
Risiko Infeksi Nosokomial: Faktor dan Pencegahannya
Pendahuluan
Infeksi nosokomial, atau yang juga sering disebut dengan infeksi terkait pelayanan kesehatan / hospital-acquired infection (HAI), merupakan salah satu tantangan besar dalam dunia layanan kesehatan. Infeksi ini tidak hanya mengancam keselamatan pasien, tetapi juga meningkatkan beban biaya, memperpanjang durasi rawat inap, menurunkan kepercayaan terhadap pelayanan kesehatan, bahkan meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas. [Lihat sumber Disini - news.unair.ac.id]
Dalam konteks rumah sakit di Indonesia, berbagai penelitian menunjukkan bahwa insiden infeksi nosokomial masih terbilang tinggi. Misalnya survei di 11 rumah sakit di DKI Jakarta melaporkan bahwa 9, 8% pasien rawat inap mengalami infeksi nosokomial. [Lihat sumber Disini - ejournal.itekes-bali.ac.id] Oleh karena itu, memahami definisi, faktor risiko, jenis, gejala, serta upaya pencegahan infeksi nosokomial menjadi penting bagi tenaga kesehatan dan manajemen rumah sakit. Artikel ini bertujuan memberikan gambaran komprehensif mengenai risiko infeksi nosokomial: dari pengertian hingga peran tenaga kesehatan dalam pencegahan.
Definisi Infeksi Nosokomial
Definisi Secara Umum
Infeksi nosokomial adalah infeksi yang terjadi pada pasien selama menjalani perawatan atau intervensi medis di rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan, yang sebelumnya pasien tidak menunjukkan gejala penyakit dan tidak dalam masa inkubasi pada saat masuk. [Lihat sumber Disini - yapindo-cdn.b-cdn.net]
Definisi dalam KBBI
Menurut arti harfiah, “nosokomial” merujuk pada sesuatu yang “berkaitan dengan rumah sakit”. Oleh karena itu, infeksi nosokomial menurut KBBI adalah “infeksi yang diperoleh selama berada di rumah sakit / fasilitas pelayanan kesehatan”. Terlepas dari apakah penyebabnya bakteri, virus, jamur, atau mikroorganisme lain, syarat utama adalah infeksi terjadi akibat kontak atau intervensi di lingkungan layanan kesehatan.
Definisi Menurut Para Ahli
-
Menurut artikel “analisis sistem deteksi dini pencegahan dan pengendalian”, infeksi nosokomial didefinisikan sebagai infeksi yang berkembang setelah perawatan di rumah sakit lebih dari 2 × 24 jam, pada pasien yang sebelumnya tidak menunjukkan gejala. [Lihat sumber Disini - yapindo-cdn.b-cdn.net]
-
Dalam literatur keperawatan dan pengendalian infeksi, infeksi nosokomial (HAIs) dianggap sebagai efek negatif yang tidak diinginkan dari pelayanan kesehatan, yang dapat terjadi pada pasien, tenaga kesehatan, pengunjung, atau lingkungan rumah sakit. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-pontianak.ac.id]
-
Sebuah penelitian di ruang rawat inap menyebutkan bahwa penyebab utama infeksi nosokomial adalah kontaminasi bakteri dari lingkungan rumah sakit, baik dari udara, permukaan, peralatan medis, atau tangan petugas. [Lihat sumber Disini - fmj.fk.umi.ac.id]
-
Menurut tinjauan kebijakan pencegahan dan pengendalian infeksi, infeksi nosokomial dianggap sebagai indikator penting mutu layanan kesehatan; dan keberhasilannya sangat bergantung pada pelaksanaan program pencegahan dan kontrol di rumah sakit. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesbaptis.ac.id]
Faktor Risiko Terjadinya Infeksi Rumah Sakit
Infeksi nosokomial tidak terjadi secara kebetulan. Berikut faktor-faktor yang meningkatkan risiko terjadinya:
-
Kondisi pasien yang lemah imunitas, misalnya usia lanjut, bayi, pasien dengan penyakit penyerta, atau pasien yang dalam kondisi kritis. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
-
Penggunaan alat invasif, seperti kateter (urin, vena), tabung endotrakeal, ventilator, infus, serta prosedur medis atau operasi. [Lihat sumber Disini - jurnal.usk.ac.id]
-
Durasi rawat inap yang lama atau perawatan di unit intensif (ICU). [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
-
Lingkungan rumah sakit yang kurang bersih, faktor fisik lingkungan seperti kebersihan kamar, ventilasi, sanitasi, kebersihan permukaan, dan sanitasi peralatan. [Lihat sumber Disini - ojs.widyagamahusada.ac.id]
-
Kepatuhan tenaga kesehatan yang rendah terhadap protokol pencegahan, khususnya praktik kebersihan tangan (hand hygiene), sterilisasi peralatan, dan penggunaan alat pelindung diri (APD). [Lihat sumber Disini - journal2.stikeskendal.ac.id]
-
Beban kerja, pengetahuan, motivasi, dan pelatihan tenaga kesehatan, penelitian menunjukkan hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan & motivasi dengan kepatuhan cuci tangan. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Banyaknya prosedur medis atau perawatan yang dilakukan, semakin banyak intervensi, semakin besar peluang penularan. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Jenis-Jenis Infeksi Nosokomial
Infeksi nosokomial dapat muncul dalam berbagai bentuk, tergantung organ atau sistem yang terlibat. Beberapa jenis yang paling umum:
-
Infeksi Saluran Kemih (ISK / CAUTI), sering terjadi pada pasien dengan kateter urine. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
-
Infeksi Luka Operasi (ILO / SSI), terjadi pada pasien pasca operasi, bila teknik sterilisasi, aseptik, atau perawatan luka kurang sesuai. [Lihat sumber Disini - jurnal.karyakesehatan.ac.id]
-
Infeksi Aliran Darah Primer (IADP / CLABSI), misalnya pada pasien dengan kateter vena pusat atau infus jangka panjang. [Lihat sumber Disini - jurnal.usk.ac.id]
-
Pneumonia, termasuk pneumonia terkait ventilator (VAP), terutama pada pasien dengan ventilator atau tabung pernapasan. [Lihat sumber Disini - journalcenter.org]
-
Infeksi saluran napas, saluran pernapasan atas/bawah, dan infeksi lain sesuai area tubuh, tergantung situasi klinis, prosedur, dan lingkungan. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
Tanda dan Gejala Klinis
Gejala infeksi nosokomial sangat bervariasi, tergantung jenis infeksinya. Beberapa gejala umum:
-
Demam, menggigil, atau peningkatan suhu tubuh. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
-
Nyeri atau kemerahan di lokasi luka atau bekas operasi (untuk infeksi luka operasi). [Lihat sumber Disini - jurnal.karyakesehatan.ac.id]
-
Gejala saluran kemih: nyeri saat berkemih, demam, urine keruh, nyeri pinggang (untuk ISK). [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
-
Gejala pernapasan: batuk, sesak napas, sulit bernapas, dahak, terutama bila terjadi pneumonia atau infeksi saluran pernapasan. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
-
Gejala sistemik: lemas, gangguan kesadaran, penurunan energi, malaise, terutama bila infeksi sudah menyebar (misalnya infeksi darah). [Lihat sumber Disini - fmj.fk.umi.ac.id]
Karena variasinya luas, penting untuk melakukan pemeriksaan dan diagnosis secara tepat agar infeksi nosokomial dapat segera dikenali dan ditangani.
Standar Pencegahan Infeksi
Pencegahan infeksi nosokomial bergantung pada penerapan protokol & praktik kebersihan secara konsisten. Beberapa standar penting:
Hand Hygiene (Cuci Tangan)
Cuci tangan adalah langkah paling dasar dan paling efektif dalam mencegah penularan infeksi. Praktik “five-moment hand hygiene”, yaitu mencuci tangan sebelum kontak dengan pasien, sebelum prosedur aseptik, setelah kontak dengan cairan tubuh/pasien, setelah kontak dengan lingkungan pasien, dan setelah melepas sarung tangan, sangat dianjurkan. [Lihat sumber Disini - journal2.stikeskendal.ac.id]
Penelitian menunjukkan masih ada persentase perawat yang belum patuh terhadap protokol ini, misalnya 33, 6% perawat dalam satu studi gagal melakukan cuci tangan sesuai “5 moment”. [Lihat sumber Disini - journal2.stikeskendal.ac.id]
Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
Tenaga kesehatan harus menggunakan alat pelindung, sarung tangan, masker, penutup wajah, sebelum melakukan prosedur invasif atau kontak erat dengan pasien, untuk mengurangi risiko kontaminasi silang. [Lihat sumber Disini - jurnal.syedzasaintika.ac.id]
Sterilisasi dan Disinfeksi Peralatan Medis & Lingkungan
Peralatan medis, seperti kateter, ventilator, selang infus, instrumen operasi, harus disterilisasi atau dibersihkan secara benar sebelum digunakan ulang. Lingkungan ruang rawat inap juga harus dijaga kebersihan, ventilasi, sanitasi lantai dan permukaan, serta manajemen limbah secara tepat. [Lihat sumber Disini - ojs.widyagamahusada.ac.id]
Penerapan Kebijakan & Protokol PPI (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi)
Manajemen rumah sakit harus menerapkan protokol pencegahan infeksi secara sistematis: audit kebersihan, pelatihan staf, monitoring, dan evaluasi periodik. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesbaptis.ac.id]
Pendidikan & Pelatihan Staf Kesehatan
Pengetahuan, sikap, dan motivasi tenaga kesehatan sangat berpengaruh terhadap kepatuhan praktik keamanan dan kebersihan. Pelatihan rutin, promosi kesadaran, dan supervisi diperlukan agar protokol dapat dijalankan ketat. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesdam4dip.ac.id]
Peran Tenaga Kesehatan dalam Pencegahan Infeksi
Tenaga kesehatan, termasuk dokter, perawat, petugas kebersihan, dan staf pendukung, memegang peran kunci dalam pencegahan infeksi nosokomial. Beberapa peran utama:
-
Melaksanakan hand hygiene secara konsisten dan benar. Pelanggaran terhadap cuci tangan dapat menjadi pintu masuk mikroorganisme patogen. [Lihat sumber Disini - journal2.stikeskendal.ac.id]
-
Menggunakan APD sesuai prosedur saat kontak dengan pasien, terutama saat prosedur invasif atau dengan pasien berisiko tinggi. [Lihat sumber Disini - jurnal.syedzasaintika.ac.id]
-
Memastikan sterilisasi dan disinfeksi peralatan serta lingkungan rawat inap. Kebersihan lingkungan dan sanitasi ruangan sangat berperan dalam menekan angka kontaminasi. [Lihat sumber Disini - ojs.widyagamahusada.ac.id]
-
Memberikan edukasi dan promosi kesehatan kepada pasien dan keluarga, agar mereka juga memahami pentingnya kebersihan, perawatan luka, dan tindakan pencegahan sebagai bagian dari pencegahan infeksi. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesbaptis.ac.id]
-
Berpartisipasi dalam program PPI (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi) institusional, dengan mengikuti kebijakan, pelaporan, audit, dan evaluasi berkala agar standar keselamatan terjaga. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-pontianak.ac.id]
Contoh Kasus Infeksi Nosokomial
Salah satu studi terbaru di 2025 melaporkan bahwa pelaksanaan protokol pencegahan infeksi di ICU, meskipun telah dilakukan, tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap angka infeksi nosokomial di ruang ICU di sebuah rumah sakit di Jepara. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
Artinya, meskipun prosedur sudah ada, keberhasilan pencegahan sangat bergantung kepada konsistensi pelaksanaan, kepatuhan petugas, dan kondisi lingkungan.
Penelitian lain menemukan bahwa ketidakpatuhan terhadap cuci tangan (hand hygiene) masih cukup tinggi, sehingga meningkatkan risiko infeksi luka operasi, infeksi saluran kemih, infeksi aliran darah, dan infeksi lainnya. [Lihat sumber Disini - jurnal.karyakesehatan.ac.id]
Kasus pada pasien pasca operasi di sebuah rumah sakit di Jakarta tahun 2023 misalnya menunjukkan beberapa kejadian Infeksi Daerah Operasi (IDO) karena perawatan luka pasca bedah yang tidak optimal. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
Kesimpulan
Infeksi nosokomial, atau infeksi yang diperoleh selama perawatan di fasilitas kesehatan, tetap menjadi masalah serius di banyak rumah sakit. Faktor risiko seperti imunitas pasien, penggunaan alat invasif, lama rawat inap, lingkungan kurang bersih, dan ketidakpatuhan petugas pada protokol pencegahan semuanya berkontribusi terhadap tingginya angka kejadian.
Upaya pencegahan, terutama praktik hand hygiene, penggunaan APD, sterilisasi, dan penerapan kebijakan pencegahan & pengendalian infeksi (PPI) secara konsisten, sangat penting untuk meminimalkan risiko. Tenaga kesehatan memiliki peran kunci dalam menjaga keamanan pasien dan kualitas layanan.
Dengan pemahaman dan komitmen bersama, dari manajemen rumah sakit, staf kesehatan, pasien, hingga keluarga, risiko infeksi nosokomial dapat ditekan secara signifikan, sehingga pelayanan kesehatan bisa lebih aman, efektif, dan bermutu tinggi.