
Perspektif Ilmiah: Pengertian dan Contohnya dalam Penelitian Sosial
Pendahuluan
Dalam ranah penelitian sosial, istilah perspektif ilmiah memainkan peranan penting sebagai kerangka pandang yang membimbing proses kajian dan interpretasi fenomena sosial. Sebagai seorang peneliti sosial, memahami apa yang dimaksud dengan perspektif ilmiah, bagaimana ia didefinisikan secara umum, menurut KBBI, dan menurut para ahli, sangatlah krusial agar penelitian yang dilakukan tidak sekadar observasi belaka, melainkan pengamatan yang sistematis, rasional, logis, dan dapat dipertanggungjawabkan. Selanjutnya, artikel ini akan mengurai pengertian perspektif ilmiah dan kemudian memaparkan contohnya dalam penelitian sosial agar pembaca mendapatkan pemahaman yang mendalam dan konkret.
Definisi Perspektif Ilmiah
Definisi Perspektif Ilmiah Secara Umum
Secara umum, istilah “perspektif” merujuk pada sudut pandang atau kerangka pikir yang digunakan seseorang atau suatu disiplin ilmu dalam melihat dan menafsirkan fenomena. Sebagai contoh, dalam kajian komunikasi disebutkan bahwa perspektif adalah cara pandang atau titik tolak analisis yang digunakan dalam melihat suatu fenomena. [Lihat sumber Disini - ojs.uajy.ac.id]
Kemudian ditambahkan bahwa “ilmiah” mengandung makna yang berkaitan dengan cara berpikir dan bertindak yang sistematis, kritis, dapat diuji dan dipertanggungjawabkan. Sebagai contoh, sebuah kajian menyebut bahwa pengetahuan ilmiah memiliki karakteristik kritis, rasional, logis, objektif, dan terbuka. [Lihat sumber Disini - journals.upi-yai.ac.id]
Dengan demikian, secara umum perspektif ilmiah dapat diartikan sebagai kerangka atau sudut pandang yang bersifat sistematis dan metodologis, yang digunakan dalam penelitian atau kajian untuk memahami fenomena melalui prosedur yang rasional dan dapat diuji serta dibuktikan.
Manfaat definisi ini ialah membantu peneliti agar berangkat bukan dari spekulasi semata melainkan dari asumsi yang jelas, teori yang relevan, dan metode yang terstruktur,sehingga hasilnya memberikan kontribusi yang benar-benar ilmiah.
Definisi Perspektif Ilmiah dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “perspektif” diartikan sebagai sudut pandang manusia dalam memilih opini dan kepercayaan mengenai suatu hal. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
Sedangkan “ilmiah” dapat ditemukan dalam pengertian bahwa sesuatu dikatakan ilmiah apabila memenuhi syarat seperti sistematis, logis, objektif dan terbuka. Sebagai contoh, penelitian dalam konteks ilmiah pernah dikemukakan sebagai “kegiatan ilmiah yang didasarkan pada analisis sistematis, metodologis dan konsisten”. [Lihat sumber Disini - adjar.grid.id]
Dengan demikian, kombinasi istilah “perspektif ilmiah” dalam arti KBBI-tergambarkan menjadi “sudut pandang yang digunakan untuk melihat suatu fenomena sosial/ilmiah dengan landasan sistematis dan metodis yang dapat dipertanggungjawabkan”. Kata kunci: sudut pandang + pendekatan sistematis + metode ilmiah.
Definisi Perspektif Ilmiah Menurut Para Ahli
Berikut beberapa pemaparan para ahli mengenai konsep yang relevan dengan “perspektif ilmiah” dalam konteks penelitian atau ilmu sosial:
- Menurut kajian bahwa paradigma penelitian adalah “perspektif yang didasarkan pada serangkaian asumsi, konsep, nilai dan praktik yang diyakini oleh peneliti.” [Lihat sumber Disini - repository.iainkediri.ac.id]
Dengan demikian, perspektif ilmiah mencakup asumsi dasar penelitian dan orientasi metodologis yang dipegang peneliti. - Dalam kajian tentang ilmu dan sikap ilmiah disebutkan bahwa pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang “kritis, rasional, logis, objektif, dan terbuka”. [Lihat sumber Disini - journals.upi-yai.ac.id]
Ini mengimplikasikan bahwa perspektif ilmiah harus mengandung orientasi ke karakteristik tersebut. - Kajian tentang teori pengetahuan dan kebenaran ilmiah menyebut bahwa pengetahuan ilmiah hadir melalui proses berpikir rasional dan bernalar tinggi untuk menemukan kebenaran yang hakiki. [Lihat sumber Disini - journal.uii.ac.id]
Ini menunjukkan bahwa perspektif ilmiah bukan sekadar cara pandang, tapi juga orientasi terhadap bagaimana “kebenaran” ilmiah dicapai. - Dalam kajian komunikasi disebutkan bahwa ada dua pendekatan, yaitu pendekatan ilmiah (scientific) dan non-ilmiah (unscientific). [Lihat sumber Disini - jurnal.uinsu.ac.id]
Perspektif ilmiah berarti pendekatan yang scientific, yaitu dengan fakta empiris, logika, sistematis.
Dengan menggabungkan pemikiran para ahli tersebut, maka dapat dirumuskan definisi operasional:
Perspektif ilmiah dalam penelitian sosial adalah kerangka pandang yang digunakan peneliti yang bersifat sistematis, metodologis, rasional, empiris, dan terbuka, yang menuntun dalam merumuskan, menganalisis, dan menginterpretasi fenomena sosial dengan prosedur yang dapat diuji dan dipertanggungjawabkan.
Definisi ini sangat relevan agar penelitian sosial tidak jatuh pada subjektivitas semata, namun tetap menjaga integritas ilmiah.
Perspektif Ilmiah dalam Penelitian Sosial
Selanjutnya artikel akan membahas aspek-aspek inti dari perspektif ilmiah dalam penelitian sosial:
- Landasan karakteristik perspektif ilmiah
- Fungsi dan manfaat dalam penelitian sosial
- Langkah implementasi dalam penelitian sosial
- Contoh konkret penggunaan perspektif ilmiah
Karakteristik Perspektif Ilmiah dalam Penelitian Sosial
Dalam penelitian sosial, perspektif ilmiah memiliki beberapa karakteristik yang harus dipenuhi agar penelitian dapat dikategorikan sebagai ilmiah, bukan sekadar observasi belajar:
- Sistematis , Penelitian dijalankan melalui langkah-langkah yang terencana, dari rumusan masalah, kajian teori, metodologi, pengumpulan data, analisis hingga penarikan kesimpulan. Sebagai contoh, dalam definisi penelitian sosial disebut bahwa kegiatan ilmiah didasarkan pada analisis sistematis, metodologis dan konsisten. [Lihat sumber Disini - penerbitdeepublish.com]
- Empiris , Data yang digunakan berasal dari observasi atau realitas sosial yang nyata, bukan spekulasi belaka. Misalnya, data lapangan, survei, wawancara dapat digunakan. [Lihat sumber Disini - ruangguru.com]
- Logis & rasional , Peneliti menggunakan argumentasi logis dan penalaran yang masuk akal untuk menjelaskan fenomena sosial. Menurut salah satu kajian, pengetahuan ilmiah bersifat rasional dan logis. [Lihat sumber Disini - journals.upi-yai.ac.id]
- Objektif dan terbuka , Peneliti berusaha meminimalkan bias pribadi, dan hasilnya dapat diperiksa kembali oleh peneliti lain (verifikasi). Ini penting agar penelitian sosial memperoleh kredibilitas. [Lihat sumber Disini - ruangguru.com]
- Dapat diuji dan dipertanggungjawabkan , Sebuah penelitian ilmiah harus memungkinkan replikasi atau verifikasi oleh orang lain. Sebuah kajian menyebut bahwa penelitian sosial hasilnya “dapat diverifikasi dan diuji ulang”. [Lihat sumber Disini - ruangguru.com]
- Teori-berlandaskan , Perspektif ilmiah biasanya menggunakan kerangka teori yang relevan untuk melihat fenomena sosial, bukan tanpa landasan sama sekali. Misalnya, paradigma penelitian adalah asumsi dasar penelitian. [Lihat sumber Disini - repository.iainkediri.ac.id]
Dengan memahami karakteristik di atas, peneliti sosial dapat memastikan bahwa penggunaan perspektif ilmiah bukan sekadar label, melainkan kerangka kerja yang sesungguhnya mempengaruhi seluruh proses penelitian.
Fungsi dan Manfaat Perspektif Ilmiah dalam Penelitian Sosial
Perspektif ilmiah bukan hanya hiasan akademik, tetapi memiliki fungsi dan manfaat nyata dalam penelitian sosial, antara lain:
- Menjadikan penelitian lebih kredibel: Dengan menggunakan perspektif ilmiah, hasil penelitian lebih diterima oleh komunitas keilmuan karena memenuhi kaidah sistematis, empiris, logis.
- Memfokuskan kajian terhadap fenomena sosial tertentu: Perspektif ilmiah membantu peneliti memilih sudut pandang yang tepat untuk melihat fenomena, misalnya dari sudut ekonomi, budaya, politik, atau struktural sosial.
- Menghindari bias dan subjektivitas yang berlebihan: Karena orientasi penelitian ilmiah mendorong objektivitas dan transparansi.
- Membantu dalam pengambilan keputusan atau kebijakan: Hasil penelitian yang dilakukan dengan perspektif ilmiah lebih mampu dijadikan dasar bagi kebijakan publik atau intervensi sosial karena memiliki bukti empiris.
- Mempermudah pengembangan teori atau generalisasi: Bila penelitian menggunakan perspektif ilmiah, maka temuan yang diperoleh dapat dikaitkan dengan teori yang ada atau bahkan mengembangkan teori baru.
- Membantu adaptasi di zaman perubahan sosial: Karena fenomena sosial terus berubah, perspektif ilmiah memungkinkan peneliti menyikapi perubahan dengan pendekatan yang relevan, sistematis, dan update.
Langkah Implementasi Perspektif Ilmiah dalam Penelitian Sosial
Agar penggunaan perspektif ilmiah dalam penelitian sosial menjadi nyata, berikut adalah langkah-khas yang dapat diterapkan:
- Menetapkan sudut pandang atau perspektif awal: Sebelum pengumpulan data, peneliti harus memutuskan kerangka pandang, misalnya “pengaruh media sosial terhadap perilaku pemilih muda”, dari sudut pandang sosial komunikatif atau struktural.
- Menghubungkan dengan teori dan literatur: Perspektif ilmiah menghendaki kerangka teori dipakai sebagai pijakan untuk memahami fenomena sosial. Misalnya mengaitkan dengan teori komunikasi, sosiologi, atau psikologi sosial.
- Merumuskan masalah dan hipotesis (atau pertanyaan penelitian) secara jelas: Rumusan yang sistematis menjadi fondasi bahwa penelitian bersifat ilmiah.
- Memilih metode yang relevan: Data empiris dikumpulkan dengan metode yang sesuai,kuantitatif, kualitatif atau campuran,dan instrumen yang valid dan reliabel.
- Melakukan analisis dan interpretasi berdasarkan data: Hasil penelitian dianalisis secara logis, objektif dan terbuka terhadap kritik atau revisi.
- Menarik kesimpulan dan implikasi berbasis bukti: Temuan yang didapat dijelaskan dalam kerangka perspektif awal dan teori yang relevan, kemudian disampaikan implikasi nyata untuk kajian sosial atau kebijakan.
- Menguji ulang atau memverifikasi: Perspektif ilmiah juga mencakup transparansi metodologis dan kemampuan untuk diulang atau diverifikasi oleh peneliti lain.
Contoh Konkret Penggunaan Perspektif Ilmiah dalam Penelitian Sosial
Untuk mengilustrasikan bagaimana perspektif ilmiah diaplikasikan dalam penelitian sosial, berikut beberapa contoh:
- Sebuah studi tentang pembangunan sosial di wilayah kampung menggunakan perspektif fungsional-kelompok konflik untuk menganalisis program MCK dan air bersih. Dalam penelitian tersebut dipakai metode deskriptif dan empiris. [Lihat sumber Disini - jurnal.polbangtanmanokwari.ac.id]
- Sebuah penelitian mengenai kebenaran ilmiah dari perspektif filsafat ilmu menunjukkan bahwa pengetahuan dan metode penelitian harus sistematis dan rasional agar dianggap ilmiah. [Lihat sumber Disini - journal.uii.ac.id]
- Penelitian yang mempelajari paradigma mahasiswa terhadap evolusi (meskipun bidang biologi) juga menggunakan kerangka perspektif ilmiah dalam konteks sosial terhadap keyakinan dan pendidikan sains. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
- Dalam metodologi penelitian sosial dikatakan bahwa paradigma penelitian adalah perspektif yang didasarkan pada asumsi, konsep, nilai dan praktik yang diyakini peneliti. [Lihat sumber Disini - repository.iainkediri.ac.id]
Dari contoh-contoh tersebut, dapat dilihat bahwa perspektif ilmiah dalam penelitian sosial bukan hanya memilih metode yang tepat, tetapi juga berarti pemilihan kerangka pandang, teori, asumsi penelitian, serta proses yang sistematis dan dapat diuji.
Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perspektif ilmiah dalam penelitian sosial merupakan elemen kunci yang memandu peneliti dalam melihat, menganalisis, dan menginterpretasi fenomena sosial dengan cara yang sistematis, empiris, rasional, objektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Tanpa perspektif ilmiah yang jelas, penelitian sosial bisa terjebak ke subjektivitas, kurang tertata, dan sulit menjadi dasar bagi teori atau kebijakan. Oleh karena itu, peneliti sosial harus secara eksplisit menetapkan perspektif ilmiah sejak awal, mengaitkannya dengan teori dan metodologi yang sesuai, serta melaksanakan penelitian dengan prosedur yang transparan dan dapat diuji ulang. Dengan demikian, hasil penelitian tidak hanya memberikan kontribusi pemahaman terhadap realitas sosial, tetapi juga dapat dijadikan acuan bagi tindakan atau kebijakan yang bermakna.