Terakhir diperbarui: 13 January 2026

Citation (APA Style):
Davacom. (2026, 13 January). Maskulinitas Sosial: Konsep dan Konstruksi Budaya. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/maskulinitas-sosial-konsep-dan-konstruksi-budaya  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Maskulinitas Sosial: Konsep dan Konstruksi Budaya - SumberAjar.com

MASKULINITAS SOSIAL: KONSEP DAN KONSTRUKSI BUDAYA

Pendahuluan

Dalam studi gender dan sosiologi, maskulinitas sosial merupakan konsep yang semakin penting untuk dipahami dalam konteks relasi sosial modern. Konsep ini bukan sekadar sebuah gambaran karakter biologis, namun sebuah konstruksi budaya dan sosial yang membentuk bagaimana laki-laki dipersepsikan, bagaimana mereka berperilaku, dan bagaimana harapan masyarakat terbentuk terhadap mereka dalam berbagai ranah kehidupan. Studi tentang maskulinitas sosial menjadi semakin relevan seiring bergesernya peran gender, perubahan norma budaya, dan tantangan terhadap struktur tradisional patriarki. Pengetahuan mendalam tentang maskulinitas sosial memungkinkan kita untuk memahami bagaimana identitas maskulin dibentuk, dipertahankan, atau direformasi dalam masyarakat kontemporer.


Definisi Maskulinitas Sosial

Definisi Maskulinitas Sosial Secara Umum

Secara umum, maskulinitas sosial dapat dipahami sebagai sekumpulan atribut, perilaku, peran, dan nilai yang secara budaya diasosiasikan dengan laki-laki dalam suatu masyarakat tertentu. Konsep ini menunjukkan bahwa apa yang dianggap sebagai “maskulin” adalah hasil dari konstruksi sosial, bukan sekadar faktor biologis semata. Dalam kerangka gender, maskulinitas didefinisikan sebagai norma dan ekspektasi sosial terhadap perilaku laki-laki yang dibentuk oleh sejarah, budaya, dan struktur sosial dalam kehidupan sehari-hari. Studi gender modern menunjukkan bahwa maskulinitas adalah hasil dari interaksi sosial dan hubungan kuasa yang terus dibentuk dalam konteks budaya tertentu. ([Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov])

Definisi Maskulinitas Sosial dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), maskulinitas merujuk pada hal-hal yang bersifat atau berkenaan dengan maskulin, yaitu sifat atau perilaku yang menunjukkan kelelakian. Pengertian ini seringkali dipahami secara umum sebagai karakteristik laki-laki yang dominan secara fisik atau perilaku, namun dalam kajian ilmiah kontemporer makna tersebut tidak lagi terbatas pada ciri biologis, melainkan dipahami sebagai bentuk konstruksi sosial yang variatif dalam setiap kultur. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Definisi Maskulinitas Sosial Menurut Para Ahli

  1. Raewyn Connell, Maskulinitas bukanlah sifat tetap yang berasal dari biologis, tetapi merupakan konfigurasi praktik sosial yang dibentuk dalam relasi kuasa gender yang kompleks. Menurutnya, maskulinitas diejawantahkan dalam berbagai bentuk dan posisi dalam struktur sosial dan dapat berubah seiring waktu serta konteks budaya. ([Lihat sumber Disini - jurnal.uns.ac.id])

  2. Levant & Richmond, Maskulinitas mencakup sistem kepercayaan dan nilai sosial yang menentukan standar bagaimana laki-laki “seharusnya” berperilaku, dan penilaian masyarakat terhadap laki-laki diukur berdasarkan internalisasi nilai-nilai tersebut. ([Lihat sumber Disini - apa.org])

  3. Whitehead & Barrett (2001), Menjelaskan maskulinitas sebagai konstruksi sosial yang mencakup perilaku, bahasa, dan praktik yang ada dalam lokasi budaya tertentu, yang secara umum diasosiasikan dengan laki-laki dan dipandang sebagai tidak feminin. ([Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov])

  4. Winda Sri Harianti, Melihat maskulinitas sebagai nilai yang berkembang dalam masyarakat dan memiliki pengaruh pada aspek kehidupan seperti kesehatan mental, menjadi konstruk sosial yang memengaruhi pengalaman dan persepsi individu. ([Lihat sumber Disini - dpublication.com])


Maskulinitas sebagai Konstruksi Sosial

Maskulinitas dipahami secara luas sebagai pengalaman gender yang terbentuk bukan semata dari karakter biologis, tetapi melalui konstruksi sosial yang dibangun oleh budaya, norma, dan institusi sosial. Konsep ini berarti bahwa apa yang dimaksud “maskulin” adalah produk dari harapan dan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat tertentu, bukan sesuatu yang inheren pada laki-laki sejak lahir. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Dalam perspektif sosial konstruktivis, gender, dan dengan demikian maskulinitas, diproduksi dan direproduksi melalui interaksi sosial, media, pendidikan, sistem hukum, serta proses sosialisasi sejak awal kehidupan. Interaksi ini menciptakan realitas sosial di mana laki-laki diharapkan memenuhi norma-norma tertentu seperti kekuatan, ketangguhan, dominasi, dan kemandirian. Namun, konstruksi ini bersifat kontekstual dan dapat berubah seiring dinamika budaya dan sosial. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Menurut teori ini, maskulinitas juga tidak monolitik atau tunggal. Terdapat banyak representasi dan ekspresi maskulinitas yang berbeda dalam masyarakat, tergantung pada kelas sosial, budaya, etnis, dan konteks historis. Realitas plural dari maskulinitas mengakui bahwa tidak ada satu “cara” maskulin yang universal, melainkan berbagai bentuk yang dihasilkan oleh konteks sosial budaya yang spesifik. ([Lihat sumber Disini - media.neliti.com])


Bentuk-Bentuk Maskulinitas

Kajian gender kontemporer menunjukan bahwa maskulinitas tidak bersifat homogen. Raewyn Connell, ahli sosiologi gender, mengembangkan kerangka teoritis tentang multiple masculinities yang menunjukkan bahwa terdapat berbagai bentuk maskulinitas yang beroperasi secara simultan dalam struktur sosial. ([Lihat sumber Disini - jurnal.uns.ac.id])

  1. Maskulinitas Hegemonik

    Maskulinitas hegemonik adalah bentuk maskulinitas yang dianggap sebagai “ideal” atau dominan dalam suatu masyarakat. Ia memegang posisi superior dalam hierarki gender dan sering kali memposisikan dirinya di atas perempuan serta bentuk maskulinitas lain yang tidak sesuai dengan norma dominan. Bentuk ini melegitimasi dominasi laki-laki atas perempuan dan laki-laki lain yang tidak memenuhi standar hegemonik tersebut. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

  2. Maskulinitas Subordinat

    Maskulinitas subordinat adalah bentuk maskulinitas yang secara sosial berada di bawah dominasi maskulinitas hegemonik. Individu yang termasuk kategori ini sering mengalami marginalisasi atau tekanan sosial karena tidak memenuhi ekspektasi dominan dalam struktur sosial, seperti ekspresi maskulinitas non-heteronormatif. ([Lihat sumber Disini - etd.umy.ac.id])

  3. Maskulinitas Komplisit

    Bentuk ini merujuk pada laki-laki yang tidak secara langsung memenuhi standar maskulinitas hegemonik, tetapi tetap mendapatkan keuntungan secara sosial dari sistem patriarki dan norma dominan tersebut meskipun tidak secara aktif mempraktikkannya. ([Lihat sumber Disini - study.com])

  4. Maskulinitas Termarginalisasi

    Maskulinitas termarginalisasi menggambarkan kelompok laki-laki yang berada di pinggiran struktur sosial karena faktor seperti kelas sosial, etnis, atau status ekonomi. Kelompok ini memiliki pengalaman maskulinitas yang berbeda dari norma dominan dan sering kali tidak mendapatkan legitimasi sosial yang sama. ([Lihat sumber Disini - etd.umy.ac.id])

Bentuk-bentuk maskulinitas ini menunjukkan bahwa maskulinitas tidak hanya satu bentuk yang baku, tetapi terdiri dari variasi yang mencerminkan dinamika sosial, stratifikasi, serta relasi kuasa dalam masyarakat. ([Lihat sumber Disini - pubadmin.institute])


Maskulinitas dan Norma Gender

Norma gender adalah aturan sosial yang menentukan ekspektasi perilaku, sikap, dan peran yang dianggap sesuai untuk setiap jenis kelamin. Maskulinitas sebagai konstruksi sosial berakar dalam norma-norma ini; ia menciptakan harapan tentang bagaimana laki-laki seharusnya berpikir, bertindak, dan merasakan di dalam masyarakat. Ketika seseorang tidak sesuai dengan norma maskulinitas dominan, individu tersebut dapat mengalami resiko stigma, diskriminasi, atau marginalisasi. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Norma maskulinitas tradisional umumnya menekankan pada kekuatan fisik, kemandirian emosional, dominasi sosial, serta kurangnya ekspresi emosional yang dianggap “feminin”. Ekspektasi ini sering kali menimbulkan tekanan sosial pada laki-laki untuk menyesuaikan perilaku mereka agar sesuai dengan standar maskulinitas dominan, meskipun realitas individual bisa lebih kompleks. ([Lihat sumber Disini - tirto.id])

Proses sosial ini bukan berarti bahwa laki-laki tidak dapat menunjukkan sifat yang bersifat emotif atau non-tradisional; melainkan struktur sosial sering kali mengkategorikan ekspresi tersebut sebagai menyimpang dari norma maskulinitas yang berlaku. Dengan berkembangnya kesadaran norma gender yang lebih inklusif, sebagian ekspresi maskulinitas mulai berubah dan menerima variasi yang lebih luas. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])


Dampak Maskulinitas Sosial terhadap Relasi Gender

Maskulinitas sosial memainkan peran besar dalam pembentukan serta dinamika hubungan antara laki-laki dan perempuan, termasuk hubungan antar gender lain. Relasi gender sering kali dibentuk oleh struktur kuasa yang tercipta dari konstruksi maskulinitas dominan. Dalam masyarakat yang sangat patriarkal, maskulinitas hegemonik dapat memperkuat ketidaksetaraan gender, dominasi laki-laki, serta pembatasan peran sosial perempuan dan kelompok yang tidak sesuai dengan norma maskulinitas dominan. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Selain itu, maskulinitas sosial juga berdampak pada relasi interpersonal, seperti hubungan keluarga, pekerjaan, dan komunitas sosial. Ekspektasi maskulinitas tradisional dapat menciptakan tekanan psikologis pada laki-laki untuk menegaskan dominasi atau menahan ekspresi emosional yang sehat. Ketidakmampuan memenuhi norma-norma ini berpotensi menimbulkan stres, isolasi sosial, serta hubungan interpersonal yang kurang sehat. ([Lihat sumber Disini - dpublication.com])

Dalam konteks gender yang lebih luas, maskulinitas sosial juga dapat melanggengkan stereotip serta bias yang membatasi individu dalam peran sosial mereka, sehingga memperkuat hierarki gender yang tidak adil dan membatasi kebebasan ekspresi identitas gender yang beragam. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])


Maskulinitas Sosial dalam Masyarakat Modern

Dalam masyarakat modern, konstruksi maskulinitas terus berubah dan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti globalisasi, media massa, pendidikan, dan gerakan kesetaraan gender. Ekspektasi tradisional terhadap laki-laki sebagai figur dominan dan penopang utama keluarga kini banyak diuji oleh perubahan peran gender yang lebih egaliter, peningkatan kesadaran hak-hak gender, serta representasi maskulinitas yang lebih beragam dalam media dan budaya populer. ([Lihat sumber Disini - media.neliti.com])

Perubahan ini menandai munculnya cara-cara baru dalam memahami maskulinitas, termasuk maskulinitas yang lebih inklusif, sensitif emosional, dan fleksibel dalam menjalankan peran sosial dan hubungan interpersonal. Kendati demikian, tekanan terhadap maskulinitas dominan masih kuat dalam banyak komunitas tradisional, sehingga konflik antara norma tradisional dan modern sering terlihat dalam kehidupan sehari-hari. ([Lihat sumber Disini - media.neliti.com])

Selain itu, ruang digital dan media sosial juga menjadi arena penting dalam merepresentasikan dan menegosiasikan bentuk-bentuk maskulinitas baru, yang kadang menantang stereotip lama namun juga berpotensi menghasilkan tekanan sosial baru yang kompleks. ([Lihat sumber Disini - ojs.unm.ac.id])


Kesimpulan

Maskulinitas sosial merupakan konstruksi budaya yang menghasilkan berbagai cara laki-laki dipahami dan bertindak dalam kehidupan masyarakat. Definisi maskulinitas tidak hanya terbatas pada aspek biologis, tetapi dipengaruhi oleh norma sosial, relasi kuasa, serta konteks budaya yang berubah-ubah. Terdapat bentuk-bentuk maskulinitas yang berbeda, mulai dari hegemonik hingga subordinat, yang menunjukkan kompleksitas cara laki-laki menavigasi identitas gender mereka dalam tatanan sosial. Norma gender yang mengikat pemahaman maskulinitas sering memengaruhi relasi antara laki-laki dan perempuan serta memengaruhi dinamika interpersonal. Di era modern, perubahan sosial telah membuka ruang bagi ekspresi maskulinitas yang lebih inklusif, namun tantangan terhadap norma dominan tetap menjadi bagian penting dalam diskusi gender kontemporer. Pemahaman tentang maskulinitas sosial membantu kita melihat bagaimana identitas gender dibentuk serta membuka peluang bagi relasi gender yang lebih egaliter dan sehat di masa depan.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Maskulinitas sosial adalah konsep yang menjelaskan bagaimana sifat, peran, dan perilaku laki-laki dibentuk oleh norma, nilai, dan konstruksi budaya dalam masyarakat, bukan semata-mata oleh faktor biologis.

Maskulinitas pada dasarnya merupakan hasil konstruksi sosial. Meskipun berkaitan dengan jenis kelamin biologis, bentuk dan makna maskulinitas dibentuk oleh budaya, sejarah, dan struktur sosial yang berlaku.

Dalam kajian sosial dikenal beberapa bentuk maskulinitas, seperti maskulinitas hegemonik, maskulinitas subordinat, maskulinitas komplisit, dan maskulinitas termarginalisasi, yang masing-masing memiliki posisi berbeda dalam struktur sosial.

Maskulinitas sosial sangat erat kaitannya dengan norma gender karena norma tersebut menetapkan harapan tentang bagaimana laki-laki seharusnya bersikap, berperan, dan berinteraksi dalam masyarakat.

Maskulinitas sosial dapat memengaruhi relasi gender dengan memperkuat atau menantang ketimpangan gender. Maskulinitas dominan sering melanggengkan relasi kuasa yang tidak setara, sementara bentuk maskulinitas yang lebih inklusif dapat mendorong hubungan yang lebih egaliter.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Konstruksi Pengetahuan: Proses dan Contoh Konstruksi Pengetahuan: Proses dan Contoh Konstruksi Teori: Pengertian, Langkah, dan Contoh dalam Penelitian Konstruksi Teori: Pengertian, Langkah, dan Contoh dalam Penelitian Homogenisasi Budaya: Konsep dan Kritik Sosial Homogenisasi Budaya: Konsep dan Kritik Sosial Budaya Populer: Konsep dan Konstruksi Sosial Budaya Populer: Konsep dan Konstruksi Sosial Teori Relativitas Sosial dalam Kajian Ilmiah Teori Relativitas Sosial dalam Kajian Ilmiah Globalisasi Budaya: Konsep dan Implikasi Sosial Globalisasi Budaya: Konsep dan Implikasi Sosial Identitas Budaya: Konsep, Pembentuk, dan Perannya Identitas Budaya: Konsep, Pembentuk, dan Perannya Konsep Realitas Sosial: Definisi dan Analisis Konsep Realitas Sosial: Definisi dan Analisis Peran Gender: Konsep dan Konstruksi Sosial Peran Gender: Konsep dan Konstruksi Sosial Representasi Sosial: Konsep dan Pembentukan Makna Representasi Sosial: Konsep dan Pembentukan Makna Perubahan Budaya: Konsep dan Faktor Pendorong Perubahan Budaya: Konsep dan Faktor Pendorong Konstruktivisme dalam Penelitian Kualitatif Konstruktivisme dalam Penelitian Kualitatif Akulturasi Budaya: Konsep dan Proses Interaksi Akulturasi Budaya: Konsep dan Proses Interaksi Media Massa: Konsep dan Konstruksi Realitas Sosial Media Massa: Konsep dan Konstruksi Realitas Sosial Kebudayaan Kontemporer: Konsep, Unsur, dan Ciri Kebudayaan Kontemporer: Konsep, Unsur, dan Ciri Relativisme Akademik: Pengertian dan Dampaknya Relativisme Akademik: Pengertian dan Dampaknya Ontologi Sosial dalam Filsafat Ilmu Ontologi Sosial dalam Filsafat Ilmu Epistemologi Modern: Perkembangan dan Implikasinya Epistemologi Modern: Perkembangan dan Implikasinya Cross Cultural Research: Definisi, Tujuan, dan Contoh Penerapan Cross Cultural Research: Definisi, Tujuan, dan Contoh Penerapan Ontologi Kritis: Definisi dan Contoh dalam Ilmu Sosial Ontologi Kritis: Definisi dan Contoh dalam Ilmu Sosial
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…