
Gangguan Pola Seksualitas: Pengertian dan Dampaknya
Pendahuluan
Dalam konteks kesehatan reproduksi dan keperawatan, pemahaman terhadap gangguan pola seksualitas menjadi sangat penting. Gangguan seksualitas tidak hanya menyangkut aspek fisik, tetapi juga berdampak pada kondisi psikologis, kualitas hidup, serta hubungan interpersonal dan peran sosial individu. Di Indonesia dan dunia, berbagai penelitian menunjukkan bahwa disfungsi seksual maupun penyimpangan dalam pola seksualitas menjadi masalah kesehatan yang signifikan, baik pada wanita maupun pria, serta pada berbagai fase kehidupan, termasuk masa reproduksi, pasca persalinan, maupun masa menopause. Oleh karena itu, penting bagi tenaga kesehatan, termasuk perawat, untuk memahami definisi, penyebab, dampak, penilaian, serta intervensi yang tepat terhadap gangguan pola seksualitas agar pasien memperoleh perawatan dan dukungan yang holistik.
Definisi Gangguan Pola Seksualitas
Definisi Gangguan Pola Seksualitas Secara Umum
Gangguan pola seksualitas merujuk pada kondisi di mana individu mengalami kesulitan atau ketidaknyamanan dalam aspek-aspek seksualitas, yang dapat mencakup hasrat, gairah, respon seksual, kepuasan, orientasi, atau fungsi seksual secara umum. Istilah ini sering mencakup gangguan fungsi seksual (sexual dysfunction), penyimpangan preferensi seksual (sexual disorders), dan berbagai kondisi psikoseksual. Menurut literatur internasional, gangguan seksual dapat meliputi masalah dalam keinginan seksual, stimulasi/arousal, orgasme, atau rasa sakit saat hubungan seksual. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Definisi Gangguan Pola Seksualitas dalam Kamus (KBBI dan sejenisnya)
Saat ini tidak terdapat definisi spesifik “gangguan pola seksualitas” dalam versi daring KBBI yang secara komprehensif menggabungkan dimensi fisik dan psikososial seperti dalam literatur medis. Istilah yang lebih umum digunakan dalam literatur keperawatan dan seksologi adalah “disfungsi seksual” (sexual dysfunction) atau “gangguan seksual/disorder seksual”. Oleh karena itu, dalam artikel ini istilah “gangguan pola seksualitas” digunakan sebagai istilah payung yang merujuk pada berbagai gangguan seksual maupun penyimpangan pola seksual, selaras dengan definisi dalam literatur ilmiah.
Definisi Gangguan Pola Seksualitas Menurut Para Ahli
Berikut beberapa definisi menurut para ahli dan literatur riset:
-
Menurut spesialis kejiwaan dan seksologi, gangguan seksual (sexual dysfunction) didefinisikan sebagai “kesulitan yang dialami individu atau pasangan dalam satu atau lebih tahap aktivitas seksual normal, termasuk hasrat, gairah, orgasme, atau kepuasan”, serta dapat mencakup rasa sakit selama hubungan seksual. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) dalam edisi-edisinya mengklasifikasikan beberapa jenis gangguan seksual seperti “hypoactive sexual desire disorder”, “female sexual interest/arousal disorder”, disfungsi ereksi, disfungsi orgasme, disfungsi akibat nyeri/penetrasi, serta gangguan akibat penggunaan zat/medikasi. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Studi di Indonesia menunjukkan bahwa disfungsi seksual pada wanita, misalnya setelah persalinan, dapat berupa gangguan hasrat seksual (sexual desire disorder). [Lihat sumber Disini - jurnal.ugm.ac.id]
-
Penelitian pada perempuan menopause menunjukkan bahwa gangguan fungsi seksual dipengaruhi aspek psikoseksual dan bahwa intervensi psikoseksual dapat memperbaiki fungsi seksual. [Lihat sumber Disini - journal.ipm2kpe.or.id]
Faktor Penyebab Gangguan Seksualitas
Gangguan pola seksualitas dapat dipicu oleh berbagai faktor, biologis, psikologis, sosial, maupun budaya. Di bawah ini adalah beberapa faktor utama berdasarkan literatur:
-
Faktor Fisiologis dan Kesehatan, Kondisi medis seperti penyakit kronis (misalnya Diabetes Mellitus) dapat menyebabkan disfungsi seksual baik pada pria maupun wanita. [Lihat sumber Disini - medikakartika.unjani.ac.id]
-
Perubahan Usia dan Fase Kehidupan, Pada perempuan menopause, perubahan hormonal dan fisiologis sering berhubungan dengan penurunan fungsi seksual, seperti berkurangnya pelumasan vagina, nyeri saat hubungan seksual, serta menurunnya hasrat. [Lihat sumber Disini - journal.ipm2kpe.or.id]
-
Proses Persalinan dan Pascapersalinan, Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa wanita pascasalin (baik persalinan spontan maupun sesar) dapat mengalami gangguan hasrat seksual. [Lihat sumber Disini - jurnal.ugm.ac.id]
-
Faktor Psikologis, Stress, kecemasan, depresi, citra tubuh negatif, beban emosional, atau ketidakharmonisan dalam hubungan dapat mempengaruhi fungsi seksual. [Lihat sumber Disini - ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id]
-
Faktor Sosial dan Lingkungan, Paparan terhadap pornografi, media sosial, dan norma-norma budaya atau agama dapat mempengaruhi persepsi, harapan, dan perilaku seksual, terutama pada remaja atau individu muda. [Lihat sumber Disini - ejournal.urindo.ac.id]
-
Faktor Psikoseksual & Edukasi Seksual, Kurangnya pengetahuan, edukasi seksual, atau komunikasi dalam pasangan dapat menjadi pemicu dan memperburuk gangguan pola seksualitas. [Lihat sumber Disini - journal.ipm2kpe.or.id]
Dampak Fisik dan Psikologis pada Pasien
Gangguan pola seksualitas, terutama disfungsi seksual, dapat membawa berbagai dampak, baik pada aspek fisik maupun psikologis dan sosial. Berikut beberapa dampaknya:
-
Penurunan kualitas kehidupan seksual dan hubungan interpersonal, Individu mungkin kehilangan kenikmatan, gairah, atau kepuasan seksual, yang dapat merusak keintiman antara pasangan dan menyebabkan friksi dalam hubungan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Penurunan frekuensi hubungan seksual, Sebuah penelitian pada wanita perimenopause di Banten menunjukkan bahwa disfungsi seksual berhubungan dengan penurunan frekuensi hubungan seksual. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Dampak psikologis: stres, kecemasan, depresi, rendah diri, Ketidakpuasan seksual bisa memicu rasa tidak aman, rendah diri, stres, dan gangguan emosional lainnya. [Lihat sumber Disini - ejournal.yayasanpendidikandzurriyatulquran.id]
-
Gangguan kesehatan reproduksi dan fungsi fisik, Disfungsi seksual seperti disfungsi hasrat, gairah atau nyeri saat hubungan seksual bisa menurunkan kesehatan reproduksi, menimbulkan nyeri kronis, dan mengganggu kualitas hidup. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Dampak sosial dan peran kehidupan, Individu yang mengalami gangguan bisa merasa malu, menarik diri, atau menghindar dari hubungan sosial/intim, serta mungkin mengalami isolasi atau konflik dalam kehidupan berpasangan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Penilaian Pola Seksualitas dalam Keperawatan
Dalam keperawatan, penilaian pola seksualitas penting dilakukan sebagai bagian dari holistik care. Berikut beberapa aspek yang perlu diperhatikan:
-
Anamnesis dan Wawancara Seksual, Menanyakan riwayat kesehatan seksual, fungsi seksual, kepuasan, harapan, dan masalah yang dialami pasien serta konteks budaya, sosial, dan psikologis.
-
Penggunaan Instrumen Valid, Misalnya kuesioner untuk mengukur disfungsi seksual atau hasrat seksual; dalam penelitian di Indonesia, instrumen seperti Female Sexual Function Index (FSFI) digunakan untuk menilai gangguan hasrat pada wanita pascasalin. [Lihat sumber Disini - jurnal.ugm.ac.id]
-
Asesmen Faktor Pendukung & Pemicu, Meliputi kondisi medis (penyakit kronis, hormonal), faktor psikologis (stress, depresi), kondisi relasi dan komunikasi pasangan, serta latar belakang sosial, termasuk budaya, nilai, dan edukasi seksual.
-
Pendekatan Multidisipliner, Jika diperlukan melibatkan dokter, psikolog/psikiater, konselor seks, serta tenaga keperawatan untuk pemetaan masalah dan penentuan intervensi.
-
Dokumentasi & Privasi, Pastikan privasi, kerahasiaan, dan empati saat menggali aspek seksual karena topik ini sensitif.
Peran Perawat dalam Edukasi dan Dukungan Psikologis
Perawat memiliki peran sentral dalam mendeteksi, mendampingi, dan memberi edukasi serta dukungan psikologis kepada pasien yang mengalami gangguan pola seksualitas. Beberapa peran penting antara lain:
-
Memberikan edukasi seksual yang benar dan komprehensif, meliputi anatomi, fisiologi reproduksi, perubahan tubuh, penyebab disfungsi, serta normalisasi perubahan, terutama pada fase persalinan atau menopause.
-
Menjadi fasilitator komunikasi antara pasangan, membantu menciptakan dialog terbuka tentang kebutuhan, harapan, dan kekhawatiran seksual.
-
Memberikan dukungan psikologis dan konseling, membantu pasien mengatasi rasa malu, kecemasan, depresi, atau stres yang berkaitan dengan disfungsi seksual atau ketidakpuasan seksual.
-
Mengedukasi perilaku seksual sehat dan pencegahan risiko, termasuk literasi media, pornografi, ekspektasi realistis, dan penghormatan terhadap kesehatan reproduksi.
-
Rujukan ke profesional lain jika dibutuhkan, seperti dokter, psikolog/psikiater, konselor seks, untuk evaluasi lebih mendalam atau terapi lanjutan.
Intervensi untuk Mengatasi Gangguan Seksualitas
Berdasarkan literatur riset dan praktik keperawatan, beberapa intervensi efektif dapat dilakukan untuk mengatasi gangguan pola seksualitas:
-
Psikoedukasi dan Psikoseksual, Misalnya penelitian pada perempuan menopause menunjukkan bahwa intervensi psikoseksual dapat meningkatkan skor fungsi seksual signifikan dibanding kelompok kontrol. [Lihat sumber Disini - journal.ipm2kpe.or.id]
-
Konseling Pasangan / Terapi Pasangan, Mengatasi konflik, komunikasi, harapan, dan kepuasan seksual bersama pasangan.
-
Manajemen Faktor Medis, Jika disfungsi disebabkan oleh kondisi medis (seperti diabetes, hormonal, penyakit kronis), maka manajemen penyakit dasar penting dilakukan. [Lihat sumber Disini - medikakartika.unjani.ac.id]
-
Pendekatan Holistik dalam Pemenuhan Kesehatan Reproduksi, Memperhatikan aspek fisik, psikologis, sosial dan budaya dalam pendekatan keperawatan agar pemulihan lebih optimal dan berkelanjutan.
-
Pencegahan melalui Edukasi Seksual Preventif, Meningkatkan literasi seksual dalam masyarakat, termasuk remaja, tentang seksualitas sehat, risiko pornografi, penyimpangan, dan perilaku seksual berisiko. [Lihat sumber Disini - ejournal.urindo.ac.id]
Contoh Kasus Gangguan Pola Seksualitas
Sebagai ilustrasi nyata, berikut dua contoh kasus berdasarkan studi di Indonesia:
-
Kasus Pasca Persalinan: Penelitian di RSUD Panembahan Senopati Bantul, Yogyakarta, melaporkan bahwa pada wanita 2, 6 bulan pascasalin, terdapat prevalensi gangguan hasrat seksual (sexual desire disorder) cukup tinggi, 62, 3% pada persalinan vaginal dan 55, 1% pada persalinan sesar. [Lihat sumber Disini - jurnal.ugm.ac.id]
-
Kasus Menopause: Studi di Kelurahan Timbangan Indralaya Utara terhadap perempuan menopause menunjukkan bahwa intervensi psikoseksual meningkatkan skor fungsi seksual setelah intervensi dibanding sebelum intervensi dan dibanding kelompok kontrol. [Lihat sumber Disini - journal.ipm2kpe.or.id]
Kesimpulan
Gangguan pola seksualitas, mencakup disfungsi seksual maupun penyimpangan pola seksual, adalah masalah kompleks yang dapat dipengaruhi berbagai faktor: biologis, psikologis, sosial, dan budaya. Dampaknya meliputi penurunan kualitas hidup, kesehatan reproduksi, kesehatan psikologis, dan relasi interpersonal. Di bidang keperawatan, peran perawat sangat penting dalam melakukan penilaian, edukasi, konseling, dan intervensi holistik. Dengan pendekatan yang tepat, termasuk psikoedukasi, konseling, manajemen medis, dan literasi seksual, gangguan seksual dapat dicegah atau diminimalkan efeknya, serta kualitas hidup individu dan pasangan dapat meningkat. Oleh karena itu, pemahaman mendalam dan respons profesional terhadap isu ini menjadi keharusan dalam praktik keperawatan dan layanan kesehatan reproduksi.