
Metode LIFO: Konsep dan Perbandingan Akuntansi
Pendahuluan
Dalam praktik akuntansi, metode penilaian persediaan merupakan salah satu aspek penting yang memengaruhi laporan keuangan perusahaan, termasuk nilai persediaan akhir, harga pokok penjualan, laba bersih, serta kewajiban pajak. Dalam kondisi ekonomi tertentu, terutama saat harga bahan baku atau barang jadi mengalami kenaikan, pilihan metode penilaian persediaan dapat memberikan implikasi signifikan terhadap beban pajak, hasil usaha, dan interpretasi kinerja perusahaan oleh pemangku kepentingan. Salah satu pendekatan yang sering digunakan adalah Metode LIFO (Last In, First Out) yang berbeda secara mendasar dengan pendekatan lainnya seperti FIFO (First In, First Out). Pada artikel ini akan dibahas secara komprehensif mengenai konsep LIFO, mekanisme pencatatannya, cara menghitung harga pokok penjualan dengan metode ini, serta perbandingannya dengan FIFO termasuk dampaknya terhadap laba dan pajak. ([Lihat sumber Disini - telkomsel.com])
Definisi Metode LIFO
Definisi Metode LIFO Secara Umum
Metode LIFO merupakan pendekatan penilaian persediaan yang mengasumsikan bahwa barang terakhir yang masuk ke persediaan akan menjadi barang pertama yang dijual atau digunakan dalam produksi. Konsep ini berarti bahwa biaya barang yang paling baru dibeli atau diproduksi akan dicatat sebagai harga pokok penjualan (HPP) terlebih dahulu, dan persediaan akhir akan mencerminkan barang-barang yang lebih lama disimpan dalam gudang. Pendekatan ini memberikan hasil perhitungan yang berbeda dari metode lain karena fokus utamanya pada arus biaya alih-alih arus fisik barang. ([Lihat sumber Disini - telkomsel.com])
Definisi Metode LIFO dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah “Last In First Out” berarti sistem pengurutan di mana yang terakhir masuk akan menjadi yang pertama keluar. Dalam konteks persediaan, ini berarti unit barang yang baru diterima atau diproduksi pertama kali dialokasikan sebagai unit yang dijual atau digunakan sebelum unit barang lain yang lebih tua. Konsep ini sering digunakan dalam pengelolaan data, manajemen gudang, dan sistem akuntansi persediaan. (Definisi KBBI, diambil langsung dari KBBI daring).
Definisi Metode LIFO Menurut Para Ahli
-
Charles T. Horngren, Menyatakan bahwa metode LIFO adalah pendekatan dalam penilaian persediaan di mana biaya dari barang terakhir yang dibeli dicatat pertama sebagai harga pokok penjualan, sementara biaya barang yang lebih tua tetap berada dalam persediaan akhir.
-
Jerry J. Weygandt, Menjelaskan bahwa LIFO membantu mencocokkan HPP dengan biaya terbaru di periode berjalan, sehingga mencerminkan biaya produksi yang paling aktual pada laporan laba rugi.
-
Donald E. Kieso, Menyatakan bahwa LIFO dapat membantu perusahaan dalam situasi kenaikan harga untuk mengurangi laba kena pajak dengan mencatat biaya yang lebih tinggi lebih dulu.
-
Paul D. Kimmel, Mengemukakan bahwa meskipun LIFO tidak mencerminkan arus fisik barang secara realistis, pendekatan ini memberikan manfaat dalam perencanaan pajak dan manajemen arus kas operasional.
(Diambil dari literatur umum akuntansi persediaan yang sering dikutip dalam jurnal akuntansi dan standar akuntansi internasional). ([Lihat sumber Disini - accountingdepartment.com])
Mekanisme Pencatatan Persediaan Metode LIFO
Dalam mekanisme LIFO, sistem pencatatan persediaan mengikuti prinsip urutan biaya masuk terakhir ditentukan sebagai biaya keluar pertama. Secara operasional, ini berarti ketika perusahaan menjual atau menggunakan barang, biaya yang dicatat sebagai harga pokok penjualan (HPP) berasal dari pembelian atau produksi terbaru. Contoh sederhananya, jika perusahaan membeli persediaan dalam tiga tahapan dengan biaya yang berbeda-beda, kemudian terjadi penjualan, maka biaya dari batch pembelian terakhir akan dicatat terlebih dahulu sebagai HPP dalam laporan laba rugi. Dengan demikian, persediaan yang masih tersisa pada akhir periode akuntansi adalah barang-barang yang dibeli atau diproduksi lebih dahulu dan sering kali memiliki biaya yang lebih rendah dalam kondisi inflasi. ([Lihat sumber Disini - telkomsel.com])
Harga pokok penjualan (HPP) yang lebih tinggi muncul dari pencocokan barang dengan biaya terbaru terlebih dahulu, sehingga laba kotor perusahaan dalam periode tersebut cenderung lebih rendah. Pencatatan seperti ini sangat berbeda dengan FIFO di mana barang pertama masuk akan menjadi barang pertama keluar, sehingga biaya yang dicatat di HPP biasanya lebih rendah dalam kondisi kenaikan harga. ([Lihat sumber Disini - telkomsel.com])
Perhitungan Harga Pokok Penjualan Metode LIFO
Perhitungan harga pokok penjualan dalam metode LIFO menggunakan biaya dari pembelian terbaru terlebih dahulu. Dalam laporan akuntansi, ini berarti HPP akan meningkat saat harga pembelian baru lebih tinggi daripada harga pembelian awal, terutama dalam kondisi inflasi. Metode ini menghasilkan perhitungan HPP yang mencerminkan biaya terbaru penyediaan barang, sehingga laba kotor yang dilaporkan pada periode tersebut cenderung turun. ([Lihat sumber Disini - telkomsel.com])
Pemahaman ini penting karena HPP berdampak langsung pada jumlah laba bruto, laba bersih, dan juga kewajiban pajak. Saat HPP meningkat, laba usaha akan menurun dan pada akhirnya dapat menyebabkan beban pajak lebih rendah. Sebaliknya, jika harga barang turun, HPP akan menurun dan laba bersih meningkat. Studi akademik menunjukkan bahwa perbedaan metode penilaian persediaan menghasilkan hasil laba dan pajak yang berbeda pada laporan keuangan perusahaan. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])
Perbandingan Metode LIFO dengan Metode FIFO
Perbandingan LIFO dan FIFO adalah pembahasan yang sering muncul dalam literatur akuntansi karena kedua pendekatan ini memberikan hasil laporan keuangan yang sangat berbeda, terutama ketika terjadi perubahan biaya bahan baku atau barang jadi. FIFO mencatat barang yang lebih dulu masuk akan lebih dulu keluar, sehingga biaya barang yang lebih lama berada dalam HPP dan nilai persediaan akhir mencerminkan biaya yang lebih baru. LIFO justru kebalikannya, yaitu barang terbaru dicatat keluar pertama kali. ([Lihat sumber Disini - telkomsel.com])
Dalam kondisi kenaikan harga (inflasi), LIFO menghasilkan HPP yang lebih tinggi dibanding FIFO, karena biaya terbaru (yang biasanya lebih tinggi) dicatat terlebih dahulu. Akibatnya, laba kotor yang dilaporkan cenderung lebih rendah, sementara nilai persediaan akhir lebih rendah dibanding FIFO, yang mencatat biaya lebih lama di HPP dan menyisakan biaya yang lebih baru sebagai persediaan akhir. ([Lihat sumber Disini - telkomsel.com])
Dalam kondisi pasar normal tanpa banyak perubahan harga, perbedaan antara LIFO dan FIFO menjadi lebih kecil karena biaya pembelian tidak banyak berubah dari waktu ke waktu. Namun, perbedaan tetap signifikan dalam hal penilaian persediaan akhir, laba bersih, dan kewajiban pajak. FIFO biasanya menunjukkan laba yang lebih tinggi tetapi beban pajak yang lebih besar, sementara LIFO menunjukkan laba lebih rendah dan beban pajak lebih rendah dalam kondisi inflasi. ([Lihat sumber Disini - telkomsel.com])
Dampak Metode LIFO terhadap Laba dan Pajak
Pemilihan metode LIFO memiliki implikasi langsung terhadap laba bersih dan beban pajak perusahaan. Karena harga pokok penjualan (HPP) yang dicatat dalam LIFO biasanya lebih tinggi di saat biaya input meningkat, maka laba bruto dan laba bersih akan menjadi lebih rendah dibanding metode lain seperti FIFO. Penurunan laba ini juga berdampak pada dasar perhitungan pajak, sehingga beban pajak yang harus dibayar menjadi lebih rendah. ([Lihat sumber Disini - telkomsel.com])
Dalam jurnal penelitian pada perusahaan manufaktur atau perdagangan sering ditemukan bahwa perbedaan metode penilaian persediaan membawa pengaruh nyata terhadap laba yang dilaporkan dan beban pajak yang harus dibayar. Pilihan metode ini sering menjadi strategi perencanaan pajak jangka pendek dalam kondisi ekonomi tertentu, seperti inflasi tinggi, untuk mengurangi beban pajak secara legal. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])
Kelebihan dan Keterbatasan Metode LIFO
Metode LIFO memiliki beberapa kelebihan dan keterbatasan yang penting untuk dipahami bagi perusahaan yang mempertimbangkan penggunaannya. Berikut adalah beberapa poin penting tersebut:
Kelebihan Metode LIFO:
-
Memberikan pencocokan biaya terbaru dengan revenue yang dihasilkan, sehingga HPP mencerminkan biaya saat ini dengan lebih baik daripada metode lain. ([Lihat sumber Disini - telkomsel.com])
-
Berpotensi mengurangi beban pajak penghasilan saat harga barang meningkat karena laba bersih yang dilaporkan menjadi lebih rendah. ([Lihat sumber Disini - telkomsel.com])
-
Dapat membantu perusahaan dalam manajemen arus kas terutama di periode kenaikan harga input. ([Lihat sumber Disini - 8thinktank.com])
Keterbatasan Metode LIFO:
-
Tidak mencerminkan arus fisik barang sesungguhnya di banyak jenis bisnis, karena barang terbaru tetap dicatat keluar lebih dulu sementara barang lama tetap tersisa. ([Lihat sumber Disini - telkomsel.com])
-
Dengan nilai persediaan akhir yang lebih rendah, bisa mempengaruhi rasio keuangan seperti current ratio atau nilai aset di neraca. ([Lihat sumber Disini - telkomsel.com])
-
LIFO tidak diakui dalam standar akuntansi internasional tertentu (misalnya IFRS), sehingga tidak universal dipakai di seluruh yurisdiksi. ([Lihat sumber Disini - telkomsel.com])
Kesimpulan
Metode LIFO adalah salah satu pendekatan akuntansi untuk menilai persediaan yang mengasumsikan barang yang terakhir masuk akan menjadi barang pertama yang keluar, dengan implikasi signifikan pada nilai persediaan, harga pokok penjualan, laba bersih, dan beban pajak. Dalam kondisi kenaikan harga, LIFO menghasilkan HPP yang lebih tinggi dan laba yang lebih rendah sehingga dapat menurunkan pajak terutang dibanding FIFO. Perbandingan antara LIFO dan FIFO menunjukkan perbedaan yang nyata dalam laporan keuangan perusahaan, mengingat setiap metode memiliki karakteristik yang berbeda dalam memproyeksikan biaya persediaan dan keuntungan. Pemilihan metode harus mempertimbangkan strategi perpajakan, keadaan ekonomi, regulasi akuntansi yang berlaku, serta tujuan pelaporan keuangan perusahaan. ([Lihat sumber Disini - telkomsel.com])