definisi Konsep Diri dalam KBBI

Menurut definisi kamus resmi, konsep diri mewakili pandangan individu terhadap dirinya sendiri, mencakup persepsi, pemikiran, perasaan, serta sikap terhadap diri sebagai perseorangan. [Lihat sumber Disini - dosen.upi-yai.ac.id]

Definisi Konsep Diri Menurut Para Ahli

  • Menurut Ghufron & Suminta, konsep diri adalah gambaran seseorang terhadap dirinya sendiri yang meliputi keyakinan fisik, psikologis, sosial, emosional, aspirasi, dan prestasi. [Lihat sumber Disini - etheses.iainkediri.ac.id]

  • Menurut teori klasik, Carl Rogers menyatakan bahwa konsep diri mencakup kesadaran batin individu terhadap pengalaman yang berhubungan dengan “aku”, membedakan “aku” dari “bukan aku”, sehingga membentuk identitas personal dan kontinuitas diri. [Lihat sumber Disini - repository.uin-suska.ac.id]

  • Berdasarkan pandangan lain, konsep diri melibatkan persepsi terhadap aspek fisik (penampilan, kondisi tubuh), aspek psikologis (kepribadian, emosional), dan aspek sosial (peran, relasi, citra sosial). [Lihat sumber Disini - digilib.uinsa.ac.id]

  • Dalam konteks perkembangan remaja, konsep diri dibentuk melalui interaksi dengan lingkungan dan refleksi atas pengalaman pribadi, menjadi fondasi bagi identitas dan cara menavigasi dinamika sosial. [Lihat sumber Disini - ejournal.cahayailmubangsa.institute]


Jenis-Jenis Gangguan Konsep Diri

Meski banyak literatur membahas “konsep diri” secara umum, istilah “gangguan konsep diri” umumnya tidak selalu dikategorikan secara baku di setiap penelitian. Namun berdasarkan temuan empiris dan teoritis dari penelitian terkini, berikut beberapa tipe/manifestasi dari gangguan konsep diri:

  • Konsep Diri Negatif, individu memiliki persepsi buruk terhadap kualitas diri, kemampuan, atau nilai dirinya; sering merasa rendah diri, tidak mampu, tidak berharga. [Lihat sumber Disini - repository.ubaya.ac.id]

  • Distorsi Citra Diri (Body Image & Self-Image Buruk), mispersepsi terhadap aspek fisik atau citra diri, misalnya merasa tubuh jauh dari ideal, penilaian fisik yang tidak realistis, yang bisa mengganggu kesejahteraan psikologis. [Lihat sumber Disini - digilib.uinsa.ac.id]

  • Konsep Diri Inkoheren atau Ambivalen, individu merasa kebingungan tentang siapa dirinya, identitasnya, atau tujuannya; misalnya antara ideal-self (siapa yang ingin ia jadi) dan real-self (siapa dia sebenarnya) sangat jauh, atau tidak ada kesesuaian. (Berdasarkan teori self-concept umum). [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  • Konsep Diri Rapuh (Fragile Self-Concept), konsep diri yang mudah goyah ketika menghadapi kritik, tekanan sosial, kegagalan, atau konflik interpersonal; membuat individu rentan terhadap stres, kecemasan, tekanan sosial. [Lihat sumber Disini - jurnal.uia.ac.id]


Faktor Penyebab Gangguan Konsep Diri

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan konsep diri, sehingga bila negatif atau maladaptif, dapat memicu gangguan terhadap konsep diri seseorang. Berikut faktor-faktor utama:

  • Pengalaman dan Interaksi Sosial, lingkungan keluarga, pertemanan, sekolah, teman sebaya memiliki peran besar. Kritik, penolakan, perundungan (bullying), atau kurangnya pengakuan dapat menyebabkan persepsi negatif terhadap diri sendiri. [Lihat sumber Disini - japendi.publikasiindonesia.id]

  • Refleksi Masa Lalu dan Peristiwa Traumatik, pengalaman hidup, kegagalan, penghinaan, penolakan, atau trauma bisa mempengaruhi bagaimana individu menilai diri dan membentuk identitas. (Meski tidak semua studi menyebutkan traumatik, banyak literatur menunjukkan bahwa pengalaman negatif mempengaruhi self-concept).

  • Perbandingan Sosial dan Standar Sosial / Budaya, tekanan dari lingkungan, harapan sosial, standar estetika dan keberhasilan dapat memunculkan distorsi citra diri, terutama dalam aspek fisik dan prestasi. [Lihat sumber Disini - glints.com]

  • Kurangnya Dukungan atau Validasi Positif dari Lingkungan, ketiadaan apresiasi, umpan balik negatif, atau lingkungan yang tidak mendukung perkembangan diri dapat melemahkan konsep diri positif. [Lihat sumber Disini - repository.ubaya.ac.id]

  • Perubahan Peran atau Transisi Hidup, misalnya masa remaja, perubahan lingkungan (pindah sekolah, lingkaran sosial baru), tekanan akademik atau sosial, bisa memunculkan kebingungan identitas dan ketidakpastian terhadap self-concept. [Lihat sumber Disini - ejournal.cahayailmubangsa.institute]

  • Aspek Psikologis Internal, misalnya kecemasan, depresi, perasaan tidak aman, kurangnya self-esteem, atau gangguan emosional lainnya yang mempengaruhi bagaimana seseorang menilai diri sendiri. [Lihat sumber Disini - jurnal.uia.ac.id]


Dampak Psikologis dan Sosial

Gangguan konsep diri tidak hanya mempengaruhi persepsi internal individu, tetapi bisa berdampak nyata pada kesehatan mental, sosial, dan kehidupan sehari-hari. Beberapa dampaknya antara lain:

  • Kesehatan Mental Terganggu, konsep diri negatif berkorelasi dengan risiko lebih tinggi mengalami kecemasan, stres, depresi, dan masalah kesehatan mental lainnya. [Lihat sumber Disini - lembagakita.org]

  • Penurunan Kepercayaan Diri dan Motivasi, ketika seseorang merasa dirinya tidak berharga atau tidak mampu, hal ini menghambat keinginan untuk berkembang, belajar, atau mengambil peran sosial/akademik. [Lihat sumber Disini - repository.ubharajaya.ac.id]

  • Kesulitan Dalam Interaksi Sosial, rasa rendah diri atau citra diri negatif dapat menyebabkan individu menarik diri, sulit bersosialisasi, cemas dalam public speaking, atau menghindari situasi sosial. [Lihat sumber Disini - padangjurnal.web.id]

  • Penurunan Kesejahteraan Umum, ketidakstabilan emosional, perasaan tidak nyaman dengan diri sendiri, konflik identitas, dan rendahnya self-esteem bisa menghambat pencapaian tujuan hidup, mengurangi kualitas hidup, dan mengganggu relasi sosial. [Lihat sumber Disini - jurnal.uia.ac.id]

  • Kemungkinan Perilaku Maladaptif, dalam kasus ekstrim atau berkepanjangan, gangguan konsep diri bisa memicu penyalahgunaan diri, penarikan diri, atau bahkan gangguan kejiwaan jika tidak mendapat perhatian. (Beberapa literatur menunjukkan bahwa konsep diri merupakan prediktor penting kesehatan mental). [Lihat sumber Disini - lembagakita.org]


Penilaian Gangguan Konsep Diri

Untuk mengetahui apakah seseorang mengalami gangguan pada konsep dirinya, beberapa pendekatan berikut bisa dilakukan:

  • Kuesioner / Skala Psikologis, menggunakan instrumen yang mengukur aspek self-concept, self-esteem, citra diri, persepsi diri fisik dan psikologis (yang banyak digunakan dalam penelitian empiris). [Lihat sumber Disini - jurnal.uia.ac.id]

  • Wawancara Klinis / Konseling, melalui diskusi mendalam dengan individu untuk menggali persepsi, perasaan, keyakinan terhadap diri sendiri, identitas, harapan, dan konflik internal terkait diri.

  • Observasi Perilaku & Fungsi Sosial, melihat bagaimana individu berinteraksi sosial, bagaimana ia merespon kritik atau tekanan, bagaimana kepercayaan diri dan kestabilan emosionalnya sehari-hari.

  • Riwayat Psikososial & Lingkungan, meninjau pengalaman hidup, trauma, relasi interpersonal, dukungan sosial, dan masa kecil/masa remaja, karena faktor eksternal sering berkontribusi besar terhadap distorsi konsep diri.

  • Penilaian Konsistensi Identitas, membandingkan antara “ideal-self” (siapa seseorang ingin jadi), “real-self” (bagaimana ia melihat dirinya sekarang), dan “social-self” (bagaimana ia melihat dirinya di mata orang lain), jika terdapat ketidaksesuaian besar, bisa menunjukkan konflik identitas yang berisiko terhadap gangguan konsep diri.


Intervensi Keperawatan untuk Memperbaiki Konsep Diri

Peran keperawatan dan perawatan psikososial menjadi penting dalam membantu memperbaiki konsep diri yang terganggu, terutama dalam setting klinis atau komunitas. Berikut beberapa intervensi yang dapat dilakukan:

  • Konseling dan Psikoedukasi, memberikan pemahaman kepada klien tentang konsep diri, bagaimana persepsi dan penilaian diri terbentuk, serta membantu klien mengenali aspek positif diri dan potensi yang dimiliki. Tujuannya untuk membentuk konsep diri yang realistis dan adaptif.

  • Pendekatan Person-Centered / Terapi Humanistik, mendukung klien dengan empati, penerimaan tanpa syarat, membantu klien mengeksplorasi identitas, tujuan hidup, nilai, dan aspirasi pribadi, sebagaimana pendekatan klasik dalam psikologi humanistik.

  • Penguatan Self-Esteem dan Self-Efficacy, melalui kegiatan yang mendukung pencapaian kecil, afirmasi positif, aktivitas produktif, pelatihan keterampilan sosial, dan pemberdayaan diri agar klien merasakan kompetensi dan harga diri.

  • Dukungan Lingkungan dan Sosial, melibatkan keluarga, kelompok sebaya, komunitas, agar memberikan feedback positif, apresiasi, dan keamanan emosional, karena lingkungan berperan besar dalam membentuk dan memperkuat konsep diri positif.

  • Intervensi Proaktif pada Masa Dini, bagi anak-anak atau remaja, penting dilakukan edukasi diri, bimbingan konseling, parenting suportif, dan pengembangan identitas sehat sejak dini, untuk mencegah gangguan konsep diri berkembang menjadi masalah serius.

  • Pemantauan dan Follow-Up Periodik, karena perubahan konsep diri tidak terjadi instan, perlu evaluasi berkala terhadap kondisi klien, perkembangan self-concept, serta dukungan lanjutan bila diperlukan.


Contoh Kasus Gangguan Konsep Diri

Misalnya, penelitian terbaru di Indonesia menunjukkan bahwa siswa sekolah yang memiliki konsep diri negatif, ketika diminta berbicara di depan umum (public speaking), sangat rentan mengalami kecemasan berat. [Lihat sumber Disini - padangjurnal.web.id]

Dalam kasus lain, anak usia dasar yang mengalami perundungan dan penolakan teman sebaya menunjukkan penurunan harga diri dan penurunan konsep diri, berdampak pada kesulitan bersosialisasi, isolasi, dan potensi gangguan psikologis. [Lihat sumber Disini - japendi.publikasiindonesia.id]

Sementara dalam konteks mahasiswa, hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep diri yang positif memberikan kontribusi signifikan terhadap tingkat kepercayaan diri, sebaliknya, konsep diri negatif bisa menghambat prestasi akademik, motivasi, dan kesehatan mental. [Lihat sumber Disini - repository.ubharajaya.ac.id]


Kesimpulan

Konsep diri merupakan fondasi penting bagi identitas, kesejahteraan psikologis, dan kualitas hidup manusia. Gangguan pada konsep diri, apakah berupa persepsi negatif, distorsi citra diri, konflik identitas, atau rendahnya self-esteem, bisa memicu berbagai dampak buruk: mulai dari kecemasan, depresi, isolasi sosial, hingga menurunnya produktivitas dan kualitas hidup. Faktor penyebabnya beragam: pengalaman hidup, lingkungan sosial, interaksi, trauma, atau tekanan sosial. Oleh karena itu, penting bagi tenaga keperawatan, konselor, psikolog, serta masyarakat umum untuk meningkatkan kesadaran akan konsep diri sehat, melalui konseling, pendidikan, dukungan sosial, dan intervensi psikososial. Upaya perbaikan perlu dilakukan sedini mungkin, dipadukan dengan pendekatan holistik, empatik, dan berkelanjutan, agar individu dapat mengembangkan konsep diri yang sehat, realistis, serta mampu mencapai potensi maksimalnya.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Gangguan konsep diri adalah kondisi ketika seseorang memiliki persepsi negatif atau tidak realistis tentang dirinya, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial. Hal ini mempengaruhi kepercayaan diri, hubungan sosial, dan kesehatan mental.

Penyebab gangguan konsep diri meliputi pengalaman negatif, perundungan, kurangnya dukungan keluarga, perbandingan sosial, trauma masa lalu, tekanan lingkungan, dan faktor psikologis seperti kecemasan atau depresi.

Gejalanya dapat berupa rendahnya rasa percaya diri, merasa tidak berharga, kecemasan dalam bersosialisasi, kritik diri berlebihan, menarik diri dari lingkungan, serta citra tubuh atau citra diri yang buruk.

Penanganan dapat dilakukan melalui konseling, psikoedukasi, penguatan self-esteem, terapi berbasis humanistik, dukungan keluarga, serta monitoring berkala oleh tenaga kesehatan untuk membantu individu membangun konsep diri yang lebih positif.

Individu yang mengalami perundungan, kritik berlebihan, trauma, kurang dukungan sosial, perubahan lingkungan, tekanan akademik atau pekerjaan, serta mereka dengan kondisi psikologis rentan berisiko lebih tinggi mengalami gangguan konsep diri.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Gangguan Konsep Diri: Faktor Penyebab dan Respons Keperawatan Gangguan Konsep Diri: Faktor Penyebab dan Respons Keperawatan Harga Diri Rendah: Dampak Psikososial dan Pendekatan Keperawatan Harga Diri Rendah: Dampak Psikososial dan Pendekatan Keperawatan Harga Diri Rendah: Konsep dan Contoh Kasus Harga Diri Rendah: Konsep dan Contoh Kasus Harga Diri Akademik: Konsep dan Pengaruhnya Harga Diri Akademik: Konsep dan Pengaruhnya Konsep Kepercayaan Diri: Dimensi dan Pengukuran Konsep Kepercayaan Diri: Dimensi dan Pengukuran Pencegahan Bunuh Diri Pencegahan Bunuh Diri Persepsi Diri: Konsep dan Evaluasi Personal Persepsi Diri: Konsep dan Evaluasi Personal Efikasi Diri Belajar: Konsep dan Performa Akademik Efikasi Diri Belajar: Konsep dan Performa Akademik Konsep Penyesuaian Diri Konsep Penyesuaian Diri Konsep Diri Remaja: Faktor dan Perkembangan Konsep Diri Remaja: Faktor dan Perkembangan Kesadaran Diri (Self-Awareness): Konsep dan Perannya Kesadaran Diri (Self-Awareness): Konsep dan Perannya Efikasi Diri Akademik: Pengertian dan Pengaruhnya Efikasi Diri Akademik: Pengertian dan Pengaruhnya Gangguan Memori: Definisi, Penyebab, dan Penanganan Gangguan Memori: Definisi, Penyebab, dan Penanganan Gangguan Memori: Konsep, Faktor Penyebab, dan Dampak Gangguan Memori: Konsep, Faktor Penyebab, dan Dampak Perubahan Pola Bicara: Pengertian dan Contoh Kasus Perubahan Pola Bicara: Pengertian dan Contoh Kasus Penyesuaian Diri Mahasiswa: Konsep dan Dinamika Penyesuaian Diri Mahasiswa: Konsep dan Dinamika Kontrol Diri: Konsep dan Faktor Pembentuk Kontrol Diri: Konsep dan Faktor Pembentuk Attribution Theory: Konsep dan Contoh Attribution Theory: Konsep dan Contoh Insecurity: Konsep dan Pembentukan Diri Insecurity: Konsep dan Pembentukan Diri Pengetahuan Ibu tentang Tanda Persalinan Sungsang Pengetahuan Ibu tentang Tanda Persalinan Sungsang
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…