Terakhir diperbarui: 23 January 2026

Citation (APA Style):
Davacom. (2026, 23 January). Metode LIFO: Konsep dan Perbandingan Akuntansi. SumberAjar. Retrieved 24 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/metode-lifo-konsep-dan-perbandingan-akuntansi  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Metode LIFO: Konsep dan Perbandingan Akuntansi - SumberAjar.com

Metode LIFO: Konsep dan Perbandingan Akuntansi

Pendahuluan

Dalam praktik akuntansi, metode penilaian persediaan merupakan salah satu aspek penting yang memengaruhi laporan keuangan perusahaan, termasuk nilai persediaan akhir, harga pokok penjualan, laba bersih, serta kewajiban pajak. Dalam kondisi ekonomi tertentu, terutama saat harga bahan baku atau barang jadi mengalami kenaikan, pilihan metode penilaian persediaan dapat memberikan implikasi signifikan terhadap beban pajak, hasil usaha, dan interpretasi kinerja perusahaan oleh pemangku kepentingan. Salah satu pendekatan yang sering digunakan adalah Metode LIFO (Last In, First Out) yang berbeda secara mendasar dengan pendekatan lainnya seperti FIFO (First In, First Out). Pada artikel ini akan dibahas secara komprehensif mengenai konsep LIFO, mekanisme pencatatannya, cara menghitung harga pokok penjualan dengan metode ini, serta perbandingannya dengan FIFO termasuk dampaknya terhadap laba dan pajak. ([Lihat sumber Disini - telkomsel.com])


Definisi Metode LIFO

Definisi Metode LIFO Secara Umum

Metode LIFO merupakan pendekatan penilaian persediaan yang mengasumsikan bahwa barang terakhir yang masuk ke persediaan akan menjadi barang pertama yang dijual atau digunakan dalam produksi. Konsep ini berarti bahwa biaya barang yang paling baru dibeli atau diproduksi akan dicatat sebagai harga pokok penjualan (HPP) terlebih dahulu, dan persediaan akhir akan mencerminkan barang-barang yang lebih lama disimpan dalam gudang. Pendekatan ini memberikan hasil perhitungan yang berbeda dari metode lain karena fokus utamanya pada arus biaya alih-alih arus fisik barang. ([Lihat sumber Disini - telkomsel.com])

Definisi Metode LIFO dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah “Last In First Out” berarti sistem pengurutan di mana yang terakhir masuk akan menjadi yang pertama keluar. Dalam konteks persediaan, ini berarti unit barang yang baru diterima atau diproduksi pertama kali dialokasikan sebagai unit yang dijual atau digunakan sebelum unit barang lain yang lebih tua. Konsep ini sering digunakan dalam pengelolaan data, manajemen gudang, dan sistem akuntansi persediaan. (Definisi KBBI, diambil langsung dari KBBI daring).

Definisi Metode LIFO Menurut Para Ahli

  1. Charles T. Horngren, Menyatakan bahwa metode LIFO adalah pendekatan dalam penilaian persediaan di mana biaya dari barang terakhir yang dibeli dicatat pertama sebagai harga pokok penjualan, sementara biaya barang yang lebih tua tetap berada dalam persediaan akhir.

  2. Jerry J. Weygandt, Menjelaskan bahwa LIFO membantu mencocokkan HPP dengan biaya terbaru di periode berjalan, sehingga mencerminkan biaya produksi yang paling aktual pada laporan laba rugi.

  3. Donald E. Kieso, Menyatakan bahwa LIFO dapat membantu perusahaan dalam situasi kenaikan harga untuk mengurangi laba kena pajak dengan mencatat biaya yang lebih tinggi lebih dulu.

  4. Paul D. Kimmel, Mengemukakan bahwa meskipun LIFO tidak mencerminkan arus fisik barang secara realistis, pendekatan ini memberikan manfaat dalam perencanaan pajak dan manajemen arus kas operasional.

(Diambil dari literatur umum akuntansi persediaan yang sering dikutip dalam jurnal akuntansi dan standar akuntansi internasional). ([Lihat sumber Disini - accountingdepartment.com])


Mekanisme Pencatatan Persediaan Metode LIFO

Dalam mekanisme LIFO, sistem pencatatan persediaan mengikuti prinsip urutan biaya masuk terakhir ditentukan sebagai biaya keluar pertama. Secara operasional, ini berarti ketika perusahaan menjual atau menggunakan barang, biaya yang dicatat sebagai harga pokok penjualan (HPP) berasal dari pembelian atau produksi terbaru. Contoh sederhananya, jika perusahaan membeli persediaan dalam tiga tahapan dengan biaya yang berbeda-beda, kemudian terjadi penjualan, maka biaya dari batch pembelian terakhir akan dicatat terlebih dahulu sebagai HPP dalam laporan laba rugi. Dengan demikian, persediaan yang masih tersisa pada akhir periode akuntansi adalah barang-barang yang dibeli atau diproduksi lebih dahulu dan sering kali memiliki biaya yang lebih rendah dalam kondisi inflasi. ([Lihat sumber Disini - telkomsel.com])

Harga pokok penjualan (HPP) yang lebih tinggi muncul dari pencocokan barang dengan biaya terbaru terlebih dahulu, sehingga laba kotor perusahaan dalam periode tersebut cenderung lebih rendah. Pencatatan seperti ini sangat berbeda dengan FIFO di mana barang pertama masuk akan menjadi barang pertama keluar, sehingga biaya yang dicatat di HPP biasanya lebih rendah dalam kondisi kenaikan harga. ([Lihat sumber Disini - telkomsel.com])


Perhitungan Harga Pokok Penjualan Metode LIFO

Perhitungan harga pokok penjualan dalam metode LIFO menggunakan biaya dari pembelian terbaru terlebih dahulu. Dalam laporan akuntansi, ini berarti HPP akan meningkat saat harga pembelian baru lebih tinggi daripada harga pembelian awal, terutama dalam kondisi inflasi. Metode ini menghasilkan perhitungan HPP yang mencerminkan biaya terbaru penyediaan barang, sehingga laba kotor yang dilaporkan pada periode tersebut cenderung turun. ([Lihat sumber Disini - telkomsel.com])

Pemahaman ini penting karena HPP berdampak langsung pada jumlah laba bruto, laba bersih, dan juga kewajiban pajak. Saat HPP meningkat, laba usaha akan menurun dan pada akhirnya dapat menyebabkan beban pajak lebih rendah. Sebaliknya, jika harga barang turun, HPP akan menurun dan laba bersih meningkat. Studi akademik menunjukkan bahwa perbedaan metode penilaian persediaan menghasilkan hasil laba dan pajak yang berbeda pada laporan keuangan perusahaan. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])


Perbandingan Metode LIFO dengan Metode FIFO

Perbandingan LIFO dan FIFO adalah pembahasan yang sering muncul dalam literatur akuntansi karena kedua pendekatan ini memberikan hasil laporan keuangan yang sangat berbeda, terutama ketika terjadi perubahan biaya bahan baku atau barang jadi. FIFO mencatat barang yang lebih dulu masuk akan lebih dulu keluar, sehingga biaya barang yang lebih lama berada dalam HPP dan nilai persediaan akhir mencerminkan biaya yang lebih baru. LIFO justru kebalikannya, yaitu barang terbaru dicatat keluar pertama kali. ([Lihat sumber Disini - telkomsel.com])

Dalam kondisi kenaikan harga (inflasi), LIFO menghasilkan HPP yang lebih tinggi dibanding FIFO, karena biaya terbaru (yang biasanya lebih tinggi) dicatat terlebih dahulu. Akibatnya, laba kotor yang dilaporkan cenderung lebih rendah, sementara nilai persediaan akhir lebih rendah dibanding FIFO, yang mencatat biaya lebih lama di HPP dan menyisakan biaya yang lebih baru sebagai persediaan akhir. ([Lihat sumber Disini - telkomsel.com])

Dalam kondisi pasar normal tanpa banyak perubahan harga, perbedaan antara LIFO dan FIFO menjadi lebih kecil karena biaya pembelian tidak banyak berubah dari waktu ke waktu. Namun, perbedaan tetap signifikan dalam hal penilaian persediaan akhir, laba bersih, dan kewajiban pajak. FIFO biasanya menunjukkan laba yang lebih tinggi tetapi beban pajak yang lebih besar, sementara LIFO menunjukkan laba lebih rendah dan beban pajak lebih rendah dalam kondisi inflasi. ([Lihat sumber Disini - telkomsel.com])


Dampak Metode LIFO terhadap Laba dan Pajak

Pemilihan metode LIFO memiliki implikasi langsung terhadap laba bersih dan beban pajak perusahaan. Karena harga pokok penjualan (HPP) yang dicatat dalam LIFO biasanya lebih tinggi di saat biaya input meningkat, maka laba bruto dan laba bersih akan menjadi lebih rendah dibanding metode lain seperti FIFO. Penurunan laba ini juga berdampak pada dasar perhitungan pajak, sehingga beban pajak yang harus dibayar menjadi lebih rendah. ([Lihat sumber Disini - telkomsel.com])

Dalam jurnal penelitian pada perusahaan manufaktur atau perdagangan sering ditemukan bahwa perbedaan metode penilaian persediaan membawa pengaruh nyata terhadap laba yang dilaporkan dan beban pajak yang harus dibayar. Pilihan metode ini sering menjadi strategi perencanaan pajak jangka pendek dalam kondisi ekonomi tertentu, seperti inflasi tinggi, untuk mengurangi beban pajak secara legal. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])


Kelebihan dan Keterbatasan Metode LIFO

Metode LIFO memiliki beberapa kelebihan dan keterbatasan yang penting untuk dipahami bagi perusahaan yang mempertimbangkan penggunaannya. Berikut adalah beberapa poin penting tersebut:

Kelebihan Metode LIFO:

Keterbatasan Metode LIFO:

  • Tidak mencerminkan arus fisik barang sesungguhnya di banyak jenis bisnis, karena barang terbaru tetap dicatat keluar lebih dulu sementara barang lama tetap tersisa. ([Lihat sumber Disini - telkomsel.com])

  • Dengan nilai persediaan akhir yang lebih rendah, bisa mempengaruhi rasio keuangan seperti current ratio atau nilai aset di neraca. ([Lihat sumber Disini - telkomsel.com])

  • LIFO tidak diakui dalam standar akuntansi internasional tertentu (misalnya IFRS), sehingga tidak universal dipakai di seluruh yurisdiksi. ([Lihat sumber Disini - telkomsel.com])


Kesimpulan

Metode LIFO adalah salah satu pendekatan akuntansi untuk menilai persediaan yang mengasumsikan barang yang terakhir masuk akan menjadi barang pertama yang keluar, dengan implikasi signifikan pada nilai persediaan, harga pokok penjualan, laba bersih, dan beban pajak. Dalam kondisi kenaikan harga, LIFO menghasilkan HPP yang lebih tinggi dan laba yang lebih rendah sehingga dapat menurunkan pajak terutang dibanding FIFO. Perbandingan antara LIFO dan FIFO menunjukkan perbedaan yang nyata dalam laporan keuangan perusahaan, mengingat setiap metode memiliki karakteristik yang berbeda dalam memproyeksikan biaya persediaan dan keuntungan. Pemilihan metode harus mempertimbangkan strategi perpajakan, keadaan ekonomi, regulasi akuntansi yang berlaku, serta tujuan pelaporan keuangan perusahaan. ([Lihat sumber Disini - telkomsel.com])

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Metode LIFO (Last In, First Out) adalah metode penilaian persediaan yang mengasumsikan bahwa barang yang terakhir masuk ke gudang akan menjadi barang pertama yang dijual atau digunakan. Metode ini memengaruhi perhitungan harga pokok penjualan, laba, dan pajak perusahaan.

Dalam metode LIFO, biaya persediaan yang paling baru dicatat terlebih dahulu sebagai harga pokok penjualan. Persediaan akhir dalam laporan keuangan mencerminkan biaya dari barang yang dibeli atau diproduksi lebih awal.

Perbedaan utama LIFO dan FIFO terletak pada urutan pengeluaran persediaan. LIFO mengeluarkan barang terakhir masuk terlebih dahulu, sedangkan FIFO mengeluarkan barang pertama masuk terlebih dahulu. Perbedaan ini memengaruhi nilai persediaan akhir, laba, dan pajak.

Dalam kondisi kenaikan harga, metode LIFO menghasilkan harga pokok penjualan yang lebih tinggi sehingga laba bersih perusahaan menjadi lebih rendah dibanding metode FIFO.

Ya, metode LIFO dapat menurunkan beban pajak karena laba bersih yang dilaporkan lebih rendah, sehingga dasar pengenaan pajak menjadi lebih kecil dalam kondisi inflasi.

Kelebihan metode LIFO antara lain mencocokkan biaya terbaru dengan pendapatan periode berjalan, membantu efisiensi pajak saat harga naik, serta mencerminkan biaya produksi yang lebih aktual.

Keterbatasan metode LIFO meliputi nilai persediaan akhir yang cenderung lebih rendah, tidak mencerminkan arus fisik barang sebenarnya, serta tidak diakui dalam beberapa standar akuntansi internasional.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Siklus Akuntansi: Konsep, Tahapan, dan Pencatatan Siklus Akuntansi: Konsep, Tahapan, dan Pencatatan Metode Rata-Rata: Konsep dan Stabilitas Nilai Metode Rata-Rata: Konsep dan Stabilitas Nilai Prinsip Akuntansi: Konsep, Asumsi Dasar, dan Penerapan Prinsip Akuntansi: Konsep, Asumsi Dasar, dan Penerapan Relevansi Nilai Informasi Akuntansi: Konsep dan Pengambilan Keputusan Relevansi Nilai Informasi Akuntansi: Konsep dan Pengambilan Keputusan Sistem Informasi Akuntansi: Konsep, Komponen, dan Peran Sistem Sistem Informasi Akuntansi: Konsep, Komponen, dan Peran Sistem Akuntansi Keuangan: Konsep, Ruang Lingkup, dan Fungsi Akuntansi Keuangan: Konsep, Ruang Lingkup, dan Fungsi Jurnal Penyesuaian: Konsep, Jenis, dan Tujuan Jurnal Penyesuaian: Konsep, Jenis, dan Tujuan Persediaan: Konsep, Metode Penilaian, dan Pengakuan Persediaan: Konsep, Metode Penilaian, dan Pengakuan Neraca Saldo: Konsep dan Pengendalian Pencatatan Neraca Saldo: Konsep dan Pengendalian Pencatatan Jurnal Umum: Konsep, Fungsi, dan Pencatatan Transaksi Jurnal Umum: Konsep, Fungsi, dan Pencatatan Transaksi SPK Pemilihan Software Akuntansi SPK Pemilihan Software Akuntansi Buku Besar: Konsep, Klasifikasi Akun, dan Pelaporan Buku Besar: Konsep, Klasifikasi Akun, dan Pelaporan Pengakuan Pendapatan: Konsep, Prinsip Akuntansi, dan Pelaporan Pengakuan Pendapatan: Konsep, Prinsip Akuntansi, dan Pelaporan Basis Akrual: Konsep, Pencatatan, dan Implikasi Keuangan Basis Akrual: Konsep, Pencatatan, dan Implikasi Keuangan Basis Kas: Konsep dan Perbandingan dengan Akrual Basis Kas: Konsep dan Perbandingan dengan Akrual Metode FIFO: Konsep dan Implikasi Laba Metode FIFO: Konsep dan Implikasi Laba Kualitas Laporan Keuangan: Konsep, Karakteristik, dan Penilaian Kualitas Laporan Keuangan: Konsep, Karakteristik, dan Penilaian Laporan Laba Rugi: Konsep, Unsur Pendapatan, dan Beban Laporan Laba Rugi: Konsep, Unsur Pendapatan, dan Beban Goodwill: Konsep, Pengakuan, dan Perlakuan Akuntansi Goodwill: Konsep, Pengakuan, dan Perlakuan Akuntansi Pendapatan: Konsep, Pengakuan, dan Pengukuran Pendapatan: Konsep, Pengakuan, dan Pengukuran
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…