Terakhir diperbarui: 13 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 13 December). Hubungan Sanitasi dan Stunting. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/hubungan-sanitasi-dan-stunting  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Hubungan Sanitasi dan Stunting - SumberAjar.com

Hubungan Sanitasi dan Stunting

Pendahuluan

Stunting adalah masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi prioritas di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Stunting ditandai dengan kondisi anak yang memiliki tinggi badan lebih rendah dibandingkan standar usia dan dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks. Anak yang stunting menghadapi risiko gangguan pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif, serta lebih rentan terhadap penyakit sepanjang hidupnya.[Lihat sumber Disini - who.int]

Sanitasi lingkungan dan akses layanan air bersih merupakan elemen penting dalam kesehatan anak. Kondisi sanitasi yang buruk dapat membuka pintu bagi infeksi, mengganggu proses penyerapan nutrisi, dan akhirnya berkontribusi terhadap kejadian stunting. Hubungan ini tidak hanya bersifat langsung melalui kontaminasi lingkungan, tetapi juga melalui mekanisme biologis seperti gangguan usus kronis dan infeksi yang berulang.[Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]

Artikel ini mengeksplorasi hubungan antara sanitasi dan kejadian stunting dengan mengulas definisi, dampak dari sanitasi buruk terhadap tumbuh kembang balita, hubungan infeksi saluran cerna dengan stunting, faktor lingkungan yang mempengaruhi malnutrisi, peran akses air bersih, serta upaya intervensi sanitasi sebagai bagian dari strategi penurunan stunting.


Definisi Hubungan Sanitasi dan Stunting

Definisi Hubungan Sanitasi dan Stunting Secara Umum

Hubungan sanitasi dan stunting menggambarkan keterkaitan antara kondisi kebersihan lingkungan dan proses tumbuh kembang anak. Sanitasi merujuk pada sistem pembuangan limbah, akses terhadap fasilitas buang air besar yang layak, serta praktik kebersihan yang baik. Ketika sanitasi lingkungan buruk, anak-anak terpapar patogen melalui air dan tanah yang tercemar, yang dapat memicu infeksi berulang dan gangguan penyerapan nutrisi. Kondisi-kondisi ini dapat memperlambat pertumbuhan linear anak, sehingga berkontribusi terhadap kejadian stunting.[Lihat sumber Disini - jurnal.stikespantiwaluya.ac.id]

Definisi Hubungan Sanitasi dan Stunting dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sanitasi adalah upaya untuk menciptakan dan menerapkan kondisi dan sistem higienis yang baik untuk kesehatan masyarakat, termasuk pengelolaan air bersih dan pembuangan limbah. Sedangkan stunting secara terminologis merujuk pada kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, sering kali dinilai melalui tinggi badan per usia yang berada jauh di bawah standar pertumbuhan anak. (Definisi “sanitasi” dan “stunting” merujuk pada penjelasan umum dalam KBBI, dapat diakses melalui situs resmi KBBI).

Definisi Hubungan Sanitasi dan Stunting Menurut Para Ahli

  1. Olivia Cumming & Jamie Cairncross (2016) menjelaskan hubungan sanitasi dengan stunting melalui kajian WASH (Water, Sanitation, and Hygiene). Mereka menyatakan bahwa sanitasi yang buruk mempengaruhi kesehatan anak lewat paparan kontaminan dan patogen yang menyebabkan penyakit infeksi berulang dan gangguan nutrisi.[Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  2. Rea Ariyanti et al. (2025) dalam tinjauan sistematis mereka menunjukkan bahwa kurangnya akses ke air bersih, sanitasi layak, dan praktik kebersihan yang buruk berpengaruh signifikan terhadap kejadian stunting di Indonesia, melalui jalur infeksi dan hambatan penyerapan nutrisi.[Lihat sumber Disini - jurnal.stikespantiwaluya.ac.id]

  3. Wahyu Aprilyaningsih et al. (2025) dalam meta-analisis menemukan bahwa anak di lingkungan dengan sanitasi buruk memiliki kemungkinan mengalami stunting 3, 71 kali lebih tinggi dibandingkan yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi baik.[Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]

  4. Aulia Dwi Wulandani et al. (2025) menunjukkan bahwa lingkungan sanitasi yang buruk meningkatkan risiko stunting lebih dari enam kali lipat pada kelompok anak di Central Java, memperlihatkan peran besar kondisi lingkungan terhadap status gizi anak.[Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-denpasar.ac.id]


Dampak Sanitasi Buruk terhadap Pertumbuhan Balita

Sanitasi yang buruk membuka berbagai jalur infeksi bagi anak-anak, terutama melalui paparan feses manusia yang mencemari tanah dan air minum. Patogen seperti bakteri, virus, dan parasit dapat menyebabkan diare berulang, infeksi usus dan parasit, serta gangguan pencernaan kronis. Infeksi yang terus menerus menurunkan kemampuan usus untuk menyerap nutrisi esensial karena rusaknya struktur dan fungsi mukosa usus. Akibatnya, meskipun asupan nutrisi mungkin cukup, tubuh anak tidak dapat menyerapnya secara optimal.

Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa di lingkungan dengan sanitasi yang buruk, kejadian infeksi berulang serta diare berkontribusi terhadap gangguan tumbuh kembang. Infeksi yang sering muncul mengakibatkan kehilangan nutrisi melalui diare, penurunan selera makan, dan peningkatan metabolisme akibat respons imun tubuh. Hal ini berujung pada kurangnya nutrisi yang dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan linear anak, sehingga risiko stunting meningkat.[Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]

Penelitian di Lembar Selatan Village, Lombok, menunjukkan hubungan signifikan antara kualitas sanitasi lingkungan (misalnya sumber air bersih, pembuangan limbah) dan kejadian stunting pada balita. Anak-anak yang tinggal di rumah dengan sanitasi buruk menunjukkan prevalensi stunting yang lebih tinggi dibandingkan anak di rumah dengan sanitasi layak.[Lihat sumber Disini - journal.stikesyarsimataram.ac.id]

Sanitasi buruk juga memperburuk kesehatan melalui peningkatan paparan terhadap patogen lingkungan, yang memicu gangguan kronis pada usus yang disebut Environmental Enteric Dysfunction (EED). Kondisi ini menyebabkan peradangan usus, penurunan vili usus, dan malabsorpsi nutrisi, yang kemudian memperlambat pertumbuhan anak. Meski penelitian WASH global menunjukkan variasi dalam hasil, hubungan antara praktik sanitasi buruk dan infeksi usus yang berkontribusi pada stunting tetap kuat.[Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Hubungan Infeksi Saluran Cerna dengan Stunting

Infeksi saluran cerna adalah faktor biologis penting dalam hubungan sanitasi dan stunting. Ketika anak sering terpapar patogen melalui air dan makanan yang terkontaminasi, infeksi berulang akan terjadi. Infeksi ini dapat berupa diare, infeksi parasit seperti cacingan, hingga gangguan kronis di usus. Kondisi tersebut menyebabkan kerusakan pada jaringan usus yang seharusnya menyerap nutrisi penting seperti protein, vitamin, dan mineral. Ketika kemampuan penyerapan menurun, anak tidak mendapatkan nutrisi yang cukup untuk pertumbuhan tulangnya dan jaringan tubuh lainnya.

Beberapa penelitian menemukan bahwa ketidakseimbangan mikrobiota usus dan infeksi kronis terkait dengan gangguan nutrisi yang berkontribusi terhadap kejadian stunting. Infeksi yang terus menerus menyebabkan peradangan usus dan malabsorption nutrisi, sehingga nutrisi yang dikonsumsi tidak diserap secara optimal oleh tubuh.[Lihat sumber Disini - ejournal.cibinstitute.com]

Selain itu, studi menunjukkan bahwa infeksi enterik berulang seperti diare berulang dalam dua tahun pertama kehidupan dapat meningkatkan risiko stunting secara signifikan. Diare menyebabkan kehilangan cairan dan nutrisi penting, serta sering kali meninggalkan kerusakan pada lapisan usus yang membuat anak lebih rentan terhadap infeksi berikutnya dan malabsorpsi.[Lihat sumber Disini - ejurnal.umri.ac.id]

Infeksi cacing usus juga merupakan jalur lain yang menghubungkan sanitasi buruk dengan stunting. Paparan terhadap cacing parasit, yang sering ditemukan di lingkungan dengan sanitasi buruk, dapat menyebabkan anemia, defisiensi mikronutrien, dan gangguan pertumbuhan karena parasit bersaing dengan anak untuk mendapatkan nutrisi yang tersedia. (Mekanisme biologis dari hubungan ini telah dibahas dalam berbagai studi yang menunjukkan peran gangguan usus dalam stunting.)


Faktor Lingkungan yang Berkontribusi pada Malnutrisi

Faktor lingkungan seperti kualitas air minum, pengelolaan limbah, kondisi rumah tangga, serta perilaku kebersihan keluarga memainkan peran kunci dalam menentukan status gizi anak. Lingkungan yang tercemar limbah manusia atau hewan, serta kurangnya fasilitas sanitasi layak, memperbesar kemungkinan anak terpapar patogen yang memicu penyakit infeksi berulang.

Tidak hanya itu, jarak ke sumber air bersih dan kualitas air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari juga memengaruhi kesehatan anak. Akses ke air bersih yang terbatas membuat keluarga kesulitan memenuhi praktik kebersihan dasar seperti mencuci tangan sebelum makan atau memasak. Kekurangan fasilitas ini memperkuat siklus paparan infeksi dan malnutrisi yang memicu stunting.[Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]

Praktik sanitasi yang buruk sering berkorelasi dengan perilaku kebersihan yang kurang memadai. Perilaku seperti tidak mencuci tangan dengan sabun setelah buang air atau sebelum makan meningkatkan risiko paparan patogen secara langsung. Studi di wilayah pesisir Jayapura menunjukkan bahwa perilaku higiene dan kondisi sanitasi lingkungan sangat signifikan terkait kejadian stunting pada balita.[Lihat sumber Disini - journal.unpacti.ac.id]


Peran Akses Air Bersih dalam Pencegahan Stunting

Akses terhadap air bersih merupakan salah satu determinan utama dalam mencegah stunting karena air bersih mendukung praktik kebersihan yang baik dan mengurangi paparan terhadap patogen. Ketika air yang digunakan untuk minum, memasak, dan kebersihan pribadi bersih dari kontaminan, risiko infeksi berulang pada anak berkurang.

Beberapa studi di Indonesia menunjukkan bahwa ketersediaan sumber air bersih di lingkungan rumah tangga berkaitan erat dengan kejadian stunting. Anak-anak yang tinggal di rumah dengan akses air bersih yang baik memiliki kemungkinan stunting yang lebih rendah dibandingkan anak di rumah yang bergantung pada sumber air yang tidak aman.[Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]

Air bersih yang aman juga memungkinkan praktik kebersihan seperti mencuci tangan dengan sabun dan penyediaan makanan yang higienis, yang keduanya merupakan strategi penting dalam memutus siklus infeksi usus yang dapat berujung pada stunting. Oleh karena itu, integrasi program sanitasi dan akses air bersih merupakan komponen penting dalam upaya pencegahan stunting.


Intervensi Sanitasi sebagai Pendukung Status Gizi

Intervensi sanitasi yang efektif mencakup pembangunan fasilitas buang air besar yang layak, sistem pembuangan limbah yang aman, penyediaan air minum bersih, serta edukasi perilaku kebersihan. Program WASH (Water, Sanitation and Hygiene) adalah pendekatan komprehensif yang menggabungkan ketiga elemen tersebut untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan dan pertumbuhan anak.

Bukti dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa intervensi WASH dapat menurunkan kejadian penyakit infeksi saluran cerna dan memperbaiki status gizi anak, meskipun efeknya terhadap stunting bisa bervariasi tergantung konteks dan cakupan program. Pendekatan multisektoral yang mengintegrasikan intervensi nutrisi, sanitasi, dan edukasi kesehatan keluarga terbukti lebih efektif dalam mengurangi prevalensi stunting dibandingkan intervensi tunggal.[Lihat sumber Disini - jurnal.stikespantiwaluya.ac.id]

Pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan kesehatan untuk meningkatkan praktik kebersihan dan sanitasi lingkungan juga terbukti membantu menurunkan risiko infeksi berulang dan memperkuat basis gizi anak.


Kesimpulan

Sanitasi yang buruk berkaitan erat dengan kejadian stunting melalui berbagai jalur biologis dan lingkungan. Kondisi lingkungan yang tercemar membuka peluang tinggi bagi anak-anak untuk terpapar patogen yang menyebabkan infeksi saluran cerna berulang, gangguan penyerapan nutrisi, serta malnutrisi kronis yang memicu stunting. Infeksi terutama diare berulang dan gangguan usus kronis memainkan peran penting dalam mekanisme hubungan ini.

Faktor lingkungan seperti akses air bersih, pengelolaan limbah yang baik, serta perilaku kebersihan keluarga sangat menentukan risiko stunting pada balita. Akses air bersih tidak hanya mendukung praktik sanitasi yang lebih baik, tetapi juga mengurangi paparan terhadap patogen yang merusak kesehatan anak.

Intervensi sanitasi yang komprehensif melalui program WASH dan pendekatan multisektoral dapat membantu mencegah stunting, terutama ketika dikombinasikan dengan pendidikan kesehatan, perbaikan gizi, dan upaya pemberdayaan masyarakat. Strategi ini bukan hanya mengatasi gejala, tetapi juga akar penyebab lingkungan yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak secara signifikan.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Sanitasi yang buruk meningkatkan paparan anak terhadap patogen penyebab infeksi saluran cerna, yang kemudian mengganggu penyerapan nutrisi dan meningkatkan risiko stunting.

Sanitasi buruk menyebabkan diare berulang, infeksi usus, serta gangguan penyerapan nutrisi yang dapat menghambat pertumbuhan linear balita.

Infeksi saluran cerna merusak lapisan usus dan menyebabkan malabsorption, sehingga nutrisi tidak terserap optimal, yang akhirnya berkontribusi pada stunting.

Akses air bersih membantu menjaga kebersihan, mencegah penyakit infeksi, dan mendukung pola hidup sehat sehingga risiko stunting dapat ditekan.

Intervensi seperti penyediaan sanitasi layak, perbaikan akses air bersih, edukasi cuci tangan pakai sabun, dan pengelolaan limbah yang aman efektif dalam menurunkan risiko stunting.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Sanitasi Fasilitas Pelayanan Kesehatan Sanitasi Fasilitas Pelayanan Kesehatan Sanitasi Lingkungan: Konsep, risiko kesehatan, dan pencegahan Sanitasi Lingkungan: Konsep, risiko kesehatan, dan pencegahan Stunting dan Faktor Perilaku Stunting dan Faktor Perilaku Perilaku Ibu dalam Pencegahan Stunting Sejak Kehamilan Perilaku Ibu dalam Pencegahan Stunting Sejak Kehamilan Stunting: Pengertian dan Penyebab Stunting: Pengertian dan Penyebab Faktor Risiko Stunting pada Balita Faktor Risiko Stunting pada Balita Hygiene Sanitasi Lingkungan Hygiene Sanitasi Lingkungan Pengetahuan Ibu tentang Pencegahan Stunting Pengetahuan Ibu tentang Pencegahan Stunting Sanitasi Total Berbasis Masyarakat Sanitasi Total Berbasis Masyarakat Stunting: Konsep, Determinan Gizi, dan Pencegahan Stunting: Konsep, Determinan Gizi, dan Pencegahan Pola Asuh dan Stunting Pola Asuh dan Stunting Pencegahan Stunting Berbasis Keluarga Pencegahan Stunting Berbasis Keluarga Kesehatan Permukiman Kesehatan Permukiman Faktor Risiko Penyakit Berbasis Lingkungan Faktor Risiko Penyakit Berbasis Lingkungan Penyakit Berbasis Lingkungan Penyakit Berbasis Lingkungan Dampak Lingkungan terhadap Kesehatan Dampak Lingkungan terhadap Kesehatan Pencegahan Diare Pencegahan Diare Monitoring Gizi Balita di Posyandu Monitoring Gizi Balita di Posyandu Risiko Diare: Penyebab dan Penatalaksanaannya Risiko Diare: Penyebab dan Penatalaksanaannya Status Gizi Balita Status Gizi Balita
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…