
Metode FIFO: Konsep dan Implikasi Laba
Pendahuluan
Dalam dunia akuntansi dan manajemen persediaan, pilihan metode pencatatan persediaan memiliki dampak signifikan terhadap laporan keuangan perusahaan, termasuk nilai laba yang dilaporkan dan posisi aset persediaan di neraca. Metode First In, First Out (FIFO) sering dipilih oleh banyak organisasi karena kesesuaiannya dengan aliran fisik barang secara umum: barang yang pertama kali masuk disimpan lebih dulu dan barang tersebut pula yang pertama kali keluar dijual atau digunakan. Tidak hanya mempengaruhi nilai persediaan dan harga pokok penjualan (HPP), metode FIFO juga berimplikasi langsung terhadap laba bersih dan keputusan manajerial dalam suatu periode akuntansi. Pilihan metode ini menjadi penting terutama dalam kondisi ekonomi saat harga bahan baku atau barang cenderung meningkat (inflasi), yang mana pengakuan biaya barang yang lebih dulu dibeli akan mempengaruhi besarnya laba yang dilaporkan oleh perusahaan. ([Lihat sumber Disini - jurnal.ibik.ac.id])
Definisi Metode FIFO
Definisi Metode FIFO Secara Umum
Metode FIFO (First In, First Out) merupakan salah satu metode penilaian persediaan yang mengasumsikan bahwa unit barang yang pertama kali dibeli atau diproduksi akan menjadi barang yang pertama kali keluar untuk dijual atau digunakan dalam proses produksi. Dalam praktiknya, metode ini menempatkan barang yang paling tua di gudang sebagai persediaan yang pertama kali direalisasikan sebagai harga pokok penjualan. Akibatnya, persediaan yang tersisa pada akhir periode dinilai berdasarkan pembelian terakhir yang dilakukan perusahaan. ([Lihat sumber Disini - ejournal-nipamof.id])
Definisi Metode FIFO dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah FIFO tidak secara eksplisit ada dalam kamus tradisional, tetapi secara harfiah dapat dijelaskan sebagai pendekatan pencatatan persediaan dimana barang yang pertama masuk ke gudang harus menjadi barang yang pertama keluar. Ini sejalan dengan istilah bahasa Inggris “first in, first out” yang kemudian diadaptasi dalam istilah akuntansi persediaan. Secara prinsip, metode ini mencerminkan urutan logis pengeluaran barang berdasarkan urutan kedatangan. (Referensi definisi KBBI pada istilah ini secara langsung bisa ditemukan pada situs resmi KBBI daring atau mencermati penyesuaian istilah ini dalam praktik akuntansi modern, tabel referensi telah dijelaskan oleh PSAK). ([Lihat sumber Disini - journal-laaroiba.com])
Definisi Metode FIFO Menurut Para Ahli
-
Menurut Putri dalam penelitiannya, FIFO adalah metode penilaian persediaan yang menganggap bahwa barang yang pertama kali dibeli atau diperoleh akan menjadi barang yang pertama kali dijual atau digunakan dalam proses produksi. Ini berarti bahwa biaya perolehan persediaan yang pertama masuk akan menjadi bagian dari harga pokok penjualan pertama kali pula. ([Lihat sumber Disini - jurnal.ibik.ac.id])
-
Menurut penjelasan riset lain, metode FIFO dianggap sebagai metode yang mencerminkan aliran fisik barang secara lebih realistis dalam banyak aktivitas usaha karena barang yang lebih dulu diterima umumnya yang lebih dulu dijual. ([Lihat sumber Disini - ejournal-nipamof.id])
-
PSAK No. 14 (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) menyebutkan bahwa metode ini adalah salah satu metode yang diperbolehkan dalam penilaian persediaan di Indonesia bersama dengan metode average. ([Lihat sumber Disini - jurnal.ibik.ac.id])
-
Rioni juga menegaskan bahwa metode FIFO berperan dalam membedakan nilai persediaan akhir dan harga pokok penjualan sehingga berdampak pada laporan laba rugi. ([Lihat sumber Disini - journal.pancabudi.ac.id])
Mekanisme Pencatatan Persediaan Metode FIFO
Mekanisme pencatatan dengan metode FIFO didasarkan pada urutan kronologis perolehan barang. Artinya, setiap kali barang masuk ke dalam gudang, barang tersebut diberi tanggal atau urutan sehingga saat dilakukan pencatatan keluar barang, sistem terlebih dahulu mencatat barang dengan tanggal masuk paling awal. Dalam praktik pencatatan akuntansi persediaan, FIFO dapat diterapkan pada basis periodik atau perpetual:
-
Basis periodik: pencatatan persediaan dilakukan pada akhir periode akuntansi dengan memperkirakan nilai barang yang keluar berdasarkan asumsi FIFO.
-
Basis perpetual: setiap transaksi keluar barang langsung dicatat dalam sistem persediaan dan harga pokok penjualan diperbarui secara real time sesuai urutan masuk barang.
Dengan kata lain, setiap kali terjadi penjualan atau pengeluaran barang, sistem akan secara otomatis menyesuaikan jumlah dan nilai persediaan dengan mengambil harga perolehan barang yang paling lama berada di gudang terlebih dahulu. Ini berarti bahwa dalam situasi normal, nilai persediaan akhir akan mencerminkan biaya pembelian barang yang relatif lebih baru. ([Lihat sumber Disini - jurnal.ibik.ac.id])
Perhitungan Harga Pokok Penjualan Metode FIFO
Perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP) dengan metode FIFO dilakukan dengan cara mengambil biaya persediaan dari unit barang yang pertama kali masuk sebagai dasar pengakuan HPP ketika barang tersebut dijual. Sebagai ilustrasi teoritis (tanpa angka spesifik karena tidak menggunakan format rumus seperti latex), bila perusahaan memiliki beberapa batch pembelian dengan harga yang berbeda, maka unit yang dijual pertama kali dianggap berasal dari pembelian paling awal.
Dalam kondisi umum, terutama bila harga barang mengalami kenaikan dari waktu ke waktu, barang yang pertama masuk memiliki biaya yang lebih rendah dibanding pembelian di periode berikutnya. Oleh sebab itu, HPP yang dihasilkan oleh metode FIFO cenderung lebih rendah dibanding metode lain seperti LIFO atau rata-rata, bila harga barang meningkat secara terus-menerus. Kondisi ini menyebabkan pembentukan laba kotor yang lebih tinggi pada laporan laba rugi perusahaan. ([Lihat sumber Disini - jurnal.ummi.ac.id])
Implikasi Metode FIFO terhadap Laba Perusahaan
Salah satu implikasi paling signifikan dari penggunaan metode FIFO adalah dampaknya terhadap laba perusahaan. Dalam situasi di mana harga pembelian barang atau bahan baku meningkat (inflasi), FIFO akan mengakui biaya dari periode pembelian yang lebih lama (yang biasanya lebih rendah) sebagai bagian dari HPP sebelum biaya periode baru dimasukkan. Akibatnya:
-
Harga pokok penjualan menjadi lebih rendah, karena biaya barang yang diakui berasal dari batch paling awal dengan harga lebih murah.
-
Laba bruto dan laba bersih yang dilaporkan menjadi lebih tinggi, dibandingkan jika menggunakan metode seperti LIFO atau rata-rata.
-
Karena laba yang diperoleh lebih tinggi, perusahaan yang menggunakan FIFO mungkin menghadapi beban pajak yang lebih besar karena laba kena pajak lebih tinggi. ([Lihat sumber Disini - jurnalilmiah.org])
Hasil penelitian dalam konteks akademik juga menunjukkan bahwa pencatatan dengan metode FIFO memiliki pengaruh positif terhadap laporan laba bersih perusahaan karena harga pokok penjualan yang lebih rendah membuat besaran laba yang dilaporkan meningkat. ([Lihat sumber Disini - jurnalilmiah.org])
Pengaruh Metode FIFO terhadap Nilai Persediaan
Karena metode FIFO meninggalkan unit barang yang paling baru dibeli di akhir periode sebagai persediaan akhir, maka nilai persediaan akhir pada neraca cenderung mencerminkan biaya pembelian terbaru. Dalam kondisi pasar dengan tren kenaikan harga, nilai persediaan akhir akan lebih tinggi dibanding metode lain. Ini memiliki implikasi penting:
-
Neraca perusahaan menunjukkan aset persediaan yang lebih tinggi, yang dapat memperkuat posisi likuiditas dan rasio aset lainnya.
-
Investor dan kreditur akan melihat nilai persediaan yang lebih realistis dalam konteks harga pasar saat ini. Nilai persediaan akhir FIFO yang lebih tinggi akan mencerminkan biaya terbaru yang lebih relevan. ([Lihat sumber Disini - ejournal.areai.or.id])
Kelebihan dan Keterbatasan Metode FIFO
Kelebihan Metode FIFO:
-
Representasi Realistis Aliran Barang: FIFO dianggap paling mencerminkan urutan fisik barang di banyak jenis usaha karena barang yang lebih dulu masuk biasanya lebih dulu dijual sehingga mengurangi risiko barang kadaluarsa atau usang. ([Lihat sumber Disini - prosiding.pnj.ac.id])
-
Laba Lebih Tinggi pada Kondisi Inflasi: Dalam periode harga meningkat, FIFO menghasilkan HPP lebih rendah dan laba yang lebih tinggi, yang dapat mencerminkan potensi profitabilitas lebih baik. ([Lihat sumber Disini - jurnalilmiah.org])
-
Nilai Persediaan Akhir Lebih Relevan: Persediaan akhir yang tercatat cenderung lebih mencerminkan biaya terbaru sehingga memberikan gambaran aset perusahaan yang lebih akurat. ([Lihat sumber Disini - ejournal.areai.or.id])
-
Kesederhanaan Penerapan: Di banyak sistem akuntansi, FIFO lebih mudah diterapkan dan dipahami dibandingkan metode lain karena logika pencatatan yang sederhana. ([Lihat sumber Disini - jurnal.ibik.ac.id])
Keterbatasan Metode FIFO:
-
Beban Pajak Tinggi: Implikasi laba yang lebih tinggi juga berarti pajak yang harus dibayar bisa lebih besar karena laba kena pajak meningkat. ([Lihat sumber Disini - itemit.com])
-
Kurang Ideal dalam Kondisi Harga Turun: Jika harga barang cenderung menurun, FIFO mungkin tidak mencerminkan biaya terbaru karena masih menggunakan biaya periode lama sebagai HPP. ([Lihat sumber Disini - abacademies.org])
-
Tidak Cocok Untuk Semua Industri: Beberapa industri dengan karakteristik aliran barang yang berbeda mungkin memilih metode lain lebih sesuai. ([Lihat sumber Disini - invensis.net])
Kesimpulan
Metode FIFO merupakan salah satu pendekatan penilaian dan pencatatan persediaan yang digunakan banyak perusahaan secara global dan di Indonesia. Dengan asumsi bahwa barang yang pertama kali masuk akan menjadi barang yang pertama kali keluar, FIFO membantu perusahaan mencatat harga pokok penjualan berdasarkan biaya pembelian paling awal. Ini berimplikasi pada nilai laba dan persediaan yang dilaporkan, terutama dalam kondisi harga naik. Metode ini memiliki kelebihan seperti representasi aliran fisik barang yang realistis dan nilai persediaan akhir yang relevan terhadap harga pasar saat ini, namun juga memiliki keterbatasan seperti potensi beban pajak yang lebih tinggi. Pilihan penggunaan metode FIFO harus mempertimbangkan konteks operasional, kondisi pasar, dan tujuan pelaporan perusahaan sesuai standar akuntansi yang berlaku. ([Lihat sumber Disini - jurnal.ibik.ac.id])