
Health Belief Model: Penjelasan dan Contoh
Pendahuluan
Health Belief Model merupakan salah satu kerangka teori yang sangat berpengaruh dalam penelitian dan praktik kesehatan masyarakat. Pada dasarnya, model ini membantu peneliti dan praktisi memahami mengapa individu mengambil atau tidak mengambil tindakan tertentu yang berdampak pada kesehatan mereka. Dengan memahami faktor-faktor psikologis dan persepsi seseorang terhadap risiko kesehatan, model ini dapat menjadi dasar dalam merancang intervensi yang lebih efektif untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, mulai dari vaksinasi hingga pencegahan penyakit kronis. HBM telah berkembang sejak pertama kali dikembangkan pada 1950-an dan tetap digunakan luas hingga kini dalam berbagai setting kesehatan global. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Health Belief Model
Definisi Health Belief Model Secara Umum
Health Belief Model (HBM) merupakan model psikologis yang dirancang untuk menjelaskan dan memprediksi perilaku individu terkait kesehatan berdasarkan keyakinan dan persepsi mereka terhadap ancaman kesehatan serta manfaat dan hambatan dari suatu tindakan pencegahan. Fokus utama dari HBM adalah pada kepercayaan personal tentang kesehatan dan kemungkinan terjadinya penyakit, yang kemudian memengaruhi keputusan seseorang untuk mengambil tindakan pencegahan atau tidak. Model ini sangat berguna dalam merancang promosi kesehatan dan edukasi publik, karena memberikan kerangka kerja untuk memahami motivasi individu dalam mengambil langkah-langkah pencegahan kesehatan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Definisi Health Belief Model dalam KBBI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), health belief model tidak tercantum sebagai istilah baku karena istilah ini merupakan istilah dari bahasa Inggris dan merupakan konsep ilmiah di bidang kesehatan. Namun, penjelasan yang paling mendekati dari istilah ini adalah suatu model kepercayaan kesehatan yang menunjukkan suatu pola konseptual tentang bagaimana persepsi individu terhadap kesehatan dan risiko penyakit dapat memengaruhi perilaku mereka dalam konteks kesehatan. Untuk pemahaman praktis, Health Belief Model sering dijelaskan sejalan dengan teori perubahan perilaku dalam konteks kesehatan yang diadaptasi ke dalam bahasa kesehatan masyarakat di Indonesia. [Lihat sumber Disini - repo.uds.ac.id]
Definisi Health Belief Model Menurut Para Ahli
-
Menurut Rosenstock, Strecher, dan Becker, Health Belief Model adalah kerangka kerja konseptual yang berusaha menjelaskan dan memprediksi perilaku kesehatan melalui keyakinan individu tentang ancaman kesehatan dan kepercayaan mereka terhadap efektivitas strategi pencegahan tertentu. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
StatPearls menjelaskan bahwa Health Belief Model merupakan model dasar dalam teori perilaku yang terdiri atas beberapa dimensi kognitif yang memengaruhi keputusan kesehatan, termasuk persepsi kerentanan, keparahan, manfaat, hambatan, serta efikasi diri dan isyarat tindakan. [Lihat sumber Disini - statpearls.com]
-
Sebuah literatur teori kesehatan menggambarkan HBM sebagai model yang membantu memprediksi perilaku dengan menilai keyakinan individu tentang risiko penyakit dan kemungkinan tindakan pencegahan efektif. [Lihat sumber Disini - hvresearch.org]
-
Menurut beberapa peneliti, konsep HBM tidak hanya fokus pada persepsi ancaman dan manfaat, tetapi juga menekankan pada peran cues to action atau pemicu tindakan yang memotivasi seseorang untuk bertindak sehat. [Lihat sumber Disini - ruralhealthinfo.org]
Komponen Utama Health Belief Model
Health Belief Model terdiri dari beberapa komponen utama yang masing-masing berperan dalam menentukan keputusan seseorang untuk mengambil atau tidak mengambil tindakan kesehatan. Komponen-komponen ini mencerminkan persepsi dan keyakinan individu terhadap ancaman kesehatan serta nilai yang mereka berikan terhadap tindakan pencegahan. [Lihat sumber Disini - stacks.cdc.gov]
1. Perceived Susceptibility (Persepsi Kerentanan)
Perceived Susceptibility menunjukkan sejauh mana seseorang merasa rentan atau berisiko terhadap suatu kondisi kesehatan tertentu. Individu yang percaya bahwa mereka memiliki kemungkinan tinggi terkena penyakit tertentu biasanya lebih termotivasi untuk mengambil tindakan pencegahan. Misalnya, seseorang yang percaya dirinya sangat mungkin terinfeksi influenza akan lebih cenderung menerima vaksinasi. [Lihat sumber Disini - med.upenn.edu]
2. Perceived Severity (Persepsi Keparahan)
Perceived Severity mencerminkan keyakinan individu terhadap tingkat keparahan atau konsekuensi serius dari penyakit atau kondisi kesehatan jika tidak ditangani. Jika seseorang menganggap suatu penyakit memiliki dampak yang serius (misalnya kematian atau kecacatan), mereka lebih mungkin melakukan tindakan pencegahan dibanding mereka yang menganggap akibatnya ringan. [Lihat sumber Disini - med.upenn.edu]
3. Perceived Benefits (Persepsi Manfaat)
Perceived Benefits menunjukkan keyakinan bahwa tindakan tertentu akan efektif mengurangi risiko atau dampak penyakit. Individu yang percaya manfaat dari suatu tindakan pencegahan tinggi (misalnya bahwa vaksin akan secara signifikan menurunkan risiko penyakit) cenderung mengambil tindakan tersebut. [Lihat sumber Disini - med.upenn.edu]
4. Perceived Barriers (Persepsi Hambatan)
Perceived Barriers merujuk pada persepsi individu tentang hambatan atau rintangan yang mungkin dihadapi saat melakukan tindakan kesehatan. Hambatan ini bisa berupa biaya, waktu, ketidaknyamanan, atau risiko efek samping. Hambatan yang tinggi dapat menurunkan kemungkinan seseorang melakukan tindakan meskipun mereka menyadari manfaatnya. [Lihat sumber Disini - med.upenn.edu]
5. Cues to Action (Isyarat Tindakan)
Cues to Action adalah pemicu atau faktor eksternal yang mendorong individu untuk bertindak, seperti kampanye kesehatan, saran dari tenaga kesehatan, atau pengalaman pribadi dengan penyakit. Faktor-faktor ini seringkali menjadi titik awal bagi individu untuk mempertimbangkan perubahan perilaku. [Lihat sumber Disini - ruralhealthinfo.org]
6. Self-Efficacy (Efikasi Diri)
Self-Efficacy adalah keyakinan seseorang pada kemampuan diri sendiri untuk berhasil melakukan tindakan pencegahan atau perubahan perilaku. Efikasi diri yang kuat dapat meningkatkan kemungkinan individu mengambil langkah nyata untuk menjaga kesehatan. [Lihat sumber Disini - stacks.cdc.gov]
Faktor Persepsi dalam Health Belief Model
Faktor persepsi adalah inti dari Health Belief Model karena perilaku kesehatan seseorang berdasarkan pada bagaimana ia memandang ancaman kesehatan dan nilai tindakan pencegahan. Persepsi ini dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, informasi dari media, edukasi kesehatan, serta lingkungan sosial. Sebagai contoh, persepsi kerentanan dan keparahan yang tinggi terhadap diabetes dapat memotivasi seseorang untuk mengubah gaya hidupnya, termasuk pola makan dan aktivitas fisik. [Lihat sumber Disini - ijphs.iaescore.com]
Selain itu, studi-studi menunjukkan bahwa persepsi manfaat dari tindakan pencegahan tertentu juga berperan penting dalam menentukan keputusan perilaku. Individu yang menyadari manfaat tindakan (misalnya deteksi dini kanker melalui skrining) lebih termotivasi untuk melakukan tindakan tersebut. Hambatan yang dirasakan seperti biaya atau akses ke layanan kesehatan dapat menghambat perilaku sehat meskipun terdapat persepsi risiko tinggi. [Lihat sumber Disini - journal.lppm-stikesfa.ac.id]
Cues to action sering muncul dari lingkungan sosial atau sistem kesehatan, seperti kampanye vaksinasi atau peringatan dari profesional kesehatan, yang mempengaruhi persepsi individu sehingga mendorong tindakan nyata. Sedangkan efikasi diri membantu individu merasa yakin bahwa mereka mampu melakukan tindakan pencegahan, yang memperkuat kemungkinan untuk bertindak sehat. [Lihat sumber Disini - ruralhealthinfo.org]
Health Belief Model dan Perilaku Kesehatan
Health Belief Model telah banyak digunakan dalam penelitian kesehatan untuk memahami perilaku masyarakat dalam berbagai konteks. Misalnya, penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa komponen HBM berhubungan dengan perilaku pencegahan Covid-19, di mana faktor seperti perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, cues to action, dan self-efficacy berpengaruh terhadap tindakan pencegahan di masyarakat. [Lihat sumber Disini - journal.lppm-stikesfa.ac.id]
Selain itu, HBM juga digunakan untuk menganalisis hubungan HBM dengan kepatuhan minum obat pada penderita hipertensi. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi skor HBM seseorang, semakin tinggi pula kepatuhan pasien dalam menjalankan terapi obatnya. [Lihat sumber Disini - ejournal.stikesrshusada.ac.id]
Penerapan HBM juga terlihat dalam upaya pendidikan kesehatan untuk pencegahan kanker payudara melalui pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Intervensi berbasis HBM menunjukkan peningkatan perilaku pencegahan setelah diberikan edukasi yang sesuai dengan konsep HBM. [Lihat sumber Disini - jkk-fk.ejournal.unsri.ac.id]
Model ini tidak hanya dipakai dalam konteks pencegahan penyakit menular tetapi juga pada perilaku pencegahan penyakit kronis seperti diabetes dan TB, serta tindakan kesehatan lainnya seperti vaksinasi dan deteksi dini. [Lihat sumber Disini - jurnalkesmas.co.id]
Kelebihan dan Keterbatasan Health Belief Model
Health Belief Model memiliki beberapa kelebihan yang membuatnya populer di bidang kesehatan, seperti fokus pada persepsi individu yang dapat membantu merancang intervensi edukatif yang lebih tepat sasaran. Model ini juga mudah diadaptasi dalam berbagai setting, dari penelitian klinis hingga kampanye kesehatan masyarakat. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Namun demikian, HBM juga memiliki keterbatasan. Salah satunya adalah model ini sangat berfokus pada persepsi individu dan sering kurang memperhatikan faktor sosial dan lingkungan yang juga dapat memengaruhi perilaku kesehatan. Selain itu, hubungan antar konstruk tidak selalu terdefinisi dengan jelas, yang kadang membuat interpretasi hasil penelitian menjadi kompleks. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Contoh Penerapan Health Belief Model
-
Pencegahan Covid-19 di Masyarakat: Sebuah studi menunjukkan bahwa individu yang memiliki persepsi tinggi terhadap risiko dan keparahan Covid-19 serta tinggi self-efficacy cenderung melakukan tindakan pencegahan seperti memakai masker dan mencuci tangan secara rutin. [Lihat sumber Disini - journal.lppm-stikesfa.ac.id]
-
Kepatuhan Minum Obat pada Penderita Hipertensi: HBM digunakan untuk menganalisis hubungan antara persepsi kesehatan dan kepatuhan minum obat, dengan hasil bahwa keyakinan yang kuat dalam HBM berkaitan dengan tingkat kepatuhan yang lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - ejournal.stikesrshusada.ac.id]
-
Pencegahan Kanker Payudara (SADARI): Intervensi edukasi berbasis HBM terbukti meningkatkan tindakan pencegahan kanker payudara melalui pemeriksaan mandiri pada remaja putri setelah menerima edukasi kesehatan. [Lihat sumber Disini - jkk-fk.ejournal.unsri.ac.id]
-
Promosi Kesehatan di Pasar Tradisional: Penelitian menunjukkan bahwa persepsi mengenai manfaat dan hambatan dari protokol kesehatan di pasar memengaruhi kepatuhan pedagang terhadap aturan pencegahan Covid-19. [Lihat sumber Disini - ijphs.iaescore.com]
Kesimpulan
Health Belief Model merupakan kerangka teori penting dalam ilmu kesehatan yang berfokus pada persepsi individu terhadap ancaman kesehatan dan keyakinan mereka terhadap manfaat serta hambatan dalam mengambil tindakan pencegahan. Dengan komponen utama seperti perceived susceptibility, severity, benefits, barriers, cues to action, dan self-efficacy, HBM dapat digunakan untuk memahami dan memprediksi beragam perilaku kesehatan. Model ini telah diterapkan dalam berbagai penelitian kesehatan di Indonesia dan dunia untuk mendorong tindakan pencegahan seperti pencegahan penyakit menular, kepatuhan terhadap pengobatan kronis, serta intervensi edukatif lainnya. Meskipun memiliki keterbatasan dalam memperhatikan faktor sosial dan lingkungan, HBM tetap menjadi alat yang berguna dalam merancang strategi promosi kesehatan yang efektif berdasarkan persepsi dan keyakinan individu.