Terakhir diperbarui: 02 January 2026

Citation (APA Style):
Davacom. (2026, 2 January). Attribution Theory: Konsep dan Contoh. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/attribution-theory-konsep-dan-contoh  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Attribution Theory: Konsep dan Contoh - SumberAjar.com

Attribution Theory: Konsep dan Contoh

Pendahuluan

Dalam kehidupan sehari-hari manusia secara konsisten berusaha memahami mengapa suatu peristiwa atau perilaku terjadi. Ini bukan sekadar rasa ingin tahu; proses penjelasan ini memandu cara kita bereaksi, mengambil keputusan, dan membangun hubungan sosial dengan orang lain. Misalnya, ketika seorang rekan kerja terlambat, sebagian orang akan menyimpulkan bahwa itu karena dia malas (internal), sementara orang lain mungkin berargumen bahwa itu karena kondisi lalu lintas yang buruk (eksternal). Cara kita menghubungkan perilaku dengan penyebabnya merupakan inti dari pengambilan makna dalam kehidupan sosial, dan inilah yang dibahas oleh Attribution Theory. Teori ini memiliki relevansi luas, dari psikologi sosial hingga pendidikan dan organisasi, karena memengaruhi cara kita mengevaluasi diri sendiri, menilai orang lain, serta memprediksi perilaku masa depan. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]


Definisi Attribution Theory

Definisi Attribution Theory Secara Umum

Attribution Theory (teori atribusi) adalah kerangka konseptual dalam psikologi sosial yang membahas bagaimana individu menjelaskan penyebab perilaku atau kejadian, baik yang terjadi pada dirinya sendiri maupun orang lain. Teori ini mempelajari bagaimana orang mencari dan menetapkan alasan atau sebab atas suatu tindakan atau hasil kejadian, kemudian memengaruhi interpretasi dan respons terhadap perilaku tersebut. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

Menurut sumber lain, teori atribusi menggambarkan proses interpretasi manusia ketika menentukan penyebab suatu peristiwa dan hubungannya dengan pemikiran atau aturan perilaku yang mendasarinya. Teori ini juga menekankan bahwa individu berperan seperti "ilmuwan awam" yang secara sistematis mengevaluasi penyebab perilaku berdasarkan informasi yang tersedia. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

Secara garis besar, tujuan teori ini adalah membantu menjelaskan bagaimana dan mengapa orang menghubungkan suatu tindakan atau kejadian dengan faktor penyebab tertentu, entah itu berasal dari dalam individu itu sendiri (internal) atau dari lingkungan dan konteks situasional (eksternal). [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]

Definisi Attribution Theory dalam KBBI

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah atribusi diartikan sebagai proses atau tindakan memberi nama, menentukan, atau menetapkan sesuatu sebagai penyebab atau sumber suatu kejadian atau keadaan. Atribusi sering digunakan dalam konteks psikologi sosial untuk menjelaskan pemikiran seseorang dalam menilai penyebab perilaku. Sementara itu, Attribution Theory sendiri merujuk pada teori yang mempelajari proses atribusi tersebut dalam konteks perilaku manusia. Data KBBI ini memberikan landasan pengertian umum bagi orang dalam memahami istilah tersebut sebagai tindakan mencari dan menetapkan sebab.

Definisi Attribution Theory Menurut Para Ahli

  1. Fritz Heider: Heider adalah pelopor teori atribusi yang menyatakan bahwa individu cenderung mencari penyebab atas perilaku manusia dengan menghubungkannya pada disposisi internal maupun situasional eksternal. Menurut Heider, manusia berfungsi seperti ilmuwan awam yang secara aktif memetakan sebab dan akibat dalam interaksi sosial. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  2. Fiske & Taylor (1991): Teori atribusi merupakan studi tentang bagaimana pengamat sosial menggunakan informasi untuk sampai pada penjelasan kausal terhadap suatu perilaku atau peristiwa. Ini mencakup strategi pengumpulan informasi, pemrosesan, dan integrasi yang menghasilkan atribusi kausal. [Lihat sumber Disini - simplypsychology.org]

  3. Bernard Weiner (1986, 2010): Weiner mengembangkan model atribusi yang menekankan bahwa penyebab perilaku dapat dipahami melalui tiga dimensi kausal utama: lokus (internal vs. eksternal), stabilitas, dan kontollabilitas. Ia memfokuskan pada bagaimana causal explanations memengaruhi motivasi dan tindak lanjut perilaku. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

  4. Jones & Davis (1965) / Harold Kelley (1967): Teori ini memperluas gagasan atribusi dengan memperkenalkan model seperti correspondent inference theory dan covariation model yang menjelaskan bagaimana orang menilai perilaku berdasarkan konsensus, konsistensi, dan distingtivitas informasi situasional. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]


Pengertian Attribution Theory

Dalam konteks psikologi sosial, Attribution Theory merupakan landasan untuk memahami cara orang menilai penyebab perilaku, baik pada diri sendiri maupun orang lain, dengan mempertimbangkan faktor penyebab internal seperti sifat atau usaha pribadi, maupun faktor eksternal seperti situasi atau kondisi lingkungan. Ini bukan sekadar pemikiran abstrak, tetapi proses kognitif yang memengaruhi penilaian sosial, hubungan interpersonal, motivasi, dan bahkan emosi yang muncul sebagai konsekuensi dari atribusi tersebut. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]


Konsep Atribusi Internal dan Eksternal

Dalam Attribution Theory, penyebab perilaku atau kejadian dibagi menjadi dua kategori besar:

Atribusi Internal adalah atribusi yang menempatkan penyebab perilaku pada faktor dari dalam individu itu sendiri, misalnya karakter, kepribadian, kemampuan, atau usaha. Bila seseorang menganggap bahwa keberhasilan dalam tugas adalah karena kemampuannya, maka itu disebut atribusi internal. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

Atribusi Eksternal adalah atribusi yang menempatkan penyebab perilaku pada faktor luar individu, seperti situasi, lingkungan, keberuntungan, tugas yang sulit, atau dukungan orang lain. Jika seseorang gagal karena tes yang tidak adil, itu merupakan atribusi eksternal. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

Pembagian internal dan eksternal ini penting untuk memahami bagaimana orang menilai tindakan. Atribusi internal umumnya mengarah pada penilaian disposisional terhadap pelaku (misalnya, “dia bekerja keras”), sementara atribusi eksternal memberi penekanan pada konteks dan kondisi situasional (situational factors). [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]


Dimensi Atribusi dalam Attribution Theory

Setiap atribusi tidak hanya sekadar internal atau eksternal. Bernard Weiner memperluas pemahaman dengan menambahkan dimensi lain:

  1. Lokus kausal (Causal Locus): Menentukan apakah penyebab berada di dalam individu (internal) atau di luar individu (eksternal). [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

  2. Stabilitas: Menilai apakah penyebab suatu kejadian cenderung tetap dari waktu ke waktu atau berubah-ubah di masa depan. Penyebab stabil (misalnya kemampuan) berbeda dengan penyebab tidak stabil (misalnya usaha harian). [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

  3. Kontrollabilitas: Menilai sejauh mana individu memiliki kontrol atas penyebab, penyebab yang dapat dikontrol (misalnya usaha) versus yang tidak dapat dikontrol (misalnya keberuntungan). [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

Dimensi-dimensi ini berguna untuk mengevaluasi konsekuensi kognitif dan emosional dari atribusi. Misalnya, seseorang yang mengaitkan kinerja buruknya pada faktor yang internal, stabil, dan tidak dapat dikontrol (seperti “aku tidak pintar”) lebih mungkin mengalami perasaan putus asa dibanding jika atribusinya internal tetapi berubah-ubah (seperti “aku kurang berusaha kali ini”). [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]


Bias Atribusi dalam Perilaku Sosial

Proses atribusi tidak selalu objektif. Dalam kehidupan sosial, manusia sering kali melakukan penilaian yang dipengaruhi bias kognitif tertentu:

Fundamental Attribution Error, kecenderungan untuk lebih mudah mengaitkan perilaku orang lain pada faktor internal (kepribadian) daripada faktor situasional eksternal. Misalnya, melihat seseorang marah dianggap karena sifatnya, bukan karena situasi yang memicu emosi itu. [Lihat sumber Disini - opentextbc.ca]

Self-Serving Bias, yaitu kecenderungan untuk mengaitkan keberhasilan kita pada penyebab internal (kemampuan, usaha), tetapi mengaitkan kegagalan pada penyebab eksternal (kondisi tidak adil, faktor luar). Ini adalah mekanisme pertahanan psikologis untuk melindungi harga diri. [Lihat sumber Disini - verywellhealth.com]

Actor-Observer Bias, perbedaan cara kita menjelaskan perilaku sendiri dibanding orang lain. Umumnya saat menjelaskan perilaku sendiri kita lebih menekankan faktor eksternal, tetapi saat menjelaskan perilaku orang lain kita lebih menekankan faktor internal. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Bias-bias ini menunjukkan bahwa atribusi bukanlah proses netral; sering kali dipengaruhi oleh kebutuhan psikologis, konteks sosial, serta informasi yang tersedia pada saat penilaian dilakukan. [Lihat sumber Disini - opentextbc.ca]


Dampak Atribusi terhadap Penilaian Individu

Atribusi yang dilakukan seseorang memiliki dampak yang luas terhadap bagaimana individu menilai diri sendiri, orang lain, dan konteks sosial secara keseluruhan. Misalnya:

  1. Dampak pada Motivasi

    Apa yang kita anggap sebagai penyebab keberhasilan atau kegagalan dapat memengaruhi tingkat motivasi kita. Individu yang memandang kinerja buruk sebagai akibat kurang usaha (internal, dapat dikontrol) cenderung termotivasi untuk mencoba lebih keras di masa depan, sementara melihatnya sebagai akibat tidak dapat dikontrol bisa menurunkan motivasi. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

  2. Dampak pada Hubungan Interpersonal

    Atribusi juga memengaruhi bagaimana kita menilai perilaku orang lain. Jika kita cenderung mengaitkan kesalahan orang lain pada sifat internal, maka hubungan interpersonal bisa tegang karena muncul ketidaksabaran dan penilaian negatif yang terlalu cepat. [Lihat sumber Disini - opentextbc.ca]

  3. Dampak pada Kesehatan Mental

    Pola atribusi tertentu dapat berhubungan dengan respon emosional tertentu. Misalnya, atribusi negatif yang stabil dan umum cenderung terkait dengan perasaan putus asa atau depresi, sementara atribusi yang lebih fleksibel dan kontollabel dapat mendukung perasaan optimisme dan pengendalian diri. [Lihat sumber Disini - opentextbc.ca]


Contoh Attribution Theory dalam Kehidupan Sehari-hari

  1. Dalam Pendidikan

    Seorang siswa yang mendapat nilai buruk mungkin menilai penyebabnya sebagai kurang usaha (internal), atau karena soalnya terlalu sulit (eksternal). Atribusi siswa pada penyebab ini dapat memengaruhi motivasinya dalam belajar selanjutnya. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

  2. Dalam Organisasi atau Tempat Kerja

    Manajer yang melihat seorang karyawan sering terlambat lalu mengaitkannya dengan sifat malas (internal) bisa memicu konflik. Sebaliknya, jika manajer mempertimbangkan penyebab eksternal seperti transportasi atau jadwal kerja yang padat, penilaian akan lebih adil. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

  3. Dalam Hubungan Sosial

    Ketika seorang teman tidak hadir di acara penting, kita dapat membuat atribusi internal (“dia tidak menghargai saya”) atau atribusi eksternal (“dia mungkin ada urusan mendesak”). Pilihan atribusi ini akan memengaruhi perasaan dan respons sosial kita terhadap teman kita. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

  4. Dalam Kesehatan dan Motivasi Hidup

    Seseorang yang gagal dalam rutinitas olahraga bisa mengatributinya pada kurangnya disiplin (internal) atau pada kesibukan kerja (eksternal). Cara atribusi ini berdampak pada bagaimana ia mengatur rencana olahraga berikutnya. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]


Kesimpulan

Attribution Theory adalah salah satu teori penting dalam psikologi sosial yang menjelaskan bagaimana manusia menghubungkan perilaku dan kejadian dengan penyebab kausalnya. Teori ini membedakan antara penyebab internal yang berkaitan dengan disposisi individu dan penyebab eksternal yang berkaitan dengan konteks situasi. Dimensi seperti lokus kausal, stabilitas, dan kontrollabilitas memberikan kerangka untuk memahami dampak atribusi terhadap motivasi, emosi, dan hubungan sosial. Selain itu, bias atribusi menunjukkan bahwa proses atribusi seringkali tidak netral dan dipengaruhi oleh kebutuhan psikologis serta persepsi sosial. Aplikasi teori ini sangat luas, ditemukan dalam pendidikan, organisasi, hubungan interpersonal, dan banyak situasi keseharian lainnya. Memahami Attribution Theory membantu kita menjadi lebih sadar akan cara kita menilai penyebab perilaku, sehingga dapat mendukung penilaian yang lebih adil dan respons yang lebih adaptif terhadap diri sendiri dan orang lain.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Attribution Theory adalah teori dalam psikologi sosial yang membahas bagaimana individu menafsirkan penyebab suatu perilaku atau peristiwa, baik yang berasal dari faktor internal seperti kepribadian dan kemampuan, maupun faktor eksternal seperti situasi dan lingkungan.

Tokoh utama dalam Attribution Theory adalah Fritz Heider sebagai pelopor teori atribusi, serta Bernard Weiner yang mengembangkan dimensi atribusi seperti lokus, stabilitas, dan kontrol.

Atribusi internal mengaitkan penyebab perilaku pada faktor dalam diri individu seperti karakter atau usaha, sedangkan atribusi eksternal mengaitkan penyebab perilaku pada faktor luar seperti situasi, lingkungan, atau kondisi tertentu.

Dimensi dalam Attribution Theory meliputi lokus kausal (internal atau eksternal), stabilitas penyebab (tetap atau berubah), dan kontrolabilitas (dapat atau tidak dapat dikendalikan oleh individu).

Contoh penerapan Attribution Theory dapat ditemukan dalam pendidikan, seperti siswa yang menilai keberhasilan atau kegagalan belajar; dalam dunia kerja saat menilai kinerja karyawan; serta dalam hubungan sosial ketika menafsirkan perilaku orang lain.

Bias atribusi adalah kesalahan penilaian yang terjadi ketika individu secara tidak sadar lebih menekankan faktor tertentu dalam menjelaskan perilaku, seperti fundamental attribution error, self-serving bias, dan actor-observer bias.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Metode Grounded Theory: Prinsip dan Aplikasinya Metode Grounded Theory: Prinsip dan Aplikasinya Grounded Theory: Definisi, Tahapan, dan Contohnya Grounded Theory: Definisi, Tahapan, dan Contohnya X-Theory: Konsep, Asal-usul, dan Relevansi dalam Kajian Ilmiah X-Theory: Konsep, Asal-usul, dan Relevansi dalam Kajian Ilmiah Grounded Analysis: Pengertian, Tahapan, dan Contohnya Grounded Analysis: Pengertian, Tahapan, dan Contohnya Social Identity: Konsep dan Contoh Social Identity: Konsep dan Contoh Theory of Planned Behavior: Konsep, Sikap, dan Niat Berperilaku Sehat Theory of Planned Behavior: Konsep, Sikap, dan Niat Berperilaku Sehat Paradigma Kritis: Tujuan dan Penerapannya dalam Kajian Sosial Paradigma Kritis: Tujuan dan Penerapannya dalam Kajian Sosial Hubungan antara Teori dan Praktik dalam Ilmu Hubungan antara Teori dan Praktik dalam Ilmu Perubahan Perilaku Kesehatan Perubahan Perilaku Kesehatan Motivasi Belajar: Pengertian, Faktor, dan Teori-Teorinya Motivasi Belajar: Pengertian, Faktor, dan Teori-Teorinya Persepsi Sosial: Pengertian, Faktor, dan Contohnya Persepsi Sosial: Pengertian, Faktor, dan Contohnya Teori Kritis Habermas: Prinsip dan Contoh dalam Riset Sosial Teori Kritis Habermas: Prinsip dan Contoh dalam Riset Sosial Identitas Sosial: Konsep, Faktor, dan Perkembangannya Identitas Sosial: Konsep, Faktor, dan Perkembangannya Cognitive Bias: Pengertian dan Jenis-Jenisnya Cognitive Bias: Pengertian dan Jenis-Jenisnya Bias Kognitif Sosial: Konsep dan Pengaruhnya Bias Kognitif Sosial: Konsep dan Pengaruhnya Pola Attachment: Konsep dan Dampaknya Pola Attachment: Konsep dan Dampaknya Desain Penelitian Kualitatif: Langkah dan Jenisnya Desain Penelitian Kualitatif: Langkah dan Jenisnya Beban Kognitif: Konsep dan Proses Belajar Beban Kognitif: Konsep dan Proses Belajar Perilaku Komunal: Konsep dan Praktik Kolektif Perilaku Komunal: Konsep dan Praktik Kolektif Skema Kognitif: Konsep dan Pembentukan Makna Skema Kognitif: Konsep dan Pembentukan Makna
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…