
Perumusan Masalah Penelitian: Langkah dan Contoh
Pendahuluan
Penelitian ilmiah merupakan aktivitas sistematis yang dilakukan untuk menemukan, menguji, atau mengembangkan pengetahuan baru serta memecahkan persoalan nyata di masyarakat atau bidang ilmu tertentu. Agar penelitian dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan kontribusi yang bermakna, peneliti harus memulai dari identifikasi persoalan yang jelas dan kemudian ke arah rumusan masalah yang tepat. salah satu aspek krusial dalam rangkaian penelitian adalah perumusan masalah penelitian. Tanpa perumusan masalah yang dijabarkan dengan baik, penelitian akan cenderung kehilangan arah, hasilnya menjadi tidak fokus atau bahkan tidak dapat diukur secara valid. Misalnya, sebuah penelitian yang tanpa rumusan masalah yang spesifik sering kali mengarah pada pengumpulan data yang meluas tanpa batasan, analisis yang lemah, dan kesimpulan yang kurang kokoh. Oleh karenanya, memahami definisi, langkah-langkah, dan contoh konkret dalam perumusan masalah penelitian menjadi sangat penting, baik bagi mahasiswa, peneliti pemula, maupun praktisi yang melakukan penelitian terapan.
Artikel ini akan membahas secara komprehensif tentang perumusan masalah penelitian: mulai dari pengertian umum, pengertian dalam KBBI, definisi menurut para ahli, kemudian dilanjutkan dengan langkah-langkah praktis dalam merumuskan masalah penelitian, serta diberikan contoh aplikasi perumusan masalah. Dengan begitu, diharapkan pembaca memperoleh panduan yang jelas dan dapat langsung diterapkan dalam penyusunan proposal maupun penelitian sesungguhnya.
Definisi Perumusan Masalah Penelitian
Definisi Secara Umum
Secara umum, perumusan masalah penelitian dapat diartikan sebagai proses atau tahapan dalam penelitian di mana peneliti menetapkan persoalan atau pertanyaan penelitian yang akan dijawab melalui penelitian. Dalam modul pembelajaran metode penelitian disebut bahwa “Masalah adalah kesenjangan (discrepancy) antara apa yang seharusnya (harapan) dengan apa yang ada dalam kenyataan sekarang.” [Lihat sumber Disini - pustaka.ut.ac.id] Lebih lanjut, perumusan masalah merupakan titik awal yang menentukan arah penelitian, karena rumusan tersebut akan membimbing penetapan kerangka teoritis, metodologi, analisis data, hingga kesimpulan. [Lihat sumber Disini - pustaka.ut.ac.id] Dengan demikian, secara umum perumusan masalah adalah formulasi yang memfokuskan penelitian pada persoalan yang ingin dipecahkan atau dijawab.
Definisi dalam KBBI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata masalah didefinisikan sebagai “sesuatu yang harus diselesaikan (dipecahkan); soal; persoalan”. [Lihat sumber Disini - kbbi.web.id] Maka, jika kita menggabungkan kata perumusan dengan masalah penelitian, bisa dipahami bahwa perumusan masalah penelitian adalah proses merumuskan persoalan penelitian yang harus dipecahkan, yakni menetapkan persoalan, bukan hanya sekadar judul atau topik. Artinya: bukan hanya memilih topik yang menarik, tetapi mengidentifikasi persoalan spesifik yang memerlukan penelitian.
Definisi Menurut Para Ahli
Berikut beberapa pendapat para ahli tentang rumusan masalah/ perumusan masalah penelitian:
- Menurut Sugiyono, rumusan masalah adalah sebuah pertanyaan yang mencari sebuah jawaban lewat pengumpulan data dan penelitian. [Lihat sumber Disini - penerbitdeepublish.com]
- Menurut Sutrisno Hadi, rumusan masalah adalah terjadinya peristiwa yang menimbulkan pertanyaan kenapa dan kenapa. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
- Menurut Pariata Westra, rumusan masalah adalah sebuah masalah yang telah terjadi jika seseorang berusaha dan mencoba tujuannya atau percobaannya untuk mencapai tujuannya. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
- Menurut Yenrizal, rumusan masalah adalah hal penting dalam penelitian: sebuah pertanyaan yang kemudian dicari jawabannya melalui penelitian yang sistematis dan objektif. [Lihat sumber Disini - penerbitdeepublish.com]
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa rumusan masalah memiliki karakteristik: (a) berbentuk pertanyaan, (b) muncul dari fenomena atau persoalan aktual, (c) harus dapat dijawab melalui pengumpulan data dan analisis ilmiah, dan (d) menjadi pedoman yang mengarahkan seluruh rangkaian penelitian.
Langkah-Langkah Perumusan Masalah Penelitian
Dalam praktik penyusunan penelitian, langkah-langkah untuk merumuskan masalah secara sistematis sangat membantu agar penelitian tidak “melayang” atau terlalu umum. Berdasarkan penelitian dan artikel terkini di Indonesia, berikut tahapan yang umum diikuti:
1. Pemilihan Topik atau Fenomena
Tahap awal adalah memilih topik atau fenomena yang akan dikaji. Topik ini umumnya berasal dari observasi terhadap realitas di lapangan, studi literatur, pengalaman profesional, maupun gap penelitian sebelumnya. Sebagai contoh, artikel “Petunjuk Praktis Perumusan Masalah Penelitian Kebahasaan bagi Pemula” menyebut bahwa langkah pertama adalah pemilihan fenomena kebahasaan yang dikaji. [Lihat sumber Disini - ejournal.undip.ac.id] Pada tahap ini, peneliti juga mulai mempertimbangkan: apa yang menjadi masalah nyata, siapa subjek atau objek penelitian, di mana dan dalam konteks apa fenomena itu terjadi.
2. Penentuan Objek Kajian
Setelah topik ditentukan, langkah selanjutnya adalah mempertegas objek kajian penelitian,yakni siapa atau apa yang akan diteliti. Apakah individu, kelompok, institusi, program, kebijakan, atau fenomena sosial-kultural. Objek kajian ini membantu membatasi penelitian agar lebih terfokus. Dalam referensi disebut sebagai “penentuan objek kajian” sebagai bagian dari tahapan perumusan masalah. [Lihat sumber Disini - ejournal.undip.ac.id]
3. Penentuan Lingkup Kajian atau Batasan Ruang dan Waktu
Penelitian harus memilih lingkup atau batasan agar masalah tidak terlalu luas sehingga sulit ditangani. Lingkup ini bisa berupa aspek aspek tertentu dari fenomena, kelompok tertentu, lokasi spesifik, periode waktu tertentu, atau variabel yang dibatasi. Sebagai contoh, artikel tersebut menyebut “penentuan lingkup kajian” sebagai tahap ke-4 dalam proses. [Lihat sumber Disini - ejournal.undip.ac.id]
4. Identifikasi Kesenjangan atau Gap dan Pernyataan Masalah
Pada tahap ini peneliti melakukan identifikasi terhadap “kesenjangan” antara kondisi ideal atau expected dengan kondisi nyata yang ditemukan di lapangan. Modul metode penelitian menyebut bahwa masalah adalah kesenjangan antara apa yang seharusnya dengan apa yang ada. [Lihat sumber Disini - pustaka.ut.ac.id] Dari identifikasi ini kemudian diturunkan pertanyaan penelitian atau pernyataan masalah yang akan dijawab penelitian.
5. Merumuskan Kalimat Rumusan Masalah
Hasil dari identifikasi kemudian dituangkan ke dalam kalimat rumusan masalah. Rumusan ini sebaiknya berbentuk pertanyaan (kalimat tanya) yang spesifik, jelas, dan operasional (dapat diukur/diteliti). Sebagai contoh: “Apakah terdapat hubungan antara X dan Y pada kondisi Z?” atau “Bagaimana efektivitas program A terhadap outcome B di instansi C?” Beberapa literatur menyatakan bahwa rumusan masalah yang baik: singkat, padat, jelas, dan operasional. [Lihat sumber Disini - j-innovative.org]
6. Memastikan Sinkronitas dengan Tujuan, Judul, dan Metodologi
Setelah rumusan masalah dibuat, penting untuk memastikan bahwa rumusan tersebut selaras dengan judul penelitian, tujuan penelitian, dan metode yang akan digunakan. Bila rumusan masalah sudah “keluar jalur”, maka metodologi dan instrumen juga bisa menjadi tidak tepat. Sebuah artikel menyebut bahwa rumusan masalah dikelompokkan menjadi deskriptif, komparatif, dan asosiatif, yang masing-masing memerlukan metode yang berbeda. [Lihat sumber Disini - ejournal.warunayama.org]
7. Penyempurnaan dan Validasi Internal
Tahap akhir adalah mengecek kembali rumusan masalah: apakah sudah jelas, apakah dapat dijawab melalui data, apakah relevan, apakah masih sesuai dengan kemampuan dan sumber daya peneliti. Bila perlu, diskusikan dengan pembimbing atau stakeholder penelitian untuk validasi kesesuaian.
Ciri-Ciri Rumusan Masalah yang Baik
Untuk membantu menghasilkan rumusan masalah yang baik, berikut beberapa karakteristik yang sering disebut dalam literatur:
- Rumusan berbentuk kalimat tanya. [Lihat sumber Disini - j-innovative.org]
- Rumusan jelas dan spesifik, tidak multitafsir. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
- Rumusan berbasis fenomena aktual dan relevan dengan bidang kajian serta memiliki nilai penelitian. [Lihat sumber Disini - penerbitdeepublish.com]
- Rumusan dapat diuji atau diteliti melalui metode ilmiah, serta dapat menghasilkan data yang valid. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
- Rumusan diarahkan untuk memandu alur penelitian (judul → masalah → tujuan → metode). [Lihat sumber Disini - ejournal.warunayama.org]
- Rumusan dibatasi lingkupnya (time, space, variabel) agar penelitian tidak terlalu luas. [Lihat sumber Disini - j-innovative.org]
Contoh Perumusan Masalah Penelitian
Untuk membuat gambaran yang lebih nyata, berikut beberapa contoh rumusan masalah penelitian yang disesuaikan dengan jenis penelitian berbeda:
Contoh 1 (Deskriptif)
Judul penelitian: “Tingkat Kepuasan Pelanggan Terhadap Layanan Digital Banking di Kota X”.
Rumusan masalah:
- Berapa tingkat kepuasan pelanggan terhadap layanan digital banking di Kota X?
- Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat kepuasan pelanggan terhadap layanan digital banking di Kota X?
Penjelasan: Rumusan ini bersifat deskriptif karena hanya ingin menggambarkan keadaan atau kondisi tanpa membandingkan dengan kelompok lain ataupun melihat hubungan antar variabel.
Contoh 2 (Komparatif)
Judul penelitian: “Perbandingan Efektivitas Pembelajaran Daring dan Luring di Sekolah Menengah Atas Negeri Y”.
Rumusan masalah:
- Apakah terdapat perbedaan efektivitas antara pembelajaran daring dan luring di SMA Y?
- Bagaimanakah tingkat motivasi belajar siswa yang mengikuti pembelajaran daring dibandingkan yang mengikuti pembelajaran luring di SMA Y?
Penjelasan: Rumusan masalah ini membandingkan dua kondisi atau kelompok (daring vs luring).
Contoh 3 (Asosiatif/Kausal)
Judul penelitian: “Pengaruh Kepemimpinan Transformasional Terhadap Kinerja Karyawan di Perusahaan Z”.
Rumusan masalah:
- Apakah terdapat pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap kinerja karyawan di perusahaan Z?
- Faktor apa yang memediasi pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap kinerja karyawan di perusahaan Z?
Penjelasan: Rumusan ini melihat hubungan antar variabel (kepemimpinan → kinerja) dan bahkan faktor mediasi untuk memperdalam analisis.
Contoh Aplikasi di Bidang Pendidikan
Judul: “Implementasi Media Pembelajaran Interaktif untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa Kelas VIII pada Mata Pelajaran IPS Terpadu di MTs At-Taufiq Singaraja”.
Rumusan masalah:
- Bagaimanakah proses rancang-bangun media pembelajaran interaktif untuk siswa kelas VIII? (yakni fokus proses)
- Bagaimanakah tanggapan uji ahli media dan uji ahli isi terhadap media pembelajaran interaktif tersebut?
- Bagaimanakah tanggapan uji coba perorangan dan kelompok kecil siswa terhadap media pembelajaran interaktif tersebut?
- Bagaimanakah efektivitas penggunaan media pembelajaran interaktif terhadap hasil belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPS Terpadu? [Lihat sumber Disini - repo.undiksha.ac.id]
Catatan: Dalam contoh keempat, rumusan masalah mencakup proses, tanggapan dari pengguna/ahli, serta efektivitas,yang menunjukkan bahwa sebuah penelitian bisa memiliki beberapa rumusan masalah terkait aspek yang berbeda.
Tips Praktis untuk Peneliti Pemula
- Pastikan topik yang dipilih bukan hanya menarik, tetapi memiliki gap atau persoalan nyata yang belum banyak diteliti.
- Gunakan observasi, wawancara, atau literatur untuk menemukan fenomena aktual yang bisa menjadi dasar rumusan masalah.
- Tulis rumusan masalah dalam bentuk pertanyaan yang spesifik, misalnya “Bagaimana …?”, “Apakah …?” dan hindari terlalu umum seperti “Mengapa …?” tanpa batasan.
- Cek apakah rumusan masalah memungkinkan untuk dijawab dengan data yang tersedia, dalam waktu, sumber daya dan kemampuan yang dimiliki.
- Selaraskan rumusan masalah dengan judul penelitian dan metodologi yang akan dipakai (kuantitatif, kualitatif, atau campuran).
- Buat beberapa opsi rumusan masalah, lalu pilih yang paling fokus, realistis, dan relevan untuk penelitian Anda.
- Konsultasikan dengan pembimbing atau rekan sejawat untuk memastikan rumusan masalah Anda sudah tepat dan tidak terlalu luas.
Kesimpulan
Perumusan masalah penelitian merupakan fondasi kritis yang menentukan arah, fokus, dan kualitas dari sebuah penelitian ilmiah. Dengan merumuskan masalah secara tepat,yakni memilih topik dengan gap penelitian, menentukan objek kajian, membatasi lingkup, dan menuliskannya dalam kalimat pertanyaan yang spesifik,peneliti dapat memastikan penelitian berjalan terarah dan menghasilkan kontribusi yang bermakna bagi ilmu pengetahuan maupun praktik. Rumusan masalah yang baik akan memudahkan dalam menyusun tujuan, memilih metode, mengumpulkan data, dan menganalisis hasil penelitian. Sebaliknya, rumusan masalah yang kurang terstruktur dapat menyebabkan penelitian menjadi meluas tanpa kontrol, hasilnya kurang tajam, dan kontribusinya terbatas. Oleh karena itu, bagi mahasiswa maupun peneliti pemula, memahami dan menjalankan langkah-langkah perumusan masalah dengan cermat merupakan kunci keberhasilan penelitian. Semoga artikel ini dapat menjadi panduan praktis yang berguna dalam proses penyusunan proposal maupun penelitian Anda.