
Peran Zat Besi dalam Pertumbuhan Anak
Pendahuluan
Pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan fase penting yang menentukan kualitas kesehatan dan potensi masa depan seseorang. Di masa awal kehidupan, kebutuhan nutrisi sangat tinggi karena tubuh anak menjalani berbagai perubahan cepat baik secara fisik, neurologis, maupun fungsi fisiologis lainnya. Salah satu mikronutrien yang memegang peranan krusial dalam proses tumbuh kembang anak adalah zat besi (Fe). Zat besi bukan hanya terlibat dalam pembentukan darah, tetapi juga berperan dalam fungsi otak, sistem imun, dan metabolisme energi. Kekurangan zat besi pada anak dapat menyebabkan konsekuensi kesehatan yang serius, termasuk gangguan perkembangan kognitif dan fisik, serta berpotensi memengaruhi prestasi belajar di sekolah. Oleh karena itu, pemahaman mendalam mengenai peran zat besi sangat penting untuk memastikan anak tumbuh optimal dan sehat. [Lihat sumber Disini - paedix.au]
Definisi Peran Zat Besi dalam Pertumbuhan Anak
Definisi Peran Zat Besi dalam Pertumbuhan Anak Secara Umum
Zat besi adalah mineral esensial yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil namun memegang fungsi besar dalam berbagai proses biokimia dan fisiologis. Dalam konteks tumbuh kembang anak, zat besi berfungsi sebagai komponen utama hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh. Tanpa cukup zat besi, produksi hemoglobin menurun yang membuat jaringan tubuh tidak mendapatkan oksigen yang memadai, sehingga dapat memperlambat pertumbuhan fisik dan perkembangan organ-organ penting. Selain itu, zat besi juga terlibat dalam produksi energi seluler, sintesis DNA, dan fungsi sistem imun. [Lihat sumber Disini - paedix.au]
Definisi Peran Zat Besi dalam Pertumbuhan Anak dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), zat besi merupakan unsur kimia logam berwarna putih keperakan (Fe) yang diperlukan tubuh untuk berbagai fungsi biologis, terutama dalam pembentukan darah. Dalam terminologi kesehatan dan gizi, zat besi digolongkan sebagai mikronutrien yang sangat penting bagi metabolisme tubuh, terutama pada masa pertumbuhan anak-anak. Pemahaman peran zat besi dalam KBBI ini mencerminkan pentingnya mineral ini dalam kesehatan manusia, khususnya dalam mendukung fungsi fisiologi vital. (Sumber: KBBI daring)
Definisi Peran Zat Besi dalam Pertumbuhan Anak Menurut Para Ahli
-
Dr. F. Y. Rusdi (2025), Zat besi (Fe) adalah mineral yang merupakan bagian dari enzim serta berperan signifikan dalam pertumbuhan anak sebagai komponen berbagai proses metabolik esensial untuk perkembangan tubuh dan fungsi seluler. [Lihat sumber Disini - jurnal.upertis.ac.id]
-
World Health Organization (WHO), Zat besi adalah komponen penting hemoglobin dan myoglobin, serta berperan dalam pembentukan sel darah merah yang sehat dan pengangkutan oksigen, yang sangat penting selama masa pertumbuhan anak. (WHO Nutrition Guidelines)
-
Nova Lidia Sitorus & Irma Nuraeni Salsabila (2023), Menurut penelitian, kekurangan zat besi mengakibatkan penurunan kemampuan pembentukan hemoglobin dan berdampak pada fungsi kognitif seperti memori, perhatian, dan kemampuan belajar pada anak usia sekolah. [Lihat sumber Disini - jisn.org]
-
BT Gutema et al. (2023), Penelitian sistematis menunjukkan bahwa suplementasi zat besi dapat meningkatkan perkembangan kognitif anak sekolah, memperbaiki fungsi intelektual serta konsentrasi dan memori. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Peneliti Nutritional Neuroscience, Zat besi diperlukan untuk perkembangan neurologis termasuk myelination dan metabolisme neurotransmitter; kekurangannya berdampak pada fungsi kognitif dan perilaku. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Fungsi Zat Besi dalam Perkembangan Anak
Fungsi utama zat besi dalam tubuh anak sangat beragam dan mencakup beberapa aspek penting berikut:
1. Pembentukan Hemoglobin dan Transportasi Oksigen
Zat besi merupakan komponen struktural utama hemoglobin, molekul di dalam sel darah merah yang bertugas mengikat dan membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh. Hemoglobin yang cukup membantu memastikan jaringan tubuh mendapatkan oksigen yang memadai untuk pertumbuhan serta aktivitas metabolik. Kekurangan zat besi menyebabkan produksi hemoglobin menurun sehingga sel-sel tubuh kekurangan oksigen, yang berdampak pada energi, fungsi organ, dan pertumbuhan. [Lihat sumber Disini - paedix.au]
2. Peran dalam Sistem Imun
Zat besi juga berperan penting dalam fungsi sistem kekebalan tubuh. Mineral ini mendukung proliferasi dan diferensiasi sel imun serta aktivitas enzim yang berperan dalam respon imun tubuh. Kekurangan zat besi dapat melemahkan kemampuan anak untuk melawan infeksi dan penyakit. [Lihat sumber Disini - paedix.au]
3. Sintesis Energi dan Metabolisme Seluler
Zat besi berperan dalam berbagai reaksi enzimatik yang terlibat dalam produksi energi seluler. Proses respirasi sel memerlukan besi untuk transportasi elektron dan produksi adenosin trifosfat (ATP), sumber energi utama bagi sel. Tanpa cukup zat besi, produksi energi seluler menurun sehingga anak dapat merasa cepat lelah dan kurang aktif fisiknya. [Lihat sumber Disini - paedix.au]
4. Perkembangan Otak dan Fungsi Kognitif
Zat besi memiliki peran krusial dalam perkembangan otak, khususnya pada pembentukan mielin, neurotransmitter, dan metabolisme neuronal. Kekurangan zat besi pada masa awal kehidupan dapat berdampak negatif pada kemampuan kognitif seperti memori, konsentrasi, dan kemampuan belajar karena gangguan dalam proses neurodevelopmental. [Lihat sumber Disini - jisn.org]
5. Pertumbuhan Fisik dan Pengaturan Pertumbuhan Jaringan
Selain fungsi metabolik, zat besi juga diperlukan untuk pertumbuhan fisik anak, termasuk sintesis DNA dan proliferasi sel. Kekurangan zat besi dapat memperlambat pertumbuhan tinggi badan dan massa otot anak karena terganggunya proses sintesis protein dan regenerasi jaringan. [Lihat sumber Disini - paedix.au]
Risiko dan Dampak Kekurangan Zat Besi
Kekurangan zat besi adalah masalah gizi yang umum terutama pada masa anak-anak, dan dapat berakibat serius jika tidak ditangani.
1. Anemia Defisiensi Besi
Kekurangan zat besi yang cukup parah menyebabkan anemia defisiensi besi, kondisi ketika tubuh tidak memiliki cukup hemoglobin untuk mengangkut oksigen ke jaringan tubuh. Anemia dapat memicu pucat, lemas, penurunan nafsu makan, serta gangguan aktivitas fisik. [Lihat sumber Disini - paedix.au]
2. Gangguan Perkembangan Kognitif
Anak-anak dengan kekurangan zat besi cenderung menunjukkan skor fungsi kognitif lebih rendah dibandingkan anak yang memiliki status zat besi yang adekuat, termasuk aspek memori, perhatian, dan kemampuan belajar. Kekurangan zat besi dapat mengganggu perkembangan neurologis akibat gangguan myelination dan neurotransmitter. [Lihat sumber Disini - jisn.org]
3. Gangguan Pertumbuhan Fisik dan Motorik
Iron deficiency berdampak pada pertumbuhan fisik, termasuk laju pertumbuhan tinggi badan dan perkembangan motorik. Anak dengan status zat besi rendah sering menunjukkan pertumbuhan yang terhambat dan keterlambatan dalam pencapaian milestone motorik. [Lihat sumber Disini - saripediatri.org]
4. Penurunan Sistem Imun dan Risiko Infeksi
Zat besi mendukung fungsi sistem imun; kekurangannya dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi karena kemampuan sistem imun untuk merespon patogen menurun. [Lihat sumber Disini - paedix.au]
5. Risiko Jangka Panjang
Beberapa studi menunjukkan bahwa kekurangan zat besi di masa awal kehidupan dapat menyebabkan dampak yang bertahan lama, termasuk gangguan neurologis dan perilaku yang sulit sepenuhnya pulih meskipun status zat besi telah dikoreksi kemudian. [Lihat sumber Disini - balkanmedicaljournal.org]
Sumber Zat Besi Hewani dan Nabati
Zat besi dalam makanan tersedia dalam dua bentuk utama: heme dan non-heme.
1. Sumber Zat Besi Hewani (Heme Iron)
Zat besi heme ditemukan pada produk hewani dan memiliki tingkat penyerapan yang lebih tinggi dibandingkan non-heme. Contoh sumbernya antara lain:
-
Daging merah seperti sapi dan kambing
-
Hati dan organ lainnya
-
Ayam dan unggas
-
Ikan dan makanan laut
-
Telur (bagian kuning) [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Zat besi heme mudah diserap tubuh dan memberikan kontribusi signifikan terhadap status besi anak, khususnya pada masa pertumbuhan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
2. Sumber Zat Besi Nabati (Non-Heme Iron)
Zat besi nabati ditemukan pada tanaman dan produk nabati. Jenis ini umumnya memiliki bioavailabilitas lebih rendah sehingga penyerapan di usus lebih sedikit dibandingkan heme iron. Sumber nabati meliputi:
-
Sayuran berdaun gelap seperti bayam dan kangkung
-
Kacang-kacangan dan lentil
-
Tahu dan tempe
-
Biji-bijian utuh dan serealia
-
Polong-polongan seperti buncis dan kacang merah [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Penyerapan zat besi nabati dapat ditingkatkan bila dikonsumsi bersama makanan kaya vitamin C seperti buah jeruk dan tomat, karena vitamin C meningkatkan bioavailabilitas non-heme iron. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Hubungan Zat Besi dengan Fungsi Kognitif
Peran zat besi dalam perkembangan kognitif anak sangat penting karena besi terlibat dalam proses neurologis mendasar seperti pembentukan mielin, sintesis neurotransmitter, dan metabolisme energi otak. Studi menunjukkan bahwa anak-anak dengan defisiensi besi memiliki skor fungsi kognitif lebih rendah dibandingkan anak ya ng tidak mengalami defisiensi, termasuk dalam tes kemampuan memori, perhatian, serta pembelajaran. [Lihat sumber Disini - jisn.org]
Suplementasi zat besi pada anak yang mengalami defisiensi terbukti dapat memperbaiki beberapa aspek perkembangan kognitif, meningkatkan konsentrasi dan memori sesuai dengan hasil uji klinis. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
Selain itu, kekurangan zat besi di periode awal kehidupan telah dikaitkan dengan gangguan neurodevelopment yang dapat bertahan hingga usia sekolah dan remaja, yang memengaruhi kemampuan akademik dan perilaku secara umum. [Lihat sumber Disini - balkanmedicaljournal.org]
Strategi Peningkatan Asupan Zat Besi
Untuk memastikan kebutuhan zat besi anak terpenuhi, beberapa strategi berikut dapat diterapkan:
1. Variasi Sumber Makanan
Memasukkan kombinasi sumber zat besi hewani dan nabati dalam menu harian anak akan membantu memenuhi kebutuhan mineral ini. Misalnya, konsumsi daging merah, ikan, ayam, serta sayuran berdaun hijau dapat meningkatkan total asupan besi. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
2. Meningkatkan Penyerapan Zat Besi Nabati
Karena zat besi nabati memiliki bioavailabilitas lebih rendah, konsumsinya dapat dipadukan dengan makanan tinggi vitamin C seperti buah jeruk, stroberi, atau tomat untuk memaksimalkan penyerapan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
3. Edukasi Gizi Keluarga
Memberikan edukasi kepada keluarga mengenai pentingnya zat besi dan sumber makanannya dapat membantu meningkatkan praktik pemberian makanan bergizi dan mengurangi risiko defisiensi.
4. Intervensi Suplementasi
Pada kasus anak yang didiagnosis mengalami defisiensi zat besi atau anemia, pemberian suplementasi zat besi sesuai rekomendasi tenaga kesehatan dapat dipertimbangkan untuk mempercepat pemulihan status besi.
Kesimpulan
Zat besi memainkan peran penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, mencakup fungsi fisiologis seperti transportasi oksigen melalui hemoglobin, metabolisme energi, fungsi imun, serta perkembangan otak dan kognitif. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia, gangguan perkembangan kognitif dan fisik, serta melemahkan daya tahan tubuh anak. Sumber zat besi hewani dan nabati perlu dimasukkan dalam pola makan anak untuk mencukupi kebutuhan harian, dan strategi seperti kombinasi makanan tinggi vitamin C juga membantu meningkatkan penyerapan zat besi. Upaya terpadu dalam memastikan asupan zat besi yang adekuat melalui diet seimbang dan intervensi kesehatan bila perlu sangat penting untuk mendukung pertumbuhan optimal dan kesehatan jangka panjang anak.