
Risiko Diare: Penyebab dan Penatalaksanaannya
Pendahuluan
Diare merupakan salah satu gangguan pencernaan yang paling umum terjadi di masyarakat, dari anak-anak hingga dewasa. Meskipun sering dianggap sebagai gangguan ringan, diare bisa menimbulkan akibat serius, mulai dari dehidrasi, gangguan penyerapan nutrisi, hingga komplikasi berat terutama pada kelompok rentan seperti bayi, balita, dan lansia. Pemahaman menyeluruh tentang definisi, faktor risiko, penyebab, gejala, dampak kesehatan, penatalaksanaan, hingga pencegahan sangat penting agar upaya promotif, preventif, dan kuratif bisa dilaksanakan secara tepat. Artikel ini akan menguraikan aspek-aspek penting terkait diare serta menyajikan contoh kasus risiko diare agar pembaca lebih memahami dinamika dan upaya penanganannya.
Definisi Diare
Definisi Diare Secara Umum
Diare umumnya dipahami sebagai kondisi di mana seseorang mengalami peningkatan frekuensi buang air besar, dengan tinja yang menjadi lebih encer atau cair dari biasanya. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]
Menurut definisi klinis, diare ditandai dengan feses lembek atau cair, dengan frekuensi buang air besar lebih dari tiga kali dalam satu hari, dan dapat disertai lendir atau darah. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]
Definisi Diare dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “diare /diaré/ n penyakit dengan gejala berak-berak; menceret.” [Lihat sumber Disini - kbbi.web.id]
Definisi ini menekankan pada gejala tinja cair atau berak-berak sebagai inti dari kondisi diare. [Lihat sumber Disini - kbbi.web.id]
Definisi Diare Menurut Para Ahli
Beberapa ahli dan lembaga kesehatan mendefinisikan diare dengan lebih komprehensif:
-
Menurut World Health Organization (WHO), diare adalah kondisi yang ditandai oleh perubahan bentuk dan konsistensi feses, dari lunak hingga cair, disertai peningkatan frekuensi buang air besar dibanding biasanya (≥3× sehari). [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-denpasar.ac.id]
-
Selain itu, definisi lain menyebut diare sebagai peningkatan volume dan keenceran tinja akibat ketidakseimbangan fungsi normal usus, terganggunya proses penyerapan air dan nutrisi di usus kecil maupun besar. [Lihat sumber Disini - kalbemed.com]
-
Diare bisa diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis: akut, persisten, dan kronis, tergantung durasi serta karakteristik tinjanya. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-denpasar.ac.id]
-
Dalam konteks kesehatan masyarakat di Indonesia, diare pada balita sangat diperhatikan karena prevalensinya tinggi dan dapat berakibat fatal jika tidak ditangani dengan tepat. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]
Faktor Risiko dan Penyebab Diare
Diare memiliki banyak determinan, baik dari faktor host (individu), lingkungan, maupun perilaku/lingkungan rumah tangga.
-
Faktor host: status gizi buruk, usia rentan (balita), perilaku makan (misalnya makan dengan tangan), rendahnya pengetahuan ibu/wali. [Lihat sumber Disini - cdkjournal.com]
-
Faktor lingkungan: sanitasi buruk, kualitas air minum rendah, pembuangan tinja tidak higienis atau pembuangan terbuka, kondisi tempat tinggal padat. [Lihat sumber Disini - cdkjournal.com]
-
Faktor perilaku/hygiene: kebiasaan mencuci tangan tidak baik, kebersihan tangan dan makanan, cara pemberian makan pada balita, kurangnya ASI eksklusif, imunisasi kurang lengkap. [Lihat sumber Disini - jqwh.org]
-
Faktor sosiodemografis: tingkat pendidikan ibu rendah, pekerjaan/pekerjaan ibu, akses terhadap fasilitas kesehatan dan informasi, tingkat ekonomi rumah tangga. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Penyebab diare juga sangat beragam, meliputi infeksi oleh virus, bakteri, parasit, biasanya melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, serta faktor non-infeksi seperti malabsorpsi, efek samping obat, intoleransi makanan, atau gangguan pencernaan kronis. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]
Dampak Diare terhadap Kesehatan Pasien
Diare tidak selalu sekadar gangguan ringan, jika tidak ditangani dengan baik, dapat menimbulkan dampak serius.
-
Dehidrasi dan kehilangan cairan, terutama pada bayi dan balita, sehingga berisiko fatal jika asupan cairan tidak segera diperbaiki. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
-
Gangguan penyerapan nutrisi: diare kronis atau berulang dapat menyebabkan kurang gizi, stunting atau hambatan pertumbuhan pada anak. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]
-
Penurunan kualitas hidup: sering buang air besar, ketidaknyamanan, kram perut, muntah, serta sering sakit menyebabkan aktivitas terganggu. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
-
Pada kasus berat: diare dapat menyebabkan komplikasi serius termasuk kematian, terutama pada anak di bawah 5 tahun jika tidak mendapatkan penanganan segera. [Lihat sumber Disini - journalofmedula.com]
Tanda dan Gejala Klinis
Gejala umum diare meliputi:
-
Buang air besar dengan tinja encer atau cair, lebih dari 3 kali sehari. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]
-
Tinja bisa disertai lendir atau darah, terutama bila ada infeksi tertentu. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]
-
Gejala penyerta: kram atau nyeri perut, mual, muntah, perasaan perut tidak nyaman, kadang disertai demam, dehidrasi (haus, mulut kering, lemah). [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
-
Pada anak: gejala dehidrasi bisa lebih cepat muncul, seperti rewel, lesu, penurunan produksi urine, kondisi mata cekung, kulit kering. (Meski tidak semua jurnal menyebutkan secara eksplisit, ini termasuk gejala umum terkait diare berat/dehidrasi)
Penatalaksanaan dan Intervensi Keperawatan
Penatalaksanaan diare tergantung pada tingkat keparahan, usia pasien, dan kondisi klinis. Berikut langkah penting, terutama dari perspektif keperawatan dan kesehatan masyarakat:
-
Rehidrasi Oral (ORT): pemberian larutan rehidrasi oral sangat krusial untuk mencegah/tangani dehidrasi, terutama pada balita. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]
-
Nutrisi dan Cairan Adekuat: menjaga asupan cairan dan nutrisi, meskipun sedang diare, untuk mencegah malnutrisi dan penurunan berat badan. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]
-
Pendidikan & Konseling Kesehatan: mendidik ibu/wali tentang pentingnya kebersihan, cuci tangan, sanitasi, cara memberi makan dan minum yang aman, serta pengelolaan tinja yang baik. [Lihat sumber Disini - cdkjournal.com]
-
Pemantauan dan Rujukan Medis: jika diare persisten, ada darah dalam tinja, dehidrasi berat, demam tinggi, muntah terus-menerus, maka perlu tindakan medis/rujukan ke fasilitas kesehatan. (Berdasarkan definisi WHO dan praktik klinis umum) [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]
-
Manajemen Lingkungan & Sanitasi: memperbaiki sanitasi, air minum, pembuangan limbah/tinja, menjaga kebersihan rumah, untuk mencegah infeksi ulang atau penyebaran ke anggota keluarga lain. [Lihat sumber Disini - cdkjournal.com]
Pencegahan Penularan dan Dehidrasi
Upaya preventif sangat penting agar diare tidak sering terjadi, terutama pada kelompok rentan. Beberapa langkah efektif:
-
Pastikan kebersihan air minum dan makanan, gunakan air bersih, masak air bila perlu, hindari makanan/minuman dari sumber tidak terjamin.
-
Terapkan kebiasaan cuci tangan dengan sabun, terutama setelah buang air besar, sebelum memasak, dan sebelum makan.
-
Sanitasi lingkungan: pembuangan limbah dan tinja harus aman, hindari buang air besar di sembarangan tempat; buang tinja dan limbah secara higienis.
-
Berikan ASI eksklusif pada bayi sesuai rekomendasi, dan imunisasi lengkap agar sistem kekebalan tubuh optimal.
-
Edukasi orang tua/wali tentang tanda bahaya diare, pentingnya rehidrasi, dan kapan harus membawa anak ke fasilitas kesehatan.
-
Penyuluhan kesehatan masyarakat secara berkala di daerah dengan prevalensi tinggi, serta program intervensi sanitasi & kebersihan lingkungan.
Contoh Kasus Risiko Diare
Misalnya, sebuah studi di sebuah wilayah di Indonesia melaporkan bahwa anak balita yang sering makan dengan tangan tanpa mencuci tangan dan tinggal di lingkungan dengan sanitasi buruk memiliki risiko diare jauh lebih tinggi, terutama jika ibu memiliki pengetahuan kebersihan rendah dan akses air minum bersih terbatas. [Lihat sumber Disini - cdkjournal.com]
Contoh konkret: di sebuah puskesmas, ditemukan bahwa anak berusia 12, 24 bulan dengan status gizi kurang, rumah di daerah pedesaan tanpa toilet sehat, dan ibu belum terbiasa mencuci tangan sebelum memberi makan, mengalami diare berulang dalam 1 bulan. Intervensi ORT, edukasi ibu tentang kebersihan, serta perbaikan sanitasi rumah dilakukan, setelah beberapa minggu, frekuensi diare menurun signifikan dan status hidrasi & gizi anak membaik.
Kasus seperti ini menggambarkan bagaimana kombinasi faktor host, lingkungan, dan perilaku dapat meningkatkan risiko diare, sekaligus menunjukkan betapa pentingnya penanganan holistik (keperawatan, edukasi, lingkungan).
Kesimpulan
Diare bukan sekadar gangguan ringan, definisinya melibatkan perubahan konsistensi dan frekuensi tinja, dan bisa berdampak serius seperti dehidrasi, malnutrisi, dan risiko kematian, terutama pada anak-anak. Faktor penyebabnya sangat beragam: mulai dari mikroorganisme (virus, bakteri, parasit), sanitasi dan kebersihan lingkungan, hingga perilaku individu dan kondisi sosiodemografis. Oleh karena itu, penatalaksanaan harus menyeluruh: rehidrasi, asupan nutrisi, edukasi kesehatan, sanitasi, serta rujukan jika diperlukan. Pencegahan melalui kebersihan, sanitasi, dan edukasi adalah upaya utama untuk mengurangi risiko diare. Kesadaran masyarakat dan peran tenaga kesehatan penting agar upaya preventif, terutama di daerah rentan, bisa terlaksana.