Terakhir diperbarui: 08 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 8 December). Sindrom Disuse Muscle: Definisi dan Pencegahan. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/sindrom-disuse-muscle-definisi-dan-pencegahan  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Sindrom Disuse Muscle: Definisi dan Pencegahan - SumberAjar.com

Sindrom Disuse Muscle: Definisi dan Pencegahan

Pendahuluan

Disuse muscle, atau yang lebih umum dikenal sebagai atrofi otot karena tidak digunakan, adalah fenomena klinis yang penting dalam rehabilitasi, bed rest, imobilisasi, serta perawatan jangka panjang. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan pengecilan ukuran otot, tetapi juga berpotensi mengurangi kekuatan, fungsi, dan kualitas hidup seseorang. Dalam konteks medis dan keperawatan, pemahaman terhadap definisi, penyebab, gejala, dampak, serta upaya pencegahan dan intervensi menjadi krusial agar komplikasi bisa diminimalkan. Artikel ini membahas secara mendalam sindrom disuse muscle, dari definisi, mekanisme, hingga strategi pencegahan dan intervensi, berdasarkan literatur ilmiah terkini.


Definisi Sindrom Disuse Muscle

Definisi Sindrom Disuse Muscle Secara Umum

Sindrom Disuse Muscle merujuk pada kondisi di mana otot rangka mengalami penurunan massa, ukuran dan kekuatan akibat berkurangnya penggunaan otot secara berkepanjangan, misalnya karena imobilisasi, bed rest, cedera, atau periode tanpa aktivitas. Kondisi ini sering disebut juga “disuse atrophy” atau atrofi otot akibat ketidakaktifan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Definisi Sindrom Disuse Muscle dalam KBBI

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah “atrofi otot” atau “penyusutan otot” mendekati makna disuse muscle, yaitu pengecilan dan penipisan otot karena hilangnya jaringan otot. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]

Definisi Sindrom Disuse Muscle Menurut Para Ahli

Berikut beberapa definisi dari literatur ilmiah:

  • Menurut Bodine & kolega, disuse-induced muscle wasting terjadi ketika “unloading” dan berkurangnya aktivasi saraf menyebabkan penurunan massa dan kemampuan kontraktil otot rangka. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  • Berdasarkan hasil review oleh Rudrappa dkk., imobilisasi menurunkan sintesis protein otot (MPS) dan dapat memicu resistensi insulin, sehingga memicu atrofi otot akibat disuse. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]

  • Menurut Howard & kolega dalam konteks rehabilitasi, disuse atrophy adalah konsekuensi langsung dari tidak digunakannya otot dalam jangka waktu tertentu, menyebabkan penurunan massa dan fungsi otot secara progresif. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

  • Dalam tinjauan mekanisme seluler, Zulfahmidah (2023) menyatakan bahwa atrofi otot rangka akibat disuse terjadi sebagai respons terhadap imobilisasi sendi dan tirah baring yang menyebabkan ketidakaktifan otot. [Lihat sumber Disini - whj.umi.ac.id]


Penyebab Terjadinya Disuse Muscle

Banyak faktor yang dapat memicu disuse muscle, antara lain:


Tanda dan Gejala Klinis

Pada individu dengan disuse muscle, beberapa klinis yang dapat muncul antara lain:


Dampak Imobilisasi terhadap Sistem Muskuloskeletal

Imobilisasi atau kurangnya aktivitas otot berdampak luas, tidak hanya pada otot tetapi juga pada sistem muskuloskeletal secara keseluruhan, antara lain:

  • Hilangnya massa otot rangka secara cepat, terutama di ekstremitas bawah, dengan penurunan massa otot bisa terjadi hanya dalam beberapa hari imobilisasi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  • Penurunan fungsi kontraktil dan kekuatan otot, meningkatkan risiko kelemahan, jatuh, dan kecacatan, terutama pada populasi rentan seperti lansia atau pasien pasca operasi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  • Perubahan komposisi otot, termasuk penurunan densitas serat otot, penurunan protein otot, serta potensi perubahan serat otot (misalnya transisi serat slow-to-fast). [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

  • Efek sistemik metabolik, imobilisasi dapat menyebabkan resistensi insulin, penurunan metabolisme otot, serta dampak negatif pada kesehatan umum dan fungsi tubuh. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]

  • Penurunan kualitas hidup dan meningkatnya beban kesehatan, karena hilangnya mobilitas, meningkatnya risiko komplikasi, serta kebutuhan rehabilitasi jangka panjang. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]


Strategi Pencegahan Disuse Muscle

Mencegah disuse muscle idealnya dilakukan sedini mungkin, terutama pada pasien yang berisiko (imobilisasi, pasca operasi, tirah baring, lansia), dengan strategi berikut:

  • Meminimalkan periode imobilisasi bila memungkinkan, misalnya mempercepat mobilisasi dini setelah pembedahan atau fraktur, bila kondisi pasien memungkinkan.

  • Melanjutkan aktivitas atau latihan ringan, menjaga otot tetap terstimulasi untuk mempertahankan massa dan fungsi, bahkan jika hanya gerakan pasif atau ringan.

  • Nutrisi adekuat, asupan protein dan nutrisi yang cukup mendukung sintesis protein otot serta pemeliharaan massa otot. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

  • Pemantauan dan evaluasi risiko atrofi pada pasien rawat inap, tirah baring, atau lansia, untuk deteksi dini dan intervensi tepat waktu.


Intervensi Keperawatan dan Latihan Otot

Dalam praktik keperawatan dan rehabilitasi, intervensi berikut direkomendasikan untuk mencegah atau mengatasi disuse muscle:

  • Latihan otot pasif atau aktif, tergantung kondisi pasien, latihan ringan secara rutin dapat membantu mempertahankan massa otot dan kekuatan.

  • Program rehabilitasi dan latihan resistensi (resistance training), penelitian terbaru menunjukkan bahwa pelatihan resistensi secara sistematis efektif memperbaiki atrofi otot akibat imobilisasi. [Lihat sumber Disini - bmcmusculoskeletdisord.biomedcentral.com]

  • Stimulasi neuromuskular, misalnya melalui stimulasi listrik otot (electrical muscle stimulation / EMS) untuk mempertahankan aktivitas otot pada pasien yang tidak bisa melakukan kontraksi aktif. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  • Edukasi dan motivasi pasien, penting agar pasien memahami risiko atrofi dan mengikuti program mobilisasi dan latihan secara konsisten; hal ini juga relevan dengan temuan bahwa motivasi dan pengetahuan memengaruhi kejadian disuse atrofi. [Lihat sumber Disini - download.garuda.kemdikbud.go.id]

  • Kolaborasi tim multidisiplin, perawat, fisioterapis, dokter dan ahli rehabilitasi perlu bekerja sama untuk merancang program mobilisasi, nutrisi, dan pemantauan untuk mencegah atrofi.


Contoh Kasus Disuse Muscle

Salah satu studi di Indonesia mengevaluasi pasien pasca operasi fraktur femur, pada 66 pasien, dan menemukan bahwa imobilisasi, nyeri, pengetahuan ROM (range of motion), dan motivasi merupakan faktor penyebab signifikan terjadinya disuse atrofi pada otot plantar fleksor (m. gastrocnemius dan m. soleus). [Lihat sumber Disini - download.garuda.kemdikbud.go.id]

Studi lain pada pasien stroke dengan bedrest lama menunjukkan bahwa lingkar paha mengalami penurunan signifikan antara hari ke-1 dan hari ke-12 rawat inap, menandakan atrofi otot akibat tirah baring. [Lihat sumber Disini - jurnal.um-palembang.ac.id]

Kasus-kasus tersebut menggambarkan bagaimana imobilisasi dan ketidakaktifan otot dalam jangka waktu relatif singkat bisa menyebabkan perubahan signifikan pada massa dan fungsi otot, mempertegas pentingnya intervensi dini.


Kesimpulan

Sindrom Disuse Muscle adalah kondisi medis serius yang muncul akibat kurangnya penggunaan otot dalam jangka waktu tertentu, misalnya karena imobilisasi, tirah baring, atau ketidakaktifan. Kondisi ini menyebabkan atrofi otot: penurunan massa, ukuran, dan kekuatan otot, dengan dampak luas terhadap fungsi, mobilitas, dan kualitas hidup. Faktor penyebab meliputi imobilisasi, penurunan beban mekanik, ketidakseimbangan metabolik, serta faktor individu seperti usia dan jenis serat otot. Pencegahan dan intervensi meliputi mobilisasi dini, latihan otot (pasif/aktif), latihan resistensi, nutrisi adekuat, dan pemantauan multidisiplin. Studi-studi baik internasional maupun di Indonesia menegaskan bahwa atrofi otot bisa terjadi dalam waktu singkat ketika otot tidak digunakan, sehingga intervensi pencegahan dan rehabilitasi sebaiknya segera diterapkan.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Sindrom Disuse Muscle adalah kondisi ketika otot mengalami pengecilan, penurunan massa, dan berkurangnya kekuatan karena tidak digunakan dalam jangka waktu lama, biasanya akibat imobilisasi, tirah baring, atau kurang aktivitas.

Disuse Muscle disebabkan oleh kurangnya aktivitas otot, imobilisasi berkepanjangan, tirah baring, penggunaan gips, perubahan metabolik seperti penurunan sintesis protein otot, serta faktor usia dan kondisi kesehatan individu.

Gejala klinis meliputi penurunan ukuran otot, berkurangnya kekuatan dan fungsi otot, cepat lelah, penurunan daya tahan otot, serta perubahan metabolik seperti resistensi insulin.

Imobilisasi dapat menyebabkan atrofi otot, penurunan kekuatan, perubahan komposisi serat otot, penurunan metabolisme, risiko jatuh, serta menurunkan kualitas hidup pasien.

Pencegahan dilakukan melalui mobilisasi dini, latihan otot aktif maupun pasif, latihan resistensi, pemenuhan nutrisi terutama protein, serta pemantauan pasien berisiko tinggi seperti pasien tirah baring dan pasca operasi.

Intervensi keperawatan mencakup latihan ROM, latihan kekuatan, edukasi pasien, stimulasi neuromuskular, serta kolaborasi dengan fisioterapis dalam menyusun program mobilisasi dan rehabilitasi.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Sindrom Disuse Muscle: Konsep, Mekanisme, dan Pencegahan Sindrom Disuse Muscle: Konsep, Mekanisme, dan Pencegahan Efektivitas Teknik Relaksasi Efektivitas Teknik Relaksasi Dampak Penghentian Mendadak Terapi Obat Dampak Penghentian Mendadak Terapi Obat Pengaruh Diet Tinggi Protein terhadap Massa Otot Pengaruh Diet Tinggi Protein terhadap Massa Otot Pola Makan Tidak Teratur: Konsep, Dampak Metabolik, dan Kesehatan Pola Makan Tidak Teratur: Konsep, Dampak Metabolik, dan Kesehatan Perilaku Pencegahan Penyakit Tidak Menular Perilaku Pencegahan Penyakit Tidak Menular Perilaku Pencegahan COVID-19 Perilaku Pencegahan COVID-19 Hubungan Olahraga dengan Kesehatan Metabolik Hubungan Olahraga dengan Kesehatan Metabolik Pencegahan Penyakit Akibat Kerja Pencegahan Penyakit Akibat Kerja Pencegahan Penyakit Menular: Konsep, adaptasi sosial, dan perilaku Pencegahan Penyakit Menular: Konsep, adaptasi sosial, dan perilaku Perilaku Pencegahan Penyakit: Perspektif Psikologi Perilaku Pencegahan Penyakit: Perspektif Psikologi Pola Diet Tinggi Lemak dan Dampaknya Pola Diet Tinggi Lemak dan Dampaknya Perilaku Ibu dalam Pencegahan Stunting Sejak Kehamilan Perilaku Ibu dalam Pencegahan Stunting Sejak Kehamilan Diet Mediterania: Pengetahuan dan Penerapan Diet Mediterania: Pengetahuan dan Penerapan Health Belief Model: Penjelasan dan Contoh Health Belief Model: Penjelasan dan Contoh Teknik Relaksasi: Konsep, Penerapan, dan Implikasi Keperawatan Teknik Relaksasi: Konsep, Penerapan, dan Implikasi Keperawatan Efektivitas Suplemen Omega-3 pada Dewasa Efektivitas Suplemen Omega-3 pada Dewasa Konsumsi Gula dan Penyakit Metabolik Konsumsi Gula dan Penyakit Metabolik Pencegahan HIV/AIDS Pencegahan HIV/AIDS Ketuban Mekonium: Konsep, Risiko Persalinan, dan Kesiapsiagaan Ketuban Mekonium: Konsep, Risiko Persalinan, dan Kesiapsiagaan
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…