
Pengetahuan Remaja tentang Dampak Pernikahan Dini
Pendahuluan
Pernikahan dini, yakni pernikahan yang terjadi saat seseorang masih berusia di bawah 18, 19 tahun, masih menjadi isu serius di Indonesia. Meskipun undang-undang menetapkan batas usia minimal, banyak remaja yang menikah muda akibat berbagai faktor sosial, budaya, ekonomi, dan kurangnya pemahaman tentang risiko yang mereka hadapi. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi seberapa jauh pengetahuan remaja tentang dampak pernikahan dini, faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman tersebut, serta konsekuensi dari pernikahan dini di bidang kesehatan, psikologis, pendidikan, ekonomi, dan peran pendidikan & informasi untuk upaya pencegahan.
Definisi Pernikahan Dini
Definisi Pernikahan Dini Secara Umum
Secara umum, pernikahan dini (early marriage / child marriage) merujuk pada pernikahan yang dilakukan oleh seseorang yang usianya belum mencapai umur dewasa ideal, umumnya di bawah 18 sampai 19 tahun. Di banyak literatur, “remaja” didefinisikan sebagai individu berusia 10, 19 tahun. [Lihat sumber Disini - repository.unar.ac.id]
Pernikahan pada usia ini dianggap belum ideal karena secara fisik, emosional, sosial, dan ekonomi individu belum matang untuk menghadapi tanggung jawab rumah tangga.
Definisi Pernikahan Dini Menurut UU / Baku Hukum (Indonesia)
Menurut regulasi di Indonesia, batas usia pernikahan diatur untuk menghindari pernikahan anak, praktik pernikahan yang dilakukan sebelum usia dewasa. Beberapa literatur menyebut bahwa pernikahan dini termasuk pelanggaran terhadap hak anak. [Lihat sumber Disini - fhukum.unpatti.ac.id]
Definisi Pernikahan Dini Menurut Para Ahli / Penelitian
-
Menurut penelitian di pulau Madura (2023), pernikahan dini didefinisikan sebagai pernikahan yang terjadi sebelum usia dewasa, berdasarkan usia responden 15, 19 tahun. [Lihat sumber Disini - jurnalbidankestrad.com]
-
Dalam tinjauan literatur yang dipublikasikan tahun 2025, pernikahan dini dikaitkan dengan risiko kesehatan reproduksi, komplikasi kehamilan, dan dampak sosial-ekonomi. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]
-
Studi lain mendefinisikan pernikahan dini sebagai fenomena multidimensional yang dipengaruhi oleh faktor budaya, ekonomi, pendidikan, dan akses informasi, bukan hanya sekadar kriteria usia semata. [Lihat sumber Disini - journal.uinsgd.ac.id]
Dengan definisi-definisi tersebut, pernikahan dini bukan semata soal usia, melainkan praktik yang membawa konsekuensi serius bagi kesehatan, pendidikan, dan masa depan remaja.
Tingkat Pengetahuan Remaja terhadap Risiko Pernikahan Dini
Penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan remaja terkait risiko pernikahan dini bervariasi, ada yang sudah “cukup” sampai “baik”, namun tak sedikit juga yang minim. Misalnya, di sebuah penelitian pada remaja putri di SMAN 4 Sungai Raya, sebagian besar remaja memiliki pengetahuan “cukup” tentang dampak pernikahan dini terhadap kesehatan reproduksi, meski banyak juga yang kurang atau belum paham secara menyeluruh. [Lihat sumber Disini - journals.uima.ac.id]
Penelitian eksperimental menunjukkan bahwa pendidikan khusus tentang pernikahan dini dapat secara signifikan meningkatkan pengetahuan remaja. Contohnya, di SMKN 1 Pringgasela (2023), setelah mendapat pendidikan selama 30 menit, rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 15, 10 menjadi 31, 90 (skor maksimal berdasarkan kuisioner), menunjukkan delta besar. [Lihat sumber Disini - talenta.usu.ac.id]
Studi lain mengonfirmasi bahwa pengetahuan tentang kesehatan reproduksi berkorelasi dengan sikap dan persepsi negatif terhadap pernikahan dini, artinya, semakin tinggi pengetahuan, semakin besar kemungkinan remaja menolak menikah muda. [Lihat sumber Disini - ojs.phb.ac.id]
Namun demikian, ada banyak remaja yang belum mendapatkan pendidikan atau informasi memadai, hal ini menyebabkan pengetahuan mereka kurang, yang kemudian meningkatkan risiko mereka menikah dini. [Lihat sumber Disini - publications.inschool.id]
Faktor Sosial dan Budaya yang Mempengaruhi Pengetahuan
Beberapa faktor sosial dan budaya berkontribusi terhadap rendahnya pengetahuan remaja tentang dampak pernikahan dini:
-
Tingkat pendidikan dan akses informasi: Penelitian di Madura menunjukkan bahwa pendidikan secara signifikan berhubungan dengan pengetahuan tentang pernikahan dini (p < 0, 05). Remaja dengan pendidikan lebih rendah cenderung memiliki pengetahuan yang lebih rendah. [Lihat sumber Disini - jurnalbidankestrad.com]
-
Peran keluarga dan orang tua: Lingkungan keluarga dengan pemahaman rendah tentang kesehatan reproduksi dan risiko pernikahan dini cenderung tidak memberi edukasi, sehingga anak tumbuh tanpa wawasan. [Lihat sumber Disini - publications.inschool.id]
-
Tekanan ekonomi dan kemiskinan: Dalam banyak komunitas berpenghasilan rendah, pernikahan dini sering dianggap jalan keluar dari beban ekonomi, pernikahan dini kadang dilihat sebagai strategi untuk mengurangi beban keluarga atau menjaga “harga diri/reputasi”. [Lihat sumber Disini - journal-iasssf.com]
-
Norma budaya dan adat istiadat: Di beberapa daerah, norma sosial dan adat mendorong pernikahan muda sebagai sesuatu yang “biasa” atau diharapkan, tanpa memerhatikan aspek kematangan fisik, psikologis, atau kesiapan. [Lihat sumber Disini - journal.uinsgd.ac.id]
-
Pengaruh teman sebaya (peer): Teman sebaya dan lingkungan sosial remaja memainkan peran besar dalam membentuk persepsi mereka terhadap pernikahan dini, studi di 2024 menunjukkan bahwa peer influence memiliki korelasi positif kuat terhadap persepsi remaja mengenai pernikahan dini dan kehamilan di luar nikah. [Lihat sumber Disini - journalmpci.com]
Faktor-faktor tersebut saling berinteraksi, misalnya, kemiskinan dapat memperkuat norma budaya yang mendukung pernikahan dini, sementara rendahnya pendidikan dan akses informasi menghambat pengetahuan kritis terhadap risiko.
Dampak Kesehatan Reproduksi akibat Pernikahan Dini
Perempuan yang menikah dini, ketika organ reproduksi mereka belum matang sepenuhnya, menghadapi risiko kesehatan reproduksi yang signifikan.
-
Studi literatur terbaru (2025) menunjukkan bahwa pernikahan dini berasosiasi dengan meningkatnya risiko komplikasi kehamilan, kehamilan remaja, masalah kesehatan mental, serta rendahnya pengetahuan reproduksi pada remaja putri. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]
-
Dalam kawasan pedesaan di Cileles, pernikahan di bawah usia 16 tahun dikaitkan dengan risiko tinggi terhadap penyakit serius seperti kanker serviks dan gangguan kesehatan lainnya pada sistem reproduksi. [Lihat sumber Disini - ijhp.net]
-
Ibu remaja yang hamil di usia sangat muda berisiko mengalami keguguran, komplikasi saat persalinan, pendarahan postpartum, preeklampsia, persalinan prematur, atau kelahiran anak dengan berat badan rendah. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]
-
Selain itu, kesehatan anak yang dilahirkan dari ibu remaja juga dapat terpengaruh, misalnya berisiko stunting, buruknya status gizi, dan masalah perkembangan fisik. [Lihat sumber Disini - journal-iasssf.com]
Dengan demikian, pernikahan dini bukan hanya berisiko bagi remaja perempuan secara individu, tapi juga berimplikasi pada generasi berikutnya.
Risiko Psikologis pada Remaja yang Menikah Muda
Dampak pernikahan dini juga meliputi aspek psikologis dan mental.
-
Remaja yang menikah muda sering kali belum matang secara emosional dan sosial, hal ini dapat memicu stres, depresi, perasaan tertekan, dan ketidakmampuan mengelola peran sebagai pasangan dan orang tua. [Lihat sumber Disini - proceeding.unnes.ac.id]
-
Beberapa studi menunjukkan bahwa pernikahan dini berkorelasi dengan risiko kekerasan dalam rumah tangga (domestic violence), konflik rumah tangga, dan bahkan perceraian, terutama ketika seorang pasangan belum siap baik secara mental, finansial, maupun sosial. [Lihat sumber Disini - proceeding.unnes.ac.id]
-
Dampak psikologis ini tidak hanya bersifat jangka pendek, dalam jangka panjang, bisa berdampak pada kesejahteraan mental, kualitas hidup pasangan, dan stabilitas keluarga. [Lihat sumber Disini - proceeding.unnes.ac.id]
Pengaruh Pendidikan terhadap Pemahaman Remaja
Pendidikan, baik formal maupun edukasi kesehatan reproduksi, terbukti memiliki pengaruh besar terhadap pemahaman remaja mengenai risiko pernikahan dini.
-
Sebagaimana ditunjukkan dalam studi di Madura (2023), tingkat pendidikan remaja berhubungan signifikan dengan tingkat pengetahuan tentang pernikahan dini. [Lihat sumber Disini - jurnalbidankestrad.com]
-
Program edukasi tentang pernikahan dini secara teratur dan sistematis terbukti meningkatkan pengetahuan dan mengubah sikap remaja terhadap pernikahan anak. Contohnya, penelitian di Nusa Tenggara Barat (2023) menunjukkan peningkatan signifikan dalam skor pengetahuan setelah intervensi edukasi. [Lihat sumber Disini - talenta.usu.ac.id]
-
Lebih jauh, studi menunjukkan bahwa pengetahuan reproduksi yang baik berkorelasi dengan persepsi negatif terhadap pernikahan dini, ini menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan reproduksi adalah kunci dalam pencegahan. [Lihat sumber Disini - ojs.phb.ac.id]
Artinya: memperkuat pendidikan formal dan pendidikan kesehatan reproduksi di kalangan remaja bisa jadi strategi efektif mengurangi pernikahan dini.
Peran Media dan Informasi Digital
Perkembangan media dan informasi digital memberikan kontribusi penting terhadap pengetahuan remaja tentang risiko pernikahan dini, baik sebagai sumber informasi, maupun sebagai medium edukasi dan advokasi.
-
Beberapa penelitian mengindikasikan bahwa media elektronik atau media sosial menjadi salah satu saluran utama informasi bagi remaja putri mengenai pernikahan dini dan kesehatan reproduksi. [Lihat sumber Disini - journals.uima.ac.id]
-
Namun, akses informasi belum merata, terutama di daerah dengan keterbatasan akses internet, literasi digital rendah, atau lingkungan sosial yang kurang mendukung diskusi terbuka tentang topik sensitif seperti seksualitas dan pernikahan dini. [Lihat sumber Disini - publications.inschool.id]
Oleh karena itu, memanfaatkan media digital secara positif, misalnya kampanye sosial, edukasi daring, peer-education berbasis komunitas, bisa membantu meningkatkan pengetahuan remaja secara luas.
Hambatan Remaja dalam Mengakses Informasi Kesehatan
Meskipun informasi tersedia di media, banyak remaja menghadapi hambatan dalam mengakses dan memahaminya. Hambatan tersebut antara lain:
-
Literasi kesehatan reproduksi rendah, tanpa dasar pengetahuan, remaja sulit menyerap informasi terkait risiko pernikahan dini atau kesehatan reproduksi. [Lihat sumber Disini - publications.inschool.id]
-
Kurangnya program pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah atau komunitas, banyak sekolah belum menyediakan materi KRR (kesehatan reproduksi remaja), atau materi yang ada kurang memadai. [Lihat sumber Disini - journals.uima.ac.id]
-
Norma budaya & stigma, di beberapa komunitas, membicarakan seksualitas atau kesehatan reproduksi dianggap tabu, sehingga remaja enggan mencari informasi atau berdiskusi terbuka. [Lihat sumber Disini - journal.uinsgd.ac.id]
-
Keterbatasan akses teknologi atau internet, terutama di daerah pedesaan atau keluarga ekonomi lemah, akses ke media digital dan informasi sering terbatas. [Lihat sumber Disini - publications.inschool.id]
Akibatnya, meskipun ada materi atau kampanye, tidak semua remaja bisa terjangkau atau memahami dengan baik.
Dampak Pernikahan Dini terhadap Pendidikan dan Ekonomi
Pernikahan dini membawa konsekuensi serius terhadap pendidikan dan ekonomi, bukan hanya bagi individu, tapi juga keluarga dan komunitas.
-
Banyak remaja yang menikah di usia muda akhirnya putus sekolah karena menikah atau hamil, berdampak pada rendahnya tingkat pendidikan formal dan terbatasnya kesempatan kerja di masa depan. [Lihat sumber Disini - proceeding.unnes.ac.id]
-
Secara ekonomi, pernikahan dini sering dikaitkan dengan kemiskinan dan ketidakstabilan finansial. Studi literatur (2025) menunjukkan bahwa pernikahan dini dapat menurunkan daya saing sumber daya manusia dan mempengaruhi kesejahteraan keluarga jangka panjang. [Lihat sumber Disini - proceeding.unnes.ac.id]
-
Dampak terhadap generasi berikutnya juga signifikan, misalnya peningkatan risiko stunting, pertumbuhan yang terhambat, dan kualitas hidup yang lebih rendah. [Lihat sumber Disini - journal-iasssf.com]
Dengan demikian, pernikahan dini bukan hanya persoalan personal, melainkan masalah struktural yang mempengaruhi pembangunan manusia dan sosial.
Peran Orang Tua dalam Memberikan Edukasi
Orang tua, sebagai lingkungan pertama remaja, memiliki peran kunci dalam memberikan edukasi dan pemahaman tentang risiko pernikahan dini.
-
Keluarga dengan literasi rendah cenderung tidak memberi informasi memadai tentang kesehatan reproduksi dan konsekuensi pernikahan dini, sehingga anak tumbuh tanpa kesadaran. [Lihat sumber Disini - publications.inschool.id]
-
Orang tua bisa mendukung pendidikan kesehatan reproduksi di rumah, mendiskusikan pentingnya menunda pernikahan, akibat kehamilan dan persalinan dini, serta alternatif masa depan lain seperti pendidikan dan karier.
-
Kombinasi antara edukasi dari sekolah, masyarakat, dan keluarga akan memperkuat pemahaman remaja secara holistik, sehingga mereka punya dasar informasi yang kuat sebelum membuat keputusan besar seperti menikah.
Upaya Pencegahan Pernikahan Dini melalui Edukasi Seksualitas
Pencegahan pernikahan dini paling efektif dilakukan melalui edukasi seksualitas dan kesehatan reproduksi yang menyeluruh, komprehensif, dan berkelanjutan, baik di sekolah, komunitas, keluarga, maupun melalui media.
Penelitian menunjukkan bahwa program edukasi, termasuk metode peer-education, secara signifikan meningkatkan pengetahuan dan mengubah sikap remaja terhadap pernikahan dini. [Lihat sumber Disini - ejournal.seaninstitute.or.id]
Peran institusi pendidikan, tenaga kesehatan, serta pemerintah dan organisasi masyarakat sangat penting untuk menyediakan akses informasi, layanan kesehatan reproduksi remaja, serta kebijakan mendukung penundaan usia nikah. [Lihat sumber Disini - publications.inschool.id]
Selain itu, kampanye melalui media sosial, penyuluhan di komunitas, serta pelibatan orang tua dan tokoh masyarakat bisa membantu mengubah norma budaya yang mendukung pernikahan dini.
Kesimpulan
Pernikahan dini adalah fenomena kompleks dengan banyak dimensi: kesehatan reproduksi, psikologis, pendidikan, ekonomi, dan sosial. Tingkat pengetahuan remaja terhadap dampak pernikahan dini sangat menentukan, semakin baik pengetahuannya, semakin besar kemungkinan mereka menunda nikah. Namun, banyak remaja di Indonesia masih kekurangan informasi, terutama karena faktor pendidikan, budaya, ekonomi, dan akses informasi.
Edukasi seksualitas dan kesehatan reproduksi, baik melalui sekolah, keluarga, komunitas, maupun media, terbukti efektif meningkatkan pemahaman dan membentuk persepsi kritis terhadap pernikahan dini. Untuk itu, diperlukan komitmen kolektif dari keluarga, pemerintah, sekolah, dan masyarakat agar remaja mendapatkan informasi yang tepat, sehingga keputusan menikah dilakukan dengan matang, bukan karena ketidaktahuan atau tekanan sosial.
Dengan demikian, pengetahuan dan edukasi adalah kunci untuk mencegah pernikahan dini dan mempromosikan masa depan yang lebih sehat, sejahtera, dan berkualitas bagi remaja di Indonesia.