
Sindrom Disuse Muscle: Konsep, Mekanisme, dan Pencegahan
Pendahuluan
Disuse muscle syndrome atau sindrom disuse otot merupakan kondisi klinis penting yang sering terjadi pada pasien dengan imobilisasi berkepanjangan, tirah baring panjang, atau kondisi medis lain yang menyebabkan ketidakaktifan otot. Kondisi ini bukan sekadar ‘kelemahan ringan’, tetapi dapat berkaitan dengan penurunan massa otot secara signifikan, kehilangan fungsi otot, dan gangguan kapasitas fungsional tubuh secara keseluruhan, yang semuanya berdampak pada kualitas hidup pasien. Disuse otot sering ditemukan dalam praktik klinis, terutama pada pasien lanjut usia, penderita stroke, atau pasien kritis di unit perawatan intensif (ICU). Karena dampaknya yang luas terhadap fungsi tubuh dan proses pemulihan pasien secara umum, pemahaman utuh mengenai konsep, mekanisme terjadinya, faktor risiko, penilaian keperawatan, serta strategi pencegahan menjadi sangat penting untuk meningkatkan hasil keperawatan dan rehabilitasi.
Definisi Sindrom Disuse Muscle
Definisi Sindrom Disuse Muscle Secara Umum
Sindrom disuse otot atau disuse muscle syndrome secara umum merujuk pada suatu kondisi di mana otot mengalami kelemahan, kehilangan massa dan fungsi akibat kurangnya penggunaan atau aktivitas fisik yang intensif dalam jangka waktu tertentu. Ketidakaktifan ini menyebabkan adaptasi fisiologis di mana otot kehilangan kemampuan metabolik dan strukturalnya, yang berujung pada atrofi otot. Ini bisa terjadi pada berbagai situasi klinis, termasuk imobilisasi setelah cedera, pasca operasi, atau pada pasien yang mengalami kelumpuhan sebagian tubuh. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Sindrom Disuse Muscle dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “sindrom” adalah himpunan gejala atau tanda yang terjadi bersamaan dan menandai ketidaknormalan tertentu, sementara “disuse” berarti tidak digunakan atau kurang digunakan. Kombinasi istilah tersebut berarti kumpulan tanda dan gejala yang muncul akibat kurangnya penggunaan otot atau aktivitas fisik. [Lihat sumber Disini - bizlab.co.id]
Definisi Sindrom Disuse Muscle Menurut Para Ahli
-
Everson A. Nunes et al. (2022) menjelaskan bahwa disuse-induced skeletal muscle atrophy merupakan respons hilangnya aktivitas kontraktil otot terhadap ketidakaktifan atau pengurangan beban mekanis pada otot, yang mengakibatkan kehilangan massa dan fungsi otot. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Bodine et al. menyatakan bahwa pada kondisi disuse, massa otot cepat menurun karena kombinasi berkurangnya aktivitas saraf dan beban mekanis pada otot, mengubah struktur serabut otot dan fungsi kontraksinya. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Z. Zulfahmidah (2023) menyatakan bahwa kurangnya aktivitas otot dan imobilisasi sendi meningkatkan risiko atrofi otot, terutama pada populasi lanjut usia. [Lihat sumber Disini - whj.umi.ac.id]
-
Istilah disuse menurut sumber glosarium kesehatan menggambarkan penurunan fungsi fisik akibat ketidakaktifan fisik yang berkepanjangan, yang mencakup kelemahan otot, osteoporosis, dan penurunan kualitas hidup. [Lihat sumber Disini - id.kounankai.jp]
Konsep Sindrom Disuse Muscle
Sindrom disuse muscle atau atrofi otot akibat disuse merupakan fenomena adaptasi buruk otot terhadap berkurangnya rangsangan mekanis dan kontraksi. Pada keadaan normal, otot rangka mengalami stimulasi rutin melalui aktivitas fisik, yang mempertahankan massa otot, kekuatan, dan fungsi metaboliknya. Ketika beban mekanis ini berkurang secara signifikan, misalnya, karena tirah baring lama, imobilisasi pascacedera, atau penurunan aktivitas fisik yang drastis, proses fisiologis normal terganggu.
Penelitian menunjukkan bahwa otot kehilangan massa secara pesat dalam beberapa minggu pertama setelah imobilisasi karena berkurangnya sintesis protein otot dan peningkatan pemecahan protein. Dalam model hewan, penurunan massa otot paling cepat terjadi dalam 1, 2 minggu pertama dari periode tidak aktif, diikuti oleh fase stabil massa rendah yang berlanjut sampai stimulus pertumbuhan kembali diberikan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Atrofi juga dipengaruhi oleh tipe serabut otot; serabut otot tipe I (yang biasanya bekerja untuk postur dan aktivitas lambat) cenderung mengalami penurunan lebih cepat daripada tipe II akibat berkurangnya aktivitas kontraktil. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Mekanisme Terjadinya Disuse Muscle
Mekanisme patologis di balik sindrom disuse muscle melibatkan perubahan tingkat molekuler dan seluler yang kompleks. Ketika otot tidak digunakan, keseimbangan antara sintesis protein dan pemecahan protein bergeser menuju pemecahan, yang akhirnya menurunkan massa otot. Faktor pemicu termasuk penurunan stimulus mekanik, berkurangnya aktivitas neural, serta perubahan metabolik dan hormon. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
Secara molekuler, penurunan aktivitas mekanik menyebabkan berkurangnya sinyal anabolik seperti mTOR yang penting untuk sintesis protein, serta meningkatkan ekspresi ligase ubiquitin tertentu (seperti MuRF1 dan atrogin-1) yang memicu degradasi protein otot melalui sistem proteasom. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Selain itu, imobilisasi mengurangi sensitivitas otot terhadap insulin dan asam amino, memperburuk keseimbangan protein. Perubahan ini lebih nyata pada individu lanjut usia, yang sudah mengalami resistensi anabolik dan lebih rentan terhadap kehilangan massa otot ketika aktivitas fisik berkurang. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
Faktor Risiko Disuse Muscle
Beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan terjadinya disuse muscle antara lain:
-
Imobilisasi jangka panjang seperti penanganan patah tulang dengan gips atau tirah baring panjang. [Lihat sumber Disini - download.garuda.kemdikbud.go.id]
-
Penyakit kronis dan cedera neurologis seperti stroke yang menyebabkan hemiparesis atau gangguan motorik yang signifikan. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
-
Usia lanjut, karena adanya resistensi anabolik dan penurunan basal massa otot. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Inflamasi sistemik dan kondisi kritis, yang sering ditemui pada pasien ICU yang memerlukan ventilasi mekanik dan perawatan intensif. [Lihat sumber Disini - atm.amegroups.org]
-
Nutrisi buruk, yang memperparah ketidakseimbangan sintesis dan pemecahan protein otot. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Dampak Disuse Muscle terhadap Fungsi Tubuh
Disuse muscle memiliki konsekuensi fungsional yang luas. Penurunan massa otot tidak hanya melemahkan kemampuan kontraktil, tetapi juga menurunkan kapasitas fungsional tubuh secara keseluruhan. Pasien yang mengalami sindrom disuse otot lebih sulit melakukan aktivitas sehari-hari seperti berjalan, bangun dari kursi, atau menjaga keseimbangan, yang semuanya berkontribusi pada peningkatan risiko jatuh dan kecacatan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Disuse muscle juga berdampak negatif terhadap metabolisme tubuh karena otot adalah organ utama untuk metabolisme glukosa dan lipid. Kehilangan massa otot berkaitan dengan penurunan sensitivitas insulin dan peningkatan risiko sindrom metabolik. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
Penilaian Keperawatan pada Disuse Muscle
Penilaian keperawatan terhadap pasien dengan risiko atau manifestasi disuse muscle meliputi:
-
Pengkajian kekuatan otot melalui pemeriksaan fisik dan pengukuran kekuatan otot.
-
Observasi mobilisasi pasien serta kemampuan melakukan aktivitas fungsional.
-
Pemantauan rentang gerak (range of motion) untuk mencegah kontraktur dan keterbatasan sendi. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
-
Penilaian status nutrisi, yang sangat berperan dalam pemeliharaan massa otot.
-
Identifikasi faktor risiko lain seperti usia, penyakit kronis, dan kondisi neurologis.
Upaya Pencegahan Disuse Muscle dalam Keperawatan
Upaya pencegahan disuse muscle sangat berkaitan dengan pemberian intervensi awal dan berkelanjutan untuk mempertahankan massa dan fungsi otot. Berikut beberapa strategi efektif:
-
Mobilisasi dini dan latihan aktif maupun pasif sesuai kemampuan pasien untuk menjaga stimulasi otot. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
-
Latihan range of motion (ROM) dilakukan sedini mungkin untuk mencegah kontraktur dan menjaga fleksibilitas otot. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
-
Latihan isometric dan isotonik ringan dapat membantu mempertahankan kekuatan otot pada pasien yang mampu berpartisipasi. [Lihat sumber Disini - ojs.unud.ac.id]
-
Stimulasi listrik neuromuskular untuk pasien yang tidak mampu melakukan aktivitas fisik secara aktif. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]
-
Nutrisi adekuat, termasuk asupan protein yang cukup, untuk mendukung sintesis protein otot. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Edukasi pasien dan keluarga mengenai pentingnya aktivitas fisik dan nutrisi untuk mencegah atrofi otot.
Kesimpulan
Sindrom disuse muscle merupakan kondisi patologis penting yang terjadi akibat kurangnya aktivitas otot dan stimulasi mekanik yang berkepanjangan, yang menyebabkan penurunan massa dan fungsi otot secara signifikan. Kondisi ini dipicu oleh perubahan molekuler dalam keseimbangan sintesis dan pemecahan protein, serta faktor risiko seperti imobilisasi, usia lanjut, penyakit kronis, dan nutrisi buruk. Dampak klinisnya luas, termasuk penurunan kapasitas fungsional dan kualitas hidup pasien. Penilaian keperawatan yang komprehensif serta intervensi pencegahan dini, seperti mobilisasi dini, latihan aktif dan pasif, serta dukungan nutrisi, sangat penting untuk mengurangi risiko dan konsekuensi sindrom disuse muscle.