Terakhir diperbarui: 29 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 29 December). Stunting: Konsep, Determinan Gizi, dan Pencegahan. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/stunting-konsep-determinan-gizi-dan-pencegahan  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Stunting: Konsep, Determinan Gizi, dan Pencegahan - SumberAjar.com

Stunting: Konsep, Determinan Gizi, dan Pencegahan

Pendahuluan

Stunting merupakan salah satu permasalahan kesehatan masyarakat yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia maupun secara global. Stunting ditandai oleh pertumbuhan fisik anak yang tidak optimal sehingga tinggi badan anak lebih pendek dibandingkan anak seusianya menurut standar pertumbuhan WHO. Kondisi ini umumnya merupakan akibat dari kekurangan gizi kronis yang dialami sejak masa prenatal hingga tahun-tahun awal kehidupan anak. Dampaknya tidak hanya sekadar pada ukuran tubuh, tetapi juga berdampak jangka panjang terhadap perkembangan kognitif, fungsi metabolik, dan produktivitas masa depan anak sebagai individu dan sumber daya manusia. Karena konsekuensi yang luas ini, pemahaman menyeluruh tentang konsep dan determinan stunting serta strategi pencegahannya sangat penting untuk menyusun kebijakan dan intervensi efektif.


Definisi Stunting

Definisi Stunting Secara Umum

Stunting secara umum didefinisikan sebagai kondisi gagal tumbuh pada anak yang terjadi akibat kekurangan gizi kronis yang berlangsung lama, dilihat dari tinggi badan anak yang berada di bawah standar normatif sesuai umur. Keadaan ini sering kali ditandai dari ukuran tinggi badan terhadap umur (TB/U) yang berada di bawah, 2 standar deviasi median WHO yang telah ditetapkan. Kondisi ini dapat terjadi sejak dalam kandungan hingga masa awal kehidupan anak, terutama 1000 hari pertama kehidupan (masa prenatal dan dua tahun pertama setelah lahir), di mana kebutuhan gizi optimal sangat krusial bagi pertumbuhan dan perkembangan yang sehat. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Definisi Stunting dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), stunting merupakan keadaan di mana anak memiliki tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan dengan anak seusianya yang sesuai standar. Definisi ini menekankan aspek fisik pertumbuhan yang tidak optimal karena kekurangan asupan gizi dan faktor lingkungan yang mempengaruhi pembangunan tubuh anak. (Sumber definisi KBBI dapat diakses melalui situs resmi KBBI, [Lihat sumber Disini - kbbi.kemdikbud.go.id])

Definisi Stunting Menurut Para Ahli

  1. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), stunting adalah kegagalan dalam pertumbuhan linear anak yang menunjukkan keterlambatan pertumbuhan karena kurangnya nutrisi, infeksi berulang, dan stimulasi lingkungan yang tidak memadai, ditandai dengan tinggi badan yang jauh di bawah standar median usia anak. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  2. Penelitian lainnya menyebutkan bahwa stunting merupakan hasil interaksi antara faktor gizi, kesehatan, dan lingkungan yang kompleks yang mempengaruhi perkembangan anak sejak masa awal kehidupan. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]

  3. Definisi dalam studi epidemiologi menyatakan bahwa stunting merupakan kondisi kronis yang mencerminkan kegagalan pemenuhan kebutuhan gizi, dan berdampak pada potensi pertumbuhan fisik serta perkembangan kognitif anak. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]

  4. Para peneliti kesehatan masyarakat menegaskan bahwa stunting mencerminkan ketidakseimbangan gizi dalam jangka panjang yang dapat memicu risiko kesehatan lain di masa dewasa. [Lihat sumber Disini - journals.upi-yai.ac.id]


Determinan Gizi Penyebab Stunting

Faktor gizi merupakan determinan langsung yang berperan penting dalam kejadian stunting. Asupan nutrisi yang tidak memadai selama masa prenatal dan periode awal kehidupan (khususnya 1000 hari pertama kehidupan) berkontribusi signifikan terhadap terjadinya stunting. Kekurangan energi, protein, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh menghambat proses pertumbuhan linear anak sehingga tinggi badan tidak mencapai potensi optimalnya. Penelitian menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif yang tidak optimal, kurangnya makanan kaya nutrisi selama masa MP-ASI, serta rendahnya konsumsi mikro-nutrien seperti zat besi, zinc, dan vitamin A dapat meningkatkan risiko stunting pada balita. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

Faktor gizi sensitif seperti kerawanan pangan dalam keluarga juga merupakan determinan penting. Rumah tangga yang mengalami ketidakamanan pangan menunjukkan risiko yang lebih tinggi terhadap kejadian stunting karena keterbatasan akses terhadap makanan berkualitas tinggi dan makanan bergizi seimbang. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]


Faktor Lingkungan dan Sosial Stunting

Determinasi sosial dan lingkungan memiliki peran tidak kalah penting dalam kejadian stunting. Faktor sosial, seperti status ekonomi keluarga, pendidikan orang tua, dan struktur keluarga, memiliki korelasi signifikan dengan kejadian stunting. Tingkat pendidikan ibu yang rendah misalnya, berkaitan dengan pengetahuan kurang optimal mengenai kebutuhan gizi anak dan pola asuh yang tidak mendukung pertumbuhan optimal. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]

Selain itu, faktor lingkungan seperti sanitasi yang buruk, akses air bersih yang terbatas, dan pemukiman yang tidak sehat mempengaruhi kejadian infeksi berulang pada anak, yang pada gilirannya dapat mengurangi kemampuan tubuh untuk menyerap nutrisi dengan baik. Studi menunjukkan bahwa sanitasi lingkungan yang buruk dan sumber air yang tidak aman berhubungan signifikan dengan risiko stunting yang lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Dampak Stunting terhadap Tumbuh Kembang

Stunting memiliki dampak yang luas terhadap tumbuh kembang anak. Secara fisik, anak dengan stunting mengalami pertumbuhan linear yang terhambat, yang tidak hanya memengaruhi tinggi badan tetapi juga komposisi tubuh secara keseluruhan. Dampak perkembangan kognitif menjadi salah satu aspek yang signifikan karena kurangnya nutrisi berkualitas selama periode kritis perkembangan otak dapat mengganggu kemampuan berpikir, konsentrasi, dan prestasi akademik di masa sekolah. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Selain itu, studi menemukan bahwa individu yang mengalami stunting cenderung memiliki produktivitas kerja yang lebih rendah di kemudian hari dan berisiko lebih tinggi terhadap penyakit kronis ketika dewasa, seperti diabetes dan hipertensi. Konsekuensi jangka panjang ini dapat memiliki implikasi ekonomi yang luas bagi keluarga dan masyarakat pada umumnya. [Lihat sumber Disini - journals.upi-yai.ac.id]


Penilaian dan Pemantauan Stunting

Penilaian stunting umumnya dilakukan dengan mengukur tinggi badan anak dan membandingkannya dengan standar median tinggi badan menurut usia dari WHO. Indikator yang paling sering digunakan adalah tinggi badan menurut umur (TB/U) yang menunjukkan status pertumbuhan linear anak. Anak diklasifikasikan stunting jika TB/U berada di bawah minus dua standar deviasi dari median standar WHO. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Pemantauan juga mencakup survei gizi berkelanjutan yang dilakukan pada tingkat nasional dan lokal untuk memantau prevalensi stunting serta tren perubahan dari waktu ke waktu. Data ini digunakan oleh pemerintah dan lembaga kesehatan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi yang dilakukan serta menentukan fokus kebijakan ke depan. [Lihat sumber Disini - jurnal.unpad.ac.id]


Strategi Pencegahan Stunting

Strategi pencegahan stunting perlu bersifat multisektoral, melibatkan sektor kesehatan, pendidikan, pertanian, dan sanitasi. Intervensi spesifik seperti pemberian nutrisi yang adekuat pada ibu hamil, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama, dan MP-ASI yang berkualitas sangat penting dalam mengurangi risiko stunting. [Lihat sumber Disini - journal.aisyahuniversity.ac.id]

Selain itu, intervensi gizi sensitif seperti peningkatan ketahanan pangan keluarga, perbaikan sanitasi dan akses air bersih, serta peningkatan pendidikan ibu tentang praktik pemberian makan anak juga terbukti efektif. Keterlibatan masyarakat dalam praktik kesehatan dan program edukasi gizi juga merupakan komponen penting dari strategi pencegahan. [Lihat sumber Disini - mcj.yamando.id]

Kemitraan lintas sektor termasuk sektor pertanian untuk meningkatkan ketersediaan makanan bergizi serta sektor pendidikan untuk meningkatkan literasi kesehatan di masyarakat turut memberi kontribusi dalam upaya pencegahan stunting. [Lihat sumber Disini - jurnal.unpad.ac.id]


Kesimpulan

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh kronis yang dipicu oleh kekurangan gizi jangka panjang dan dipengaruhi oleh determinan gizi, faktor sosial, dan lingkungan. Dampaknya meluas tidak hanya pada fisik tetapi juga perkembangan kognitif dan kualitas hidup anak di masa depan. Penilaian stunting dilakukan melalui pengukuran antropometri standar WHO dan menjadi indikator penting untuk pemantauan kesehatan masyarakat. Pencegahan stunting harus dilakukan melalui intervensi gizi spesifik dan sensitif yang terintegrasi serta pendekatan multisektoral yang melibatkan peningkatan nutrisi ibu dan anak, perbaikan lingkungan hidup, serta edukasi masyarakat. Strategi ini bertujuan untuk memastikan setiap anak dapat mencapai potensi tumbuh kembang optimalnya dan mendukung kualitas sumber daya manusia yang lebih baik di masa depan.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak yang ditandai dengan tinggi badan lebih pendek dibandingkan anak seusianya akibat kekurangan gizi kronis, terutama sejak masa kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupan.

Penyebab utama stunting meliputi kekurangan asupan gizi dalam jangka panjang, rendahnya kualitas pemberian ASI dan MP-ASI, infeksi berulang, sanitasi lingkungan yang buruk, serta faktor sosial ekonomi dan pendidikan orang tua.

Stunting berbahaya karena tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik, tetapi juga berdampak pada perkembangan kognitif, kemampuan belajar, produktivitas di masa dewasa, serta meningkatkan risiko penyakit kronis.

Stunting diketahui melalui pengukuran tinggi badan anak berdasarkan umur dan membandingkannya dengan standar pertumbuhan WHO. Anak dikategorikan stunting jika tinggi badan menurut umur berada di bawah minus dua standar deviasi.

Pencegahan stunting dilakukan melalui pemenuhan gizi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif, MP-ASI berkualitas, perbaikan sanitasi dan akses air bersih, peningkatan ketahanan pangan keluarga, serta edukasi gizi kepada orang tua.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Perilaku Ibu dalam Pencegahan Stunting Sejak Kehamilan Perilaku Ibu dalam Pencegahan Stunting Sejak Kehamilan Stunting dan Faktor Perilaku Stunting dan Faktor Perilaku Pengetahuan Ibu tentang Pencegahan Stunting Pengetahuan Ibu tentang Pencegahan Stunting Hubungan Sanitasi dan Stunting Hubungan Sanitasi dan Stunting Stunting: Pengertian dan Penyebab Stunting: Pengertian dan Penyebab Pola Asuh dan Stunting Pola Asuh dan Stunting Faktor Risiko Stunting pada Balita Faktor Risiko Stunting pada Balita Pencegahan Stunting Berbasis Keluarga Pencegahan Stunting Berbasis Keluarga Monitoring Gizi Balita di Posyandu Monitoring Gizi Balita di Posyandu Pengaruh Edukasi Gizi terhadap Asupan Makanan Ibu Hamil Pengaruh Edukasi Gizi terhadap Asupan Makanan Ibu Hamil Status Gizi Balita Status Gizi Balita Status Nutrisi Pasien: Definisi dan Pengukurannya Status Nutrisi Pasien: Definisi dan Pengukurannya Status Gizi Balita: Konsep, Determinan, dan Pemantauan Status Gizi Balita: Konsep, Determinan, dan Pemantauan Gizi Buruk: Faktor dan Pencegahan Gizi Buruk: Faktor dan Pencegahan Literasi Gizi: Konsep, Peran Edukasi, dan Perilaku Makan Literasi Gizi: Konsep, Peran Edukasi, dan Perilaku Makan Nutritional Literacy Nutritional Literacy Status Gizi Anak Sekolah Dasar Status Gizi Anak Sekolah Dasar Gizi Seimbang pada Anak Gizi Seimbang pada Anak Gizi Buruk: Konsep, Faktor Penyebab, dan Strategi Pencegahan Gizi Buruk: Konsep, Faktor Penyebab, dan Strategi Pencegahan Edukasi Gizi Seimbang Edukasi Gizi Seimbang
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…