
Infeksi Nosokomial: Konsep, Faktor Risiko, dan Pengendalian
Pendahuluan
Infeksi nosokomial atau yang kini sering disebut Healthcare-Associated Infections (HAIs) adalah salah satu ancaman utama dalam pelayanan kesehatan modern. Infeksi jenis ini terjadi pada pasien yang sedang dirawat di fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, klinik, atau unit perawatan intensif dan tidak hadir atau dalam masa inkubasi saat pasien pertama kali masuk fasilitas tersebut. Definisi ini penting karena membedakan infeksi layanan kesehatan dengan kondisi yang dibawa dari komunitas sebelum masuk rumah sakit. Infeksi nosokomial dapat muncul beberapa hari setelah pasien dirawat bahkan beberapa waktu setelah tindakan medis dilakukan, dan sering kali berdampak serius terhadap keselamatan pasien serta kualitas layanan kesehatan secara umum. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Infeksi yang diperoleh di fasilitas kesehatan bukan hanya membahayakan pasien dari sisi klinis, dengan memperpanjang masa perawatan dan meningkatkan angka morbiditas serta mortalitas, tetapi juga memberikan tekanan finansial yang signifikan terhadap sistem kesehatan. Salah satu fokus utama dalam praktik keperawatan, kedokteran, dan manajemen rumah sakit adalah menurunkan kejadian infeksi nosokomial melalui strategi pencegahan dan pengendalian yang efektif. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Definisi Infeksi Nosokomial
Definisi Infeksi Nosokomial Secara Umum
Infeksi nosokomial secara umum dapat diartikan sebagai infeksi yang terjadi pada pasien selama menerima perawatan di fasilitas kesehatan dan sebelumnya belum menunjukkan gejala infeksi saat awal masuk fasilitas kesehatan. Dengan kata lain, infeksi ini timbul sebagai akibat kontak atau proses perawatan di fasilitas tersebut, seperti penggunaan peralatan medis atau cedera mikrobiologis yang tidak disengaja selama prosedur medis. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Definisi Infeksi Nosokomial dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah nosokomial mengacu pada infeksi yang didapat di rumah sakit atau fasilitas kesehatan, yang berarti infeksi tersebut timbul setelah pasien dirawat lebih dari 48 jam atau sebagai konsekuensi dari interaksi pasien dengan lingkungan layanan kesehatan yang terkontaminasi atau prosedur medis tertentu. (Definisi KBBI dapat diakses langsung melalui web KBBI).
Definisi Infeksi Nosokomial Menurut Para Ahli
-
World Health Organization (WHO): Infeksi nosokomial (HAIs) adalah infeksi yang terjadi selama proses perawatan di sebuah fasilitas kesehatan, yang umumnya muncul 48 jam atau lebih setelah pasien dirawat, dan juga meliputi infeksi yang muncul setelah pasien keluar dari fasilitas tersebut, atau yang terjadi selama kunjungan ke fasilitas kesehatan lain. [Lihat sumber Disini - who.int]
-
Sikora et al. (2023) menjelaskan bahwa faktor risiko utama nosokomial meliputi prosedur invasif, seperti operasi dan penggunaan alat medis intravena, yang membuka peluang mikroorganisme memasuki tubuh pasien. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Sumber ilmiah klinis lainnya menyatakan bahwa infeksi ini ditandai oleh transmisi mikroorganisme patogen kepada individu dengan daya tahan rendah melalui kontak langsung dengan tenaga kesehatan, peralatan medis, atau lingkungan fasilitas kesehatan yang kurang steril. [Lihat sumber Disini - verjournal.com]
-
Literatur epidemiologi kesehatan memperluas definisi dengan menekankan bahwa infeksi nosokomial mencakup berbagai jenis infeksi yang diperoleh pasien selama menerima pelayanan kesehatan, dan menjadi salah satu indikator keselamatan pasien dalam evaluasi mutu layanan kesehatan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Konsep dan Jenis Infeksi Nosokomial
Infeksi nosokomial merupakan bagian dari kelompok infeksi yang disebut healthcare-associated infections (HAIs) dan dapat terjadi pada berbagai area rumah sakit, termasuk ruang rawat inap, unit perawatan intensif (ICU), serta area layanan spesialis lainnya. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Beberapa jenis infeksi nosokomial yang sering dilaporkan dalam penelitian dan survei epidemiologi meliputi:
-
Infeksi Luka Operasi (Surgical Site Infection/SSI): Infeksi di area bedah setelah tindakan operasi.
-
Infeksi Saluran Kemih Terkait Kateter (Catheter-Associated Urinary Tract Infection/CAUTI): Infeksi pada saluran kemih yang sering berkaitan dengan penggunaan kateter urin jangka panjang.
-
Infeksi Aliran Darah Terkait Kateter (CLABSI): Infeksi yang berasal dari penggunaan jalur intravena pusat atau perangkat akses vena.
-
Pneumonia Terkait Ventilator (Ventilator-Associated Pneumonia/VAP): Infeksi paru-paru yang khusus terkait dengan penggunaan ventilator mekanik. [Lihat sumber Disini - yapindo-cdn.b-cdn.net]
Bakteri tetap menjadi patogen yang paling sering menyebabkan infeksi nosokomial, diikuti oleh virus dan jamur. Keberadaan organisme multiresisten terhadap antibiotik di fasilitas kesehatan turut memperumit penanganannya. [Lihat sumber Disini - yapindo-cdn.b-cdn.net]
Infeksi nosokomial dapat terjadi melalui berbagai mekanisme transmisi, seperti kontak langsung antara pasien dan tenaga kesehatan, penggunaan peralatan medis yang tidak disterilisasi dengan benar, serta kontaminasi lingkungan fasilitas kesehatan. [Lihat sumber Disini - verjournal.com]
Faktor Risiko Terjadinya Infeksi Nosokomial
Terjadinya infeksi nosokomial dipengaruhi oleh beragam faktor risiko yang saling berkaitan, melibatkan aspek pasien, prosedur medis, dan lingkungan fasilitas kesehatan. Beberapa faktor risiko utama antara lain:
-
Prosedur Invasif dan Peralatan Medis: Penggunaan perangkat medis seperti kateter, ventilator, implan medis, dan jalur intravena meningkatkan peluang mikroorganisme masuk ke dalam tubuh pasien. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Kondisi Imunokompeten Pasien: Pasien dengan sistem imun yang lemah, usia lanjut, atau penderita penyakit kronis cenderung lebih rentan terhadap infeksi selama dirawat di fasilitas kesehatan. [Lihat sumber Disini - rspcl.ihc.id]
-
Durasi Perawatan di Rumah Sakit: Semakin lama pasien dirawat, semakin tinggi risiko terjadinya kontak dengan sumber infeksi di lingkungan fasilitas. [Lihat sumber Disini - rspcl.ihc.id]
-
Kepatuhan dan Teknik Hand Hygiene: Ketidakpatuhan tenaga kesehatan terhadap standar kebersihan tangan dipandang sebagai salah satu faktor risiko yang paling dominan dalam penularan infeksi nosokomial. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
-
Fasilitas dan Lingkungan: Lingkungan fasilitas kesehatan yang kurang bersih, sarana sanitasi yang tidak memadai, serta kepadatan ruang perawatan juga berkontribusi terhadap kejadian infeksi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Pengetahuan dan Sikap Tenaga Kesehatan: Pengetahuan tenaga kesehatan mengenai infeksi dan perilaku preventif seperti hand hygiene memiliki hubungan langsung dengan kejadian infeksi nosokomial. [Lihat sumber Disini - jurnal.uui.ac.id]
Dampak Infeksi Nosokomial terhadap Pasien dan Layanan
Infeksi nosokomial membawa berbagai konsekuensi negatif yang luas, baik bagi individu pasien maupun sistem pelayanan kesehatan secara keseluruhan:
-
Meningkatkan Morbiditas dan Mortalitas: Pasien yang mengalami infeksi memiliki risiko komplikasi klinis yang lebih tinggi, termasuk risiko kematian yang meningkat. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Perpanjangan Masa Perawatan: Infeksi nosokomial sering kali memperpanjang durasi perawatan pasien di fasilitas kesehatan, sehingga menguras sumber daya dan biaya. [Lihat sumber Disini - yapindo-cdn.b-cdn.net]
-
Beban Ekonomi Tambahan: Biaya perawatan akan meningkat akibat kebutuhan intervensi medis tambahan untuk menangani infeksi, termasuk penggunaan antibiotik dan prosedur lanjutan. [Lihat sumber Disini - yapindo-cdn.b-cdn.net]
-
Kualitas Layanan Menurun: Insiden infeksi terkait pelayanan kesehatan secara langsung mempengaruhi persepsi keselamatan pasien dan kinerja fasilitas kesehatan secara umum. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-pontianak.ac.id]
Strategi Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Nosokomial
Pengendalian infeksi nosokomial merupakan kombinasi dari kebijakan, prosedur, dan perilaku praktik klinis yang dirancang untuk mengurangi risiko penularan mikroorganisme di fasilitas kesehatan. Berikut strategi utamanya:
1. Penerapan Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)
Program PPI wajib dijalankan di fasilitas kesehatan sebagai bagian dari standar mutu pelayanan untuk mengurangi risiko penyebaran infeksi. Ini mencakup pembuatan SOP, audit rutin, serta evaluasi yang berkelanjutan. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-pontianak.ac.id]
2. Kebersihan Tangan (Hand Hygiene)
Kebersihan tangan yang benar merupakan langkah paling efektif dan murah dalam mencegah penularan infeksi nosokomial. Tenaga kesehatan dianjurkan mencuci tangan sebelum dan sesudah interaksi dengan pasien serta sesuai pedoman hand hygiene internasional. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
3. Sterilisasi dan Disinfeksi Alat Medis
Peralatan medis yang bersih dan disterilisasi dengan benar dapat mengurangi risiko kontaminasi. Prosedur sterilisasi yang ketat untuk peralatan invasif sangat penting. [Lihat sumber Disini - ukitoraja.id]
4. Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan
Meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan tenaga kesehatan terkait pencegahan infeksi melalui pelatihan berkelanjutan dapat meningkatkan kepatuhan terhadap protokol pencegahan. [Lihat sumber Disini - journal.ipm2kpe.or.id]
5. Surveillance dan Audit Rutin
Pemantauan kejadian infeksi secara berkala dan audit kepatuhan terhadap protokol dapat membantu fasilitas kesehatan mendeteksi tren dan masalah dalam pelaksanaan pencegahan infeksi. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-pontianak.ac.id]
Peran Tenaga Kesehatan dalam Pengendalian Infeksi Nosokomial
Peran tenaga kesehatan, terutama perawat, dokter, asisten medis, dan petugas sanitasi, sangat krusial dalam pengendalian infeksi nosokomial:
-
Pelaksana Hand Hygiene: Tenaga kesehatan merupakan garis depan dalam penerapan kebersihan tangan yang konsisten setiap saat layanan diberikan. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
-
Edukator Pasien dan Keluarga: Selain melaksanakan pencegahan, tenaga kesehatan juga bertanggung jawab untuk memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai langkah pencegahan infeksi nosokomial, misalnya pentingnya kebersihan tangan dan penggunaan alat pelindung diri. [Lihat sumber Disini - ukitoraja.id]
-
Pemantau dan Pelapor: Tim PPI harus memantau insiden infeksi dan melaporkannya sebagai bagian dari sistem surveillance internal, kemudian menerapkan tindakan korektif bila diperlukan. [Lihat sumber Disini - journal.ipm2kpe.or.id]
-
Partisipan Pelatihan dan Audit: Tenaga kesehatan berperan aktif dalam pelatihan berkala serta ikut serta dalam audit praktik pencegahan infeksi sebagai komitmen terhadap keselamatan pasien. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-pontianak.ac.id]
Kesimpulan
Infeksi nosokomial atau healthcare-associated infections (HAIs) merupakan infeksi yang diperoleh pasien selama menerima pelayanan kesehatan di fasilitas medis, dan infeksi ini tidak hadir saat pasien pertama kali masuk fasilitas tersebut. Kejadian infeksi nosokomial melibatkan banyak faktor risiko, termasuk prosedur invasif, durasi perawatan yang panjang, kondisi imun pasien, serta perilaku tenaga kesehatan seperti kebersihan tangan yang kurang optimal. Infeksi ini memiliki dampak besar terhadap pasien dan sistem layanan kesehatan, seperti peningkatan angka kesakitan, kematian, perpanjangan masa perawatan, serta biaya tambahan yang signifikan. Strategi pencegahan dan pengendalian yang efektif mencakup program PPI yang terstruktur, peningkatan praktik hand hygiene, sterilisasi alat medis, pelatihan tenaga kesehatan, serta surveillance dan audit berkala. Peran tenaga kesehatan sangat penting dalam memastikan bahwa protokol pencegahan dijalankan dengan benar untuk menciptakan lingkungan perawatan yang aman dan efektif.