
Ketidaknyamanan Fisik: Jenis dan Penanganan
Pendahuluan
Ketidaknyamanan fisik merupakan pengalaman subjektif yang umum dialami manusia dalam berbagai kondisi, baik sehat maupun sakit. Ketidaknyamanan ini tidak selalu merupakan penyakit spesifik, tetapi dapat menjadi indikator bahwa tubuh sedang mengalami stres, cedera, perubahan fisiologis, atau proses adaptasi. Dalam konteks keperawatan, mengenali dan menangani ketidaknyamanan fisik secara tepat sangat penting untuk menjaga kesejahteraan pasien, mempercepat pemulihan, serta meningkatkan kualitas asuhan keperawatan. Artikel ini akan membahas definisi ketidaknyamanan fisik, berbagai jenisnya, faktor penyebab, dampaknya terhadap pasien, cara menilai tingkat ketidaknyamanan, serta intervensi keperawatan yang bisa dilakukan untuk mengurangi ketidaknyamanan, disertai contoh kasus.
Definisi Ketidaknyamanan Fisik
Definisi Ketidaknyamanan Fisik secara Umum
Ketidaknyamanan fisik dapat dipahami sebagai sensasi atau persepsi negatif terhadap kondisi tubuh, misalnya nyeri, rasa gatal, panas, dingin, tekanan, sesak, atau bentuk ketidaknyamanan lainnya, yang membuat seseorang merasa tidak nyaman, terganggu, atau stres secara fisik. Sensasi ini bisa bersifat sementara atau berkepanjangan, ringan atau berat, dan bisa berasal dari berbagai sumber: internal (dalam tubuh) maupun eksternal (lingkungan, posisi tubuh, tekanan, dsb).
Definisi Ketidaknyamanan Fisik dalam KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “ketidaknyamanan” diartikan sebagai keadaan atau rasa tidak nyaman, yaitu perasaan yang tidak menyenangkan secara fisik atau mental. Definisi ini menunjukkan bahwa ketidaknyamanan tidak selalu merujuk pada penyakit tertentu, tetapi bisa berarti rasa risih, tidak enak, atau kondisi tubuh yang tidak ideal.
Definisi Ketidaknyamanan Fisik Menurut Para Ahli
-
Menurut teori keperawatan dan fisiologi, ketidaknyamanan fisik bisa muncul sebagai respons tubuh terhadap rangsangan yang mengganggu homeostasis, misalnya "sensasi fisik yang menimbulkan rasa sakit, panas, tekanan, atau iritasi kulit." [Lihat sumber Disini - repository.nuansafajarcemerlang.com]
-
Dalam buku ajar keperawatan paliatif, ketidaknyamanan fisik sering direpresentasikan sebagai “nyeri” atau sensasi tidak menyenangkan yang dapat bersifat tumpul, tajam, berulang, atau konstan, dan kadang dirasakan sebagai panas atau dingin. [Lihat sumber Disini - repository.nuansafajarcemerlang.com]
-
Penelitian keperawatan kontemporer menganggap ketidaknyamanan fisik sebagai pengalaman subjektif pasien yang mencakup aspek intensitas (berapa kuat), lokasi (dimana dirasakan), durasi, dan karakter sensasi, yang semuanya penting untuk diuji dan dicatat dalam asuhan keperawatan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Dalam konteks lingkungan atau perawatan, ketidaknyamanan fisik bisa juga meliputi respons terhadap kondisi lingkungan seperti suhu ekstrem, kebisingan, kelembapan, tekanan tubuh tidak ideal, atau posisi tubuh yang menyebabkan stres fisik. [Lihat sumber Disini - repository.unimus.ac.id]
Definition-definition ini menunjukkan bahwa ketidaknyamanan fisik adalah konsep luas, melampaui sekadar “nyeri”, dan bisa muncul dari berbagai aspek kondisi tubuh maupun lingkungan.
Jenis-Jenis Ketidaknyamanan Fisik
Berikut berbagai jenis ketidaknyamanan fisik yang sering dijumpai dalam praktik keperawatan atau kondisi sehari-hari:
-
Nyeri (Pain), salah satu bentuk paling umum; bisa akut atau kronis, nyeri tumpul, tajam, menusuk, berdenyut, konstan, atau hilang-timul. Sensasi ini bisa dipengaruhi oleh cedera, penyakit, inflamasi, tekanan, atau kondisi sistem saraf. [Lihat sumber Disini - repository.nuansafajarcemerlang.com]
-
Gatal / Iritasi Kulit, misalnya reaksi kulit terhadap alergen, dehidrasi kulit, gesekan, luka, infeksi; menyebabkan rasa tidak nyaman, ingin menggaruk, dan bisa memperburuk kondisi kulit. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Sensasi Suhu (Panas / Dingin / Gerah / Dingin Berlebihan), tubuh bisa merasa tidak nyaman jika suhu sekitar atau suhu tubuh tidak normal (demam, hipotermia, lingkungan panas/dingin), atau jika regulasi suhu terganggu. [Lihat sumber Disini - repository.unimus.ac.id]
-
Tekanan atau Tekanan Tubuh (Misalnya pada Kulit, Otot, Tulang, Jaringan), misalnya pada pasien rawat inap dengan posisi tidur lama, atau tekanan pada area tubuh tertentu bisa menyebabkan rasa tidak nyaman, nyeri tekan, atau gangguan sirkulasi/ kulit seperti luka dekubitus. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Ketidaknyamanan Respirasi atau Pernapasan / Sesak Nafas, dalam beberapa kondisi (cedera, gangguan paru, trauma, atau posisi tidak ideal), pasien bisa merasa sesak, napas berat, dan itu termasuk bentuk ketidaknyamanan fisik. [Lihat sumber Disini - repository.unair.ac.id]
-
Gangguan Mobilitas atau Otot (Kelemahan, Kaku, Kekakuan Otot, Penurunan Fungsi), setelah cedera, stroke, imobilisasi, atau disfungsi neuromuskular, pasien bisa merasa tidak nyaman karena otot lemah, sulit bergerak, kaku, atau sakit saat bergerak. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkesbengkulu.ac.id]
-
Ketidaknyamanan akibat Faktor Lingkungan (Suara Bising, Pencahayaan, Posisi, Kenyamanan Tempat Tidur, dll.), meskipun bukan “medis” secara langsung, kondisi lingkungan bisa menyebabkan tubuh merasa tidak nyaman, gelisah, atau stres fisik. [Lihat sumber Disini - repository.akperykyjogja.ac.id]
Faktor Penyebab Ketidaknyamanan Fisik
Berbagai faktor dapat menyebabkan ketidaknyamanan fisik, baik faktor internal (dalam tubuh) maupun eksternal (lingkungan, perawatan). Berikut beberapa penyebab umum:
-
Cedera atau Trauma Fisik, misalnya luka, patah tulang, trauma kepala, benturan, tekanan pada jaringan, yang menyebabkan nyeri, iritasi, disfungsi fisik. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Perubahan Fisiologis atau Penyakit, inflamasi, infeksi, demam, gangguan peredaran darah, gangguan saraf, gangguan muskuloskeletal, dsb., yang mempengaruhi sensasi dan fungsi tubuh. [Lihat sumber Disini - repository.umj.ac.id]
-
Imobilisasi atau Posisi Tubuh yang Tidak Ideal dalam Waktu Lama, misalnya pasien rawat inap yang berbaring lama, tekanan terus-menerus pada area tertentu, kurang gerak, memicu nyeri tekan, luka dekubitus, kekakuan otot, atau ketidaknyamanan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Lingkungan Fisik / Kondisi Lingkungan yang Tidak Mendukung, suhu ekstrem, kebisingan, penerangan, kelembapan, kualitas udara, tempat tidur/ alas yang tidak nyaman, dapat menyebabkan stres fisik dan ketidaknyamanan. [Lihat sumber Disini - repository.unimus.ac.id]
-
Perawatan Medis atau Prosedur Klinis, misalnya pemasangan infus, pembalut, posisi operasi, pemasangan kateter, perawatan luka, bisa menimbulkan rasa sakit, iritasi kulit, rasa tidak nyaman, atau gangguan fungsi sementara. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Perubahan Psikofisiologis atau Kombinasi Faktor Psikologis-Fisik, stres, kecemasan, ketakutan, kecemasan terhadap penyakit atau prosedur bisa memperburuk persepsi terhadap sensasi fisik dan meningkatkan ketidaknyamanan. Walaupun aspek psikologis, efeknya bisa dirasakan secara fisik. (Beberapa literatur keperawatan menyebut bahwa persepsi sensorik selalu dipengaruhi oleh kondisi mental dan emosional). [Lihat sumber Disini - repository.umj.ac.id]
Dampak Ketidaknyamanan terhadap Pasien
Ketidaknyamanan fisik yang tidak ditangani dengan baik bisa berdampak luas, antara lain:
-
Menurunnya kualitas hidup pasien, ketidaknyamanan terus-menerus dapat menyebabkan kelelahan, stres, kesulitan tidur, penurunan mobilitas, dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
-
Menghambat proses pemulihan, misalnya rasa sakit atau nyeri yang tidak dikelola mungkin memperlambat penyembuhan, memperburuk cedera, atau memicu komplikasi seperti luka tekan, infeksi, gangguan peredaran, dll.
-
Menurunnya kepatuhan terhadap perawatan atau terapi, pasien yang merasa sangat tidak nyaman mungkin enggan mengikuti prosedur medis, rehabilitasi, atau instruksi perawatan.
-
Meningkatkan beban emosional dan psikologis, ketidaknyamanan fisik dapat menimbulkan kecemasan, depresi, rasa frustasi, ketidakpuasan terhadap perawatan, baik untuk pasien maupun keluarga.
-
Menurunkan kualitas asuhan keperawatan dan kepuasan pasien terhadap layanan, bagi institusi kesehatan, ketidaknyamanan pasien bisa mencerminkan kurang optimalnya asuhan.
Penilaian Tingkat Ketidaknyamanan
Penilaian tingkat ketidaknyamanan fisik sangat penting agar penanganan bisa sesuai dan efektif. Berikut beberapa pendekatan penilaian:
-
Pencatatan Keluhan Subjektif Pasien, perawat menanyakan langsung kepada pasien: lokasi, jenis sensasi (nyeri, gatal, panas, dsb.), intensitas, durasi, frekuensi, apa yang memperburuk atau membantu, pengaruh terhadap aktivitas/istirahat. Informasi subjektif ini sangat penting karena ketidaknyamanan bersifat personal dan tidak selalu terdeteksi lewat pemeriksaan fisik.
-
Pemantauan Tanda Vital dan Indikator Fisiologis, perubahan pada temperatur tubuh, tekanan darah, frekuensi pernapasan, denyut nadi, saturasi oksigen, warna kulit, kelembapan kulit, bisa memberi petunjuk adanya ketidaknyamanan atau stres fisiologis. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
-
Observasi Perilaku Nonverbal, pada pasien yang sulit berkomunikasi (misalnya penurunan kesadaran, anak-anak, lansia, atau pasien intubasi), perawat perlu memperhatikan ekspresi wajah, gerakan tubuh, posisi, gestur, tangisan, ketegangan otot, perubahan perilaku.
-
Penggunaan Skala Penilaian (Jika Diperlukan), untuk nyeri, sering digunakan skala analog visual, numerik, atau kategori (ringan-sedang-berat), tergantung kemampuan pasien untuk melapor. Dalam kasus nyeri kronis/permanen, penilaian bisa melibatkan rekaman jangka panjang, frekuensi, dan dampak pada aktivitas.
-
Evaluasi Respons terhadap Intervensi, setelah dilakukan tindakan keperawatan atau terapi, monitoring apakah ketidaknyamanan berkurang, intensitas menurun, fungsi pasien membaik, sebagai bagian dari evaluasi hasil keperawatan.
Intervensi Keperawatan untuk Mengurangi Ketidaknyamanan
Berdasarkan jenis dan penyebab ketidaknyamanan, perawat dapat melakukan berbagai intervensi, antara lain:
-
Manajemen Nyeri & Sensasi Tidak Nyaman, misalnya untuk nyeri akut atau kronis: pengkajian nyeri secara berkala, pemberian analgesik sesuai indikasi (kolaborasi dengan dokter), teknik non-farmakologis seperti relaksasi, positioning ulang, perawatan kulit, kompres hangat/dingin, pijat, lotion atau minyak pelembab untuk kulit kering/iritasi. [Lihat sumber Disini - repository.nuansafajarcemerlang.com]
-
Perawatan Kulit dan Pencegahan Iritasi / Luka Tekanan, memastikan perubahan posisi rutin untuk pasien immobile, menjaga kebersihan dan kelembapan kulit, menggunakan alas empuk, mengurangi gesekan, memberi perawatan luka jika ada, observasi integritas kulit. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Penyesuaian Lingkungan & Kenyamanan Fisik, mengatur suhu, ventilasi, pencahayaan, kelembapan, kebisingan, posisi tempat tidur, penggunaan bantal/ped support agar tubuh nyaman; bagi pasien rawat inap, sirkulasi udara dan kebersihan lingkungan penting untuk mengurangi ketidaknyamanan. [Lihat sumber Disini - repository.unimus.ac.id]
-
Dukungan Mobilitas dan Rehab, bagi pasien dengan kelemahan otot atau gangguan mobilitas: latihan fisioterapi, range of motion (ROM), peregangan, penggunaan alat bantu, latihan ringan, posisi ulang rutin, agar otot tidak kaku dan fungsi tubuh terjaga. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkesbengkulu.ac.id]
-
Komunikasi dan Edukasi Pasien & Keluarga, mendengarkan laporan pasien, memberi penjelasan tentang proses penyembuhan, teknik coping, menjaga kenyamanan, pentingnya repositioning, menjaga kebersihan kulit, cara relaksasi, serta melibatkan keluarga dalam perawatan bila memungkinkan.
-
Monitoring & Evaluasi Rutin, melakukan penilaian berkala setelah intervensi, memonitor tanda vital, respons fisik, kenyamanan subjektif pasien, kondisi kulit, mobilitas, dan mengadaptasi rencana keperawatan sesuai kebutuhan.
Contoh Kasus Penanganan Ketidaknyamanan Fisik
Salah satu studi kasus terbaru (2025) mengangkat masalah keperawatan pada pasien dengan cedera kepala berat yang mengalami nyeri akut dan gangguan integritas kulit. Pada kasus tersebut, perawat melakukan pengkajian intensif, penilaian nyeri, serta intervensi komprehensif, termasuk perawatan kulit (mengoleskan minyak zaitun untuk kulit kering dan madu untuk bibir kering), serta terapi relaksasi untuk membantu kenyamanan pasien. Hasilnya menunjukkan bahwa perawatan kulit membuat kulit menjadi lebih lembab dan luka tampak mulai mengering; sementara pasien merasa lebih tenang dan nyaman untuk beristirahat. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Kasus ini memperlihatkan bahwa ketidaknyamanan fisik bukan hanya tentang nyeri semata, tetapi bisa melibatkan variasi sensasi dan kondisi tubuh yang memerlukan pendekatan holistik, baik farmakologis maupun non-farmakologis, untuk meningkatkan kenyamanan dan hasil perawatan.
Kesimpulan
Ketidaknyamanan fisik adalah fenomena luas dan kompleks, mencakup nyeri, gatal, sensasi suhu, tekanan tubuh, gangguan kulit, mobilitas, hingga ketidaknyamanan akibat lingkungan atau perawatan. Dalam praktik keperawatan, mengenali jenis, penyebab, dan dampak ketidaknyamanan sangat penting agar intervensi bisa dirancang secara efektif dan sesuai kebutuhan pasien.
Penilaian menyeluruh, melalui laporan subjektif pasien, observasi objektif, serta monitoring fisik, dibutuhkan sebagai dasar intervensi. Intervensi keperawatan dapat meliputi perawatan nyeri, perawatan kulit, penyesuaian lingkungan, rehabilitasi mobilitas, edukasi, dan monitoring berkelanjutan.
Dengan pendekatan keperawatan yang holistik dan responsif, ketidaknyamanan fisik dapat diminimalkan, kualitas hidup pasien meningkat, serta proses penyembuhan menjadi lebih optimal.