
Persediaan: Konsep, Metode Penilaian, dan Pengakuan
Pendahuluan
Persediaan merupakan salah satu komponen terpenting dalam aktivitas operasional perusahaan, terutama dalam industri manufaktur dan perdagangan. Tanpa persediaan yang dikelola dengan tepat, perusahaan bisa mengalami gangguan produksi, kekurangan barang untuk dijual, atau bahkan kesalahan dalam pelaporan keuangan. Keberadaan persediaan tidak hanya berperan sebagai aset dalam neraca, tetapi juga memengaruhi hasil laporan laba rugi dan arus kas perusahaan. Persediaan yang dinilai dan diakui secara akurat membantu perusahaan menunjukkan posisi keuangan yang benar dan memberikan informasi akuntansi yang dapat diandalkan bagi pemangku kepentingan. ([Lihat sumber Disini - ejournal.uniks.ac.id])
Definisi Persediaan
Definisi Persediaan Secara Umum
Persediaan secara umum adalah semua barang yang dimiliki perusahaan dan tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal, termasuk barang yang sedang dalam proses produksi dan bahan yang akan digunakan untuk produksi atau pemberian jasa selanjutnya. Persediaan ini biasanya menjadi bagian dari modal kerja yang penting dalam operasi bisnis sehingga harus dicatat dan dikelola dengan cermat. ([Lihat sumber Disini - repository.stei.ac.id])
Definisi Persediaan dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), persediaan biasanya diartikan sebagai barang-barang atau stok yang disiapkan untuk dijual, digunakan dalam proses produksi, atau sebagai cadangan. KBBI menekankan aspek kesiapan dan ketersediaan barang untuk keperluan operasional perusahaan. Sumber KBBI Online (kbbionline.com, definisi persediaan). ([Lihat sumber Disini - repository.stei.ac.id])
Definisi Persediaan Menurut Para Ahli
-
Weygandt, Kieso, dan Warfield (2015): Persediaan (inventory) adalah aset yang dimiliki perusahaan untuk dijual dalam kegiatan operasi biasa, dalam proses produksi untuk dijual, atau dalam bentuk bahan dan perlengkapan untuk digunakan dalam proses produksi atau jasa. ([Lihat sumber Disini - journal.unimma.ac.id])
-
Nurjana (2020): Persediaan adalah item aset yang dimiliki perusahaan untuk dijual atau akan digunakan dalam penjualan normal. ([Lihat sumber Disini - eprints.polsri.ac.id])
-
Showkat & Ali (2020): Inventory mencakup stok barang yang akan dijual, komponen yang menyusun produk yang dijual, termasuk bahan baku, barang dalam proses, serta barang jadi. ([Lihat sumber Disini - journalijar.com])
-
Jacobs dan Chase (2016): Menyatakan bahwa persediaan adalah stok barang maupun sumber daya yang digunakan perusahaan untuk operasional produksi. ([Lihat sumber Disini - e-journal.uajy.ac.id])
Jenis-Jenis Persediaan dalam Perusahaan
Persediaan dalam perusahaan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kategori utama berdasarkan posisinya dalam siklus operasional:
-
Bahan Baku (Raw Materials), barang atau komponen yang akan diolah lebih lanjut dalam proses produksi sebelum menjadi produk siap jual. ([Lihat sumber Disini - journalijar.com])
-
Barang Dalam Proses (Work In Process / WIP), barang yang sedang dalam tahapan produksi namun belum selesai sepenuhnya. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])
-
Barang Jadi (Finished Goods), produk akhir yang telah selesai diproduksi dan siap dijual kepada konsumen. ([Lihat sumber Disini - journalijar.com])
-
Perlengkapan / Suplai (Stores / Supplies), persediaan yang digunakan untuk mendukung proses produksi atau operasional tetapi tidak menjadi bagian dari produk akhir. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])
Jenis persediaan yang beragam ini mencerminkan berbagai tahap proses produksi serta fungsi berbeda dalam operasi perusahaan. Manajemen persediaan yang baik harus mencakup semua jenis ini untuk menjaga kesinambungan operasi dan efektivitas pengendalian biaya. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])
Metode Penilaian Persediaan
Metode FIFO (First-In, First-Out)
Metode FIFO mengasumsikan bahwa persediaan yang pertama masuk adalah yang pertama keluar. Dengan demikian, barang yang dibeli terlebih dahulu akan dicatat sebagai barang yang pertama terjual, sementara persediaan akhir dinilai berdasarkan harga terbaru. Metode FIFO sering digunakan untuk barang yang mudah rusak atau memiliki masa simpan terbatas karena mencerminkan aliran fisik barang yang realistis. ([Lihat sumber Disini - finaleinventory.com])
Metode LIFO (Last-In, First-Out)
Metode LIFO mengasumsikan bahwa persediaan yang terakhir dibeli adalah yang pertama dijual. Meskipun tidak mencerminkan aliran fisik barang, metode ini dapat menghasilkan Harga Pokok Penjualan (HPP) yang lebih tinggi pada periode inflasi karena item terbaru dengan biaya lebih tinggi akan dianggap terjual lebih dulu. Perlu dicatat, metode LIFO tidak diizinkan dalam IFRS tetapi diperbolehkan di bawah standar akuntansi tertentu. ([Lihat sumber Disini - finaleinventory.com])
Metode Rata-Rata Tertimbang (Weighted Average Cost)
Metode ini menghitung rata-rata biaya dari semua persediaan yang tersedia untuk dijual dalam periode tertentu. Setiap barang dinilai dengan biaya rata-rata sehingga HPP dan nilai persediaan akhir mencerminkan biaya rata-rata periode tersebut. Metode ini cocok untuk situasi di mana barang hampir homogen. ([Lihat sumber Disini - finaleinventory.com])
Metode Identifikasi Khusus (Specific Identification)
Metode ini melacak biaya setiap item persediaan secara individual, sehingga ketika dijual, biaya yang relevan dapat diatribusikan secara spesifik. Metode ini cocok untuk barang bernilai tinggi atau unik yang mudah diidentifikasi. ([Lihat sumber Disini - investopedia.com])
Pengukuran pada Lower of Cost or Net Realizable Value
Standar akuntansi mensyaratkan persediaan diukur pada nilai terendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi bersih. Jika nilai pasar turun di bawah biaya perolehan, persediaan harus diturunkan sehingga mencerminkan nilai realisasi yang lebih realistis. ([Lihat sumber Disini - analystprep.com])
Setiap metode penilaian memiliki implikasi yang berbeda terhadap HPP, laba perusahaan, dan nilai persediaan dalam neraca, sehingga pilihan metode sangat penting dalam pelaporan keuangan. ([Lihat sumber Disini - ojs.unud.ac.id])
Pengakuan dan Pengukuran Persediaan
Persediaan diakui sebagai aset saat semua biaya perolehan dapat diukur secara andal dan manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan mengalir ke entitas. Biaya perolehan mencakup biaya pembelian, biaya konversi, serta biaya lain yang diperlukan untuk membawa persediaan ke lokasi dan kondisinya saat ini. ([Lihat sumber Disini - accounting.binus.ac.id])
Setelah diakui, persediaan diukur pada biaya perolehan atau nilai realisasi bersih jika nilai realisasi lebih rendah. Penurunan nilai ini biasanya dicatat sebagai beban pada laporan laba rugi, sehingga berdampak pada laba bersih periode berjalan. ([Lihat sumber Disini - analystprep.com])
Persediaan dalam Laporan Keuangan
Dalam laporan keuangan, persediaan biasanya disajikan sebagai berikut:
-
Neraca (Balance Sheet), sebagai bagian dari aset lancar, menunjukkan nilai persediaan akhir pada tanggal neraca. ([Lihat sumber Disini - ejournal.uniks.ac.id])
-
Laporan Laba Rugi (Income Statement), persediaan terlibat dalam perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP). Perubahan persediaan antara awal dan akhir periode menentukan besarnya HPP yang dilaporkan. ([Lihat sumber Disini - ejournal.uniks.ac.id])
Penyajian ini penting untuk menunjukkan posisi keuangan perusahaan serta hasil operasional yang akurat. Kesalahan dalam penilaian atau pengakuan persediaan dapat menyebabkan distorsi pada laba atau rugi serta posisi aset perusahaan. ([Lihat sumber Disini - ejournal.uniks.ac.id])
Pengaruh Persediaan terhadap Laba dan Arus Kas
Penilaian dan pengelolaan persediaan memengaruhi laba yang dilaporkan perusahaan. Misalnya, metode FIFO cenderung menghasilkan HPP lebih rendah dalam kondisi inflasi, sehingga laba bersih lebih tinggi dibandingkan metode lainnya. Sebaliknya, metode LIFO akan menghasilkan HPP lebih tinggi dan laba bersih lebih rendah dalam kondisi yang sama. Perbedaan ini berdampak pada pajak dan arus kas perusahaan. ([Lihat sumber Disini - finaleinventory.com])
Selain itu, perubahan dalam nilai persediaan yang diukur pada nilai realisasi bersih juga dapat memengaruhi laba dan posisi kas. Penurunan nilai persediaan meningkatakan beban yang akan mengurangi laba periode berjalan, yang pada gilirannya dapat memengaruhi arus kas dari operasi jika menggunakan pendekatan tidak langsung. ([Lihat sumber Disini - analystprep.com])
Kesimpulan
Persediaan merupakan aset penting yang harus diukur dan diakui dengan akurat dalam laporan keuangan perusahaan. Definisi persediaan menurut standar akuntansi dan para ahli menyatakan bahwa persediaan mencakup barang yang dimiliki untuk dijual, dalam proses produksi, atau digunakan dalam produksi jasa. Jenis persediaan seperti bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi menunjukkan kompleksitas pengelolaan dalam berbagai tahap siklus operasional. Metode penilaian persediaan seperti FIFO, LIFO, rata-rata tertimbang, dan identifikasi khusus memiliki implikasi signifikan terhadap HPP dan laba perusahaan. Pengakuan dan pengukuran persediaan berdasarkan biaya perolehan atau nilai realisasi bersih mencerminkan prinsip konservatisme dan keandalan pelaporan keuangan. Akhirnya, persediaan berdampak langsung pada laba dan arus kas perusahaan, sehingga pengelolaan yang tepat menjadi kunci dalam menjaga kesehatan keuangan dan ketepatan informasi akuntansi perusahaan. ([Lihat sumber Disini - ojs.unud.ac.id])