
Sindrom Disuse Muscle: Definisi dan Pencegahan
Pendahuluan
Disuse muscle, atau yang lebih umum dikenal sebagai atrofi otot karena tidak digunakan, adalah fenomena klinis yang penting dalam rehabilitasi, bed rest, imobilisasi, serta perawatan jangka panjang. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan pengecilan ukuran otot, tetapi juga berpotensi mengurangi kekuatan, fungsi, dan kualitas hidup seseorang. Dalam konteks medis dan keperawatan, pemahaman terhadap definisi, penyebab, gejala, dampak, serta upaya pencegahan dan intervensi menjadi krusial agar komplikasi bisa diminimalkan. Artikel ini membahas secara mendalam sindrom disuse muscle, dari definisi, mekanisme, hingga strategi pencegahan dan intervensi, berdasarkan literatur ilmiah terkini.
Definisi Sindrom Disuse Muscle
Definisi Sindrom Disuse Muscle Secara Umum
Sindrom Disuse Muscle merujuk pada kondisi di mana otot rangka mengalami penurunan massa, ukuran dan kekuatan akibat berkurangnya penggunaan otot secara berkepanjangan, misalnya karena imobilisasi, bed rest, cedera, atau periode tanpa aktivitas. Kondisi ini sering disebut juga “disuse atrophy” atau atrofi otot akibat ketidakaktifan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Definisi Sindrom Disuse Muscle dalam KBBI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah “atrofi otot” atau “penyusutan otot” mendekati makna disuse muscle, yaitu pengecilan dan penipisan otot karena hilangnya jaringan otot. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
Definisi Sindrom Disuse Muscle Menurut Para Ahli
Berikut beberapa definisi dari literatur ilmiah:
-
Menurut Bodine & kolega, disuse-induced muscle wasting terjadi ketika “unloading” dan berkurangnya aktivasi saraf menyebabkan penurunan massa dan kemampuan kontraktil otot rangka. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Berdasarkan hasil review oleh Rudrappa dkk., imobilisasi menurunkan sintesis protein otot (MPS) dan dapat memicu resistensi insulin, sehingga memicu atrofi otot akibat disuse. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
-
Menurut Howard & kolega dalam konteks rehabilitasi, disuse atrophy adalah konsekuensi langsung dari tidak digunakannya otot dalam jangka waktu tertentu, menyebabkan penurunan massa dan fungsi otot secara progresif. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Dalam tinjauan mekanisme seluler, Zulfahmidah (2023) menyatakan bahwa atrofi otot rangka akibat disuse terjadi sebagai respons terhadap imobilisasi sendi dan tirah baring yang menyebabkan ketidakaktifan otot. [Lihat sumber Disini - whj.umi.ac.id]
Penyebab Terjadinya Disuse Muscle
Banyak faktor yang dapat memicu disuse muscle, antara lain:
-
Imobilisasi atau tirah baring (bed rest), misalnya setelah pembedahan besar, fraktur dengan gips/traksi, atau pasca stroke. [Lihat sumber Disini - lib.ui.ac.id]
-
Penurunan beban mekanik pada otot, kurangnya “loading” dan aktivitas saraf menyebabkan otot tidak terstimulasi untuk mempertahankan massa. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Kombinasi kurang aktivitas + perubahan metabolik, termasuk penurunan sintesis protein otot, perubahan regulasi molekuler, resistensi insulin, stres oksidatif. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Faktor usia, jenis otot, komposisi serat otot serta kondisi kesehatan individual, misalnya otot dengan sifat tertentu lebih rentan terhadap atrofi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Tanda dan Gejala Klinis
Pada individu dengan disuse muscle, beberapa klinis yang dapat muncul antara lain:
-
Penurunan ukuran otot, otot terlihat mengecil dan “lembek”. Ini adalah tanda paling khas dari atrofi otot. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
-
Penurunan kekuatan otot dan fungsi, otot yang atrofik tak mampu menghasilkan kekuatan dan daya kontraksi normal, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Penurunan daya tahan otot dan cepat lelah, akibat berkurangnya jumlah serat otot dan perubahan metabolik. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Potensi gangguan metabolik, seperti resistensi insulin yang muncul akibat imobilisasi jangka panjang. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
Dampak Imobilisasi terhadap Sistem Muskuloskeletal
Imobilisasi atau kurangnya aktivitas otot berdampak luas, tidak hanya pada otot tetapi juga pada sistem muskuloskeletal secara keseluruhan, antara lain:
-
Hilangnya massa otot rangka secara cepat, terutama di ekstremitas bawah, dengan penurunan massa otot bisa terjadi hanya dalam beberapa hari imobilisasi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Penurunan fungsi kontraktil dan kekuatan otot, meningkatkan risiko kelemahan, jatuh, dan kecacatan, terutama pada populasi rentan seperti lansia atau pasien pasca operasi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Perubahan komposisi otot, termasuk penurunan densitas serat otot, penurunan protein otot, serta potensi perubahan serat otot (misalnya transisi serat slow-to-fast). [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
Efek sistemik metabolik, imobilisasi dapat menyebabkan resistensi insulin, penurunan metabolisme otot, serta dampak negatif pada kesehatan umum dan fungsi tubuh. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
-
Penurunan kualitas hidup dan meningkatnya beban kesehatan, karena hilangnya mobilitas, meningkatnya risiko komplikasi, serta kebutuhan rehabilitasi jangka panjang. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Strategi Pencegahan Disuse Muscle
Mencegah disuse muscle idealnya dilakukan sedini mungkin, terutama pada pasien yang berisiko (imobilisasi, pasca operasi, tirah baring, lansia), dengan strategi berikut:
-
Meminimalkan periode imobilisasi bila memungkinkan, misalnya mempercepat mobilisasi dini setelah pembedahan atau fraktur, bila kondisi pasien memungkinkan.
-
Melanjutkan aktivitas atau latihan ringan, menjaga otot tetap terstimulasi untuk mempertahankan massa dan fungsi, bahkan jika hanya gerakan pasif atau ringan.
-
Nutrisi adekuat, asupan protein dan nutrisi yang cukup mendukung sintesis protein otot serta pemeliharaan massa otot. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Pemantauan dan evaluasi risiko atrofi pada pasien rawat inap, tirah baring, atau lansia, untuk deteksi dini dan intervensi tepat waktu.
Intervensi Keperawatan dan Latihan Otot
Dalam praktik keperawatan dan rehabilitasi, intervensi berikut direkomendasikan untuk mencegah atau mengatasi disuse muscle:
-
Latihan otot pasif atau aktif, tergantung kondisi pasien, latihan ringan secara rutin dapat membantu mempertahankan massa otot dan kekuatan.
-
Program rehabilitasi dan latihan resistensi (resistance training), penelitian terbaru menunjukkan bahwa pelatihan resistensi secara sistematis efektif memperbaiki atrofi otot akibat imobilisasi. [Lihat sumber Disini - bmcmusculoskeletdisord.biomedcentral.com]
-
Stimulasi neuromuskular, misalnya melalui stimulasi listrik otot (electrical muscle stimulation / EMS) untuk mempertahankan aktivitas otot pada pasien yang tidak bisa melakukan kontraksi aktif. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Edukasi dan motivasi pasien, penting agar pasien memahami risiko atrofi dan mengikuti program mobilisasi dan latihan secara konsisten; hal ini juga relevan dengan temuan bahwa motivasi dan pengetahuan memengaruhi kejadian disuse atrofi. [Lihat sumber Disini - download.garuda.kemdikbud.go.id]
-
Kolaborasi tim multidisiplin, perawat, fisioterapis, dokter dan ahli rehabilitasi perlu bekerja sama untuk merancang program mobilisasi, nutrisi, dan pemantauan untuk mencegah atrofi.
Contoh Kasus Disuse Muscle
Salah satu studi di Indonesia mengevaluasi pasien pasca operasi fraktur femur, pada 66 pasien, dan menemukan bahwa imobilisasi, nyeri, pengetahuan ROM (range of motion), dan motivasi merupakan faktor penyebab signifikan terjadinya disuse atrofi pada otot plantar fleksor (m. gastrocnemius dan m. soleus). [Lihat sumber Disini - download.garuda.kemdikbud.go.id]
Studi lain pada pasien stroke dengan bedrest lama menunjukkan bahwa lingkar paha mengalami penurunan signifikan antara hari ke-1 dan hari ke-12 rawat inap, menandakan atrofi otot akibat tirah baring. [Lihat sumber Disini - jurnal.um-palembang.ac.id]
Kasus-kasus tersebut menggambarkan bagaimana imobilisasi dan ketidakaktifan otot dalam jangka waktu relatif singkat bisa menyebabkan perubahan signifikan pada massa dan fungsi otot, mempertegas pentingnya intervensi dini.
Kesimpulan
Sindrom Disuse Muscle adalah kondisi medis serius yang muncul akibat kurangnya penggunaan otot dalam jangka waktu tertentu, misalnya karena imobilisasi, tirah baring, atau ketidakaktifan. Kondisi ini menyebabkan atrofi otot: penurunan massa, ukuran, dan kekuatan otot, dengan dampak luas terhadap fungsi, mobilitas, dan kualitas hidup. Faktor penyebab meliputi imobilisasi, penurunan beban mekanik, ketidakseimbangan metabolik, serta faktor individu seperti usia dan jenis serat otot. Pencegahan dan intervensi meliputi mobilisasi dini, latihan otot (pasif/aktif), latihan resistensi, nutrisi adekuat, dan pemantauan multidisiplin. Studi-studi baik internasional maupun di Indonesia menegaskan bahwa atrofi otot bisa terjadi dalam waktu singkat ketika otot tidak digunakan, sehingga intervensi pencegahan dan rehabilitasi sebaiknya segera diterapkan.