
Pencegahan Infeksi Nosokomial
Pendahuluan
Infeksi nosokomial atau yang juga dikenal sebagai healthcare-associated infections (HAIs) adalah salah satu tantangan serius dalam pelayanan kesehatan modern. Infeksi ini tidak hanya meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas pasien di rumah sakit, tetapi juga memperpanjang masa perawatan, meningkatkan biaya layanan kesehatan, dan menambah beban kerja tenaga medis serta sistem kesehatan secara keseluruhan. Data menunjukkan bahwa insiden infeksi yang diperoleh di fasilitas kesehatan masih cukup tinggi di banyak negara, termasuk Indonesia, sehingga upaya pencegahan menjadi fokus penting dalam upaya meningkatkan keselamatan pasien dan kualitas layanan kesehatan. [Lihat sumber Disini - ejournal.itekes-bali.ac.id]
Infeksi nosokomial sering kali terjadi pada pasien yang sedang dirawat dan belum menunjukkan gejala infeksi saat masuk, tetapi kemudian muncul setelah 48, 72 jam perawatan, hal ini menunjukkan bahwa infeksi tersebut terjadi karena paparan mikroorganisme selama proses pelayanan kesehatan. Kondisi tersebut mencerminkan kelemahan dalam pelaksanaan standar pencegahan infeksi di fasilitas layanan kesehatan. [Lihat sumber Disini - ukitoraja.id]
Definisi Infeksi Nosokomial
Definisi Infeksi Nosokomial Secara Umum
Infeksi nosokomial adalah infeksi yang terjadi pada pasien selama menerima perawatan di fasilitas kesehatan, yang tidak ada dan tidak menunjukkan gejala pada saat pasien masuk. Infeksi ini biasanya muncul 48 hingga 72 jam setelah pasien menjalani perawatan di rumah sakit atau bahkan setelah pasien dipulangkan namun masih berkaitan dengan pelayanan yang diterimanya. Infeksi nosokomial dapat disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, atau mikroorganisme lain yang diperoleh selama proses perawatan medis. [Lihat sumber Disini - ukitoraja.id]
Infeksi ini tidak hanya memengaruhi pasien yang dirawat, tetapi juga dapat menyerang tenaga kesehatan, pengunjung rumah sakit, dan keluarga pasien, sehingga meningkatkan risiko penyebaran infeksi di dalam lingkungan fasilitas kesehatan. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-pontianak.ac.id]
Definisi Infeksi Nosokomial dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah “nosokomial” merujuk pada sesuatu yang berkaitan dengan rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan. Dengan demikian, infeksi nosokomial diartikan sebagai infeksi yang diperoleh di rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan dan tidak ada pada saat pasien pertama kali masuk dirawat. (Sumber: KBBI Online, “nosokomial” sebagai istilah yang berkaitan dengan rumah sakit.)
Definisi Infeksi Nosokomial Menurut Para Ahli
-
World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa infeksi terkait pelayanan kesehatan mencakup infeksi yang terjadi saat menerima perawatan di fasilitas kesehatan dan merupakan masalah global yang tidak dapat diabaikan karena konsekuensi klinis dan ekonominya. [Lihat sumber Disini - who.int]
-
Sikora et al. (2023) mendefinisikan infeksi nosokomial sebagai infeksi yang terjadi pada pasien yang sedang dirawat di fasilitas kesehatan dan tidak hadir atau dalam masa inkubasi pada saat masuk ke fasilitas tersebut. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
McFee & lainnya (2009) menjelaskan bahwa infeksi nosokomial adalah infeksi yang berkembang setelah pasien menjalani perawatan medis, terutama yang dikaitkan dengan prosedur invasif atau kendali infeksi yang tidak adekuat. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Sagala (2016) menyatakan bahwa infeksi nosokomial adalah infeksi yang tidak dialami pasien saat masuk rumah sakit, tetapi muncul setelah ±72 jam berada di fasilitas, akibat paparan mikroorganisme selama proses perawatan. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Faktor Risiko Terjadinya Infeksi Nosokomial
Infeksi nosokomial tidak terjadi secara acak; terdapat sejumlah faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan pasien terinfeksi selama berada di fasilitas kesehatan. Faktor-faktor ini berasal dari pasien itu sendiri, lingkungan rumah sakit, serta praktik pelayanan kesehatan yang diterapkan.
Faktor utama mencakup kondisi kesehatan pasien seperti melemahnya sistem kekebalan tubuh, usia lanjut, dan adanya penyakit penyerta yang meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Pasien dengan imunitas yang rendah akan lebih mudah terinfeksi mikroorganisme patogen yang ada di lingkungan rumah sakit. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Selain itu, penggunaan prosedur medis invasif seperti kateter intravena, kateter urin, atau ventilator juga meningkatkan risiko infeksi karena prosedur ini membuka jalur langsung bagi mikroorganisme untuk memasuki tubuh pasien. Penggunaan tindakan invasif yang berlebihan atau tidak sesuai standar menjadi faktor penting dalam munculnya infeksi nosokomial. [Lihat sumber Disini - journals.plos.org]
Faktor lain yang juga signifikan adalah durasi tinggal pasien di rumah sakit yang lebih lama. Semakin lama pasien dirawat, semakin besar peluangnya untuk terpapar mikroorganisme penyebab infeksi, terutama jika sistem pengendalian infeksi di fasilitas kesehatan kurang optimal. Kekurangan tenaga kesehatan, tekanan pelayanan yang tinggi, dan kepadatan ruang rawat juga dapat memperbesar risiko ini. [Lihat sumber Disini - verjournal.com]
Faktor terkait praktik tenaga kesehatan, seperti kurangnya kepatuhan terhadap protokol kebersihan tangan dan protokol pencegahan infeksi lainnya, juga merupakan determinan penting terjadinya infeksi nosokomial. Kepatuhan yang rendah terhadap standar pencegahan berkontribusi langsung pada transmisi mikroorganisme patogen antar pasien. [Lihat sumber Disini - bmchealthservres.biomedcentral.com]
Peran Hand Hygiene dan APD
Hand hygiene atau kebersihan tangan merupakan praktik paling fundamental dalam pencegahan infeksi nosokomial di fasilitas pelayanan kesehatan. Menurut CDC dan hasil kajian ilmiah, kebersihan tangan yang tepat dapat secara signifikan mengurangi proliferasi mikroorganisme dan penularan infeksi antar pasien dan tenaga kesehatan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kepatuhan terhadap praktik hand hygiene berhubungan dengan penurunan angka infeksi nosokomial, bahkan ketika dilakukan intervensi sederhana seperti pelatihan dan peningkatan fasilitas cuci tangan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Personal Protective Equipment (APD) seperti sarung tangan, masker, pelindung wajah, dan pakaian pelindung lainnya juga memainkan peran penting dalam pencegahan penularan infeksi. APD berfungsi sebagai penghalang antara tenaga kesehatan dengan patogen, sehingga meminimalkan kontak langsung yang bisa menjadi jalur transmisi. Studi menunjukkan bahwa persepsi risiko tenaga kesehatan dan ketersediaan APD sangat mempengaruhi tingkat kepatuhan penggunaan APD tersebut dalam praktik sehari-hari. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Dampak Infeksi Nosokomial terhadap Pasien
Infeksi nosokomial memiliki dampak yang luas dan serius tidak hanya bagi pasien, tetapi juga terhadap sistem pelayanan kesehatan dan masyarakat secara umum. Secara klinis, infeksi ini dapat memperburuk kondisi kesehatan pasien, memperpanjang masa perawatan di rumah sakit, dan meningkatkan risiko komplikasi serius seperti sepsis atau resistensi antibiotik. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Selain konsekuensi klinis, infeksi nosokomial dapat meningkatkan biaya perawatan kesehatan secara signifikan karena kebutuhan perawatan tambahan, penggunaan obat yang lebih intensif, serta perawatan jangka panjang untuk mengatasi komplikasi yang muncul. Dampak ekonomi ini dirasakan tidak hanya oleh rumah sakit tetapi juga oleh pasien dan keluarga. [Lihat sumber Disini - ukitoraja.id]
Lebih jauh, infeksi nosokomial dapat mengancam kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Ketika pasien dan keluarga menyadari risiko tinggi mendapatkan infeksi selama perawatan, hal ini dapat mengurangi keyakinan mereka terhadap fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan yang merawat.
Strategi Pencegahan Infeksi Nosokomial
Pencegahan infeksi nosokomial memerlukan pendekatan multidimensional yang mencakup kebijakan rumah sakit, pelatihan tenaga kesehatan, serta pengawasan dan evaluasi berkelanjutan terhadap praktik pencegahan infeksi.
-
Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), Penerapan program PPI yang komprehensif merupakan langkah strategis utama untuk menurunkan angka infeksi nosokomial. Program ini mencakup kebijakan, prosedur, dan praktik standar yang diterapkan dalam seluruh aspek pelayanan kesehatan, serta pengawasan dan evaluasi kepatuhan secara rutin. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesbaptis.ac.id]
-
Pelatihan dan Edukasi Tenaga Kesehatan, Pelatihan teratur tentang standar pencegahan infeksi, termasuk praktik kebersihan tangan dan penggunaan APD yang benar, dapat meningkatkan kepatuhan tenaga kesehatan terhadap protokol pencegahan infeksi. Hal ini mencakup edukasi tentang kapan dan bagaimana melakukan kebersihan tangan serta pemahaman risiko infeksi nosokomial secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesdam4dip.ac.id]
-
Pengawasan dan Audit Kepatuhan, Melakukan audit berkala terhadap praktik pencegahan infeksi, termasuk penilaian kepatuhan terhadap kebersihan tangan dan penggunaan APD, dapat membantu mengidentifikasi area yang perlu perbaikan dan intervensi lebih lanjut.
-
Minimisasi Prosedur Invasif, Mengurangi penggunaan prosedur invasif yang tidak perlu serta menerapkan standar aseptik yang ketat ketika prosedur invasif diperlukan dapat menurunkan risiko infeksi yang terkait dengan jalur masuk mikroorganisme. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id]
-
Kebersihan Lingkungan dan Sterilisasi, Menjaga kebersihan lingkungan rumah sakit serta memastikan sterilisasi alat dan permukaan yang baik adalah aspek penting dalam pencegahan penyebaran mikroorganisme patogen.
Kesimpulan
Infeksi nosokomial merupakan masalah kesehatan yang kompleks dengan dampak klinis dan ekonomi yang signifikan. Infeksi yang muncul selama pelayanan kesehatan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko, termasuk kondisi pasien, praktik medis invasif, durasi perawatan, serta kepatuhan terhadap protokol pencegahan infeksi. Praktik kebersihan tangan dan penggunaan APD yang benar merupakan intervensi penting dalam mencegah penyebaran infeksi nosokomial. Strategi pencegahan efektif memerlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan pelatihan tenaga kesehatan, program pencegahan dan pengendalian infeksi yang kuat, serta pengawasan berkelanjutan terhadap kepatuhan praktik pencegahan. Upaya ini tidak hanya melindungi pasien tetapi juga meningkatkan keselamatan dan kualitas pelayanan kesehatan secara keseluruhan.