Terakhir diperbarui: 07 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 7 December). Fenomenologi Eksistensial: Definisi dan Contoh. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/fenomenologi-eksistensial-definisi-dan-contoh  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Fenomenologi Eksistensial: Definisi dan Contoh - SumberAjar.com

Fenomenologi Eksistensial: Definisi dan Contoh

Pendahuluan

Fenomenologi, sejak awal kemunculannya, bukan hanya sebuah metode kajian atau filsafat abstrak, tapi juga menjadi kerangka penting untuk memahami pengalaman manusia secara mendalam. Dalam cabang fenomenologi, ada varian yang dikenal sebagai eksistensial-fenomenologi, yaitu pendekatan yang menggabungkan perhatian pada kesadaran dan persepsi manusia dengan refleksi eksistensial: bagaimana keberadaan manusia, dunia, tubuh, dan makna dibentuk dan dialami secara subjektif. Fenomenologi Eksistensial menekankan bahwa manusia tidak sekadar sebagai “subjek pengamat” tapi sebagai “ada-di-dunia” (being-in-the-world), dengan seluruh kompleksitas pengalaman, keterbatasan, kebebasan, dan keterhubungannya dengan dunia serta orang lain. Pendekatan ini relevan tidak hanya di filsafat, tapi juga di penelitian kualitatif (ilmu sosial, psikologi, kesehatan, pendidikan, dll.), ketika kita ingin memahami “bagaimana rasanya” mengalami sesuatu, dari sudut pandang orang yang mengalaminya.

Artikel ini akan membedah definisi, tokoh, konsep, cara penelitian, serta contoh penerapan Fenomenologi Eksistensial, agar pembaca dapat memahami secara komprehensif apa itu dan bagaimana menggunakannya sebagai metode atau kerangka analisis.


Definisi Fenomenologi Eksistensial

Definisi secara umum

Fenomenologi adalah studi tentang struktur kesadaran sebagaimana dialami dari sudut pandang orang pertama (first-person point of view), yakni “bagaimana sesuatu tampak” kepada kesadaran, termasuk persepsi, emosi, ingatan, sensasi, dan makna. [Lihat sumber Disini - plato.stanford.edu]

Sedangkan Fenomenologi Eksistensial, sesuai namanya, adalah varian dari fenomenologi yang menambahkan dimensi eksistensial: tidak hanya mendeskripsikan pengalaman, tetapi memfokuskan pada arti eksistensi manusia, keberadaan manusia di dunia, hubungan antara manusia dan dunia, serta kondisi seperti kebebasan, pilihan, keterasingan, temporality, dan “being-in-the-world”. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Dengan demikian: Fenomenologi Eksistensial mencoba memahami manusia sebagai makhluk yang hidup, berkesadaran, dan berada dalam dunia nyata, bukan hanya sebagai entitas rasional atau objek, tetapi sebagai “ada yang hidup” dengan pengalaman subjektif dan keberadaan nyata.

Definisi dalam KBBI

Karena “Fenomenologi Eksistensial” adalah istilah filsafat/ilmiah yang spesifik dan tidak selalu muncul di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), definisi formal di KBBI kemungkinan besar tidak tersedia secara eksplisit. Namun, “fenomenologi”, jika tersedia di KBBI, umumnya diartikan sebagai studi tentang fenomena (penampakan, pengalaman) sebagaimana dialami manusia. Dalam praktik akademik Indonesia, definisi ini sering dipadukan dengan istilah “penelitian fenomenologis” untuk mengacu pada pendekatan kualitatif yang menggali pengalaman hidup subjektif. [Lihat sumber Disini - online-journal.unja.ac.id]

Kalau asumsinya “fenomenologi eksistensial” dimaknai sebagai kombinasi antara fenomenologi dan perspektif eksistensial, maka terjemahan bebasnya bisa diartikan sebagai “studi pengalaman hidup manusia dalam keberadaannya (eksistensinya) di dunia, sebagaimana dialami secara langsung.”

Definisi menurut Para Ahli

Beberapa definisi menurut para filosof dan peneliti:

  • Menurut Edmund Husserl, pendiri fenomenologi, fenomenologi adalah studi tentang “esensi kesadaran” dan pengalaman sebagaimana dialami tanpa prasangka, via pendekatan deskriptif-first person. [Lihat sumber Disini - plato.stanford.edu]

  • Martin Heidegger mengembangkan fenomenologi ke arah ontologis-eksistensial: ia menekankan konsep keberadaan manusia sebagai “Dasein” (being-there / being-in-the-world), yaitu manusia selalu “terlempar” ke dalam dunia, dengan faktisitas, pilihan, dan temporality. Eksistensi manusia menurut Heidegger bukan hanya sebagai sadar/pengamat, melainkan sebagai ada-di-dunia. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  • Maurice Merleau‑Ponty menambah dimensi tubuh (embodiment) dalam fenomenologi, bahwa pengalaman manusia tidak bisa dilepaskan dari tubuh; persepsi dan kesadaran manusia selalu terinkarnasi dalam tubuh, yang terlibat langsung dengan dunia. Fenomenologi baginya adalah pengalaman hidup yang dipahami lewat tubuh dan persepsi. [Lihat sumber Disini - britannica.com]

  • Sebagai definisi yang lebih kontemporer dan aplikatif: Fenomenologi Eksistensial dipahami sebagai pendekatan yang “menggabungkan penekanan eksistensial pada pengalaman individu dan kebebasan dengan eksplorasi fenomenologi terhadap kesadaran dan persepsi.” [Lihat sumber Disini - studysmarter.co.uk]

Definisi-definisi ini menunjukkan bahwa Fenomenologi Eksistensial bukan sekadar teori abstrak, tapi kerangka yang membuka ruang bagi pemahaman mendalam tentang “bagaimana rasanya” menjadi manusia, dengan seluruh kompleksitas keberadaan, kesadaran, tubuh, dan dunia.


Tokoh-Tokoh Utama

Edmund Husserl

  • Husserl dianggap sebagai pelopor fenomenologi modern, ia memformulasikan fenomenologi sebagai disiplin yang menelaah struktur kesadaran secara deskriptif. Fokusnya adalah “esensi kesadaran” dan bagaimana fenomena muncul ke kesadaran tanpa prasangka. [Lihat sumber Disini - plato.stanford.edu]

  • Menurut Husserl, setiap pengalaman memiliki intentionalitas, yaitu, kesadaran selalu “terarah” pada sesuatu: objek, perasaan, ingatan, ide, dsb. [Lihat sumber Disini - plato.stanford.edu]

  • Pendekatannya sering disebut “fenomenologi deskriptif”: peneliti mencoba “kembali kepada fenomena” sebagaimana dialami secara langsung, menyisihkan asumsi, teori, atau prasangka, agar dapat mendeskripsikan pengalaman secara murni. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]

Martin Heidegger

  • Heidegger membawa fenomenologi ke ranah ontologi dan eksistensi manusia. Dia memperkenalkan konsep “Dasein”, manusia sebagai being-in-the-world, bukan hanya sebagai subjek yang mengamati, tetapi sebagai makhluk yang berada, hidup, dan “terlempar” ke dunia. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  • Dalam pemikirannya, manusia tidak dapat dipahami terlepas dari konteks dunia, sejarah, kebudayaan, karena eksistensi manusia selalu berada dalam situasi tertentu. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  • Bagi Heidegger, fenomenologi bukan sekadar metode deskriptif, melainkan cara menggali makna keberadaan manusia (fundamental ontology). [Lihat sumber Disini - britannica.com]

Maurice Merleau-Ponty

  • Merleau-Ponty memperdalam fenomenologi dengan memasukkan aspek tubuh dan persepsi; menurutnya, pengalaman kesadaran manusia tidak bisa dipisahkan dari tubuh sebagai mediator antara manusia dan dunia. [Lihat sumber Disini - britannica.com]

  • Dia menolak pemisahan dualistik antara pikiran dan tubuh, serta antara subjek dan dunia; bagi Merleau-Ponty, persepsi adalah proses aktif dan tubuh adalah cara manusia berhubungan dengan dunia. [Lihat sumber Disini - britannica.com]

  • Dengan demikian, fenomenologi eksistensial menurutnya memberi gambaran manusia sebagai makhluk yang “terinkarnasi”, yang merasa, melihat, bergerak, dan membentuk makna lewat pengalaman tubuhnya di dunia. [Lihat sumber Disini - uk.sagepub.com]


Konsep Eksistensi dan Pengalaman Subjektif

Dalam Fenomenologi Eksistensial, beberapa konsep inti yang sering muncul adalah:

  • Being-in-the-world: manusia selalu berada di dunia, tidak bisa dilepaskan dari dunia. Dunia bukan sekadar latar, tetapi bagian dari eksistensi manusia. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  • Intentionalitas: kesadaran manusia selalu terarah pada sesuatu, objek, perasaan, ide, realitas; pengalaman bukan sekadar reaksi pasif, tetapi melibatkan relasi antara subjek dan objek. [Lihat sumber Disini - plato.stanford.edu]

  • Embodiment (Keterinkarnasian Tubuh): pengalaman manusia terjadi melalui tubuh, tubuh bukan objek, tetapi ikut “merasakan” dunia; persepsi dan makna lahir dari interaksi tubuh-dunia. [Lihat sumber Disini - britannica.com]

  • Lived Experience (Pengalaman Hidup Nyata / Kehidupan Sehari-hari): fokus pada bagaimana seseorang mengalami sesuatu secara langsung, dalam kehidupan sehari-hari, bukan melalui teori, statistik, atau abstraksi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  • Kebebasan, Pilihan, Faktisitas, Temporality: dalam eksistensi manusia, sebagai yang “ada”, manusia menghadapi situasi, pilihan, tanggung jawab, waktu (masa lalu, sekarang, masa depan), serta kesadaran bahwa keberadaan selalu “sedang berlangsung”. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Konsep-konsep ini memungkinkan penelitian atau refleksi yang menggali makna mendasar dari eksistensi manusia, bukan dari sudut pandang objektif atau kuantitatif, tetapi dari pengalaman hidup, persepsi, dan kesadaran individu.


Pendekatan Fenomenologi dalam Penelitian Kualitatif

Fenomenologi, termasuk varian eksistensialnya, telah banyak digunakan dalam penelitian kualitatif di berbagai bidang: sosial, pendidikan, kesehatan, psikologi, bahkan pendidikan agama. [Lihat sumber Disini - jurnal.samodrailmu.org]

Beberapa karakteristik pendekatan fenomenologi dalam penelitian kualitatif:

Dalam konteks semangat eksistensial, fenomenologi kualitatif sering juga disebut sebagai “fenomenologi-hermeneutik” karena penafsiran terhadap makna keberadaan dan pengalaman, bukan sekadar deskripsi permukaan. [Lihat sumber Disini - repository.upi.edu]


Teknik Penggalian Data Fenomenologis

Dalam penelitian fenomenologi (termasuk eksistensial), ada beberapa teknik atau prosedur umum untuk mengumpulkan dan menganalisis data:

  • Wawancara mendalam (in-depth interview): sering digunakan untuk menggali pengalaman hidup, perspektif, perasaan, pemaknaan informan terhadap fenomena tertentu. Peneliti mendengarkan dengan empati dan menghindari prasangka.

  • Observasi partisipatif / kontekstual: dalam beberapa kasus, peneliti bisa mengamati bagaimana individu “mengalami” fenomena dalam konteks kehidupan sehari-hari, terutama jika fenomena melibatkan rutinitas, interaksi sosial, lingkungan fisik.

  • Deskripsi naratif / cerita hidup (life-story / narrative description): meminta informan menceritakan pengalaman mereka secara runut, dari masa lalu ke sekarang, untuk menangkap aspek temporal dan evolusi makna.

  • Bracketing / Phenomenological reduction: peneliti “menggantung” asumsi, teori, prasangka, dan mencoba memahami fenomena sebagaimana muncul ke kesadaran informan, tanpa menentukan makna terlebih dahulu. Ini memungkinkan “kemunculan murni” fenomena. [Lihat sumber Disini - plato.stanford.edu]

  • Analisis tematik / interpretatif: setelah data dikumpulkan, peneliti mencari tema, pola, struktur makna, bagaimana pengalaman dialami, apa maknanya bagi informan, bagaimana pengalaman itu terkait dengan eksistensi mereka, dunia, tubuh, waktu, dll.

Teknik-teknik ini memungkinkan penelitian yang mendalam, sensitif terhadap konteks, dan menghargai subjektivitas serta keberadaan manusia secara kompleks.


Kelebihan dan Tantangan Fenomenologi Eksistensial

Kelebihan

  • Mengungkap makna mendalam: memungkinkan kita memahami “bagaimana rasanya” mengalami suatu fenomena, bukan hanya “berapa banyak” atau “berapa sering”.

  • Menghargai subjektivitas & kompleksitas manusia: manusia dipahami sebagai makhluk yang hidup, berkesadaran, terhubung dengan dunia, dengan tubuh, sejarah, budaya, tidak direduksi menjadi angka atau variabel semata.

  • Cocok untuk memahami fenomena kehidupan, pengalaman, makna, nilai, eksistensi, bidang seperti psikologi, pendidikan, kesehatan, sosial, budaya.

  • Fleksibel dan kontekstual: memungkinkan peneliti menangkap heterogenitas pengalaman individu, serta dinamika situasi dan waktu.

Tantangan / Keterbatasan

  • Ketergantungan pada interpretasi subyektif informan dan peneliti, bisa ada bias, seleksi ingatan, prasangka.

  • Sulit untuk digeneralisasi, hasil penelitian fenomenologi bersifat kualitatif, kontekstual, dan spesifik; tidak untuk statistik atau populasi besar.

  • Memerlukan kedalaman, waktu, kepekaan, empati, baik dari peneliti maupun informan; tidak semua fenomena mudah diungkap.

  • Analisis bisa kompleks, terutama jika fenomena melibatkan tema eksistensial seperti identitas, kebebasan, makna kehidupan, yang bersifat abstrak.


Contoh Penelitian Berbasis Fenomenologi

Salah satu contoh nyata penerapan Fenomenologi Eksistensial adalah penelitian Fenomenologi Eksistensial Waria Bunderan Waru (Royyali Adi Pradana & Pambudi Handoyo, Universitas Negeri Surabaya). Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan fenomenologi eksistensial untuk “melacak dan menjelaskan pengalaman dan pemaknaan eksistensial waria Bunderan Waru”. Hasil penelitian menunjukkan pengalaman mereka dalam proses “menjadi”, mencari konsumen, melakukan hubungan seks, serta dinamika eksistensi mereka dalam dunia sosial yang kompleks. [Lihat sumber Disini - ejournal.unesa.ac.id]

Contoh lain: penggunaan fenomenologi dalam pendidikan, misalnya untuk memahami pengalaman nilai kepedulian sosial di sebuah sekolah dasar di Yogyakarta via penelitian kualitatif fenomenologi. [Lihat sumber Disini - journal.uny.ac.id]

Penelitian fenomenologis juga bisa dipakai untuk memahami pengalaman pembelajaran daring dari sudut pandang siswa dan orang tua, seperti dalam sebuah studi di Kecamatan Namang. [Lihat sumber Disini - jurnal.lp2msasbabel.ac.id]

Dan secara umum, artikel Penelitian Fenomenologis (2025) menjelaskan bahwa pendekatan ini bertujuan memahami “makna terdalam dari pengalaman hidup individu terhadap suatu fenomena tertentu”, menunjukkan bahwa fenomenologi tetap relevan dan aktif digunakan dalam penelitian kontemporer. [Lihat sumber Disini - jptam.org]


Kesimpulan

Fenomenologi Eksistensial adalah pendekatan filosofis dan metodologis yang sangat berharga untuk memahami manusia sebagai makhluk hidup, berkesadaran, dan berada di dunia, bukan sekadar entitas objek yang diukur secara kuantitatif. Dengan menggabungkan kepekaan pada pengalaman subjektif, tubuh, dunia, dan eksistensi, pendekatan ini memungkinkan kita menggali makna kehidupan, persepsi, dan realitas manusia secara mendalam.

Melalui tokoh-tokoh seperti Husserl, Heidegger, dan Merleau-Ponty, fenomenologi berevolusi dari studi kesadaran dan struktur pengalaman menjadi refleksi eksistensial yang kaya dan kompleks. Dalam penelitian kualitatif, fenomenologi eksistensial memberi alat untuk menyelami pengalaman hidup individual, konteks sosial, dan makna yang melekat pada pengalaman tersebut, tidak hanya “apa yang terjadi”, tetapi “bagaimana dirasakan dan dipahami”.

Meski metode ini memiliki tantangan, terkait subjektivitas, interpretasi, dan generalisasi, kelebihannya dalam memahami manusia secara utuh membuatnya tetap relevan, terutama ketika fokus kita pada pengalaman, makna, dan keberadaan manusia. Bagi peneliti atau siapapun yang ingin menggali fenomena kehidupan, identitas, persepsi, atau makna eksistensi, Fenomenologi Eksistensial menawarkan jalan yang mendalam, reflektif, dan manusiawi.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Fenomenologi Eksistensial adalah pendekatan yang memadukan studi fenomenologi tentang pengalaman subjektif dengan perspektif eksistensial mengenai keberadaan manusia dalam dunia. Pendekatan ini fokus pada pemahaman makna hidup, pengalaman tubuh, kesadaran, dan hubungan manusia dengan dunia secara langsung.

Tokoh-tokoh utama dalam Fenomenologi Eksistensial adalah Edmund Husserl sebagai pelopor fenomenologi, Martin Heidegger yang mengembangkan dimensi ontologis dan eksistensial, serta Maurice Merleau-Ponty yang menekankan peran tubuh dalam pengalaman manusia.

Fokus utama penelitian fenomenologi kualitatif adalah menggali makna pengalaman hidup individu secara mendalam. Peneliti berupaya memahami bagaimana suatu fenomena dialami oleh seseorang dari sudut pandang pertama melalui wawancara mendalam, observasi, dan analisis tematik.

Kelebihan Fenomenologi Eksistensial antara lain memberikan pemahaman mendalam tentang pengalaman manusia, menghargai subjektivitas, relevan untuk kajian psikologi dan sosial, serta mampu mengungkap makna yang tidak tampak melalui metode kuantitatif.

Contohnya adalah penelitian mengenai pengalaman hidup komunitas marjinal, studi tentang persepsi tubuh dalam konteks kesehatan, atau penelitian pendidikan yang menggali pengalaman belajar siswa menggunakan pendekatan fenomenologis.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Fenomenologi: Definisi, Ciri, dan Contoh Penelitian Fenomenologi: Definisi, Ciri, dan Contoh Penelitian Fenomenologi Husserl: Konsep dan Implementasi Fenomenologi Husserl: Konsep dan Implementasi Penelitian Fenomenologi Transendental: Ciri dan Penerapan Penelitian Fenomenologi Transendental: Ciri dan Penerapan Pendekatan Kualitatif Fenomenologis: Prinsip dan Aplikasi Pendekatan Kualitatif Fenomenologis: Prinsip dan Aplikasi Desain Penelitian Kualitatif: Langkah dan Jenisnya Desain Penelitian Kualitatif: Langkah dan Jenisnya Jenis Penelitian: Klasifikasi, Ciri, dan Contoh Jenis Penelitian: Klasifikasi, Ciri, dan Contoh Perspektif Hermeneutik dalam Penelitian Sosial Perspektif Hermeneutik dalam Penelitian Sosial Teori Hermeneutika Gadamer: Konsep dan Relevansi Teori Hermeneutika Gadamer: Konsep dan Relevansi Sense of Meaning: Konsep dan Kesejahteraan Psikologis Sense of Meaning: Konsep dan Kesejahteraan Psikologis Model Penelitian: Jenis, Struktur, dan Contohnya Model Penelitian: Jenis, Struktur, dan Contohnya Saturasi Data: Pengertian, Fungsi, dan Contoh dalam Penelitian Kualitatif Saturasi Data: Pengertian, Fungsi, dan Contoh dalam Penelitian Kualitatif Paradigma Alamiah: Prinsip dan Contoh dalam Kajian Kualitatif Paradigma Alamiah: Prinsip dan Contoh dalam Kajian Kualitatif Paradigma Ilmu Sosial: Pengertian dan Klasifikasinya Paradigma Ilmu Sosial: Pengertian dan Klasifikasinya Analisis Naratif: Ciri dan Contoh Penggunaan Analisis Naratif: Ciri dan Contoh Penggunaan Kebutuhan Spiritual Pasien Kebutuhan Spiritual Pasien Kajian Filosofis terhadap Penelitian Modern Kajian Filosofis terhadap Penelitian Modern Prinsip Keilmuan: Pengertian, Ciri, dan Contoh Prinsip Keilmuan: Pengertian, Ciri, dan Contoh Manfaat Penelitian: Definisi, Jenis, dan Contohnya Manfaat Penelitian: Definisi, Jenis, dan Contohnya Paradigma Interpretatif: Pengertian, Karakteristik, dan Aplikasi Paradigma Interpretatif: Pengertian, Karakteristik, dan Aplikasi Obyektivisme: Pengertian dan Kritiknya Obyektivisme: Pengertian dan Kritiknya
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…