
Persepsi Penyakit: Konsep dan Respons Individu
Pendahuluan
Persepsi terhadap penyakit merupakan salah satu aspek penting dalam psikologi kesehatan karena dapat memengaruhi bagaimana individu memandang kondisi kesehatannya, menentukan respons emosionalnya, serta mengambil keputusan terkait perilaku pengobatan dan manajemen penyakit. Pemahaman individu terhadap penyakit tidak hanya melibatkan aspek kognitif, tetapi juga emosional dan sosial, sehingga persepsi penyakit menjadi prediktor penting dalam hasil kesehatan dan kesejahteraan individu yang mengalami kondisi medis kronis maupun akut. Penelitian di berbagai setting medis di Indonesia menunjukkan bahwa persepsi penyakit dapat berkaitan erat dengan kepatuhan terapi, kualitas hidup pasien, serta perilaku perawatan diri secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Definisi Persepsi Penyakit
Definisi Persepsi Penyakit Secara Umum
Persepsi penyakit atau illness perception merupakan cara individu memahami, menilai, dan menginterpretasikan pengalaman penyakit yang dialaminya, termasuk keyakinan tentang penyebab, durasi, dampak, serta kontrol atau kemampuan untuk mengelola penyakit tersebut. Persepsi ini mencakup penilaian kognitif dan emosional yang secara bersama-sama membentuk cara pandang individu terhadap kondisi kesehatannya. Persepsi penyakit juga memengaruhi keputusan dan tindakan yang diambil dalam proses pengobatan atau pemulihan. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Definisi Persepsi Penyakit dalam KBBI
Istilah persepsi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merujuk pada proses kognitif berupa cara seseorang menerima, menyeleksi, mengorganisasikan, mengartikan, dan memberikan reaksi terhadap rangsangan atau informasi yang diterima melalui alat indra. Ketika dikaitkan dengan penyakit, istilah ini merujuk pada bagaimana individu memaknai dan memahami informasi yang berkaitan dengan kondisi penyakitnya, baik dari aspek biologis maupun pengalaman subjektif pribadi. [Lihat sumber Disini - koloni.or.id]
Definisi Persepsi Penyakit Menurut Para Ahli
Moss-Morris et al. (2002) menjelaskan bahwa persepsi penyakit merupakan gambaran kognitif yang dimiliki pasien tentang penyakit mereka, termasuk keyakinan tentang gejala, durasi, konsekuensi, kemampuan kontrol, serta pengaruh pengobatan yang akan mempengaruhi perilaku pasien terhadap kondisi kesehatannya. [Lihat sumber Disini - repository.unej.ac.id]
Lorensia & Lisiska (2011) menyatakan bahwa illness perception adalah respons subjektif pasien terhadap penyakit yang terbentuk melalui pengalaman dan lingkungan mereka, yang kemudian memengaruhi pengelolaan diri (self-management) dan outcome klinis kondisi kesehatan. [Lihat sumber Disini - repository.ubaya.ac.id]
B-IPQ Research (2025) memaparkan bahwa persepsi penyakit terdiri dari dimensi kognitif dan emosional, mencakup aspek seperti konsekuensi, timeline, personal control, treatment control, identity, concern, illness coherence, dan emotional response. [Lihat sumber Disini - repository.ubaya.ac.id]
Damianus (2021) menunjukkan bahwa persepsi penyakit merupakan keyakinan dan ekspektasi individu terkait penyakit yang dialaminya, yang dapat berkorelasi dengan kondisi psikologis seperti depresi atau kecemasan pasien. [Lihat sumber Disini - ejournal.atmajaya.ac.id]
Dimensi Persepsi Penyakit
Persepsi penyakit tidak hanya merupakan pengetahuan tentang penyakit, tetapi juga mencakup beberapa dimensi kognitif dan emosional yang mendasari bagaimana individu memandang kondisinya. Beberapa dimensi utama yang sering digunakan dalam literatur psikologi kesehatan dan diukur melalui instrumen seperti Brief Illness Perception Questionnaire (B-IPQ) antara lain:
Consequences (Konsekuensi), persepsi individu mengenai dampak penyakit terhadap kehidupan sehari-hari, aktivitas, dan kualitas hidupnya. [Lihat sumber Disini - repository.ubaya.ac.id]
Timeline (Durasi Penyakit), keyakinan individu tentang berapa lama penyakit akan berlangsung, apakah bersifat sementara atau kronis. [Lihat sumber Disini - repository.ubaya.ac.id]
Personal Control (Kontrol Pribadi), rasa percaya individu terhadap kemampuannya untuk mengendalikan atau memengaruhi kondisi penyakitnya melalui tindakan sendiri. [Lihat sumber Disini - repository.ubaya.ac.id]
Treatment Control (Kontrol melalui Pengobatan), keyakinan individu bahwa pengobatan atau intervensi medis dapat membantu mengatasi penyakit. [Lihat sumber Disini - repository.ubaya.ac.id]
Identity (Identitas Penyakit), label atau gejala yang secara subjektif dihubungkan pasien dengan kondisi penyakit yang dialami. [Lihat sumber Disini - repository.ubaya.ac.id]
Concern (Kekhawatiran), tingkat kekhawatiran atau perhatian yang dirasakan individu terhadap penyakit. [Lihat sumber Disini - repository.ubaya.ac.id]
Illness Coherence (Koherensi Penyakit), sejauh mana individu merasa bahwa mereka memahami penyakitnya secara logis dan konsisten. [Lihat sumber Disini - repository.ubaya.ac.id]
Emotional Response (Respons Emosional), respon emosional negatif yang muncul akibat persepsi terhadap penyakit, seperti kecemasan, takut, atau frustasi. [Lihat sumber Disini - repository.ubaya.ac.id]
Keseluruhan dimensi ini membentuk gambaran holistik tentang bagaimana seseorang melihat penyakitnya, dan masing-masing komponen ini dapat memengaruhi perilaku dan kesejahteraan pasien secara berbeda. [Lihat sumber Disini - repository.ubaya.ac.id]
Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Penyakit
Terdapat berbagai faktor yang berkontribusi dalam pembentukan persepsi penyakit pada individu, antara lain:
Pengalaman Pribadi dengan Penyakit: Individu yang pernah mengalami kondisi serupa atau memiliki gejala penyakit cenderung memiliki pemahaman yang lebih tajam tentang kondisi tersebut dibandingkan individu yang belum pernah mengalami secara langsung. [Lihat sumber Disini - repository.ubaya.ac.id]
Tingkat Pengetahuan dan Pendidikan: Pengetahuan yang memadai tentang kondisi medis, prosedur pengobatan, serta informasi kesehatan yang valid dapat memengaruhi persepsi individu terhadap penyakit, memperbaiki respons, dan meningkatkan keputusan pengobatan. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Dukungan Sosial: Interaksi dengan keluarga, teman, serta tenaga kesehatan dapat membantu membentuk pemahaman tentang penyakit serta meningkatkan kepercayaan diri dalam pengelolaan kondisi kesehatan. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Pengalaman Emosional dan Psikologis: Emosi seperti kecemasan, rasa takut, atau stres terkait kondisi kesehatan dapat memperkuat atau memperlemah persepsi seseorang terhadap penyakit tersebut dan bagaimana mereka meresponsnya. [Lihat sumber Disini - ejournal.atmajaya.ac.id]
Budaya dan Keyakinan Pribadi: Nilai budaya dan kepercayaan pribadi tentang penyebab penyakit serta pengobatan tradisional atau modern juga dapat mempengaruhi cara seseorang memahami dan merespons penyakitnya. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Persepsi Penyakit dan Respons Emosional
Persepsi penyakit memiliki dampak yang kuat terhadap respons emosional individu. Persepsi yang negatif atau pesimis terhadap penyakit dapat memicu kecemasan, stres, bahkan depresi, yang pada gilirannya dapat memengaruhi kualitas hidup pasien dan kemampuan mereka untuk menangani penyakit secara efektif. Misalnya, pada penderita penyakit kardiovaskular, persepsi penyakit yang buruk sering dikaitkan dengan gejala depresi yang lebih tinggi, sementara persepsi positif dapat membantu menurunkan kecemasan dan meningkatkan coping. [Lihat sumber Disini - ejournal.atmajaya.ac.id]
Respons emosional ini bukan hanya sekadar reaksi psikologis, tetapi juga dapat memengaruhi fisiologi tubuh pasien serta keterlibatan mereka dalam perawatan diri yang preventif atau kuratif. Pasien yang memiliki persepsi negatif terhadap penyakit cenderung menunjukkan tingkat kekhawatiran yang lebih tinggi dan mungkin enggan berpartisipasi aktif dalam pengobatan, dibandingkan pasien yang memiliki persepsi optimistik tentang penyakitnya. [Lihat sumber Disini - ejournal.atmajaya.ac.id]
Persepsi Penyakit dan Perilaku Pengobatan
Persepsi penyakit memainkan peran penting dalam menentukan perilaku pengobatan individu, termasuk kepatuhan terhadap terapi, pengambilan keputusan medis, serta keterlibatan dalam kegiatan pengelolaan diri (self-management). Beberapa penelitian di Indonesia menunjukkan hubungan yang signifikan antara persepsi penyakit dengan kepatuhan pasien terhadap pengobatan, khususnya pada pasien dengan penyakit kronis seperti gagal ginjal kronis maupun diabetes mellitus. [Lihat sumber Disini - journal.ubm.ac.id]
Illness perception dapat memengaruhi bagaimana pasien melihat relevansi pengobatan bagi kesehatannya dan sejauh mana mereka merasa mampu atau termotivasi untuk menjalankan saran medis yang diberikan. Persepsi positif umumnya dikaitkan dengan peningkatan kepatuhan pengobatan dan hasil klinis yang lebih baik, sedangkan persepsi maladaptif dapat menyebabkan penundaan pengobatan atau ketidakpatuhan. [Lihat sumber Disini - journal.ubm.ac.id]
Dampak Persepsi Penyakit terhadap Kesejahteraan
Pemahaman individu terhadap penyakit tidak hanya memengaruhi aspek perilaku pengobatan, tetapi juga berdampak pada kesejahteraan secara keseluruhan. Persepsi penyakit yang adaptif dapat meningkatkan keterampilan pengelolaan diri (self-management), memperkuat kontrol diri dalam rutinitas kesehatan, serta memperbaiki kualitas hidup pasien, sementara persepsi maladaptif dapat memperburuk kondisi psikososial dan fisik pasien serta menurunkan kesejahteraan. [Lihat sumber Disini - journal.lppm-stikesfa.ac.id]
Misalnya, pada pasien kanker payudara, penelitian menunjukkan bahwa persepsi penyakit merupakan salah satu determinan utama kualitas hidup yang memengaruhi bagaimana pasien beradaptasi dengan kondisi medis mereka, termasuk respons terhadap terapi dan dukungan psikososial. [Lihat sumber Disini - journal.lppm-stikesfa.ac.id]
Kesimpulan
Persepsi penyakit adalah komponen penting dalam psikologi kesehatan yang mencakup penilaian kognitif dan emosional individu terhadap penyakit yang dialaminya. Definisi persepsi penyakit mencakup cara individu memahami, menafsirkan, dan merespons penyakit, yang dapat berbeda-beda berdasarkan pengalaman, pengetahuan, dukungan sosial, serta faktor budaya. Dimensi utama persepsi penyakit seperti konsekuensi, durasi, kontrol pribadi dan melalui pengobatan, serta respons emosional membentuk cara pandang individu terhadap kondisi kesehatannya. Persepsi penyakit mempunyai implikasi yang signifikan pada respons emosional, perilaku pengobatan, kepatuhan terapi, dan kesejahteraan secara menyeluruh. Pemahaman yang lebih baik tentang persepsi penyakit dapat membantu tenaga kesehatan merancang intervensi yang lebih efektif untuk meningkatkan pengelolaan penyakit dan hasil kesehatan pasien.