
Self-Care Pasien: Konsep dan Faktor yang Mempengaruhi
Pendahuluan
Self-care (perawatan diri) dalam konteks keperawatan merupakan elemen esensial yang mendasari partisipasi aktif pasien dalam menjaga, memelihara, dan memulihkan kondisi kesehatannya. Pendekatan self-care memposisikan pasien tidak sekadar sebagai penerima layanan kesehatan pasif, melainkan sebagai subjek yang memiliki tanggung jawab, kemampuan, dan potensi untuk merawat dirinya sendiri. Dalam praktik keperawatan modern, terutama di era meningkatnya beban penyakit kronis dan kebutuhan akan kemandirian pasien, pemahaman dan penerapan self-care menjadi semakin penting. Artikel ini akan mengulas konsep self-care dalam keperawatan, faktor-faktor yang mempengaruhi, penilaian kemampuan self-care, intervensi keperawatan, manfaatnya bagi proses penyembuhan, hingga contoh penerapannya pada pasien.
Definisi Self-Care
Definisi Self-Care Secara Umum
Self-care secara umum dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas yang dilakukan individu sendiri untuk memelihara, menjaga, atau meningkatkan kesehatan dan kesejahteraannya. Dalam konteks kesehatan, self-care meliputi tindakan preventif maupun promotif, seperti menjaga kebersihan, nutrisi, istirahat, aktivitas fisik, serta manajemen penyakit kronis.
Definisi Self-Care dalam KBBI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “perawatan diri” atau self-care dapat diartikan sebagai “upaya atau tindakan yang dilakukan seseorang untuk merawat dirinya sendiri”, yang bisa mencakup perawatan fisik, menjaga kebersihan, kesehatan, dan kondisi tubuh. (Kalau lo butuh kutipan persis dari KBBI, bisa lo cari dan masukkan link sesuai ketentuan.)
Definisi Self-Care Menurut Para Ahli
Beragam ahli telah mendefinisikan self-care. Berikut beberapa definisi menurut para pakar:
-
Dorothea Orem, menurut teori keperawatannya, self-care adalah “kegiatan yang individu lakukan sendiri untuk memenuhi kebutuhan dalam mempertahankan kehidupan, kesehatan, dan kesejahteraannya” baik dalam kondisi sehat maupun sakit. [Lihat sumber Disini - perpustakaan.poltekkes-malang.ac.id]
-
Analisis konsep pada klien hipertensi menunjukkan bahwa self-care mencakup tindakan fisik dan psikologis berkesinambungan untuk menjaga kesehatan, mengurangi risiko, dan mengelola penyakit. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Dalam konteks penyakit kronis atau kondisi pasca rawat, self-care dipandang sebagai “self-management” yang meliputi kesadaran, aktivitas, manajemen diri, dan pencegahan komplikasi. [Lihat sumber Disini - jkp.fkep.unpad.ac.id]
-
Seorang individu yang melakukan self-care dianggap memiliki agen mandiri (self-care agency), yaitu potensi dan kemampuan untuk mengambil tindakan perawatan diri secara sadar dan konsisten. [Lihat sumber Disini - journals.ums.ac.id]
Dengan demikian, self-care bukan sekadar tindakan sekali waktu, melainkan proses berkelanjutan yang melibatkan aspek fisik, psikologis, dan sosial.
Konsep Dasar Teori Self-Care (Orem)
Teori self-care yang paling banyak digunakan dalam praktik keperawatan adalah teori Self-Care Deficit dari Dorothea Orem. Beberapa poin pokok dari teori ini antara lain:
-
Orem menekankan bahwa manusia secara alami memiliki kecenderungan dan hak untuk merawat dirinya sendiri secara mandiri, kecuali bila kondisi memaksa mereka tidak mampu. [Lihat sumber Disini - perpustakaan.poltekkes-malang.ac.id]
-
Self-care agency: kemampuan individu untuk melakukan perawatan diri secara sadar. [Lihat sumber Disini - journals.ums.ac.id]
-
Tiga teori dalam kerangka Orem: Self Care, Self-Care Deficit, dan Nursing System. Nursing system dipakai ketika individu tidak sepenuhnya mampu melakukan self-care, di sinilah perawat berperan membantu, mendukung, atau mendidik. [Lihat sumber Disini - jurnal.ruangide.org]
-
Nursing system dibagi berdasarkan tingkat ketergantungan pasien: wholly compensatory (perawat sepenuhnya melakukan perawatan), partially compensatory (perawat dan pasien berbagi tugas), dan supportive-educative (perawat mendidik & mendukung pasien agar mampu melakukan self-care sendiri) jika pasien siap dan mampu belajar. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Teori Orem menekankan bahwa self-care bukan sesuatu yang bersifat intuitif atau spesial, melainkan perilaku yang bisa dibelajari, diasah, dan dikembangkan melalui pendidikan serta dukungan keperawatan. [Lihat sumber Disini - journals.ums.ac.id]
Faktor yang Mempengaruhi Self-Care Pasien
Beberapa faktor dapat mempengaruhi kemampuan dan kecenderungan pasien dalam melakukan self-care, antara lain:
-
Kemampuan kognitif dan pengetahuan pasien, tingkat pemahaman terhadap kondisi, penyakit, dan langkah perawatan akan sangat menentukan.
-
Motivasi dan self-efficacy (kepercayaan diri pasien terhadap kemampuannya sendiri), pasien yang yakin bisa melakukan perawatan diri cenderung lebih konsisten menjalani self-care. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Dukungan keluarga dan lingkungan sosial, dalam banyak kasus, dukungan keluarga dan keterlibatan mereka memperkuat keberlanjutan self-care pasien. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
-
Status fisik dan kondisi penyakit, pada pasien dengan penyakit kronis atau kondisi pasca bedah, tingkat disabilitas atau komplikasi dapat mempengaruhi sejauh mana mereka bisa melakukan self-care mandiri.
-
Asuhan keperawatan dan edukasi, intervensi keperawatan yang sistematis dan edukatif dapat meningkatkan self-care agency dan kemampuan praktis pasien. [Lihat sumber Disini - jurnal.ruangide.org]
-
Faktor psikologis dan emosional, stres, kecemasan, depresi, atau ketakutan terhadap penyakit/komplikasi dapat menghambat motivasi dan konsistensi self-care.
Penilaian Kemampuan Self-Care
Untuk mengadakan asuhan keperawatan yang sesuai, perlu dilakukan penilaian terhadap kemampuan self-care pasien. Penilaian ini mencakup beberapa aspek:
-
Pengkajian kebutuhan self-care: identifikasi apakah pasien mampu memenuhi kebutuhan dasar perawatan diri (nutrisi, kebersihan, mobilitas, istirahat, kontrol gejala, dll).
-
Evaluasi self-care agency: menilai potensi fisik, kognitif, emosional dan motivasional pasien untuk melakukan perawatan diri.
-
Identifikasi defisit self-care: mana aspek yang pasien belum mampu atau butuh bantuan, apakah membutuhkan intervensi wholes compensatory, partially compensatory, atau supportive-educative.
-
Observasi perilaku self-care aktual: misalnya pemenuhan nutrisi, kontrol gula darah (pada DM), kontrol tekanan darah, perawatan luka, kebutuhan perawatan harian, kemampuan mandiri dalam aktivitas sehari-hari.
-
Keterlibatan keluarga dan lingkungan: menilai apakah pasien memiliki dukungan sosial untuk membantu self-care bila dibutuhkan.
Penilaian yang teliti membantu membuat rencana keperawatan yang tepat dan mendukung kemandirian pasien dengan efektif.
Intervensi Keperawatan dalam Mendukung Self-Care
Berdasarkan hasil penilaian, perawat dapat memberikan intervensi sesuai teori Orem. Beberapa intervensi umum meliputi:
-
Edukasi dan konseling pasien: memberikan informasi tentang penyakit, manajemen, perawatan diri, gaya hidup sehat, pencegahan komplikasi. Banyak penelitian menunjukkan bahwa edukasi berbasis teori Orem dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan self-care. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
-
Pelatihan praktik self-care: misalnya cara perawatan luka, kontrol gula darah, manajemen gejala, aktivitas harian, rehabilitasi fisik, dan tindakan mandiri lain sesuai kebutuhan. Contohnya dalam kasus pasien DM, luka modern, atau pasien pasca operasi. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id]
-
Pendampingan dan dukungan keluarga: melibatkan keluarga dalam perawatan serta mendukung keberlanjutan self-care di rumah. [Lihat sumber Disini - ejournal.nusantaraglobal.ac.id]
-
Monitoring dan follow-up secara berkala: evaluasi berkala untuk menilai perkembangan self-care, keberhasilan intervensi, serta adaptasi bila kondisi pasien berubah. Studi menunjukkan program berbasis Orem dengan follow-up dapat meningkatkan kualitas hidup dan self-care pasien kronis. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Manfaat Self-Care bagi Proses Penyembuhan
Penerapan self-care pada pasien memberikan berbagai manfaat, antara lain:
-
Meningkatkan kualitas hidup, pasien yang mampu merawat dirinya sendiri cenderung punya kontrol lebih baik terhadap penyakit, gejala, dan komplikasi, sehingga kualitas hidup membaik. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Mengurangi ketergantungan pada tenaga kesehatan, dengan self-care, beban perawatan jangka panjang dapat berkurang, efisiensi layanan meningkat. Teori Orem memposisikan perawat sebagai fasilitator, bukan penyedia terus-menerus. [Lihat sumber Disini - journals.ums.ac.id]
-
Mempercepat proses penyembuhan dan rehabilitasi, terutama pada pasien pasca operasi, penyakit kronis, atau kondisi rawat jalan: keterlibatan aktif pasien membantu stabilisasi kondisi, pencegahan komplikasi, serta kemandirian jangka panjang. [Lihat sumber Disini - journals.lww.com]
-
Meningkatkan kepercayaan diri (self-efficacy) dan kemandirian, ketika pasien berhasil mengelola kesehatannya sendiri, mereka merasa lebih berdaya dan termotivasi untuk menjaga kondisi kesehatan secara berkelanjutan. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
Contoh Penerapan Self-Care pada Pasien
Beberapa contoh nyata penerapan self-care dalam asuhan keperawatan antara lain:
-
Pasien dengan Diabetes Mellitus tipe II: intervensi edukatif berbasis teori Orem melalui penyuluhan interaktif, demonstrasi perawatan luka kaki diabetik, simulasi praktik, dan media edukatif, hasilnya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan self-care pasien secara signifikan. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
-
Pasien post-operasi: penggunaan teori Orem untuk mengarahkan pasien dalam melakukan perawatan diri pasca operasi, meningkatkan kemandirian, dan mengurangi kebutuhan intervensi intensif. [Lihat sumber Disini - scholar.ui.ac.id]
-
Pasien dengan penyakit kronis / penyakit paru seperti Bronchial Asthma: penerapan self-monitoring dan edukasi berdasarkan teori Orem terbukti meningkatkan self-care, mengurangi kunjungan darurat, dan memperbaiki kualitas hidup. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Pasien anak atau remaja dengan kondisi kronis: penerapan teori Orem dengan edukasi, dukungan keluarga, dan pendekatan holistik dapat meningkatkan perilaku self-care dan hasil kesehatan. [Lihat sumber Disini - conference.unsri.ac.id]
Kesimpulan
Self-care adalah aspek fundamental dalam keperawatan modern, bukan hanya sebagai pelengkap, tetapi sebagai pondasi bagi kemandirian pasien dalam menjaga kesehatan, manajemen penyakit, dan proses penyembuhan. Melalui kerangka teori SelfโCare Deficit Nursing Theory (SCDNT) dari Dorothea Orem, perawat memiliki panduan sistematis untuk menilai kemampuan pasien, mengidentifikasi defisit self-care, dan memberikan intervensi dukungan serta edukasi yang sesuai. Faktor seperti pengetahuan, motivasi, dukungan keluarga, kondisi fisik, serta intervensi keperawatan menentukan keberhasilan self-care. Penerapan self-care tidak hanya memperbaiki hasil kesehatan dan kualitas hidup, tetapi juga membangun kemandirian dan self-efficacy pasien. Oleh karena itu, integrasi konsep self-care dalam asuhan keperawatan, khususnya pada pasien dengan penyakit kronis, kondisi pasca operasi, atau yang memerlukan perawatan jangka panjang, sangat disarankan untuk meningkatkan efektivitas dan keberlanjutan perawatan.