Terakhir diperbarui: 18 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 18 December). Pencegahan Penyakit Akibat Kerja. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/pencegahan-penyakit-akibat-kerja  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Pencegahan Penyakit Akibat Kerja - SumberAjar.com

Pencegahan Penyakit Akibat Kerja

Pendahuluan

Penyakit yang muncul akibat kegiatan kerja menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang penting di seluruh dunia. Banyak pekerja mengalami gangguan kesehatan bertahap karena paparan faktor risiko yang ada di lingkungan kerja seperti debu, bahan kimia, kebisingan, ergonomi yang buruk, atau stres pekerjaan yang tinggi. Akibatnya bukan hanya produktivitas pekerja dan perusahaan yang terpengaruh, tetapi juga biaya kesehatan dan kualitas hidup pekerja serta keluarga mereka. Di Indonesia, kasus penyakit akibat kerja (PAK) pernah tercatat sangat tinggi mencapai puluhan ribu kasus dalam beberapa tahun terakhir, yang menunjukkan betapa pentingnya upaya preventif sistematis di tempat kerja untuk meminimalkan beban akibat kondisi tersebut. [Lihat sumber Disini - jurnal.usk.ac.id]

Artikel ini akan membahas secara komprehensif pengertian, jenis penyakit akibat kerja, faktor risiko lingkungan kerja, upaya pencegahan primer dan sekunder, peran alat pelindung diri (APD), dan pentingnya pengawasan kesehatan pekerja sebagai bagian dari upaya pencegahan.


Definisi Pencegahan Penyakit Akibat Kerja

Definisi Pencegahan Penyakit Akibat Kerja Secara Umum

Pencegahan penyakit akibat kerja merujuk pada seluruh rangkaian tindakan dan strategi yang dilakukan untuk menghindari, mengurangi, atau menghilangkan munculnya penyakit yang secara langsung atau tidak langsung disebabkan oleh aktivitas pekerjaan atau kondisi lingkungan kerja. Strategi ini mencakup identifikasi potensi bahaya, pengendalian faktor risiko, edukasi pekerja, implementasi program keselamatan dan kesehatan kerja atau Occupational Health and Safety (OHS), serta pemantauan kesehatan berkelanjutan. Kegiatan ini bertujuan menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, dan produktif. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

Dalam konteks global, pencegahan penyakit akibat kerja mencakup rancangan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang komprehensif, yang melibatkan semua level organisasi dari manajemen perusahaan sampai pekerja lapangan. Pendekatan ini harus bersifat proaktif, mengidentifikasi risiko sejak dini, kemudian menyesuaikan intervensi untuk mengurangi paparan atau dampaknya sebelum timbul penyakit. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

Definisi Pencegahan Penyakit Akibat Kerja dalam KBBI

Meskipun KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) menguraikan istilah penyakit akibat kerja sebagai kondisi kesehatan yang terjadi karena pekerjaan dan/atau lingkungan kerja, istilah “pencegahan” dalam konteks ini bisa diartikan sebagai langkah-langkah untuk menghindari terjadinya gangguan kesehatan tersebut melalui tindakan sistematis dan terencana. Dalam terminologi KBBI sendiri, “pencegahan” berarti tindakan atau upaya yang dilakukan terlebih dahulu untuk tidak terjadinya sesuatu buruk.

Sehingga “pencegahan penyakit akibat kerja” dalam Bahasa Indonesia formal berarti serangkaian tindakan yang dilakukan sebelumnya untuk mengurangi kemungkinan timbulnya penyakit yang berkaitan dengan lingkungan atau aktivitas kerja. KBBI merujuk langsung pada kesehatan kerja sebagai bagian dari manajemen keseluruhan pekerjaan. [Lihat sumber Disini - id.wikipedia.org]

Definisi Pencegahan Penyakit Akibat Kerja Menurut Para Ahli

1. International Labour Organization (ILO)

Menurut definisi dari ILO yang banyak digunakan oleh akademisi dan praktisi kesehatan kerja, penyakit akibat kerja adalah kondisi kesehatan yang muncul karena paparan faktor risiko di tempat kerja. Pencegahannya berarti membangun mekanisme sistematis yang meliputi identifikasi bahaya, evaluasi risiko, dan pengendalian risiko secara ilmiah guna menghindari paparan tersebut dalam kegiatan kerja sehari-hari. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkesjkt2.ac.id]

2. World Health Organization (WHO)

Menurut WHO, pencegahan penyakit akibat kerja mencakup pendekatan hirarkis terhadap pencegahan, di mana langkah paling efektif adalah menghilangkan atau mengurangi paparan risiko di sumbernya, dilanjutkan dengan kontrol administratif, perbaikan lingkungan kerja, dan penggunaan APD apabila kontrol di sumber tidak sepenuhnya mungkin. [Lihat sumber Disini - iris.who.int]

3. Verbeek et al. (2013) dalam Occupational Safety & Health Interventions

Verbeek dan kolega menyatakan bahwa upaya preventif di tempat kerja harus berbasis pada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa intervensi seperti modifikasi proses kerja, pengendalian teknik, hingga pelatihan pekerja dapat mengurangi insiden penyakit kerja dan cedera. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

4. Sucirahayu (2023)

Dalam tinjauan literatur penyakit akibat kerja, penulis menyatakan bahwa pencegahan tidak hanya soal mekanik dalam mengendalikan paparan, tetapi juga memerlukan sistem pengawasan kesehatan berkala guna mendeteksi tanda-tanda awal penyakit sejak dini dan memberi tindakan cepat untuk mencegah progresi penyakit. [Lihat sumber Disini - myjurnal.poltekkes-kdi.ac.id]


Jenis Penyakit Akibat Kerja

Jenis-jenis penyakit akibat kerja sangat beragam, tergantung dari jenis paparan dan jenis pekerjaan itu sendiri. Banyak penelitian menunjukkan bahwa penyakit akibat kerja sering berkembang secara kronis dan tidak langsung terlihat hingga seseorang telah mengalami paparan dalam jangka waktu panjang. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Beberapa kelompok utama penyakit akibat kerja meliputi:

1. Gangguan Muskuloskeletal (Musculoskeletal Disorders / MSDs)

Penyakit pada otot, tulang, sendi, dan jaringan lunak yang sering disebabkan oleh posisi kerja statis, angkat beban berulang, atau ergonomi yang buruk. Gangguan ini mencakup nyeri punggung bawah, sindrom terowongan karpal, dan tendinitis yang sering terjadi pada pekerja industri maupun layanan. [Lihat sumber Disini - comphi.sinergis.org]

2. Penyakit Pernapasan

Termasuk asma pekerjaan, pneumokoniosis, bronkitis kronis, dan gangguan saluran napas lain yang disebabkan oleh inhalasi debu, asap, uap kimia atau partikel berbahaya di lingkungan kerja. Paparan terus-menerus terhadap partikel ini meningkatkan risiko berkembangnya penyakit pernapasan kronis. [Lihat sumber Disini - ejournal3.undip.ac.id]

3. Gangguan Pendengaran

Kelainan pendengaran yang disebabkan oleh paparan bising jangka panjang di tempat kerja adalah salah satu jenis penyakit akibat kerja yang paling sering dilaporkan di banyak negara. Paparan suara lebih dari ambang aman tanpa perlindungan yang tepat dapat menyebabkan kehilangan pendengaran. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

4. Penyakit Kulit (Dermatosis Kerja)

Dermatitis kontak iritan atau alergi yang disebabkan oleh kontak langsung dengan bahan kimia, sabun keras, atau alergen di lingkungan kerja. Penyakit kulit sering muncul pada pekerja yang bergelut dengan bahan kimia tanpa proteksi kulit yang memadai. [Lihat sumber Disini - ejournal3.undip.ac.id]

5. Penyakit Infeksi Terkait Pekerjaan

Pekerja kesehatan, peternakan, laboratorium, dan pekerjaan yang melibatkan kontak dengan mikroorganisme berisiko terhadap infeksi yang berasal dari lingkungan kerja seperti tuberkulosis atau hepatitis B/C. [Lihat sumber Disini - ejournal3.undip.ac.id]

6. Gangguan Psikososial dan Mental

Peningkatan beban kerja, stres pekerjaan, serta tekanan organisasi dapat menyebabkan gangguan mental seperti depresi, kecemasan, dan burnout yang berkaitan dengan pekerjaan (work-related mental disorders). [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Jenis-jenis ini tidak berdiri terpisah dan seringkali terjadi bersamaan pada pekerja yang memiliki paparan multifaktorial di tempat kerja.


Faktor Risiko Lingkungan Kerja

Faktor risiko lingkungan kerja merupakan variabel lingkungan yang dapat menyebabkan atau memperburuk risiko penyakit akibat kerja. Identifikasi faktor ini adalah langkah dasar dalam pencegahan penyakit kerja. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

Beberapa faktor utama termasuk:

1. Faktor Fisik

Faktor fisik meliputi kondisi seperti kebisingan, panas berlebih, getaran mesin, radiasi ionisasi maupun non-ionisasi, tekanan tinggi atau rendah, serta pencahayaan yang buruk. Paparan terus-menerus terhadap faktor fisik ini dapat menyebabkan gangguan pendengaran, stres panas, trauma jaringan, cedera saraf, atau gangguan lainnya. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]

Contohnya adalah kebisingan yang tidak diatasi di lingkungan industri, yang secara langsung berkontribusi terhadap timbulnya gangguan pendengaran dan bahkan penurunan fungsional saraf pendengaran. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

2. Faktor Kimia

Pekerja yang berkontak dengan bahan kimia berbahaya seperti pelarut organik, logam berat (misalnya timbal), atau zat beracun lain melakukan inhalasi, absorpsi kulit, atau paparan kronis yang dapat menyebabkan keracunan sistemik, gangguan neurologis, kanker, hingga gangguan pernapasan. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]

3. Faktor Biologis

Paparan terhadap organisme hidup seperti bakteri, virus, jamur, atau parasit dapat menimbulkan infeksi atau kondisi medis tertentu. Pekerja layanan kesehatan atau laboratorium merupakan contoh kelompok yang berisiko tinggi terhadap paparan biologis ini. [Lihat sumber Disini - ejournal3.undip.ac.id]

4. Faktor Ergonomis

Ergonomi yang buruk termasuk postur kerja yang tidak sesuai, penggunaan alat yang tidak ergonomis, serta tugas berulang dapat menyebabkan gangguan muskuloskeletal dan kelelahan kronis yang memicu cedera. [Lihat sumber Disini - ejournal3.undip.ac.id]

5. Faktor Psikososial

Lingkungan kerja dengan tekanan tinggi, beban kerja berlebih tanpa dukungan organisasi, konflik interpersonal, atau ketidakpastian kerja berkontribusi pada gangguan kesehatan mental dan stres kronis yang secara tidak langsung dapat meningkatkan risiko penyakit lainnya. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Identifikasi dan pemetaan faktor risiko ini merupakan dasar dalam merancang sistem pencegahan yang efektif di setiap lokasi kerja.


Upaya Pencegahan Primer dan Sekunder

Upaya pencegahan dalam konteks penyakit akibat kerja dibagi menjadi dua kategori utama: pencegahan primer (mencegah terjadinya paparan atau penyakit sejak awal) dan pencegahan sekunder (deteksi dan intervensi dini untuk mencegah progresi penyakit). [Lihat sumber Disini - iris.who.int]

Pencegahan Primer

Pencegahan primer adalah langkah-langkah strategis yang diterapkan sebelum timbulnya penyakit. Strategi ini meliputi:

1. Identifikasi dan Penilaian Risiko

Melakukan penilaian risiko di tempat kerja untuk mengidentifikasi bahaya potensial dan mengevaluasi tingkat risiko merupakan langkah awal yang kritikal. Langkah ini membantu menentukan intervensi yang paling efektif untuk setiap jenis paparan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

2. Modifikasi Proses Kerja dan Kontrol Teknik

Upaya mengubah proses kerja, substitusi bahan berbahaya dengan alternatif yang lebih aman, ventilasi yang memadai, atau pengaturan mesin untuk mengurangi paparan merupakan contoh implementasi kontrol teknik yang efektif. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

3. Edukasi dan Pelatihan Pekerja

Memberikan pelatihan mengenai paparan risiko, cara kerja aman, pentingnya penggunaan APD, dan tanda-tanda awal penyakit akibat kerja dapat meningkatkan kesadaran pekerja dan membantu mencegah paparan berbahaya. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

4. Perancangan Lingkungan Kerja yang Ergonomis

Menyesuaikan pekerjaan dengan prinsip ergonomi dapat mengurangi tekanan fisik dan mencegah gangguan muskuloskeletal. [Lihat sumber Disini - ejournal3.undip.ac.id]

Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder bertujuan mendeteksi penyakit sedini mungkin agar progresinya tidak menjadi lebih parah. Ini termasuk:

1. Pemeriksaan Kesehatan Berkala

Program pemeriksaan kesehatan secara teratur untuk pekerja dengan paparan risiko tertentu memungkinkan deteksi dini gangguan kesehatan sebelum berkembang menjadi penyakit berat. [Lihat sumber Disini - myjurnal.poltekkes-kdi.ac.id]

2. Surveilans Kesehatan Kerja

Sistem pemantauan kesehatan yang terus menerus dapat mengidentifikasi tren penyakit di tempat kerja dan memberi sinyal perlunya intervensi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

3. Tindak Lanjut Karyawan yang Terindikasi Risiko

Jika ditemukan tanda-tanda awal penyakit, tindakan medis atau perubahan tugas kerja perlu dilakukan untuk mencegah kondisi lebih lanjut. [Lihat sumber Disini - myjurnal.poltekkes-kdi.ac.id]

Upaya primer dan sekunder jika dilakukan secara konsisten dapat mengurangi beban penyakit akibat kerja secara signifikan dan menciptakan tempat kerja yang lebih aman.


Peran APD dalam Pencegahan

Alat Pelindung Diri (APD) merupakan komponen penting dalam pencegahan penyakit akibat kerja, terutama ketika kontrol hazard di sumber tidak sepenuhnya dapat diterapkan. APD dirancang untuk memberikan batas perlindungan individu terhadap paparan bahaya di tempat kerja.

APD meliputi berbagai jenis perlindungan seperti:

1. Perlindungan Pernafasan

Masker atau respirator melindungi saluran pernapasan dari paparan debu, gas berbahaya, atau uap kimia yang dapat menyebabkan penyakit pernapasan kronis. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

2. Perlindungan Pendengaran

Earplug atau earmuff dirancang untuk menurunkan paparan suara bising di lingkungan kerja yang berpotensi menyebabkan gangguan pendengaran. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

3. Proteksi Kulit

Sarung tangan, apron, atau pelindung lainnya membantu mencegah kontak langsung dengan bahan kimia atau alergen yang dapat menyebabkan dermatitis atau gangguan kulit lainnya. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

4. Pelindung Kepala dan Mata

Helm keselamatan, pelindung wajah, dan kacamata pengaman membantu mencegah cedera fisik dari benturan atau percikan bahan berbahaya. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

Penggunaan APD harus disertai dengan edukasi yang tepat tentang cara penggunaan dan pemeliharaan yang benar. Selain itu, manajemen harus menjamin ketersediaan APD yang sesuai standar, pengawasan penggunaan, serta evaluasi efektivitasnya secara berkala.


Pengawasan Kesehatan Pekerja

Pengawasan kesehatan pekerja adalah implementasi pemantauan berkala terhadap kondisi kesehatan individu yang bekerja di lingkungan kerja berisiko. Tujuan utama pengawasan kesehatan adalah mendeteksi tanda awal penyakit dan mengevaluasi hubungan antara kesehatan pekerja dengan paparan di tempat kerja. [Lihat sumber Disini - myjurnal.poltekkes-kdi.ac.id]

Program pengawasan yang efektif mencakup:

1. Pemeriksaan Medik Awal dan Berkala

Pemeriksaan kesehatan sebelum mulai bekerja untuk menilai kondisi awal, diikuti pemeriksaan berkala untuk memantau perubahan kesehatan sepanjang masa kerja. [Lihat sumber Disini - myjurnal.poltekkes-kdi.ac.id]

2. Pemantauan Paparan Bahaya

Memantau tingkat paparan bahan berbahaya atau kondisi fisik (seperti kebisingan) di area kerja guna memastikan batas ambang aman tidak terlampaui. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

3. Dokumentasi dan Analisis Data Kesehatan

Mengumpulkan dan menganalisis data kesehatan pekerja untuk mengidentifikasi tren potensi masalah kesehatan akibat kerja serta merancang langkah pencegahan yang lebih tepat. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

Pengawasan kesehatan menjadi landasan penting dalam pengambilan keputusan manajemen keselamatan kerja dan perbaikan lingkungan kerja secara berkelanjutan.


Kesimpulan

Pencegahan penyakit akibat kerja memerlukan pendekatan sistematis dan komprehensif dari semua pihak terkait di tempat kerja, mulai dari manajemen perusahaan hingga pekerja sendiri. Definisi pencegahan ini mencakup identifikasi risiko, pengendalian faktor lingkungan, edukasi, pemeriksaan kesehatan berkala, serta penggunaan APD yang efektif. Penyakit akibat kerja dapat muncul secara bertahap akibat paparan faktor risiko fisik, kimia, biologis, ergonomis, dan psikososial. Pencegahan primer bertujuan menghentikan terjadinya paparan dan risiko, sementara pencegahan sekunder fokus kepada deteksi awal dan intervensi sebelum kondisi memburuk. Dengan pengawasan kesehatan pekerja yang konsisten dan komitmen kuat terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (K3), organisasi dapat menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan produktif serta menurunkan beban penyakit akibat kerja secara signifikan.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Pencegahan penyakit akibat kerja adalah serangkaian upaya sistematis yang dilakukan untuk mencegah, mengurangi, atau mengendalikan penyakit yang timbul akibat paparan faktor risiko di lingkungan kerja, baik faktor fisik, kimia, biologis, ergonomis, maupun psikososial.

Contoh penyakit akibat kerja antara lain gangguan muskuloskeletal, penyakit pernapasan akibat debu atau bahan kimia, gangguan pendengaran akibat kebisingan, penyakit kulit akibat kontak bahan iritan, penyakit infeksi terkait pekerjaan, serta gangguan mental dan stres kerja.

Faktor risiko utama penyakit akibat kerja meliputi faktor fisik seperti kebisingan dan panas, faktor kimia seperti paparan zat berbahaya, faktor biologis seperti mikroorganisme, faktor ergonomis akibat postur kerja yang buruk, serta faktor psikososial seperti stres dan beban kerja berlebih.

Pencegahan primer bertujuan mencegah terjadinya penyakit dengan mengendalikan faktor risiko sejak awal, sedangkan pencegahan sekunder bertujuan mendeteksi dini gangguan kesehatan agar tidak berkembang menjadi penyakit yang lebih serius.

Alat pelindung diri penting karena berfungsi melindungi pekerja dari paparan langsung bahaya di tempat kerja ketika pengendalian risiko di sumber belum sepenuhnya efektif, sehingga dapat mengurangi risiko penyakit dan gangguan kesehatan.

Pengawasan kesehatan pekerja bertujuan untuk memantau kondisi kesehatan secara berkala, mendeteksi tanda awal penyakit akibat kerja, serta mengevaluasi hubungan antara paparan lingkungan kerja dengan kesehatan pekerja.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Pencegahan Penyakit Menular: Konsep, adaptasi sosial, dan perilaku Pencegahan Penyakit Menular: Konsep, adaptasi sosial, dan perilaku Perilaku Pencegahan Penyakit: Perspektif Psikologi Perilaku Pencegahan Penyakit: Perspektif Psikologi Perilaku Pencegahan Penyakit Tidak Menular Perilaku Pencegahan Penyakit Tidak Menular Pengetahuan Masyarakat tentang Penyakit Menular Pengetahuan Masyarakat tentang Penyakit Menular Perilaku Pencegahan COVID-19 Perilaku Pencegahan COVID-19 Beban Penyakit: Konsep, Pengukuran DALY, dan Implikasi Kebijakan Beban Penyakit: Konsep, Pengukuran DALY, dan Implikasi Kebijakan Faktor Risiko Penyakit Berbasis Lingkungan Faktor Risiko Penyakit Berbasis Lingkungan Pola Penyakit Tidak Menular Pola Penyakit Tidak Menular Deteksi Dini Penyakit Menular Deteksi Dini Penyakit Menular Penyakit Berbasis Lingkungan Penyakit Berbasis Lingkungan Penyakit Degeneratif pada Lansia Penyakit Degeneratif pada Lansia Persepsi Penyakit: Konsep dan Respons Individu Persepsi Penyakit: Konsep dan Respons Individu Health Belief Model: Penjelasan dan Contoh Health Belief Model: Penjelasan dan Contoh Produktivitas Kerja: Konsep, Pengukuran Output, dan Efisiensi Produktivitas Kerja: Konsep, Pengukuran Output, dan Efisiensi Etos Kerja: Konsep dan Budaya Produktivitas Etos Kerja: Konsep dan Budaya Produktivitas Persepsi Masyarakat terhadap Penyakit Persepsi Masyarakat terhadap Penyakit Pencegahan Penyakit Tidak Menular: Konsep, gaya hidup, dan risiko Pencegahan Penyakit Tidak Menular: Konsep, gaya hidup, dan risiko Pelaporan Penyakit Wajib Lapor Pelaporan Penyakit Wajib Lapor Pengetahuan Pasien tentang Penyakit: Indikator dan Perannya Pengetahuan Pasien tentang Penyakit: Indikator dan Perannya Perilaku Ibu dalam Pencegahan Stunting Sejak Kehamilan Perilaku Ibu dalam Pencegahan Stunting Sejak Kehamilan
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…