
Harga Diri Rendah: Konsep dan Contoh Kasus
Pendahuluan
Harga diri (self-esteem) merupakan aspek fundamental dari kesehatan mental seseorang, yang mencerminkan bagaimana individu menilai dan menghargai diri sendiri. Ketika seseorang memiliki harga diri yang rendah, mereka sering menilai dirinya sebagai tidak berharga, kurang mampu, atau tidak penting, kondisi ini dapat mempengaruhi kesehatan fisik, psikologis, sosial, serta kualitas hidup secara keseluruhan.
Dalam konteks pelayanan keperawatan dan psikososial, memahami konsep harga diri rendah, faktor penyebab, manifestasi klinis, serta intervensi yang tepat sangat penting agar individu yang terdampak dapat dibantu secara optimal. Tulisan ini mengupas secara mendalam pengertian harga diri rendah, faktor penyebab, tanda-tanda klinis, dampaknya terhadap kesehatan, hingga intervensi keperawatan dan psikososial, ditambah dengan contoh kasus sebagai ilustrasi nyata.
Definisi Harga Diri Rendah
Definisi Secara Umum
Harga diri rendah (low self-esteem) umumnya diartikan sebagai evaluasi diri negatif yang menyebabkan seseorang merasa kurang berharga, kurang mampu, atau tidak penting dalam kehidupannya. Individu dengan harga diri rendah sering merasakan ketidakcukupan, pesimisme terhadap kemampuan diri, dan keraguan untuk menghadapi tantangan hidup. [Lihat sumber Disini - dspace.umkt.ac.id]
Definisi dalam KBBI
Menurut aspek kamus/pengertian dalam bahasa Indonesia, harga diri secara umum mengacu pada “harga” atau “nilai” yang seseorang rasakan terhadap dirinya sendiri. Namun, definisi spesifik “harga diri rendah” dalam KBBI (jika tersedia) biasanya menunjukkan keadaan di mana individu merasakan bahwa diri mereka kurang berharga atau rendah nilai dirinya. (Catatan: dalam literatur ilmiah Indonesia, istilah “harga diri rendah” lebih lazim dibahas dalam konteks psikologi/keperawatan daripada kamus sehari-hari.)
Definisi Menurut Para Ahli
Beberapa definisi dari literatur dan penelitian di Indonesia menunjukkan perspektif klinis dan operasional:
-
Menurut Atmojo & Purbaningrum, harga diri rendah diartikan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri yang menyebabkan kehilangan rasa percaya diri, pesimisme, dan perasaan bahwa diri tidak berharga. [Lihat sumber Disini - dspace.umkt.ac.id]
-
Wijayati et al. mendefinisikan harga diri rendah sebagai evaluasi diri negatif yang terkait dengan perasaan lemah, tidak berdaya, putus asa, rentan, rapuh, “tidak lengkap”, tidak memadai, dan merasa tidak berharga. [Lihat sumber Disini - myjurnal.poltekkes-kdi.ac.id]
-
Dalam konteks keperawatan, harga diri rendah dijelaskan sebagai kondisi di mana klien memiliki perasaan tidak berharga, tidak berarti, dan rendah diri berkepanjangan akibat evaluasi negatif terhadap diri sendiri atau kemampuan diri. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperdharmawacana.ac.id]
-
Dalam bidang psikiatri/perawatan jiwa, harga diri rendah kronis merupakan salah satu gangguan konsep diri, yang ditandai dengan penilaian negatif terhadap diri sendiri serta perasaan tidak berharga, sehingga berdampak pada kemampuan membangun relasi sosial. [Lihat sumber Disini - ejournal.unuja.ac.id]
Faktor Penyebab Harga Diri Rendah
Banyak penelitian di Indonesia mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya harga diri rendah. Beberapa faktor utama antara lain:
-
Riwayat penganiayaan fisik (abuse), trauma masa lalu, atau kekerasan. Individu yang mengalami kekerasan fisik cenderung menilai diri mereka lebih rendah. [Lihat sumber Disini - myjurnal.poltekkes-kdi.ac.id]
-
Kehilangan orang terdekat / kematian orang terdekat, penolakan keluarga, atau kurang dukungan sosial dari keluarga. [Lihat sumber Disini - myjurnal.poltekkes-kdi.ac.id]
-
Kegagalan berulang dalam berbagai aspek kehidupan (akademik, pekerjaan, relasi, dll.), yang membuat individu merasa tidak mampu dan menyebabkan evaluasi negatif terhadap diri sendiri. [Lihat sumber Disini - myjurnal.poltekkes-kdi.ac.id]
-
Lingkungan keluarga atau sosial yang kurang mendukung, misalnya kurangnya perhatian, penghargaan, atau pengakuan terhadap individu. Faktor pendidikan, perhatian orang tua, status sosial/faktor ekonomi, serta prestasi akademik atau pekerjaan turut mempengaruhi harga diri. [Lihat sumber Disini - journalofmedula.com]
-
Stres, tekanan hidup, pengalaman diskriminasi atau bullying, termasuk bentuk modern seperti cyberbullying, terbukti dalam penelitian pada remaja, bahwa korban bullying dengan harga diri rendah lebih rentan terhadap depresi. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
-
Kondisi kesehatan mental atau gangguan jiwa, seperti psikotik, depresi, atau skizofrenia, penelitian menunjukkan bahwa pasien gangguan jiwa sering kali memiliki harga diri rendah. [Lihat sumber Disini - jhsljournal.com]
Dengan demikian, penyebab harga diri rendah sering bersifat kompleks dan multifaktorial, melibatkan aspek biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan.
Tanda dan Gejala Klinis
Ketika seseorang mengalami harga diri rendah, baik situasional maupun kronis, biasanya muncul berbagai tanda dan gejala, baik dalam ranah kognitif, afektif, perilaku, maupun sosial. Berikut adalah gejala-gejala yang sering dilaporkan dalam literatur ilmiah:
-
Perasaan diri negatif, merasa tidak berharga, tidak berarti, tidak mampu, pesimis terhadap masa depan, kurang percaya diri. [Lihat sumber Disini - e-jurnal.jurnalcenter.com]
-
Penurunan motivasi dan fungsi, individu mungkin enggan melakukan aktivitas sosial, lebih menarik diri (isolasi), menolak interaksi, atau menghindari tanggung jawab. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperdharmawacana.ac.id]
-
Perubahan emosi dan suasana hati negatif, sering merasa sedih, cemas, putus asa, khawatir, mudah tersinggung atau depresi. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
-
Penurunan perawatan diri / self-care, mungkin terlihat dalam aspek fisik, seperti kurang memperhatikan kebersihan, penampilan, pola makan, dan aktivitas harian. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
-
Kesulitan dalam relasi sosial, klien dengan harga diri rendah cenderung sulit membangun atau mempertahankan hubungan sosial, mengalami isolasi, penolakan, atau kurang partisipasi sosial. [Lihat sumber Disini - ejournal.unuja.ac.id]
-
Resiko komplikasi psikologis, jika tidak ditangani, harga diri rendah dapat meningkatkan risiko depresi, kecemasan, penyalahgunaan zat, bahkan pikiran atau tindakan bunuh diri. [Lihat sumber Disini - journal.binawan.ac.id]
Dampak Harga Diri Rendah terhadap Kesehatan
Harga diri rendah tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis, tetapi juga mempengaruhi kualitas hidup secara luas, termasuk kesehatan mental, kesejahteraan sosial, dan kemampuan fungsional sehari-hari. Beberapa dampak signifikan termasuk:
-
Meningkatnya risiko gangguan mental, seperti depresi, kecemasan, stres kronis, isolasi sosial, perasaan tak berdaya, dan penurunan kesejahteraan psikologis. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Menurunnya kualitas hidup, penelitian pada mahasiswa menunjukkan bahwa self-esteem berhubungan secara signifikan dengan kualitas hidup, dan rendahnya self-esteem dapat menghambat adaptasi, kepuasan hidup, dan produktivitas. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Kesulitan dalam aktivitas sehari-hari dan fungsi sosial, orang dengan harga diri rendah cenderung mengurangi interaksi sosial, enggan berpartisipasi dalam kegiatan, dan mengalami kesulitan menjalankan peran sosial atau pekerjaan. [Lihat sumber Disini - jurnal.ikbis.ac.id]
-
Potensi komplikasi pada kondisi jiwa, khususnya pada pasien dengan gangguan jiwa (misalnya skizofrenia atau psikosis), harga diri rendah dapat memperburuk gejala, menghambat rehabilitasi, dan meningkatkan relaps jika tidak mendapat intervensi. [Lihat sumber Disini - jurnal.ikbis.ac.id]
-
Pengaruh negatif pada motivasi dan pemulihan, baik dalam konteks pendidikan, pekerjaan, maupun terapi, harga diri rendah bisa menghambat partisipasi aktif, kemauan untuk berubah, dan kemampuan coping terhadap stres. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Intervensi Keperawatan pada Harga Diri Rendah
Dalam praktik keperawatan, ada sejumlah intervensi yang terbukti efektif membantu individu dengan harga diri rendah, baik dalam setting rumah sakit, komunitas, maupun perawatan jiwa. Berikut beberapa pendekatan dan hasil penelitian:
-
Intervensi Asuhan Keperawatan dengan Fokus pada Aspek Positif, misalnya dengan mengidentifikasi kemampuan dan potensi positif klien, membantu klien mengenali kekuatan diri, serta memfasilitasi aktivitas yang meningkatkan rasa kompetensi. Studi di panti sosial menunjukkan bahwa kegiatan positif dapat membantu mengontrol harga diri rendah. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Terapi Afirmasi Positif (Positive Affirmation Therapy), yaitu memberikan afirmasi positif secara rutin untuk membentuk persepsi diri yang lebih baik, meningkatkan keyakinan dan mengurangi pola pikir negatif. Penelitian menunjukkan bahwa terapi ini efektif meningkatkan kualitas hidup dan self-esteem pada pasien dengan low self-esteem. [Lihat sumber Disini - ebsina.or.id]
-
Terapi Diversional, menggunakan kegiatan menyenangkan atau bermakna untuk mengalihkan perhatian dari pikiran negatif, meningkatkan interaksi sosial, dan merangsang aktivitas sehat. Dalam penelitian, terapi diversional membantu mengurangi gejala low self-esteem situasional. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Intervensi Kelompok / Terapi Kelompok (Group Therapy / Aktivitas Kelompok), memberikan dukungan sosial, kesempatan untuk berinteraksi, berbagi pengalaman, dan memperkuat rasa diterima serta validasi dari orang lain; hal ini penting bagi klien yang mengalami isolasi dan penolakan. [Lihat sumber Disini - e-jurnal.stikesmitraadiguna.ac.id]
-
Proses Keperawatan Individu, meliputi assessment, diagnosis keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi, sesuai kondisi klien: misalnya klien dengan gangguan jiwa + harga diri rendah, di mana perawat membantu membangun relasi terapeutik, mengenali potensi, dan mendukung pemulihan psikososial. [Lihat sumber Disini - ejurnal.ung.ac.id]
Pendekatan Psikososial untuk Peningkatan Harga Diri
Selain intervensi keperawatan, pendekatan psikososial juga memiliki peranan penting untuk memulihkan atau meningkatkan harga diri:
-
Terapi Psikologis, Terapi Kognitif (Cognitive Therapy / CBT): membantu klien mengenali dan mengganti pikiran negatif otomatis dengan pemikiran yang lebih realistis dan konstruktif. Hal ini dapat mengurangi distorsi kognitif yang berkontribusi pada harga diri rendah. [Lihat sumber Disini - ejurnal.poltekkes-tjk.ac.id]
-
Terapi Refleksi Kehidupan (Life Review Therapy), terutama pada pasien dengan gangguan jiwa atau usia lanjut: membantu klien meninjau kembali pengalaman hidup mereka, menemukan makna, dan menghargai aspek positif dari kehidupan serta diri sendiri. Penelitian pada 2024 menunjukkan bahwa pendekatan ini efektif meningkatkan self-esteem pada pasien gangguan jiwa. [Lihat sumber Disini - journal.binawan.ac.id]
-
Mindfulness dan Spiritual / Terapi Mindfulness Spiritual, membantu klien menerima diri sendiri, meningkatkan kesadaran diri, dan mengurangi penilaian negatif terhadap diri. Suatu penelitian 2025 menunjukkan bahwa terapi mindfulness spiritual efektif untuk meningkatkan harga diri situasional pada remaja. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Dukungan Sosial dan Keluarga, keterlibatan keluarga, teman, dan lingkungan sosial yang mendukung sangat penting. Pengakuan, penghargaan, dan interaksi positif dari orang lain dapat membantu membangun rasa harga diri. [Lihat sumber Disini - myjurnal.poltekkes-kdi.ac.id]
-
Pendidikan dan Pemberdayaan, Pengembangan Potensi dan Skill: membantu individu mengembangkan kompetensi, keahlian, atau aktivitas bermakna, sehingga meningkatkan rasa mampu dan rasa berharga. Pendekatan ini bisa melalui pelatihan, keterampilan kerja, hobi, atau aktivitas produktif. [Lihat sumber Disini - online-journal.unja.ac.id]
Contoh Kasus Harga Diri Rendah
Berikut ilustrasi dari penelitian kasus nyata yang menggambarkan bagaimana harga diri rendah muncul dan ditangani:
-
Pasien dengan diagnosa skizofrenia di panti sosial mengalami harga diri rendah, gejala termasuk isolasi sosial, perasaan tidak mampu, dan penolakan diri. Intervensi keperawatan dengan kegiatan positif selama 3 hari menunjukkan bahwa harga diri dapat “terkontrol” setelah intervensi dengan fokus pada kemampuan positif pasien. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Pasien dengan harga diri rendah kronis (misalnya akibat trauma, penolakan, atau putus cinta), dalam sebuah laporan 2024, 2025, asuhan keperawatan dengan pendekatan hubungan terapeutik, identifikasi potensi positif diri, dan jadwal aktivitas positif menunjukkan perbaikan dalam aspek kognitif, afektif, perilaku, dan sosial. [Lihat sumber Disini - journal2.stikeskendal.ac.id]
-
Kasus remaja atau pasien situasional yang mengalami harga diri rendah akibat tekanan sosial, penggunaan terapi afirmasi positif dan terapi diversional dilaporkan membantu mengurangi pikiran negatif, meningkatkan kepercayaan diri, dan memperbaiki persepsi diri dalam jangka pendek. [Lihat sumber Disini - ebsina.or.id]
Kesimpulan
Harga diri rendah, yang ditandai dengan evaluasi diri negatif, perasaan tidak berharga, kurang percaya diri, merupakan kondisi psikologis serius yang dapat mempengaruhi banyak aspek kehidupan: psikologis, sosial, fungsional, dan kualitas hidup. Faktor penyebabnya sangat beragam, dari trauma masa lalu, penolakan sosial, kegagalan berulang, hingga kondisi kesehatan mental.
Gejala harga diri rendah bisa muncul dalam bentuk perasaan negatif, isolasi sosial, penurunan motivasi dan fungsi, serta risiko gangguan mental lebih lanjut seperti depresi atau kecemasan. Karena itu, intervensi yang komprehensif sangat dibutuhkan, baik melalui asuhan keperawatan, terapi psikologis, pendekatan sosial dan keluarga, maupun pemberdayaan diri.
Pendekatan seperti terapi afirmasi positif, kegiatan positif, terapi kelompok, terapi kognitif, mindfulness/spiritual, dan dukungan sosial terbukti efektif dalam meningkatkan self-esteem dan kualitas hidup.
Dengan pemahaman dan intervensi yang tepat, individu yang mengalami harga diri rendah dapat dibantu untuk membangun kembali citra diri yang sehat, meningkatkan rasa percaya diri, serta meningkatkan fungsi psikososial mereka.