
Health Belief: Konsep dan Persepsi Risiko
Pendahuluan
Perubahan perilaku kesehatan individu merupakan salah satu tantangan terbesar dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Banyak intervensi kesehatan gagal mencapai target karena perilaku individu tidak berubah meskipun informasi kesehatan sudah diberikan secara luas. Salah satu pendekatan teoritis yang paling sering digunakan untuk memahami perbedaan antara pengetahuan kesehatan dan perilaku nyata adalah Health Belief Model (HBM). Model ini menekankan peran persepsi individu terhadap ancaman kesehatan, manfaat tindakan pencegahan, hambatan yang dirasakan, serta faktor-faktor lain dalam menentukan apakah seseorang akan mengambil tindakan kesehatan tertentu atau tidak [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov].
Definisi Health Belief
Definisi Health Belief Secara Umum
Health Belief, atau keyakinan kesehatan, pada dasarnya merupakan pandangan, penilaian, dan keyakinan individu tentang kondisi kesehatan dirinya sendiri, termasuk risiko kemungkinan sakit, dampak penyakit tersebut, serta manfaat dan hambatan dalam mengambil tindakan preventif atau kuratif. Dalam konteks perilaku kesehatan, Health Belief Model digunakan sebagai kerangka kerja untuk memahami dan meramalkan perilaku kesehatan dengan melihat bagaimana individu menilai risiko dan konsekuensi serta bagaimana penilaian tersebut mendorong tindakan sehat atau tidak sehat [Lihat sumber Disini - ruralhealthinfo.org].
Definisi Health Belief dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), belief diartikan sebagai keyakinan atau kepercayaan, sedangkan health berarti kesehatan. Secara bahasa, health belief berarti kepercayaan atau keyakinan tentang kesehatan, mencakup persepsi tentang apa yang sehat atau tidak, keyakinan terhadap risiko penyakit, serta kecenderungan untuk mengambil atau menolak tindakan kesehatan berdasarkan penilaian tersebut. Definisi ini konsisten dengan konsep Health Belief Model dari disiplin ilmu perilaku kesehatan yang menekankan keyakinan subjektif individu sebagai penggerak perilaku kesehatan [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org].
Definisi Health Belief Menurut Para Ahli
Rosenstock et al. mendefinisikan Health Belief Model (HBM) sebagai model psikologis yang menjelaskan bahwa perilaku kesehatan individu dipengaruhi oleh persepsi mereka terhadap kerentanan terhadap penyakit, keparahan kondisi penyakit, manfaat dari tindakan pencegahan, hambatan terhadap tindakan itu, serta faktor lain seperti isyarat untuk bertindak dan keyakinan diri (self-efficacy) [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov].
Gasper (Ilmu Perilaku Kesehatan) menjelaskan bahwa HBM adalah model yang digunakan untuk menjelaskan dan memprediksi perilaku kesehatan individu berdasarkan keyakinan mereka terhadap risiko dan konsekuensi kesehatan, serta kemampuan mereka untuk bertindak sesuai dengan keyakinan tersebut [Lihat sumber Disini - media.neliti.com].
Laili et al. dalam penelitian hubungannya dengan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi menyatakan bahwa HBM membantu menganalisis kesadaran dan perilaku kesehatan individu melalui keyakinan yang mempengaruhi keputusan pengobatan dan pencegahan penyakit [Lihat sumber Disini - ejournal.stikesrshusada.ac.id].
Damayanti menunjukkan HBM sebagai teori yang menggambarkan bagaimana masyarakat melihat upaya pencegahan penyakit di tengah ancaman kesehatan, misalnya dalam konteks pandemi COVID-19, melalui pemahaman persepsi risiko dan tindakan kesehatan [Lihat sumber Disini - journal.unibos.ac.id].
Komponen Utama Health Belief
Health Belief Model terdiri dari beberapa komponen utama yang berperan dalam menentukan keputusan individu untuk mengambil atau menolak perilaku kesehatan tertentu:
1. Persepsi Kerentanan (Perceived Susceptibility)
Komponen ini merujuk pada seberapa besar individu merasa rentan atau mungkin terkena suatu penyakit atau kondisi kesehatan tertentu. Individu yang merasa lebih rentan terhadap penyakit cenderung lebih mungkin melakukan tindakan kesehatan pencegahan [Lihat sumber Disini - ruralhealthinfo.org].
2. Persepsi Keparahan (Perceived Severity)
Merupakan penilaian individu terhadap seberapa serius konsekuensi penyakit atau kondisi kesehatan yang dihadapi, baik dari sisi kesehatan, sosial, maupun ekonomi. Semakin besar persepsi keparahan, semakin besar kemungkinan individu mengambil tindakan pencegahan [Lihat sumber Disini - ruralhealthinfo.org].
3. Persepsi Manfaat (Perceived Benefits)
Melibatkan keyakinan individu bahwa tindakan tertentu akan efektif mencegah atau mengurangi dampak penyakit. Penilaian positif terhadap manfaat tindakan kesehatan dapat meningkatkan motivasi untuk bertindak [Lihat sumber Disini - ruralhealthinfo.org].
4. Persepsi Hambatan (Perceived Barriers)
Hambatan pribadi, sosial, atau lingkungan yang dirasakan dapat mengurangi kemungkinan individu melakukan tindakan kesehatan. Hambatan ini bisa berupa biaya, waktu, rasa sakit, stigma sosial, atau kurangnya informasi [Lihat sumber Disini - ruralhealthinfo.org].
5. Cues to Action (Isyarat untuk Bertindak)
Faktor internal atau eksternal yang mendorong individu untuk bertindak, seperti kampanye kesehatan, nasihat dokter, atau pengalaman teman/keluarga yang terkena penyakit [Lihat sumber Disini - ruralhealthinfo.org].
6. Self-Efficacy (Keyakinan Diri)
Kemampuan atau keyakinan individu bahwa dirinya mampu melaksanakan tindakan kesehatan tersebut secara sukses. Konstruksi ini ditambahkan ke model untuk meningkatkan prediktabilitas terhadap perilaku [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov].
Persepsi Risiko dalam Health Belief
Persepsi risiko merupakan salah satu elemen paling penting dalam Health Belief Model. Persepsi ini mencakup dua aspek utama: persepsi kerentanan dan keparahan. Individu yang menilai dirinya sangat mungkin terkena penyakit dan menyadari dampak serius dari penyakit tersebut biasanya lebih termotivasi untuk mengambil tindakan pencegahan, dibanding mereka yang menilai risiko rendah [Lihat sumber Disini - ruralhealthinfo.org].
Persepsi risiko dalam konteks HBM juga dipengaruhi oleh faktor emosional dan pengalaman pribadi, bukan hanya informasi rasional tentang probabilitas penyakit. Misalnya, pengalaman melihat kerabat menderita penyakit tertentu dapat meningkatkan persepsi risiko seseorang, sehingga meningkatkan kemungkinan mereka mengambil tindakan pencegahan seperti vaksinasi atau pemeriksaan berkala [Lihat sumber Disini - researchgate.net].
Dalam penelitian tertentu yang mengkaji skrining kanker serviks, rendahnya persepsi risiko, baik kerentanan maupun keparahan, ditunjukkan sebagai salah satu faktor utama rendahnya partisipasi dalam deteksi dini. Hambatan-hambatan seperti rasa malu, keterbatasan akses layanan, biaya, dan ketakutan juga memperkuat rendahnya partisipasi skrining, yang menegaskan peran besar persepsi risiko dalam pengambilan keputusan kesehatan [Lihat sumber Disini - researchgate.net].
Faktor yang Mempengaruhi Health Belief
Health belief dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik internal maupun eksternal, antara lain:
1. Pengetahuan dan Literasi Kesehatan
Individu dengan pengetahuan yang baik tentang penyakit, risiko, dan tindakan pencegahan cenderung memiliki persepsi risiko yang lebih realistis dan keyakinan terhadap manfaat tindakan kesehatan.
2. Pengalaman Pribadi dan Sosial
Pengalaman diri atau orang dekat yang mengalami penyakit dapat meningkatkan kesadaran risiko dan keparahan penyakit, sehingga mempengaruhi Health Belief secara signifikan.
3. Faktor Sosial dan Budaya
Norma sosial, nilai budaya, serta dukungan keluarga dan komunitas dapat mempengaruhi keyakinan individu terhadap kesehatan dan tindakan pencegahan yang layak diambil.
4. Akses terhadap Layanan Kesehatan
Kemudahan atau kesulitan dalam mengakses layanan kesehatan mempengaruhi persepsi hambatan dan keyakinan terhadap efektivitas tindakan preventif atau kuratif.
5. Isyarat untuk Bertindak
Informasi dari kampanye kesehatan, rekomendasi tenaga kesehatan, atau pengalaman komunitas dapat bertindak sebagai triggers penting yang memacu tindakan kesehatan [Lihat sumber Disini - ruralhealthinfo.org].
Health Belief dan Perilaku Kesehatan
Health Belief Model secara luas digunakan untuk memahami dan memprediksi perilaku kesehatan seperti vaksinasi, kepatuhan minum obat, pemeriksaan dini penyakit, dan tindakan pencegahan lainnya. Misalnya dalam studi yang dilakukan oleh Laili et al., ditemukan hubungan signifikan antara Health Belief Model dengan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi, dimana individu yang memiliki persepsi tinggi terhadap risiko penyakit cenderung menunjukkan perilaku kepatuhan lebih baik [Lihat sumber Disini - ejournal.stikesrshusada.ac.id].
HBM juga digunakan untuk menganalisis praktik perilaku berisiko seperti higiene makanan di kalangan mahasiswa, yang menunjukkan meskipun mahasiswa sadar akan risiko kesehatan, hambatan eksternal dapat membuat perilaku sehat sulit untuk diterapkan secara konsisten [Lihat sumber Disini - journal.unpacti.ac.id].
Selain itu, penelitian lain menunjukkan bahwa dalam konteks pencegahan diabetes tipe 2, persepsi kerentanan dan manfaat tindakan pencegahan sangat mempengaruhi perilaku pencegahan yang dilakukan oleh individu, di mana mereka yang menyadari risiko tinggi dihadapkan pada pilihan gaya hidup sehat cenderung melakukan tindakan preventif [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id].
Health Belief dalam Pengambilan Keputusan Kesehatan
Dalam pengambilan keputusan kesehatan, Health Belief Model menjelaskan bahwa individu tidak semata-mata bertindak berdasarkan informasi objektif, tetapi dipengaruhi oleh keyakinan dan penilaian subyektif mengenai risiko kesehatan, manfaat dan hambatan tindakan, serta informasi yang tersedia. Proses pengambilan keputusan ini melibatkan:
1. Evaluasi Risiko
Individu menilai sejauh mana mereka mungkin terkena penyakit, dan seberapa serius konsekuensinya.
2. Pertimbangan Manfaat dan Hambatan
Individu menimbang potensi manfaat tindakan kesehatan (misalnya pencegahan penyakit) terhadap hambatan yang mungkin muncul (biaya, waktu, efek samping).
3. Pencarian Isyarat untuk Aksi
Individu merespon pemicu internal (contoh: gejala penyakit) atau eksternal (contoh: nasihat dokter, kampanye kesehatan) untuk mengambil tindakan.
4. Keyakinan Diri (Self-Efficacy)
Kesiapan individu untuk melaksanakan tindakan kesehatan berdasarkan keyakinan bahwa mereka mampu melakukannya dengan sukses.
Proses inilah yang menentukan apakah seseorang akan melakukan tindakan kesehatan yang efektif atau menunda/tidak mengambil tindakan sama sekali, berdasar pada persepsi risiko dan keyakinan kesehatan yang dimilikinya [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov].
Kesimpulan
Health Belief Model adalah salah satu kerangka teoritis paling esensial dalam ilmu perilaku kesehatan untuk memahami bagaimana keyakinan dan persepsi individu terhadap risiko kesehatan mempengaruhi keputusan dan perilaku kesehatan mereka. Dengan komponen seperti persepsi kerentanan, keparahan, manfaat, hambatan, cues to action, dan self-efficacy, HBM mampu menjelaskan berbagai fenomena perilaku kesehatan di masyarakat. Faktor-faktor seperti pengetahuan, pengalaman pribadi, budaya, dukungan sosial, serta akses pelayanan kesehatan turut memengaruhi keyakinan kesehatan individu. Model ini tidak hanya relevan dalam konteks penelitian akademik, tetapi juga dalam perancangan intervensi kesehatan praktis yang bertujuan meningkatkan perilaku sehat melalui pemahaman risiko yang lebih baik dan penurunan hambatan bagi masyarakat.