Terakhir diperbarui: 08 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 8 December). Hydration Status: Definisi dan Pemeriksaan. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/hydration-status-definisi-dan-pemeriksaan  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Hydration Status: Definisi dan Pemeriksaan - SumberAjar.com

Hydration Status: Definisi dan Pemeriksaan

Pendahuluan

Air adalah komponen esensial tubuh manusia. Sekitar 55, 60% dari berat tubuh manusia dewasa terdiri dari air, tergantung pada komposisi otot dan lemak tubuh. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id] Air ini berperan vital sebagai pelarut elektrolit dan senyawa biologis, media transportasi nutrisi dan sisa metabolik, serta dalam menjaga regulasi suhu dan keseimbangan cairan-elektrolit tubuh. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id]

Keberadaan air dan distribusinya dalam tubuh harus dijaga dalam keseimbangan, tidak terlalu sedikit (dehidrasi), juga tidak berlebihan (overhidrasi). Kondisi keseimbangan inilah yang disebut “status hidrasi”. Menjaga status hidrasi penting, karena ketidakseimbangan dapat mengganggu fungsi fisiologis, perfusi darah, regulasi suhu, dan homeostasis sel. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id]

Dalam praktik keperawatan maupun pemantauan kesehatan masyarakat, penilaian status hidrasi menjadi aspek penting agar dapat dikenali dini kondisi dehidrasi atau overhidrasi, kemudian dilakukan intervensi tepat. Artikel ini bertujuan menguraikan definisi, metode penilaian, faktor-faktor yang mempengaruhi, serta intervensi keperawatan untuk menjaga hidrasi, dilengkapi contoh penilaian pada pasien.


Definisi Status Hidrasi

Definisi secara umum

Status hidrasi adalah keadaan yang mencerminkan keseimbangan antara cairan yang masuk (intake) dan cairan yang keluar (output) dari tubuh. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id] Dengan kata lain: jika asupan cairan sesuai kebutuhan dan kehilangan cairan (melalui urin, keringat, nafas, feses, dsb.) seimbang, status hidrasi dianggap normal atau euhidrasi. Sebaliknya, bila cairan keluar lebih banyak daripada masuk → dehidrasi; atau bila retensi cairan terjadi → overhidrasi. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id]

Definisi dalam KBBI

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), hidrasi merujuk pada “keadaan kecukupan air dalam tubuh”. Dengan demikian, “status hidrasi” dapat dipahami sebagai “kondisi kecukupan air (dan cairan tubuh)”. (Catatan: definisi literal dari “status hidrasi” mungkin tidak secara eksplisit ada di KBBI online, namun definisi “hidrasi” sebagai kecukupan air dapat dijadikan acuan).

Definisi menurut para ahli

Beberapa definisi menurut literatur/jurnal akademik:

  • Anggie Bak dkk. mendefinisikan status hidrasi sebagai “gambaran keseimbangan masuk-keluarnya air dalam tubuh”. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id]

  • Jequier J. & Constant F. (dalam literatur yang dikutip) menegaskan bahwa tubuh manusia secara fisiologis mengatur hidrasi melalui mekanisme homeostasis, sehingga status hidrasi normal berarti total body water (TBW) berada dalam rentang normal sesuai berat badan dan komposisi tubuh. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id]

  • Dalam studi kontekstual di Indonesia, Alma Abigail Pamarta dkk. menyebutkan bahwa status hidrasi adalah “keadaan yang menggambarkan jumlah cairan dalam tubuh seseorang, ” dimana keseimbangannya dipengaruhi oleh asupan cairan, aktivitas fisik, dan status gizi. [Lihat sumber Disini - juke.kedokteran.unila.ac.id]

  • Annisa Dwianggreni Kusuma dalam artikelnya menjelaskan bahwa status hidrasi merefleksikan keseimbangan distribusi cairan, baik intracellular maupun extracellular, serta volume plasma dan fungsi regulasi cairan tubuh. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id]


Komponen Penilaian Status Hidrasi

Penilaian status hidrasi bisa dilakukan dengan berbagai cara, tergantung sumber daya, tujuan, dan konteks (klinis, lapangan, penelitian). Berikut komponen, komponennya:

Pemeriksaan sederhana / observasional

Pemeriksaan laboratorium & instrumental


Tanda dan Gejala Ketidakseimbangan Cairan

Ketidakseimbangan cairan, baik dehidrasi maupun overhidrasi, dapat menampakkan gejala klinis. Berikut tanda dan gejala umum:

Gejala bisa ringan sampai berat tergantung derajat keparahan ketidakseimbangan cairan, dari dehidrasi ringan sampai dehidrasi berat atau bahkan overhidrasi. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id]


Pemeriksaan Hidrasi: Klinik, Laboratorium, dan Observasional

Berikut metode pemeriksaan sesuai setting, dari yang praktis sampai yang “ilmu lanjutan”:

Pemeriksaan Observasional / Klinis sederhana

  • Anamnesis dan pemantauan intake/output cairan, mencatat jumlah cairan masuk (minum, nutrisi cair) dan keluar (urin, keringat, muntah, diare). Berguna di setting klinik, rawat inap, atau rumah.

  • Penimbangan berat badan harian, cocok untuk pasien rawat inap, atlet, atau individu dengan kondisi cairan tidak stabil.

  • Pengamatan tanda-tanda fisik, kulit, mata, mukosa mulut, status kesadaran, frekuensi napas & denyut nadi.

Pemeriksaan menggunakan urin (biomarker urine)

Penelitian terbaru di Indonesia tahun 2025 menunjukkan bahwa kombinasi BJU dan warna urine efektif mendeteksi status hidrasi mahasiswa; mayoritas responden menunjukkan dehidrasi ringan, sedang. [Lihat sumber Disini - ejournal.cahayailmubangsa.institute]

Pemeriksaan instrumental / laboratorium / biofisik

Kelebihan dan kekurangan metode

  • Metode sederhana (urin, pengamatan klinis) → mudah, murah, non-invasif, bisa dilakukan di lapangan atau tanpa tenaga ahli. Namun sensitivitas/spesifisitasnya relatif terbatas dan bisa dipengaruhi banyak faktor (asupan makanan, warna makanan, waktu pemeriksaan, hidrasi sebelumnya). [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Metode instrumental/laboratorium → lebih akurat, sensitif, mampu mendeteksi distribusi cairan tubuh lebih detail. Namun butuh alat, biaya, dan tenaga terlatih; kurang praktis untuk pemakaian rutin/populasi besar. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id]


Faktor yang Mempengaruhi Status Hidrasi

Berbagai faktor dapat mempengaruhi status hidrasi seseorang, antara lain:


Intervensi Keperawatan untuk Menjaga Hidrasi

Dalam konteks keperawatan / praktik klinik & komunitas, berikut intervensi yang dapat dilakukan untuk menjaga atau memperbaiki status hidrasi:

  • Monitoring intake, output cairan secara rutin, terutama pada pasien rawat inap, lansia, anak-anak, pasien dengan penyakit kronis (ginjal, demam, diare, muntah). Catat asupan cairan minum, nutrisi cair, dan keluaran cairan (urin, muntah, diare, keringat).

  • Evaluasi urin, memeriksa warna dan berat jenis urine secara berkala sebagai indikator hidrasi; bila menggunakan dipstick BJU bisa dilakukan di klinik dasar.

  • Edukasi pasien / klien / masyarakat tentang pentingnya asupan cairan sesuai kebutuhan: jumlah air minum per hari, minum secara bertahap, perhatian pada lingkungan (cuaca, aktivitas), serta mengenali tanda, tanda dehidrasi.

  • Intervensi penyesuaian cairan & elektrolit, untuk pasien dengan kondisi khusus (misalnya dengan ekskresi cairan tinggi, demam, diare, muntah), perawat atau tenaga kesehatan dapat merencanakan asupan cairan dan elektrolit sesuai kebutuhan individual.

  • Penilaian komprehensif, kombinasi observasi klinis, catat intake/output, pemeriksaan urine dan bila perlu pemeriksaan laboratorium untuk menilai status hidrasi secara menyeluruh.

  • Pencegahan dan promosi gaya hidup sehat, mendorong kebiasaan minum air cukup, terutama pada individu dengan aktivitas tinggi atau bekerja di lingkungan panas; serta memperhatikan faktor risiko seperti usia, komposisi tubuh, status gizi.


Contoh Penilaian Status Hidrasi Pasien

Misalnya di sebuah unit rawat inap atau bangsal:

  • Pasien A, dewasa, tidak demam, tidak muntah, tidak diare, aktivitas ringan, dirawat di ruang ber-AC. Setiap 24 jam dipantau: intake minum 2000 mL, urin 1400 mL, warna urin kuning muda, BJU dalam batas normal. Tidak ada keluhan mulut kering, turgor kulit normal → Status hidrasi: euhidrasi.

  • Pasien B, lansia, demam tinggi, berkeringat banyak, tidak mampu minum cukup karena mual. Dipantau: intake 800 mL, urin sedikit, pekat, warna gelap, kulit kering, turgor menurun, denyut nadi cepat. → Status hidrasi: dehidrasi ringan, sedang → perlu intervensi: dorong asupan cairan, tawarkan cairan oral atau IV (jika diperlukan), pantau output & elektrolit.

  • Pasien C, atlet remaja setelah latihan intens di cuaca panas, minum sedikit, urin pekat banyak, warna urine gelap, berat jenis urine tinggi → indikasi dehidrasi → atur ulang hidrasi (elektrolit, cairan), edukasi minum sebelum, selama, dan setelah aktivitas.


Kesimpulan

Status hidrasi adalah cerminan keseimbangan antara cairan masuk dan keluar tubuh, sebuah indikator penting untuk kesehatan fisiologis. Penilaian status hidrasi dapat dilakukan melalui berbagai metode: dari observasi klinis sederhana dan pemeriksaan urine, hingga metode instrumental seperti BIA atau tracer isotop. Namun di praktik keperawatan maupun di masyarakat, metode sederhana seperti evaluasi warna dan berat jenis urine, serta monitoring intake-output, masih menjadi andalan karena praktis dan mudah.

Faktor-faktor seperti asupan cairan, aktivitas fisik, status gizi, usia, lingkungan, dan pengetahuan individu sangat mempengaruhi status hidrasi. Maka dari itu, intervensi keperawatan perlu mencakup monitoring, edukasi, dan penyesuaian cairan sesuai kebutuhan individu.

Contoh penilaian praktis menunjukkan pentingnya kombinasi observasi, pencatatan, dan intervensi tepat waktu agar dehidrasi atau overhidrasi dapat dicegah. Dengan demikian, menjaga hidrasi harus menjadi bagian rutin dari praktik keperawatan dan gaya hidup sehat.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Status hidrasi adalah kondisi yang menggambarkan keseimbangan antara cairan yang masuk dan keluar dari tubuh. Ketidakseimbangan dapat menyebabkan dehidrasi atau overhidrasi.

Penilaian dilakukan melalui pemeriksaan fisik, observasi tanda klinis, evaluasi warna dan berat jenis urine, penimbangan berat badan, hingga pemeriksaan laboratorium seperti osmolalitas plasma atau analisis BIA.

Tanda ketidakseimbangan meliputi mulut kering, urin pekat, penurunan turgor kulit, mata cekung, denyut nadi meningkat, rasa haus ekstrem, hingga perubahan kesadaran pada kondisi berat.

Status hidrasi dipengaruhi oleh asupan cairan, aktivitas fisik, lingkungan panas, status gizi, usia, jenis kelamin, serta pengetahuan dan perilaku hidrasi.

Intervensinya meliputi monitoring intake–output, edukasi hidrasi, pemeriksaan urine secara berkala, pemantauan tanda klinis, serta pemberian cairan oral atau IV sesuai kebutuhan pasien.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Hydration Level pada Lansia Hydration Level pada Lansia Kesadaran Pemeriksaan Kesehatan Rutin Kesadaran Pemeriksaan Kesehatan Rutin Pemeriksaan Kesehatan Rutin: Konsep, kesadaran, dan kepatuhan Pemeriksaan Kesehatan Rutin: Konsep, kesadaran, dan kepatuhan Status Hidrasi Pasien: Konsep, Pemeriksaan, dan Indikator Klinis Status Hidrasi Pasien: Konsep, Pemeriksaan, dan Indikator Klinis Persepsi Remaja Putri terhadap Pemeriksaan Kesehatan Reproduksi Rutin Persepsi Remaja Putri terhadap Pemeriksaan Kesehatan Reproduksi Rutin Persepsi Ibu Hamil terhadap Pemeriksaan USG Persepsi Ibu Hamil terhadap Pemeriksaan USG Status Mental Pasien: Konsep, Metode Penilaian, dan Klasifikasi Status Mental Pasien: Konsep, Metode Penilaian, dan Klasifikasi Status Nutrisi Pasien: Definisi dan Pengukurannya Status Nutrisi Pasien: Definisi dan Pengukurannya Status Nutrisi Pasien: Indikator dan Metode Penilaian Status Nutrisi Pasien: Indikator dan Metode Penilaian Status Mental Pasien: Pengertian dan Penilaian Status Mental Pasien: Pengertian dan Penilaian Faktor yang Mempengaruhi Asupan Air Harian Faktor yang Mempengaruhi Asupan Air Harian Nutritional Status: Pengertian dan Penilaian Nutritional Status: Pengertian dan Penilaian Status Gizi: Konsep, Indikator Penilaian, dan Implikasi Status Gizi: Konsep, Indikator Penilaian, dan Implikasi Sistem Informasi Antrian Laboratorium Sistem Informasi Antrian Laboratorium Status Gizi Pasien sebagai Faktor Respons Terapi Status Gizi Pasien sebagai Faktor Respons Terapi Pemantauan Tanda Vital: Konsep, Tujuan, dan Peran Klinis Pemantauan Tanda Vital: Konsep, Tujuan, dan Peran Klinis Hubungan Status Gizi Ibu Hamil dengan Ukuran Lingkar Kepala Bayi Hubungan Status Gizi Ibu Hamil dengan Ukuran Lingkar Kepala Bayi Status Gizi Anak Sekolah Dasar Status Gizi Anak Sekolah Dasar Pengetahuan Ibu Hamil tentang ANC Pengetahuan Ibu Hamil tentang ANC Status Gizi Balita Status Gizi Balita
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…