Terakhir diperbarui: 07 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 7 December). Ontologi Kritis: Definisi dan Contoh dalam Ilmu Sosial. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/ontologi-kritis-definisi-dan-contoh-dalam-ilmu-sosial  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Ontologi Kritis: Definisi dan Contoh dalam Ilmu Sosial - SumberAjar.com

Ontologi Kritis: Definisi dan Contoh dalam Ilmu Sosial

Pendahuluan

Dalam kajian ilmu sosial dan filsafat ilmu, istilah ontologi sering muncul sebagai pijakan dasar dalam memahami “keberadaan”, “realitas”, dan “apa yang sesungguhnya ada”. Namun, ketika pendekatan dilakukan secara kritis, bukan sekadar menerima realitas sosial sebagai sesuatu yang objektif dan sudah mapan, maka muncullah perspektif yang bisa kita istilahkan “ontologi kritis”. Ontologi kritis menuntut agar peneliti tidak hanya bertanya “apa adanya” dari realitas sosial, tetapi juga “mengapa” dan “bagaimana” realitas itu dibentuk, serta “siapa” dan “kepentingan apa” yang terlibat dalam pembentukan realitas tersebut.

Artikel ini bertujuan menjelaskan konsep ontologi kritis dalam kerangka ilmu sosial: definisinya, landasan filsafat, struktur realitas menurut pendekatan kritis, hubungan dengan konstruksi sosial, peran dalam analisis sosial, kritik terhadap ontologi lain, serta contoh kajian dalam penelitian sosial.


Definisi Ontologi Kritis

Definisi Ontologi Kritis Secara Umum

Secara umum, “ontologi” adalah cabang filsafat yang mengkaji hakikat keberadaan atau realitas, yakni, “apa itu yang ada”, “apa sifat dasar dari kenyataan”, dan “bagaimana cara mengkategorikan sesuatu yang eksis”. [Lihat sumber Disini - ruangjurnal.com]

“Ontologi kritis” dapat dipahami sebagai pendekatan ontologis yang menolak asumsi realitas sebagai sesuatu yang netral, objektif, atau abadi secara otomatis. Alih-alih, ontologi kritis melihat realitas sosial sebagai sesuatu yang dibentuk, dipertaruhkan, dikonstruksi, dan seringkali dipengaruhi oleh struktur kekuasaan, sejarah, budaya, dan dinamika sosial lainnya. Dengan demikian, ontologi kritis menuntut untuk “menggali di balik tampilan” realitas sosial, termasuk aspek yang tersembunyi atau diabaikan.

Definisi Ontologi dalam KBBI

Menurut definisi formal dalam kamus bahasa Indonesia, “ontologi” merujuk pada cabang filsafat yang membahas hakikat wujud dan realitas, yakni, teori tentang keberadaan. (Sebagai catatan: definisi dalam KBBI cenderung berfokus pada aspek filsafat klasik, bukan selalu menyiratkan “kritis, ” sehingga istilah “ontologi kritis” lebih merupakan sintesis konseptual dalam kajian kontemporer).

Definisi Ontologi Kritis Menurut Para Ahli

Berikut beberapa definisi dari perspektif akademik/kritis:

  • Dalam kajian filsafat sains dan ilmu sosial, peneliti Roy Bhaskar (dan penerusnya) dengan aliran Critical Realism menekankan bahwa realitas (termasuk realitas sosial) eksis secara objektif, tetapi pemahaman kita terhadapnya bersifat fallibilistik, dan pengetahuan ilmiah harus mempertimbangkan mekanisme tersembunyi yang membentuk fenomena-fenomena sosial. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  • Dalam konteks kritik terhadap sains modern, ada kajian yang menegaskan bahwa ontologi ilmiah (termasuk sains modern) seringkali terlalu menyederhanakan realitas: hanya memperhatikan aspek empiris dan mengabaikan aspek metafisik, historis, kultural atau nilai. Pendekatan ini mendesak agar ontologi dikaji secara reflektif dan kritis, menyadari keterbatasan dan implikasi ontologis dari paradigma ilmiah. [Lihat sumber Disini - jurnal.peneliti.net]

  • Menurut kajian kontemporer filsafat ilmu, ontologi dalam ilmu pengetahuan tidak hanya membahas objek yang dapat dirasakan (konkret), tetapi juga realitas abstrak, sosial, simbolik, sehingga pendekatan ontologis dalam ilmu sosial harus mengakomodasi kompleksitas itu. [Lihat sumber Disini - ejournal.indo-intellectual.id]

  • Dalam konteks administrasi publik dan kebijakan, pendekatan ontologi sosial kritis dipandang penting untuk memahami struktur realitas sosial, termasuk relasi aktor, kekuasaan, norma, institusi, agar kebijakan yang dibentuk tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga sensitif terhadap dinamika sosial yang mendasarinya. [Lihat sumber Disini - jurnalku.org]

Dengan demikian, “ontologi kritis” bisa dirumuskan sebagai: pendekatan filosofis/kajian dalam ilmu sosial yang mengkaji secara reflektif dan kritis tentang hakikat realitas sosial, memperhitungkan aspek struktural, historis, kultural, relasional, dan kekuasaan, bukan semata-mata aspek empiris atau tampak di permukaan.


Landasan Filsafat dari Ontologi Kritis

Pemahaman ontologi kritis berakar pada diskusi klasik dalam filsafat ilmu mengenai relasi antara realitas, pengetahuan, dan nilai.

  • Ontologi sebagai cabang filsafat: Kajian tentang keberadaan, wujud, dan hakikat realitas. Sebagai bagian dari filosofi ilmu, ontologi menuntut definisi jelas tentang “apa yang ada” dan “apa yang bisa dijadikan objek pengetahuan”. [Lihat sumber Disini - uin-malang.ac.id]

  • Hubungan antara ontologi, epistemologi, dan aksiologi: Banyak literatur filsafat ilmu menegaskan bahwa epistemologi (teori pengetahuan) dan aksiologi (teori nilai) tidak dapat dipisahkan dari ontologi, karena bagaimana kita memahami realitas (ontologi) akan menentukan bagaimana kita memperoleh pengetahuan (epistemologi) dan nilai apa yang kita anggap penting (aksiologi). [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]

  • Kritik terhadap ontologi/negarifikasi sains modern: Dalam kajian kritik terhadap sains modern, ontologi dianggap bukan sesuatu yang netral; sains modern dengan pendekatan empiris dan positivis sering dilihat sebagai mengabaikan aspek metafisik, nilai, dan dimensi kemanusiaan, sehingga memerlukan refleksi ontologis kritis agar sains tidak mendestruksi makna manusia. [Lihat sumber Disini - jurnal.peneliti.net]

  • Realitas sosial sebagai konstruksi dinamis: Pendekatan kritis menyadari bahwa realitas sosial tidak statis, ia dibentuk lewat interaksi manusia, institusi, kekuasaan, sejarah. Sebagai konsekuensinya, ontologi dalam ilmu sosial tidak cukup dengan pendekatan substantif (apa yang “ada secara tetap”), melainkan harus mempertimbangkan aspek relasional dan prosesual. Dalam literatur filosofi sosial, hal ini dikemukakan sebagai perbedaan antara ontologi substansial vs ontologi relasional/proses (processual social ontology). [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

Dengan demikian, landasan filsafat ontologi kritis menekankan bahwa ilmu sosial tidak boleh hanya menerima asumsi realitas sebagai “diberi”, melainkan harus mempertanyakan struktur, asal-usul, dinamika dan implikasi sosial dari realitas tersebut.


Struktur Realitas dalam Pendekatan Kritis

Pendekatan kritis terhadap ontologi sosial sering menggunakan model, atau setidaknya membedakan, beberapa cara melihat realitas sosial:

  • Ontologi substansial (substantial ontology): realitas dianggap terdiri dari entitas-entitas tetap dan terpisah (misalnya individu, objek, institusi) yang memiliki sifat tetap. Pendekatan ini cenderung lebih “tradisional” dan bersifat lebih objektif. Dalam banyak kajian, pendekatan ini berhasil menjelaskan entitas sosial dalam kategori, tapi seringkali gagal menangkap dinamika dan perubahan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Ontologi relasional / prosesual (relational / processual ontology): realitas sosial dilihat sebagai jaringan relasi dan interaksi, di mana entitas sosial tidak berdiri sendiri, tetapi terbentuk oleh relasi, konteks, dan proses. Dalam hal ini, struktur sosial, kekuasaan, sejarah, norma, praktik sehari-hari, dan dinamika interaksi menjadi pusat kajian. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Realitas sosial sebagai konstruksi simbolik, kultural, dan institusional: selain aspek material, realitas sosial juga melibatkan aspek simbolik, makna, norma, dan sistem nilai, yang tidak bisa direduksi hanya ke aspek empiris atau material. Perspektif ini penting untuk menangkap fenomena seperti identitas, wacana, norma sosial, struktur kekuasaan, dan representasi. [Lihat sumber Disini - ruangjurnal.com]

Dengan demikian, ontologi kritis memandang realitas sosial sebagai sesuatu yang kompleks, multi-dimensional, dinamis, bukan hanya sekadar kumpulan fakta atau objek yang bisa diobservasi secara langsung, tetapi juga jalinan struktur, relasi, makna, dan kekuasaan.


Hubungan Ontologi dengan Konstruksi Sosial

Pendekatan ontologi kritis sangat erat hubungannya dengan gagasan konstruksi sosial. Intinya: tidak semua yang kita anggap “nyata” secara sosial muncul begitu saja sebagai fakta alamiah, banyak realitas sosial dibentuk oleh praktik sosial, budaya, norma, institusi, bahasa, wacana, interaksi, dan kekuasaan.

Beberapa poin penting:

  • Pemahaman tentang “apa yang ada” (ontologi) menentukan bagaimana kita memahami “siapa yang ada”, “bagaimana relasinya”, dan “mengapa struktur sosial seperti itu bisa muncul”. Jika kita menerima realitas sosial sebagai sesuatu yang netral dan objektif, kita mungkin melewatkan bagaimana relasi kekuasaan, sejarah, dan dominasi membentuk realitas tersebut.

  • Dalam kebijakan publik atau administrasi, misalnya, pendekatan ontologi sosial membantu memahami bahwa kebijakan bukan hanya soal teknis, melainkan soal bagaimana struktur sosial, norma, dan praktik membentuk realitas sosial warga. Itu bisa mempengaruhi siapa yang diuntungkan, siapa yang tersisih. Studi “Ontologi sosial dalam konteks administrasi publik” menunjukkan bagaimana pemahaman ontologis bisa mempengaruhi cara kita merancang kebijakan agar sensitif terhadap dinamika sosial. [Lihat sumber Disini - jurnalku.org]

  • Realitas sosial sebagai hasil konstruksi bersama, artinya: identitas kelompok, peran sosial, institusi, norma, dan makna sosial bisa berubah seiring dengan dinamika sosial, interaksi, resistensi, dan perebutan kekuasaan. Ontologi kritis membuka ruang untuk menganalisis perubahan dan transformasi tersebut.


Peran Ontologi Kritis dalam Analisis Sosial

Pendekatan ontologi kritis memberikan manfaat penting dalam penelitian dan analisis sosial:

  • Membantu peneliti untuk tidak hanya “mencatat fakta”, tetapi juga mengeksplorasi struktur dan mekanisme yang mendasari fenomena sosial, termasuk aspek kekuasaan, sejarah, nilai, dan konteks budaya.

  • Memberikan kerangka reflektif ketika merumuskan desain penelitian: dengan mempertanyakan asumsi dasar tentang realitas, peneliti bisa lebih sadar terhadap bias, posisi, dan implikasi epistemik dari penelitian.

  • Membuka ruang interpretasi dan pluralitas: karena realitas sosial dilihat sebagai konstruksi, maka ada kemungkinan banyak “versi realitas”, sehingga penelitian bisa menyertakan perspektif dari kelompok marginal, minoritas, atau mereka yang sering tidak terdengar.

  • Membantu dalam analisis kebijakan, sosial, dan institusional, terutama ketika ingin mengevaluasi bagaimana kebijakan, praktik, institusi mempengaruhi realitas sosial, distribusi kekuasaan, dan keadilan sosial.


Kritik terhadap Pendekatan Ontologi Lain

Pendekatan ontologi lain, misalnya positivisme, empirisme, atau ontologi substansial tradisional, dianggap memiliki keterbatasan, terutama dalam konteks kajian sosial:

  • Ontologi empiris/positivis sering mengedepankan realitas yang bisa diobservasi dan diukur secara empiris saja; ini cenderung mengabaikan aspek struktural, kultural, simbolik, dan kekuasaan. Dalam banyak kasus, hal ini menyebabkan simplifikasi realitas sosial dan ketidakmampuan menangkap kompleksitas dinamika sosial. Kritik terhadap “ontologi sains modern” menunjukkan bahwa sains modern bisa mendestruksi makna kemanusiaan jika terlalu mengabaikan aspek metafisik, nilai, dan kultural. [Lihat sumber Disini - jurnal.peneliti.net]

  • Ontologi substansial, yang melihat entitas sebagai tetap dan terpisah, sulit menjelaskan perubahan, dinamika relasi, dan konteks sosial. Dengan demikian, pendekatan ini bisa terkesan statis, tidak sensitif terhadap transformasi sosial, dan cenderung mereduksi kompleksitas realitas manusia.

  • Kritik juga muncul terhadap asumsi bahwa realitas sosial bersifat universal, homogen, dan abadi, padahal dalam kenyataan, realitas sosial terkonstruksi dalam konteks sejarah, budaya, dan kekuasaan, serta bisa berubah dari waktu ke waktu.


Contoh Kajian Ontologi Kritis dalam Penelitian Sosial

Beberapa penelitian dan kajian nyata menggunakan pendekatan ontologi atau ontologi kritis dalam konteks ilmu sosial:

  • Artikel “Ontologi Sosial dalam Konteks Administrasi Publik: Implikasi bagi Pengembangan Kebijakan” menunjukkan bagaimana pemahaman ontologi sosial membantu dalam merancang kebijakan dan implementasi program publik dengan memahami realitas sosial dan struktur masyarakat. [Lihat sumber Disini - jurnalku.org]

  • Kajian tentang “Tinjauan Kritis terhadap Ontologi Ilmu (Hakikat Realitas) dalam Perspektif Sains Modern” menelaah bagaimana pendekatan ontologis pada sains perlu dikritisi, bahwa sains modern tidak selalu mampu menangkap kompleksitas realitas sosial, dan perlu kesadaran filosofi yang lebih luas. [Lihat sumber Disini - jiip.stkipyapisdompu.ac.id]

  • Dalam ilmu pendidikan, artikel “ASPEK ONTOLOGI ILMU PENGETAHUAN” menekankan bahwa ontologi dalam ilmu pengetahuan (termasuk ilmu sosial dan pendidikan) berperan untuk memahami realitas manusia secara utuh, termasuk aspek sosial, budaya, dan nilai, bukan hanya aspek empiris atau kuantitatif. [Lihat sumber Disini - ejournal.indo-intellectual.id]

  • Pendekatan teoritis dalam filosofi sains kontemporer (termasuk kritik terhadap modernisme) juga memandang bahwa basis ontologis penelitian harus eksplisit, agar tidak jatuh ke dalam reduksionisme dan menjaga relevansi terhadap realitas manusia. [Lihat sumber Disini - lpppipublishing.com]


Kesimpulan

Ontologi kritis merupakan pendekatan filosofis dan metodologis penting dalam ilmu sosial, yang menuntut kita untuk tidak menerima “realitas sosial” sebagai sesuatu yang netral dan tetap, tetapi untuk mempertanyakan, menganalisis, dan mengungkap struktur, mekanisme, relasi kekuasaan, nilai, dan konteks sosial di balik realitas itu.

Dengan menerapkan ontologi kritis, penelitian sosial dapat lebih sensitif terhadap kompleksitas manusia, budaya, institusi, dan dinamika sosial. Ini memungkinkan analisis yang lebih komprehensif dan reflektif, yang tidak hanya menjelaskan “apa adanya”, tetapi juga “mengapa” dan “bagaimana” realitas sosial terbentuk dan berubah.

Pada akhirnya, ontologi kritis membantu menjaga agar ilmu sosial tetap relevan, manusiawi, dan mampu menjawab tantangan perubahan sosial dengan kesadaran filosofis.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Ontologi kritis adalah pendekatan filsafat yang mengkaji realitas sosial secara reflektif, mempertanyakan struktur, mekanisme, dan relasi kekuasaan di balik fenomena sosial. Pendekatan ini melihat realitas sosial sebagai konstruksi yang dinamis, bukan sesuatu yang netral atau tetap.

Ontologi tradisional cenderung memandang realitas sebagai sesuatu yang tetap dan objektif, sementara ontologi kritis menekankan aspek relasional, historis, dan konstruksi sosial. Pendekatan kritis mempertanyakan faktor kekuasaan, struktur, dan makna yang membentuk realitas sosial.

Ontologi kritis penting karena membantu peneliti memahami realitas sosial secara mendalam, tidak hanya berdasarkan data permukaan. Pendekatan ini menyoroti mekanisme tersembunyi, relasi kekuasaan, nilai, dan konstruksi sosial yang mempengaruhi fenomena sosial.

Contoh penerapannya meliputi analisis kebijakan publik berbasis struktur sosial, studi relasi kekuasaan dalam institusi, penelitian konstruksi identitas sosial, dan evaluasi praktik sosial yang dibentuk oleh norma dan wacana. Penelitian ini biasanya menyoroti faktor-faktor yang tidak tampak secara langsung.

Keduanya berhubungan erat karena ontologi kritis memandang realitas sosial terbentuk melalui proses konstruksi yang melibatkan bahasa, interaksi, sejarah, dan kekuasaan. Konstruksi sosial membantu menjelaskan bagaimana makna, identitas, dan institusi diciptakan dan direproduksi dalam masyarakat.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Ontologi Sosial: Pengertian dan Relevansinya dalam Penelitian Ontologi Sosial: Pengertian dan Relevansinya dalam Penelitian Ontologi Penelitian: Konsep, Fungsi, dan Penerapan Ontologi Penelitian: Konsep, Fungsi, dan Penerapan Ontologi Pengetahuan: Definisi dan Peran dalam Riset Ontologi Pengetahuan: Definisi dan Peran dalam Riset Ontologi Sosial dalam Filsafat Ilmu Ontologi Sosial dalam Filsafat Ilmu Filsafat Ilmu: Hubungan antara Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Filsafat Ilmu: Hubungan antara Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Hubungan Filsafat Ilmu dengan Metodologi Penelitian Hubungan Filsafat Ilmu dengan Metodologi Penelitian Landasan Ontologis Penelitian: Definisi dan Contohnya Landasan Ontologis Penelitian: Definisi dan Contohnya Kajian Filosofis terhadap Penelitian Modern Kajian Filosofis terhadap Penelitian Modern Struktur Paradigma Ilmiah: Unsur dan Tahapan Struktur Paradigma Ilmiah: Unsur dan Tahapan Paradigma Kritis: Tujuan dan Penerapannya dalam Kajian Sosial Paradigma Kritis: Tujuan dan Penerapannya dalam Kajian Sosial Paradigma Kritis: Prinsip dan Contohnya dalam Penelitian Sosial Paradigma Kritis: Prinsip dan Contohnya dalam Penelitian Sosial Struktur Paradigma Ilmiah: Unsur dan Tahapannya Struktur Paradigma Ilmiah: Unsur dan Tahapannya Teori Kritis Habermas: Prinsip dan Contoh dalam Riset Sosial Teori Kritis Habermas: Prinsip dan Contoh dalam Riset Sosial Berpikir Kritis: Pengertian, Tahapan, dan Contohnya Berpikir Kritis: Pengertian, Tahapan, dan Contohnya Teori dan Praksis dalam Filsafat Ilmu Teori dan Praksis dalam Filsafat Ilmu Paradigma Ilmu Sosial: Pengertian dan Klasifikasinya Paradigma Ilmu Sosial: Pengertian dan Klasifikasinya Paradigma Postmodern dalam Ilmu Pengetahuan Paradigma Postmodern dalam Ilmu Pengetahuan Analisis Kritis Jurnal Ilmiah: Langkah dan Contoh Analisis Kritis Jurnal Ilmiah: Langkah dan Contoh Aksiologi: Pengertian, Prinsip, dan Contoh dalam Filsafat Ilmu Aksiologi: Pengertian, Prinsip, dan Contoh dalam Filsafat Ilmu Idealisme Ilmiah: Konsep dan Contohnya Idealisme Ilmiah: Konsep dan Contohnya
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…