
Infeksi Nosokomial: Konsep, Faktor Risiko, dan Pencegahan
Pendahuluan
Infeksi nosokomial atau yang dikenal juga sebagai Healthcare-Associated Infections (HAIs) merupakan masalah serius dalam layanan kesehatan di seluruh dunia. Infeksi ini terjadi pada pasien yang sedang dirawat atau menerima perawatan medis, yang sebelumnya tidak menunjukkan tanda atau gejala infeksi saat awal masuk fasilitas kesehatan. Prevalensi infeksi nosokomial tinggi; di beberapa rumah sakit, risiko pasien mengalami infeksi semacam ini mencapai persentase signifikan dari total pasien yang dirawat, dan kondisi ini berdampak besar terhadap keselamatan pasien, lama perawatan, biaya kesehatan, serta tingkat mortalitas. Pengetahuan yang kuat tentang konsep, jenis, faktor risiko, dampak, serta strategi pencegahannya menjadi sangat penting agar sistem pelayanan kesehatan dapat memberikan layanan yang aman dan berkualitas tinggi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Infeksi Nosokomial
Definisi Infeksi Nosokomial Secara Umum
Infeksi nosokomial adalah infeksi yang diperoleh seseorang ketika menerima perawatan di fasilitas layanan kesehatan yang tidak ada atau belum dimulai selama masa inkubasi pada saat pasien pertama kali masuk fasilitas tersebut, tetapi berkembang setelah periode tertentu selama atau setelah perawatan. Secara umum istilah ini sering digunakan untuk merujuk kepada infeksi yang terjadi di rumah sakit, namun konsepnya juga mencakup berbagai bentuk fasilitas kesehatan lain di mana perawatan diberikan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Infeksi Nosokomial dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), infeksi nosokomial didefinisikan sebagai infeksi yang diperoleh dalam rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan lain sebagai akibat dari proses perawatan medis yang berlangsung di fasilitas tersebut. Definisi ini menekankan bahwa infeksi terjadi selama masa perawatan dan tidak berkaitan dengan kondisi pasien saat awal masuk fasilitas kesehatan. (KBBI online, definisi “nosokomial”)
Definisi Infeksi Nosokomial Menurut Para Ahli
-
Haque et al. (2018) menyatakan bahwa infeksi nosokomial atau healthcare-associated infections (HAIs) adalah infeksi yang muncul selama pasien menerima layanan kesehatan atau dalam jangka waktu tertentu setelah menerima layanan tersebut, dan menjadi salah satu komplikasi yang sering terjadi dalam perawatan rumah sakit secara global. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Sardi (2021) menjelaskan infeksi nosokomial sebagai infeksi yang diperoleh oleh pasien selama masa perawatan medis di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya, di mana jenis microorganisme penyebabnya bervariasi antara bakteri, virus, dan jamur. [Lihat sumber Disini - conference.upnvj.ac.id]
-
Sundoro et al. (2020) dalam konteks pencegahan menekankan bahwa infeksi nosokomial menjadi ancaman bagi keselamatan pasien karena memperpanjang masa perawatan dan meningkatkan risiko komplikasi serius. [Lihat sumber Disini - who.int]
-
Suarmayasa et al. (2023) menyebutkan bahwa infeksi nosokomial merupakan infeksi yang terjadi di rumah sakit, yang menjadi salah satu indikator penting masalah keselamatan pasien dan kualitas pelayanan kesehatan di berbagai negara termasuk Indonesia. [Lihat sumber Disini - ejournal.unibba.ac.id]
Jenis Infeksi Nosokomial di Fasilitas Kesehatan
Infeksi nosokomial dibedakan berdasarkan lokasi anatomis atau jenis sistem yang terinfeksi dalam tubuh pasien. Jenis-jenis ini memiliki karakteristik berbeda dan sering diidentifikasi berdasarkan manifestasi klinis serta jalur penularannya. Di antaranya:
-
Infeksi Luka Operasi (Surgical Site Infection, SSI)
Infeksi yang terjadi pada area luka operasi setelah tindakan bedah. SSI merupakan salah satu jenis infeksi nosokomial yang paling sering dilaporkan dan dapat menyebabkan penyembuhan luka yang lama, rasa nyeri berkepanjangan, bahkan membuka kembali luka operasi. [Lihat sumber Disini - ejournal.itekes-bali.ac.id]
-
Infeksi Saluran Kemih Terkait Kateter (CAUTI)
Infeksi pada saluran kemih yang berkembang setelah pemasangan kateter urin. Penggunaan kateter yang berkepanjangan merupakan faktor utama dalam jenis infeksi ini karena memungkinkan bakteri masuk ke dalam saluran kemih. [Lihat sumber Disini - verjournal.com]
-
Pneumonia Terkait Ventilator (VAP)
Pneumonia yang terjadi pada pasien yang mendapatkan bantuan pernapasan mekanis dengan ventilator. Ventilator menyediakan jalur langsung bagi patogen masuk ke saluran pernapasan bawah. [Lihat sumber Disini - verjournal.com]
-
Infeksi Aliran Darah Terkait Jalur Sentral (CLABSI)
Infeksi yang terkait dengan penggunaan perangkat venous sentral atau kateter vena sentral. Infeksi ini dapat menyebabkan komplikasi serius seperti sepsis jika tidak ditangani dengan baik. [Lihat sumber Disini - aricjournal.biomedcentral.com]
-
Infeksi Lainnya
Selain itu, infeksi dapat terjadi pada berbagai organ dan sistem tubuh lainnya seperti infeksi pada kulit, jaringan lunak, dan organ internal, tergantung pada kondisi klinis pasien serta faktor lingkungan di fasilitas kesehatan. [Lihat sumber Disini - conference.upnvj.ac.id]
Faktor Risiko Terjadinya Infeksi Nosokomial
Infeksi nosokomial disebabkan oleh berbagai faktor yang mempengaruhi kemungkinan terjadinya infeksi pada pasien yang mendapatkan layanan kesehatan. Faktor-faktor ini umumnya diklasifikasikan menjadi tiga kelompok besar:
Faktor Terkait Pasien
Faktor intrinsik meliputi kondisi kesehatan pasien itu sendiri, seperti usia (neonatal atau lanjut usia), imunitas yang lemah, penyakit penyerta (komorbid), atau lama tinggal di rumah sakit. Pasien dengan sistem imun yang lemah atau kondisi tubuh yang rentan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk terinfeksi mikroorganisme di fasilitas kesehatan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Faktor Iatrogenik (Tindakan Medis)
Tindakan medis tertentu meningkatkan risiko infeksi, terutama tindakan invasif seperti pemasangan ventilator, penggunaan kateter, biopsi, atau tindakan pembedahan. Peralatan invasif ini memberikan jalur langsung bagi kuman masuk ke dalam tubuh pasien jika prosedur aseptik tidak dilakukan dengan benar. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Faktor Organisasi dan Lingkungan Kesehatan
Kebersihan lingkungan fasilitas kesehatan juga menjadi faktor risiko yang penting. Contaminated HVAC (sistem ventilasi dan pendingin udara), air dan permukaan yang tidak steril, tingkat kepatuhan petugas kesehatan terhadap prosedur kebersihan, serta rasio staf perawat terhadap pasien semuanya bisa mempengaruhi kemungkinan penularan infeksi. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Selain itu, kebiasaan mencuci tangan yang buruk di antara petugas kesehatan juga diidentifikasi sebagai faktor yang meningkatkan risiko infeksi nosokomial di fasilitas kesehatan. [Lihat sumber Disini - ejournal.umkla.ac.id]
Dampak Infeksi Nosokomial terhadap Pasien
Infeksi nosokomial tidak hanya merupakan masalah kesehatan individual tetapi juga memberikan dampak luas terhadap pasien dan sistem kesehatan. Dampak yang sering dilaporkan adalah:
-
Meningkatkan Morbiditas dan Mortalitas
Infeksi nosokomial meningkatkan risiko penyakit lanjutan serta kematian pada pasien yang sudah berada dalam kondisi rentan karena penyakit utama mereka. Kajian menunjukkan bahwa infeksi terkait perawatan kesehatan dapat menyebabkan tingginya angka kesakitan dan kematian. [Lihat sumber Disini - jurnal.usk.ac.id]
-
Perpanjangan Lama Perawatan
Pasien yang mengalami infeksi nosokomial sering membutuhkan waktu perawatan yang lebih lama, baik di rumah sakit maupun fasilitas kesehatan lain. Ini berdampak pada pengalaman pasien dan beban sumber daya medis. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Beban Biaya Kesehatan
Dengan meningkatnya lama perawatan dan kebutuhan untuk pengobatan tambahan, biaya yang ditanggung baik oleh pasien maupun sistem kesehatan meningkat signifikan. Beberapa jenis infeksi seperti CLABSI dan VAP memerlukan intervensi yang intensif dan mahal. [Lihat sumber Disini - aricjournal.biomedcentral.com]
-
Komplikasi Tambahan
Komplikasi infeksi dapat mencakup sepsis, gagal organ, hingga kebutuhan perawatan lanjutan jangka panjang. Infeksi luka operasi, misalnya, dapat menyebabkan keterlambatan penyembuhan luka dan risiko tindakan bedah ulang. [Lihat sumber Disini - ejournal.itekes-bali.ac.id]
Upaya Pencegahan Infeksi Nosokomial
Pencegahan infeksi nosokomial menjadi fokus utama dalam pengendalian infeksi di fasilitas kesehatan. Langkah-langkah yang direkomendasikan meliputi:
-
Kebersihan Tangan (Hand Hygiene)
Praktik mencuci tangan secara konsisten dan benar merupakan tindakan yang paling efektif untuk mencegah penularan patogen dari tangan petugas kesehatan ke pasien atau antar pasien. Studi menunjukkan bahwa hand hygiene dapat menurunkan kejadian infeksi nosokomial secara signifikan. [Lihat sumber Disini - ej-med.org]
-
Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
APD seperti sarung tangan, masker, dan baju pelindung membantu mencegah kontak langsung dengan cairan tubuh atau permukaan yang terkontaminasi. [Lihat sumber Disini - jurnal.uui.ac.id]
-
Protokol Sterilisasi dan Disinfeksi
Sterilisasi alat medis, permukaan fasilitas, serta lingkungan perawatan juga merupakan langkah penting dalam pencegahan infeksi. Protokol ini harus menjadi standar di setiap fasilitas kesehatan. [Lihat sumber Disini - who.int]
-
Pengawasan dan Edukasi Petugas Kesehatan
Program pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan bagi petugas kesehatan meningkatkan kesadaran dan keterampilan dalam mencegah infeksi nosokomial, termasuk penggunaan aseptik yang benar. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]
Peran Perawat dalam Pengendalian Infeksi
Perawat memegang peran kunci dalam upaya pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial. Beberapa peran penting perawat adalah:
-
Kepatuhan terhadap Prosedur Kebersihan
Perawat bertanggung jawab untuk menerapkan standar kebersihan termasuk hand hygiene sesuai dengan lima momen cuci tangan yang direkomendasikan oleh WHO. Kepatuhan ini sangat menentukan dalam mencegah penularan patogen. [Lihat sumber Disini - journal2.stikeskendal.ac.id]
-
Implementasi Pencegahan Standar
Perawat menerapkan tindakan aseptik saat memberikan perawatan seperti pemasangan kateter, perawatan luka, dan tindakan invasif lainnya untuk meminimalkan risiko infeksi. [Lihat sumber Disini - opennursingjournal.com]
-
Edukasi Pasien dan Keluarga
Perawat memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya praktik pencegahan, termasuk kebersihan diri dan lingkungan untuk mengurangi risiko infeksi. [Lihat sumber Disini - ukitoraja.id]
-
Pemantauan dan Pelaporan Insiden Infeksi
Secara terus-menerus, perawat memantau tanda-tanda infeksi dan melaporkan setiap kejadian yang mencurigakan kepada tim kesehatan untuk tindakan lebih lanjut. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]
Kesimpulan
Infeksi nosokomial merupakan infeksi yang diperoleh pasien selama menerima perawatan di fasilitas layanan kesehatan dan menjadi ancaman signifikan terhadap keselamatan pasien, kualitas layanan, serta sistem kesehatan secara menyeluruh. Konsep ini mencakup infeksi yang muncul setelah periode tertentu sejak masuk fasilitas tanpa adanya tanda infeksi sebelumnya. Infeksi nosokomial memiliki berbagai jenis termasuk infeksi luka operasi, saluran kemih, pernapasan, dan aliran darah, serta disebabkan oleh berbagai faktor risiko yang melibatkan pasien, tindakan medis, dan lingkungan layanan kesehatan. Dampaknya sangat luas mulai dari meningkatnya morbiditas dan mortalitas hingga beban biaya yang lebih besar serta durasi perawatan yang diperpanjang. Pencegahan infeksi nosokomial dapat dilakukan melalui praktik kebersihan tangan yang baik, penggunaan APD, penerapan protokol sterilisasi, serta edukasi dan pelatihan petugas kesehatan. Perawat memainkan peran sentral dalam pengendalian infeksi melalui kepatuhan terhadap prosedur, edukasi pasien, serta pemantauan kontinu terhadap kejadian infeksi di fasilitas kesehatan. Pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial merupakan upaya bersama yang membutuhkan koordinasi di semua tingkatan layanan kesehatan untuk memastikan keselamatan pasien dan mutu pelayanan yang optimal.