Terakhir diperbarui: 01 January 2026

Citation (APA Style):
Davacom. (2026, 1 January). Self-Esteem: Faktor yang Mempengaruhi dan Pengukurannya. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/selfesteem-faktor-yang-mempengaruhi-dan-pengukurannya  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Self-Esteem: Faktor yang Mempengaruhi dan Pengukurannya - SumberAjar.com

Self-Esteem: Faktor yang Mempengaruhi dan Pengukurannya

Pendahuluan

Self-esteem atau harga diri merupakan komponen psikologis yang fundamental dalam kehidupan manusia. Harga diri mencerminkan bagaimana individu menilai keberhargaan, kemampuan, dan nilai dirinya sendiri dalam berbagai konteks sosial, emosional, dan kognitif. Kendati konsep ini tampak sederhana, perannya begitu luas, mulai dari bagaimana seseorang berinteraksi dengan lingkungan sosialnya hingga keputusan yang diambil dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian psikologi modern menunjukkan bahwa tingkatan self-esteem dapat berdampak langsung pada kesehatan mental, hubungan interpersonal, motivasi dalam aktivitas sehari-hari, serta kualitas hidup secara keseluruhan. Individu dengan self-esteem tinggi cenderung memiliki kemampuan lebih baik dalam menghadapi tantangan hidup dan menjaga keseimbangan psikologisnya, sedangkan self-esteem rendah seringkali dikaitkan dengan risiko gangguan suasana hati, kecemasan, dan perilaku maladaptif lainnya. Studi di berbagai bidang, termasuk pendidikan dan perkembangan remaja, menegaskan pentingnya pemahaman mendalam tentang self-esteem, faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta metode yang dapat digunakan untuk menilai self-esteem secara tepat dalam konteks penelitian dan praktik psikologis. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Definisi Self-Esteem

Definisi Self-Esteem Secara Umum

Self-esteem secara umum didefinisikan sebagai evaluasi individu terhadap dirinya sendiri, khususnya dalam hal nilai, kemampuan, dan kebermanfaatan yang dirasakan terhadap diri sendiri. Evaluasi ini mencerminkan bagaimana seseorang mempersepsikan dirinya dalam dimensi positif atau negatif, yang kemudian memengaruhi sikap, perilaku, serta pola pikir individu tersebut. Konsep self-esteem ini bukan hanya mencakup bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri, tetapi juga bagaimana individu merespon pengalaman, kritik, pujian, serta tantangan kehidupan secara holistik. [Lihat sumber Disini - verywellmind.com]

Menurut kajian dalam psikologi sosial, self-esteem tidak hanya sekadar keyakinan diri secara dangkal; melainkan merupakan penilaian global tentang seberapa berharganya seseorang menilai dirinya sendiri, yang mencakup keyakinan terhadap kemampuan, rasa hormat terhadap diri sendiri, serta perasaan aman dalam identitas pribadi. Hal ini menjadikan self-esteem sebagai fondasi psikologis penting untuk kesejahteraan emosional dan sosial. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

Definisi Self-Esteem dalam KBBI

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah “harga diri” yang menjadi padanan self-esteem merujuk pada kesadaran individu tentang nilai atau martabat dirinya, serta penghargaan terhadap dirinya dalam konteks sosial dan moral. Ini mencakup kemampuan untuk melihat nilai diri tanpa memandang rendah kemampuan diri sendiri, serta menjaga citra diri yang positif di mata masyarakat. KBBI mendeskripsikan harga diri sebagai sikap, keyakinan, dan perasaan tentang seberapa penting dan berharga seseorang memandang dirinya sendiri. [Lihat sumber Disini - sampoernauniversity.ac.id]

Definisi Self-Esteem Menurut Para Ahli

Para ahli psikologi telah memberikan berbagai definisi untuk memperkaya pemahaman tentang self-esteem:

  1. Rosenberg (1965), Self-esteem didefinisikan sebagai evaluasi global yang dimiliki seseorang terhadap dirinya sendiri, yang mencakup perasaan berharga dan keyakinan terhadap kemampuan diri secara keseluruhan. Ini adalah ukuran sentral dalam psikologi untuk menilai harga diri individu. [Lihat sumber Disini - novopsych.com]

  2. Baron dan Byrne (2004), Menjelaskan self-esteem sebagai evaluasi atau sikap yang dibuat oleh individu terhadap dirinya sendiri dalam rentang dimensi positif hingga negatif, yang secara langsung berhubungan dengan bagaimana individu menilai kemampuan dan penerimaan dirinya. [Lihat sumber Disini - digilib.upgripnk.ac.id]

  3. Coopersmith (1967 dalam Herdiyanto & Surjaningrum, 2022), Menyatakan self-esteem sebagai penilaian diri sendiri yang mencerminkan derajat nilai yang diberikan individu terhadap dirinya sendiri berdasarkan standar yang mereka anggap penting dalam kehidupan. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]

  4. Ghufron dan Risnawita (2016), Menggambarkan self-esteem sebagai penilaian diri yang mencakup persepsi fisik, sosial, serta psikologis yang dibentuk sejak awal kehidupan melalui interaksi dengan lingkungan sosial. [Lihat sumber Disini - eprints.uny.ac.id]


Aspek-Aspek Self-Esteem

Self-esteem merupakan konstruksi psikologis yang multidimensional. Beberapa aspek penting dalam self-esteem meliputi:

  1. Kompetensi, Keyakinan individu terhadap kemampuan untuk menyelesaikan tugas atau mencapai tujuan tertentu. Ini mencerminkan bagaimana seseorang menilai kapabilitas diri dalam berbagai bidang kehidupan seperti akademik, pekerjaan, atau keterampilan sosial.

  2. Harga Diri/Keberhargaan, Sejauh mana individu merasa dirinya layak dihormati dan dihargai oleh diri sendiri dan orang lain.

  3. Afektif, Melibatkan respon emosional individu terhadap dirinya sendiri, seperti perasaan bangga, puas, atau sebaliknya merasa malu dan tidak aman. Aspek afektif ini sangat berpengaruh terhadap mood dan hubungan interpersonal individu.

  4. Interaksi Sosial, Pengalaman interaksi dengan orang lain, penerimaan sosial dan umpan balik sosial yang berkontribusi terhadap pembentukan persepsi diri. Pengalaman positif umumnya meningkatkan self-esteem sedangkan pengalaman negatif bisa menurunkannya.

  5. Identitas Personal, Bagaimana individu melihat peran dirinya dalam masyarakat, termasuk keberadaan dalam kelompok sosial, peran keluarga, serta perbandingan sosial yang dilakukan individu terhadap orang lain. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

Aspek-aspek ini menunjukkan bahwa self-esteem bukan sekadar satu dimensi tunggal, melainkan hasil penggabungan keyakinan, perasaan, pengalaman, serta konteks sosial yang dinamis sepanjang hidup individu.


Faktor Internal yang Mempengaruhi Self-Esteem

Self-esteem individu dipengaruhi oleh berbagai faktor internal, yakni karakteristik yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri:

1. Faktor Kognitif dan Persepsi Diri

Bagaimana individu menilai kelebihan dan kekurangan dirinya sendiri secara kognitif sangat menentukan tingkat self-esteemnya. Persepsi positif terhadap kemampuan diri, pencapaian, dan kualitas personal biasanya berkorelasi dengan tingkat self-esteem yang tinggi. Sebaliknya, persepsi negatif terhadap diri sendiri seringkali menghasilkan self-esteem rendah.

2. Kepribadian

Sifat kepribadian seperti optimisme, ketahanan emosional, serta kecenderungan berpikir positif memengaruhi self-esteem. Individu dengan trait kepribadian yang stabil cenderung memiliki pandangan lebih positif terhadap dirinya sendiri.

3. Pengalaman Masa Kecil dan Pembelajaran Diri

Pengalaman masa kecil terutama hubungan dengan orang tua dan keluarga sangat memengaruhi pembentukan self-esteem. Pengasuhan yang suportif dan penuh penghargaan memupuk self-esteem yang positif, sedangkan pengalaman negatif seperti kritik berlebihan dapat menghambat perkembangan harga diri.

4. Kesehatan Mental dan Emosi

Individu yang memiliki kemampuan regulasi emosi yang baik biasanya memiliki self-esteem lebih stabil. Gangguan mood atau perasaan tidak aman terkait dengan kondisi psikologis internal dapat berdampak pada evaluasi diri secara keseluruhan.

Faktor internal ini bekerja bersama-sama untuk membentuk bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri, serta berkontribusi dalam bagaimana mereka berperilaku dalam situasi sosial dan personal. Pengaruh internal sering berinteraksi juga dengan faktor eksternal sehingga membentuk self-esteem secara kompleks.


Faktor Lingkungan dalam Pembentukan Self-Esteem

Selain faktor internal, lingkungan sosial dan budaya juga memiliki peran penting dalam pembentukan self-esteem:

1. Interaksi Sosial dan Dukungan Sosial

Hubungan dengan keluarga, teman, dan komunitas sangat memengaruhi bagaimana individu menilai dirinya sendiri. Lingkungan sosial yang suportif cenderung meningkatkan self-esteem, sementara lingkungan yang penuh kritik atau diskriminasi berdampak sebaliknya. [Lihat sumber Disini - journal.unair.ac.id]

2. Pengalaman Akademik dan Profesional

Keberhasilan atau kegagalan dalam lingkungan akademik atau pekerjaan dapat mempengaruhi persepsi diri terhadap kompetensi pribadi. Pengalaman positif memperkuat self-esteem, sedangkan pengalaman kegagalan berulang dapat menurunkan harga diri.

3. Identitas Kelompok dan Norma Sosial

Keterlibatan dalam kelompok sosial, komunitas budaya, atau identitas kelompok juga berkontribusi terhadap self-esteem. Individu yang merasa diterima dalam kelompoknya biasanya memiliki persepsi diri yang lebih positif. Sebaliknya, stigma sosial atau perasaan teralienasi dari kelompok dapat menurunkan self-esteem. [Lihat sumber Disini - ejurnal.esaunggul.ac.id]

4. Lingkungan Pendidikan dan Keluarga

Peran guru, orang tua, serta lingkungan sekolah dalam memberikan umpan balik yang konstruktif sangat penting dalam memupuk rasa percaya diri dan self-esteem siswa. Lingkungan keluarga yang harmonis dan mendukung dapat membantu membangun self-esteem yang sehat sejak dini.

Pengaruh faktor lingkungan ini berinteraksi secara dinamis dengan faktor internal individu, sehingga self-esteem tidak hanya merupakan hasil dari satu sumber tunggal, tetapi kombinasi dari pengalaman internal dan eksternal yang dialami sepanjang hidup.


Dampak Self-Esteem terhadap Perilaku Individu

Self-esteem memiliki pengaruh luas terhadap perilaku, emosi, dan kehidupan sosial individu:

1. Kesehatan Mental dan Kesejahteraan Emosional

Individu dengan self-esteem tinggi umumnya menunjukkan kesejahteraan mental yang lebih baik, kemampuan regulasi emosi yang efektif, dan resilien dalam menghadapi stres. Sebaliknya, self-esteem rendah sering dikaitkan dengan gangguan suasana hati seperti depresi, kecemasan, serta perasaan tidak aman terhadap interaksi sosial. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

2. Motivasi dan Produktivitas

Self-esteem memengaruhi motivasi individu untuk mengejar tujuan dan tantangan. Orang dengan self-esteem tinggi cenderung lebih percaya diri dalam mengambil risiko yang positif, berkomitmen pada tujuan jangka panjang, dan memiliki tingkat ketekunan yang lebih tinggi.

3. Hubungan Interpersonal

Self-esteem menentukan bagaimana seseorang berperilaku dalam hubungan sosial. Individu dengan harga diri tinggi biasanya mampu menjalin hubungan yang sehat dan saling menghargai, sedangkan self-esteem rendah dapat menyebabkan kesulitan dalam membangun hubungan interpersonal yang stabil.

4. Perilaku Akademik dan Karier

Tingkat self-esteem yang positif dikaitkan dengan keterlibatan akademik yang lebih baik, prestasi belajar, serta pilihan karier yang lebih proaktif. Individu dengan self-esteem rendah mungkin menunjukkan penghindaran terhadap tugas yang menantang atau kurang percaya diri dalam kemampuan profesionalnya.

Dampak self-esteem terhadap perilaku menunjukkan bahwa memahami dan memperkuat harga diri dapat berkontribusi besar bagi kualitas hidup dan pencapaian individu dalam berbagai domain kehidupan.


Metode Pengukuran Self-Esteem

Pengukuran self-esteem dalam penelitian psikologi dilakukan menggunakan instrumen yang telah terstandarisasi:

1. Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES)

Rosenberg Self-Esteem Scale adalah salah satu alat ukur paling luas digunakan untuk menilai self-esteem secara global. Instrumen ini terdiri dari 10 pernyataan yang mencakup penilaian positif dan negatif terhadap diri sendiri. Responden diminta untuk menilai sejauh mana setiap pernyataan cocok dengan diri mereka melalui skala Likert. Skor akumulatif kemudian mencerminkan tingkat self-esteem individu. RSES terbukti memiliki reliabilitas dan validitas yang baik dalam berbagai konteks budaya dan kelompok umur. [Lihat sumber Disini - novopsych.com]

2. Skala Self-Esteem Lainnya

Selain RSES, beberapa studi menggunakan skala atau kuisioner lain yang dirancang khusus sesuai konteks populasi yang diteliti (misalnya skala untuk remaja, mahasiswa, atau populasi profesional tertentu). Instrumen-instrumen ini seringkali mempertimbangkan aspek sosial, afektif, maupun kompetensi individu untuk menghasilkan gambaran self-esteem yang lebih komprehensif.

Pengukuran self-esteem penting dalam penelitian dan praktik klinis karena membantu memahami hubungan antara self-esteem dengan berbagai variabel lain, seperti penyesuaian diri, pencapaian akademik, atau kesejahteraan psikologis secara umum.


Kesimpulan

Self-esteem merupakan konstruksi psikologis yang kompleks, mencakup evaluasi diri individu terhadap nilai, kemampuan, serta keberhargaan dirinya sendiri. Konsep ini tidak hanya penting dalam teori psikologi, tetapi juga memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari dan berbagai bidang terapan seperti pendidikan, kesehatan mental, serta pengembangan pribadi. Self-esteem dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal seperti persepsi diri dan kepribadian, serta faktor lingkungan seperti dukungan sosial, pengalaman pendidikan, dan norma budaya. Dampaknya terhadap perilaku individu sangat luas, mulai dari kesehatan mental, hubungan interpersonal, hingga prestasi akademik dan profesional. Dalam penelitian, self-esteem diukur melalui instrumen yang telah distandarisasi seperti Rosenberg Self-Esteem Scale untuk menghasilkan data yang sahih dan reliabel. Pemahaman mendalam tentang self-esteem membantu menjembatani hubungan antara individu dan lingkungannya, serta memberikan wawasan yang penting bagi pengembangan intervensi yang efektif untuk mendukung kesejahteraan psikologis dan pertumbuhan pribadi.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Self-esteem adalah penilaian individu terhadap nilai, keberhargaan, dan kemampuan dirinya sendiri. Self-esteem mencerminkan sejauh mana seseorang merasa dirinya berharga, mampu, dan layak dihormati dalam berbagai aspek kehidupan.

Aspek utama self-esteem meliputi perasaan keberhargaan diri, keyakinan terhadap kemampuan (kompetensi), respon emosional terhadap diri sendiri, interaksi sosial, serta identitas personal dalam lingkungan sosial.

Self-esteem dipengaruhi oleh faktor internal seperti persepsi diri, kepribadian, pengalaman masa kecil, dan kesehatan mental, serta faktor lingkungan seperti dukungan sosial, pola asuh keluarga, pengalaman akademik, dan norma sosial.

Self-esteem berpengaruh terhadap kesehatan mental, motivasi, hubungan interpersonal, serta perilaku akademik dan profesional. Self-esteem yang tinggi berkaitan dengan kesejahteraan psikologis, sedangkan self-esteem rendah dapat meningkatkan risiko masalah emosional.

Self-esteem umumnya diukur menggunakan instrumen psikologis terstandar seperti Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES), yang menilai evaluasi diri individu melalui pernyataan positif dan negatif secara reliabel dan valid.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Self-Compassion: Konsep dan Manfaatnya Self-Compassion: Konsep dan Manfaatnya Self-Concept: Definisi, Ciri, dan Dampaknya Self-Concept: Definisi, Ciri, dan Dampaknya Self-Care Pasien: Konsep dan Faktor yang Mempengaruhi Self-Care Pasien: Konsep dan Faktor yang Mempengaruhi Self-Efficacy: Definisi dan Pengaruhnya terhadap Prestasi Self-Efficacy: Definisi dan Pengaruhnya terhadap Prestasi Self-Regulation: Tahapan dan Contoh Self-Regulation: Tahapan dan Contoh Self-Care Pasien: Peran, Faktor Pendukung, dan Implikasi Keperawatan Self-Care Pasien: Peran, Faktor Pendukung, dan Implikasi Keperawatan Self-Care Behavior: Konsep dan Kemandirian Self-Care Behavior: Konsep dan Kemandirian Hubungan Self-Efficacy dengan Kinerja Akademik Hubungan Self-Efficacy dengan Kinerja Akademik Self Care Management Pasien Self Care Management Pasien Self-Efficacy Ibu Menyusui: Konsep, Peran Motivasi, dan Hasil Laktasi Self-Efficacy Ibu Menyusui: Konsep, Peran Motivasi, dan Hasil Laktasi Self-Acceptance: Konsep dan Kesehatan Mental Self-Acceptance: Konsep dan Kesehatan Mental Self-Control: Konsep dan Relevansi Self-Control: Konsep dan Relevansi Harga Diri Rendah: Konsep dan Contoh Kasus Harga Diri Rendah: Konsep dan Contoh Kasus Self-Efficacy Kesehatan: Konsep, Determinan Psikososial, dan Pengaruh Perilaku Self-Efficacy Kesehatan: Konsep, Determinan Psikososial, dan Pengaruh Perilaku Self-Care Ibu Hamil dalam Menjaga Kesehatan Mental Self-Care Ibu Hamil dalam Menjaga Kesehatan Mental Gangguan Konsep Diri: Penyebab dan Penanganan Gangguan Konsep Diri: Penyebab dan Penanganan Harga Diri Rendah: Dampak Psikososial dan Pendekatan Keperawatan Harga Diri Rendah: Dampak Psikososial dan Pendekatan Keperawatan Manajemen Pelaksanaan Perawatan Mandiri Manajemen Pelaksanaan Perawatan Mandiri Self-Efficacy Ibu Menyusui Self-Efficacy Ibu Menyusui Hubungan Edukasi Obat dengan Penurunan Self-Medication Hubungan Edukasi Obat dengan Penurunan Self-Medication
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…