
Pengetahuan Ibu tentang Risiko Persalinan Lama
Pendahuluan
Persalinan merupakan momen penting dalam kehidupan ibu, sekaligus fase yang membutuhkan kewaspadaan terhadap berbagai risiko. Salah satu kondisi yang perlu mendapat perhatian khusus adalah persalinan yang berlangsung lama atau memanjang. Jika ibu dan tenaga medis tidak mengenali tanda awal atau faktor risiko persalinan lama, maka komplikasi serius bisa terjadi, baik bagi ibu maupun janin. Oleh karena itu, pengetahuan ibu hamil tentang definisi, penyebab, tanda-tanda, serta potensi dampak persalinan lama sangat penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan keselamatan persalinan. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan secara komprehensif mengenai persalinan lama, faktor yang mempengaruhinya, pentingnya edukasi, serta bagaimana pengetahuan ibu memengaruhi kesiapan menghadapi persalinan.
Definisi Persalinan Lama
Definisi Persalinan Lama Secara Umum
Secara umum, persalinan lama (prolonged labour) adalah kondisi saat proses persalinan berlangsung lebih lama dari rentang waktu normal, sehingga kemajuan persalinan berjalan sangat lambat atau tersendat (failure to progress). [Lihat sumber Disini - my.clevelandclinic.org]
Definisi Persalinan Lama Menurut KBBI
Istilah “persalinan lama” tidak secara eksplisit muncul dalam versi daring KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) sebagai frase baku, melainkan lebih umum dikenali di bidang kebidanan sebagai “partus lama”, “persalinan lama”, atau “prolonged labour”. Dalam praktik klinis dan literatur kebidanan, istilah ini menjadi bagian dari terminologi medis untuk menggambarkan persalinan dengan durasi atau progres yang tidak normal.
Definisi Persalinan Lama Menurut Para Ahli
Beberapa definisi menurut literatur internasional dan studi ilmiah:
-
Menurut Cleveland Clinic, persalinan lama terjadi jika persalinan (baik fase awal maupun fase aktif) berlangsung sangat lambat; contohnya jika ibu belum melahirkan setelah sekitar 20 jam kontraksi. [Lihat sumber Disini - my.clevelandclinic.org]
-
Dalam panduan klinis global, kondisi “prolonged labour” atau “labor dystocia/abnormal labor” digolongkan sebagai kegagalan kemajuan persalinan, baik pada awal (latent) maupun aktif, maupun saat fase dorong (second stage). [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Studi epidemiologis di Indonesia mendefinisikan “partus lama” sebagai persalinan dengan durasi lebih dari 24 jam. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesalmaarif.ac.id]
-
Namun, literatur modern menunjukkan bahwa definisi ini beragam, beberapa berdasarkan durasi total, ada juga yang berdasar progres serviks, kontraksi uterus, atau penurunan kepala janin. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Karena variasi definisi, penting bahwa tenaga kesehatan memberikan penjelasan jelas kepada ibu hamil mengenai kapan “normal” berubah menjadi “memanjang/panjang”.
Pengertian dan Tahapan Persalinan
Setiap persalinan normal terbagi dalam beberapa tahap/fase, dan “persalinan lama” bisa terjadi di berbagai tahap ini.
-
Fase I (buka mulut rahim/serviks): terdiri dari fase laten dan fase aktif. [Lihat sumber Disini - repository.stikesbcm.ac.id]
-
Fase II: setelah serviks terbuka penuh hingga bayi lahir (fase dorong). [Lihat sumber Disini - ajog.org]
-
Fase III: setelah bayi lahir hingga plasenta terlepas, tapi “persalinan lama” umumnya merujuk pada fase I atau II. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Jika pada fase-fase tersebut kemajuan sangat lambat, misalnya serviks tidak membuka sesuai ekspektasi, kontraksi uterus lemah, atau janin tidak turun, maka persalinan bisa dikategorikan sebagai “lama/panjang”.
Faktor Risiko yang Mempengaruhi Persalinan Lama
Berbagai faktor bisa meningkatkan kemungkinan ibu mengalami persalinan lama. Faktor-faktor ini dapat berasal dari pihak ibu, janin, maupun dari jalan lahir. Berikut beberapa di antaranya:
-
Faktor ibu: usia ibu, paritas (primigravida vs multipara), kondisi fisik (misalnya tinggi badan, massa tubuh), status gizi, dan riwayat kehamilan. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Faktor janin: berat badan janin besar, ukuran kepala janin besar, posisi atau presentasi janin yang tidak ideal (misalnya malpresentasi, letak sungsang atau lintang). [Lihat sumber Disini - bmcpregnancychildbirth.biomedcentral.com]
-
Faktor jalan lahir dan dinamika persalinan: panggul ibu sempit, kontraksi uterus yang lemah, his atau kontraksi yang tidak efektif, kurangnya daya dorong ibu pada fase II. [Lihat sumber Disini - ojs.poltekkes-malang.ac.id]
-
Faktor psikologis: kecemasan, ketakutan terhadap persalinan, persepsi rasa sakit dapat mempengaruhi kemampuan ibu untuk “menghadapi” persalinan, yang berpotensi mempengaruhi progres persalinan. [Lihat sumber Disini - digilib.upnb.ac.id]
-
Faktor pelayanan dan kondisi lingkungan persalinan: kualitas antenatal care, kesiapan fasilitas kesehatan, penanganan oleh tenaga kesehatan, meskipun ini lebih ke faktor mediasi/eksternal. Studi di Indonesia menunjukkan bahwa kejadian persalinan lama berkorelasi dengan outcome buruk bila penanganan tidak optimal. [Lihat sumber Disini - repository.unsri.ac.id]
Faktor-faktor tersebut sering kali saling berinteraksi: misalnya ibu primigravida dengan janin besar dan panggul sempit memiliki risiko lebih tinggi.
Pengetahuan Ibu tentang Gejala dan Tanda Awal
Pengetahuan ibu mengenai apa yang tergolong “persalinan normal” dan kapan persalinan bisa dianggap “lama/panjang” sangat penting. Beberapa hal yang idealnya dikenal ibu hamil:
-
Memahami bahwa jika proses persalinan (kontraksi + pembukaan serviks) berlangsung namun tidak ada kemajuan dalam beberapa jam, maka perlu konsultasi ke tenaga kesehatan.
-
Mengenali tanda-tanda bahaya: kontraksi tidak efektif atau sangat melemah, kelelahan ekstrem, dehidrasi, kontraksi yang tidak teratur, janin tidak turun, atau tidak ada persepsi kemajuan serviks.
-
Mengetahui bahwa kelambanan persalinan bisa terjadi di fase pertama (laten/aktif) ataupun fase kedua, bukan hanya dorong.
-
Menyadari bahwa risiko persalinan lama tidak hanya mempengaruhi ibu, tetapi juga janin, sehingga penting untuk kesiapsiagaan.
Sayangnya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemahaman ibu terhadap risiko ini belum merata. Banyak ibu yang belum mendapat edukasi cukup, terutama di daerah dengan akses fasilitas kesehatan terbatas. Hal ini menjadi alasan pentingnya edukasi persiapan persalinan.
Peran Edukasi Kelas Persiapan Persalinan
Edukasi antenatal, termasuk kelas persiapan persalinan, memiliki peran penting dalam meningkatkan pengetahuan ibu tentang persalinan, termasuk risiko persalinan lama. Beberapa manfaatnya:
-
Memberikan informasi tentang proses persalinan normal: tahapan, durasi rata-rata, kapan harus ke fasilitas kesehatan.
-
Mengajarkan tanda bahaya persalinan lama dan gejala yang perlu diperhatikan.
-
Menyediakan strategi non-farmakologis untuk membantu persalinan, misalnya posisi persalinan (upright position), mobilisasi, relaksasi, teknik pernapasan, untuk membantu memperlancar kontraksi dan penurunan janin. [Lihat sumber Disini - ejr.umku.ac.id]
-
Memperkuat kesiapsiagaan mental dan fisik ibu, mengurangi kecemasan, membantu ibu lebih siap menghadapi proses persalinan panjang jika terjadi.
-
Membantu ibu mengenali kapan perlu intervensi medis, sehingga komplikasi bisa dicegah lebih dini.
Dengan edukasi yang baik, ibu bisa lebih aktif dalam kolaborasi dengan tenaga kesehatan saat persalinan.
Hambatan dalam Pemahaman Informasi Risiko
Meski edukasi penting, ada berbagai hambatan yang sering dihadapi dalam penyebaran pengetahuan tentang risiko persalinan lama:
-
Akses terbatas ke layanan antenatal dan kelas persiapan persalinan, terutama di daerah terpencil atau dengan kurangnya tenaga kesehatan.
-
Rendahnya literasi kesehatan ibu: baik secara pendidikan formal maupun literasi kesehatan, sehingga sulit memahami istilah medis dan tanda-tanda persalinan abnormal.
-
Budaya dan mitos lokal, terkadang ibu dan keluarga lebih mengandalkan pengalaman turun-temurun, bukan pengetahuan medis. Hal ini dapat menghambat penerimaan edukasi.
-
Kurangnya komunikasi efektif dari tenaga kesehatan: kurangnya tenaga bidan atau dokter, padatnya jadwal, atau minim sosialisasi tentang risiko persalinan lama.
-
Faktor ekonomi & logistik: biaya transportasi ke fasilitas kesehatan, buruknya akses transportasi, dan tantangan finansial dapat membuat ibu enggan melakukan kontrol antenatal secara rutin.
Pengaruh Pengetahuan terhadap Kesiapsiagaan Ibu
Pengetahuan yang baik bisa meningkatkan kesiapsiagaan, dalam artian ibu dan keluarga lebih tanggap terhadap potensi risiko, sehingga dapat:
-
Mengenali gejala awal persalinan lama dan segera melapor ke tenaga kesehatan;
-
Mengambil keputusan persalinan di fasilitas kesehatan, bukan di rumah tanpa bantuan profesional;
-
Mendiskusikan strategi persalinan dengan tenaga kesehatan (misalnya posisi persalinan, upaya percepatan kala I, dsb);
-
Mempersiapkan mental dan fisik, sehingga jika persalinan memanjang, ibu tidak panik dan tetap mengikuti arahan medis.
Sebaliknya, minimnya pengetahuan bisa membuat ibu “pasif”, menganggap tiap persalinan pasti berjalan normal, sehingga berpotensi terlambat mendapat penanganan.
Dampak Persalinan Lama terhadap Ibu dan Janin
Persalinan lama tidak hanya melelahkan, tapi juga membawa risiko nyata bagi ibu dan janin. Berikut beberapa dampak berdasarkan penelitian:
-
Bagi ibu: peningkatan risiko perdarahan post partum (postpartum haemorrhage / PPH), karena kontraksi uterus setelah melahirkan bisa lemah akibat kelelahan otot uterus. [Lihat sumber Disini - journal.univwirabuana.ac.id]
-
Risiko trauma jalan lahir, misalnya robekan perineum, episiotomi, atau cedera pada otot dasar panggul. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Kelelahan ekstrem, dehidrasi, peningkatan stres fisik dan psikologis. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesalmaarif.ac.id]
-
Peningkatan kemungkinan intervensi medis: persalinan dengan forceps, vacuum, atau bahkan operasi (seksio sesarea / SC), terutama jika persalinan macet. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Bagi janin/neonatal: risiko hipoksia, distress janin, asfiksia, bahkan kematian (stillbirth), jika persalinan lama disertai kurangnya oksigen atau penurunan perfusi plasenta. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesalmaarif.ac.id]
-
Potensi hasil kebidanan jangka panjang: komplikasi maternal maupun neonatal, yang bisa memengaruhi kesehatan ibu dan bayi bahkan setelah persalinan. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
Selain itu, persalinan lama sering dikaitkan dengan pengalaman persalinan negatif, ketidakpuasan ibu terhadap proses bersalin, yang bisa mempengaruhi keputusan dalam kehamilan berikutnya. [Lihat sumber Disini - bmcpregnancychildbirth.biomedcentral.com]
Pentingnya Peningkatan Literasi Maternal dan Akses Pelayanan
Upaya pencegahan dampak persalinan lama tidak hanya tanggung jawab tenaga kesehatan, tapi juga masyarakat secara luas. Beberapa strategi penting antara lain:
-
Peningkatan akses ke layanan antenatal dan kelas persiapan persalinan, terutama di daerah terpencil atau dengan fasilitas terbatas.
-
Penyuluhan kepada ibu hamil dan keluarga mengenai definisi persalinan normal vs persalinan lama, faktor risiko, serta tanda-tanda bahaya.
-
Pelatihan tenaga kesehatan untuk memberikan edukasi secara konsisten, serta menerapkan praktik persalinan aktif yang mendukung ibu, seperti mobilisasi, posisi persalinan optimal, monitoring kemajuan persalinan.
-
Kampanye kesehatan masyarakat untuk melawan mitos/kepercayaan tradisional yang bisa menghambat ibu mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan medis.
-
Monitoring dan evaluasi outcome persalinan, untuk mengidentifikasi kejadian persalinan lama dan komplikasi secara sistematik, serta memperbaiki layanan maternal.
Kesimpulan
Persalinan lama adalah kondisi di mana proses persalinan berlangsung lebih lama dari normal, baik pada fase pembukaan serviks maupun fase dorong. Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, termasuk faktor ibu, janin, dan jalan lahir. Pengetahuan ibu tentang pengertian, tanda, dan risiko persalinan lama sangat penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan keselamatan persalinan. Edukasi melalui kelas persiapan persalinan dan layanan antenatal yang memadai dapat membantu ibu mengenali gejala awal dan mengambil keputusan cepat jika diperlukan. Minimnya pengetahuan, ditambah hambatan akses dan mitos budaya, masih menjadi tantangan di banyak area. Mengingat besarnya dampak persalinan lama terhadap ibu dan janin, mulai dari perdarahan post partum, cedera jalan lahir, sampai kematian maternal dan neonatal, meningkatkan literasi maternal dan kualitas pelayanan kebidanan menjadi prioritas.