
Perubahan Psikologis Ibu pada Masa Menyusui
Pendahuluan
Masa menyusui adalah periode penting dan sensitif bagi ibu, bukan hanya dari sisi fisik, tetapi juga kondisi psikologis. Selama masa ini, ibu mengalami berbagai perubahan: hormon berfluktuasi, tanggung jawab baru sebagai pengasuh, kelelahan, hingga tekanan emosional. Perubahan psikologis pada ibu menyusui dapat memengaruhi kesehatan mental, keberhasilan menyusui, termasuk pemberian ASI eksklusif, serta bonding antara ibu dan bayi. Oleh karena itu, penting untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi psikologis ibu, tantangan yang muncul, serta peran dukungan sosial dan edukasi laktasi dalam menjaga stabilitas emosi ibu. Artikel ini mengulas berbagai aspek tersebut berdasarkan temuan penelitian terkini.
Definisi Perubahan Psikologis Ibu pada Masa Menyusui
Definisi Umum
Perubahan psikologis ibu pada masa menyusui merujuk pada berbagai perubahan kondisi emosional, suasana hati, tingkat kecemasan atau stres, perasaan tidak nyaman, resistensi terhadap peran baru, hingga gangguan suasana hati seperti baby-blues atau depresi pascapersalinan. Selama masa menyusui, ibu bisa mengalami kesejahteraan psikologis yang baik atau sebaliknya: kecemasan, stres, depresi, kelelahan emosional, serta perasaan tidak mampu, tergantung pada berbagai faktor internal maupun eksternal.
Definisi dalam KBBI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah “psikologis” mengacu pada hal-hal yang berkaitan dengan jiwa, kejiwaan, atau kejiwaan manusia (proses mental, emosi, perilaku). Dengan demikian, “perubahan psikologis ibu” menunjukkan perubahan dalam hal kejiwaan/emosi ibu, misalnya suasana hati, perasaan, stabilitas emosional, kewaspadaan mental, stres, dan semacamnya, di masa menyusui, ketika ibu menghadapi dinamika hormonal, fisik, dan tanggung jawab baru. (Sumber KBBI dapat dirujuk langsung di situs KBBI daring.)
Definisi menurut Para Ahli
Menurut literatur dan penelitian kesehatan maternal serta psikologis:
-
Ibu pascapersalinan dan ibu menyusui rentan terhadap tekanan psikologis karena kombinasi faktor biologis (perubahan hormon), sosial (dukungan keluarga) dan situasional (peran baru, kelelahan, tanggung jawab). [Lihat sumber Disini - jurnal.fk.uisu.ac.id]
-
“Psychological well-being” ibu menyusui dipengaruhi oleh kondisi emosional, stres, kecemasan, serta tingkat kepercayaan diri ibu dalam menyusui, yang dikenal dengan istilah “breastfeeding self-efficacy”. Ibu dengan self-efficacy tinggi cenderung lebih stabil secara emosional dan punya risiko depresi pascapersalinan lebih rendah. [Lihat sumber Disini - jurnalbidankestrad.com]
-
Perubahan hormon (seperti fluktuasi estrogen, progesteron, prolaktin, dan hormon stres) setelah melahirkan dapat memicu gejala emosional: dari mood swings ringan (baby-blues) sampai depresi berat. [Lihat sumber Disini - jurnal.unipasby.ac.id]
-
Dukungan sosial, baik dari pasangan, keluarga, teman, maupun tenaga kesehatan, memainkan peran penting dalam adaptasi psikologis ibu menyusui dan keberhasilan proses menyusui. [Lihat sumber Disini - ejournal.unklab.ac.id]
Dengan demikian, “perubahan psikologis ibu pada masa menyusui” mencakup spektrum dari fluktuasi emosional ringan hingga gangguan psikologis serius, dipicu oleh interaksi kompleks antara faktor biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan.
Faktor Hormonal yang Mempengaruhi Emosi
Perubahan hormon setelah melahirkan adalah salah satu penyebab utama perubahan psikologis pada ibu menyusui. Penurunan cepat kadar hormon kehamilan seperti estrogen dan progesteron, serta adaptasi terhadap hormon baru seperti prolaktin dan oksitosin, yang berkaitan dengan produksi ASI dan bonding, bisa memengaruhi mood dan stabilitas emosional ibu. [Lihat sumber Disini - jurnal.unipasby.ac.id]
Dalam studi oleh Differences in Postpartum Depression and Breast Milk Production in Postpartum Mothers After Implementing Postnatal Yoga (2024), disebutkan bahwa fluktuasi hormon (estrogen, progesteron, prolaktin, kortisol) mempengaruhi risiko depresi pascapersalinan, terutama di 10 hari pertama postpartum. [Lihat sumber Disini - jurnal.unipasby.ac.id]
Perubahan hormonal juga dapat mempengaruhi “let-down reflex” (refleks pemompa ASI), sehingga jika hormon stres atau kecemasan tinggi, proses menyusui bisa terganggu. [Lihat sumber Disini - midwifery.iocspublisher.org]
Karena itu ibu sering merasakan perubahan suasana hati, mudah menangis, cemas, emosional, atau mood-swing ringan hingga sedang, yang biologisnya berkaitan dengan adaptasi hormon pascapersalinan.
Tantangan Psikologis Awal Masa Menyusui
Masa awal menyusui (nifas, 0, 6 minggu pertama, atau bahkan sampai beberapa bulan setelah) kerap diwarnai dengan tantangan psikologis:
-
Risiko munculnya Baby Blues Syndrome, perasaan sedih, cemas, mudah tersinggung, lelah mental, yang umumnya terjadi dalam 2 hari sampai 2 minggu pascapersalinan. [Lihat sumber Disini - manggalajournal.org]
-
Kemungkinan depresi pascapersalinan (postpartum depression) pada sebagian ibu, terutama bila faktor pendukung kurang memadai: hormon, kelelahan, mental, rasa tidak kompeten, kurang pengetahuan. [Lihat sumber Disini - jurnal.unipasby.ac.id]
-
Sensasi stres, kecemasan, dan tekanan mental saat ibu baru pertama kali harus mengurus bayi sekaligus menyusui, kadang tanpa bantuan memadai. [Lihat sumber Disini - ejournal.unaja.ac.id]
-
Gangguan emosional yang bisa mempengaruhi produksi ASI, stres atau kecemasan berat dapat menghambat refleks let-down, menyebabkan ASI tidak keluar atau sedikit. [Lihat sumber Disini - midwifery.iocspublisher.org]
Masalah-masalah di atas tidak hanya berpotensi mengganggu kesejahteraan ibu, tapi juga mengancam keberhasilan menyusui.
Hubungan Dukungan Sosial dengan Kesehatan Mental Ibu
Dukungan sosial, dari suami/ pasangan, keluarga, teman, bahkan tenaga kesehatan, memainkan peran sentral dalam menjaga kesehatan mental ibu menyusui dan mendukung keberhasilan menyusui.
Sebuah studi di rumah sakit di Depok menunjukkan bahwa ibu dengan tingkat kecemasan (anxiety) rendah dan dukungan sosial tinggi cenderung lebih berhasil memberikan ASI eksklusif. [Lihat sumber Disini - ejournal.unklab.ac.id]
Penelitian di Puskesmas Kayu Tangi (2024) menunjukkan bahwa dukungan dari tenaga kesehatan berpengaruh positif terhadap “psychological well-being” ibu menyusui, semakin tinggi dukungan, semakin baik kesejahteraan psikologis ibu. [Lihat sumber Disini - journal.pubmedia.id]
Studi lain menemukan bahwa ibu yang memiliki kepercayaan diri (self-efficacy) tinggi dalam menyusui, seringkali karena mendapatkan informasi, edukasi, dan dukungan sosial, memiliki risiko depresi pascapersalinan jauh lebih rendah. [Lihat sumber Disini - jurnalbidankestrad.com]
Dukungan sosial membantu ibu merasa tidak sendirian dalam menghadapi tantangan menyusui: memberi semangat, membantu praktis (perawatan bayi, rumah tangga), memberi informasi, atau sekadar menjadi tempat curhat, sehingga stres dan kecemasan bisa berkurang, mental ibu lebih stabil, dan menyusui bisa lebih berhasil.
Pengaruh Kelelahan terhadap Kondisi Emosional
Menyusui sering diiringi kelelahan fisik dan emosional, terutama bila ibu juga mengurus rumah tangga, bayi, dan tanggung jawab lain. Kelelahan ini bisa memicu stres kronis, kecemasan, dan penurunan mood.
Studi menunjukkan bahwa stres psikologis pada ibu menyusui berhubungan erat dengan penurunan produksi ASI, ketika ibu stres atau emosinya terganggu, hormon yang dibutuhkan untuk let-down ASI bisa terhambat. [Lihat sumber Disini - ejournal.unaja.ac.id]
Selain itu, kelelahan juga bisa memperlemah coping ibu dalam menghadapi tantangan menyusui: menurunkan kepercayaan diri, memperburuk kecemasan, dan meningkatkan risiko gangguan psikologis seperti depresi. [Lihat sumber Disini - scholarhub.ui.ac.id]
Dengan demikian, kelelahan, terutama jika ditambah dengan kurangnya dukungan, berperan signifikan dalam kestabilan emosional ibu dan keberlanjutan menyusui.
Peran Konseling dan Edukasi Laktasi
Intervensi melalui konseling, edukasi laktasi, dan dukungan tenaga kesehatan terbukti membantu meningkatkan kesejahteraan psikologis ibu serta mendukung keberhasilan menyusui.
Misalnya, penelitian di Puskesmas menunjukkan bahwa dukungan tenaga kesehatan meningkatkan psychological well-being ibu menyusui. [Lihat sumber Disini - journal.pubmedia.id]
Dalam substansi intervensi, pendekatan seperti latihan relaksasi (contohnya yoga postpartum) terbukti efektif: Postnatal Yoga dalam penelitian Wulandari dkk. (2024) memberikan pengaruh positif, menurunkan depresi pascapersalinan dan meningkatkan produksi ASI dibanding kelompok kontrol. [Lihat sumber Disini - jurnal.unipasby.ac.id]
Konseling dan edukasi memberikan pengetahuan tentang teknik menyusui, manajemen stres, adaptasi peran sebagai ibu, serta menguatkan self-efficacy ibu, sehingga membantu ibu menghadapi fase menyusui dengan lebih siap dan seimbang secara emosional.
Hambatan dalam Menjaga Stabilitas Emosi
Meskipun upaya konseling dan dukungan tersedia, banyak hambatan yang bisa mengganggu stabilitas emosi ibu menyusui, di antaranya:
-
Minimnya dukungan dari lingkungan sekitar, suami, keluarga, atau tenaga kesehatan, menyebabkan ibu merasa sendirian, kewalahan, dan rentan stres atau depresi.
-
Kurangnya pengetahuan atau informasi benar tentang menyusui (teknik, pentingnya ASI, manajemen ekspektasi), bisa memicu rasa tidak percaya diri dan kecemasan jika terjadi kendala seperti ASI sedikit atau bayi sulit menyusu.
-
Faktor fisik dan kesehatan ibu atau bayi, seperti sakit payudara, bayi prematur, bayi demanding, atau kondisi medis, yang memperumit proses menyusui, membuat ibu frustrasi. Penelitian menunjukkan bahwa ketika ibu mengalami kecemasan atau stres berat, produksi ASI bisa terhambat. [Lihat sumber Disini - jim.unisma.ac.id]
-
Kelelahan ganda (mengurus bayi + rumah tangga + tanggung jawab lain) ditambah tekanan sosial/cultural untuk bisa “menyusui sempurna”, bisa memperburuk kondisi mental ibu.
-
Stigma atau kurangnya akses pada layanan konseling psikologis atau laktasi, banyak ibu tidak tahu bahwa dukungan semacam itu bisa membantu.
Hambatan-hambatan ini jika tidak ditangani dapat membuat ibu kesulitan menjaga stabilitas emosi, meningkatkan risiko stres, kecemasan, depresi, atau berhenti menyusui sebelum waktu yang direkomendasikan.
Dampak Perubahan Psikologis terhadap Bonding dan Keberlanjutan Menyusui
Perubahan psikologis pada ibu menyusui tidak hanya berdampak pada ibu saja, tapi juga pada ikatan emosional (bonding) antara ibu dan bayi, serta keberlanjutan menyusui.
Ibu yang mengalami stres, kecemasan, atau depresi pascapersalinan mungkin kurang mampu memberikan respons emosional optimal kepada bayi: kurang sabar, mudah marah, emosional, atau bahkan menarik diri. Hal ini dapat mengganggu bonding dan interaksi awal ibu-bayi, yang krusial bagi perkembangan emosi dan psikologis bayi.
Dari sisi menyusui: psikologis negatif seperti kecemasan atau stres dapat menghambat refleks let-down dan produksi ASI, sehingga bayi mungkin tidak mendapat cukup ASI, ini bisa mendorong ibu mengambil keputusan berhenti menyusui atau beralih ke susu formula. [Lihat sumber Disini - midwifery.iocspublisher.org]
Sebaliknya, ibu dengan mental sehat, kepercayaan diri tinggi, dukungan sosial dan edukasi memadai cenderung lebih konsisten menyusui, memberi ASI eksklusif sesuai rekomendasi, dan menjaga bonding yang sehat dengan bayi. [Lihat sumber Disini - ejournal.unklab.ac.id]
Dengan demikian, perubahan psikologis, jika negatif, bisa menjadi salah satu faktor utama kegagalan menyusui atau berhentinya menyusui terlalu dini, serta memengaruhi kualitas hubungan ibu-anak.
Kesimpulan
Perubahan psikologis pada ibu selama masa menyusui, yang meliputi fluktuasi emosi, stres, kecemasan, kelelahan, atau bahkan depresi pascapersalinan, merupakan fenomena yang umum terjadi. Faktor penyebabnya kompleks: perubahan hormonal, tantangan awal menyusui, kelelahan fisik dan emosional, serta kurangnya dukungan sosial.
Dukungan sosial dari pasangan, keluarga, teman, maupun tenaga kesehatan, ditambah edukasi laktasi dan konseling, sangat penting untuk membantu ibu melewati masa ini dengan stabil secara mental. Intervensi seperti yoga postpartum, konseling, dan edukasi menyusui terbukti efektif dalam mengurangi depresi dan meningkatkan produksi ASI.
Jika hambatan psikologis tidak ditangani, potensi dampaknya besar: terhambatnya produksi ASI, sulitnya pemberian ASI eksklusif, rusaknya bonding ibu-bayi, dan risiko gangguan kesehatan mental pada ibu.
Karenanya, menjaga kesehatan mental ibu menyusui bukan hanya soal ibu saja, tapi juga soal kesehatan dan tumbuh kembang bayi, serta kesejahteraan keluarga secara keseluruhan. Dukungan, pemahaman, dan fasilitas laktasi & konseling harus menjadi bagian dari layanan maternal dan newborn care.