
Anemia pada Remaja
Pendahuluan
Anemia merupakan salah satu persoalan kesehatan yang cukup sering terjadi pada kelompok usia remaja, terutama pada remaja putri. Kondisi ini bukanlah sekadar masalah laboratorium, tetapi berdampak luas pada fisik, kognitif, produktivitas belajar, dan perkembangan remaja secara keseluruhan. Anemia termasuk kondisi ketika kadar hemoglobin (Hb) dalam darah lebih rendah dari batas normal untuk usia dan jenis kelamin tertentu, sehingga kemampuan darah dalam mengangkut oksigen ke jaringan tubuh berkurang. Menurut definisi WHO, anemia adalah keadaan di mana jumlah sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin dalam darah berada di bawah nilai normal yang diperlukan untuk jumlah oksigen yang dibawa ke seluruh tubuh. [Lihat sumber Disini - who.int]
Remaja adalah kelompok usia yang mengalami percepatan pertumbuhan, perubahan fisiologis signifikan termasuk awal menstruasi pada remaja putri, yang secara bersamaan meningkatkan kebutuhan zat gizi, khususnya zat besi. [Lihat sumber Disini - ojs3.poltekkes-mks.ac.id]
Definisi Anemia pada Remaja
Definisi Anemia pada Remaja Secara Umum
Anemia pada remaja pada dasarnya adalah suatu kondisi klinis di mana kadar hemoglobin darah berada di bawah batas normal yang menyebabkan fungsi pengangkutan oksigen ke seluruh tubuh menjadi kurang optimal. Kadar Hb yang ditetapkan sebagai batas anemia bervariasi menurut usia dan jenis kelamin, namun secara umum, remaja dianggap mengalami anemia apabila Hb berada di bawah standar normal yang sesuai dengan kelompok umurnya. [Lihat sumber Disini - who.int]
Definisi Anemia dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), anemia diartikan sebagai keadaan kurangnya hemoglobin (Hb) dalam darah atau kurangnya sel darah merah dalam darah yang dapat menyebabkan tubuh kekurangan pasokan oksigen sehingga berpotensi menimbulkan gejala seperti lemas, lesu, atau pucat. (Definisi KBBI, referensi daring KBBI anemia, sertakan link KBBI jika tersedia publik).
Definisi Anemia Menurut Para Ahli
-
World Health Organization (WHO), Menyatakan anemia sebagai kondisi di mana jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin lebih rendah daripada normal sehingga kapasitas darah mengangkut oksigen ke jaringan tubuh menurun. [Lihat sumber Disini - who.int]
-
Rahman et al. (2024), Anemia adalah suatu keadaan di mana kadar hemoglobin dalam darah kurang dari normal (<12 gr/dL untuk remaja putri), yang diakibatkan oleh berbagai faktor seperti kekurangan nutrisi, kehilangan darah, atau gangguan produksi sel darah merah. [Lihat sumber Disini - jurnal.htp.ac.id]
-
Jannah (2023), Definisi anemia mencakup kurangnya jumlah hemoglobin sesuai dengan usia dan jenis kelamin, dengan remaja putri menjadi salah satu kelompok yang paling rentan mengalami kondisi ini karena faktor biologis dan nutrisi. [Lihat sumber Disini - ejournal.seaninstitute.or.id]
-
Mulianingsih (2024), WHO menetapkan nilai ambang Hb kurang dari 11 g/dL untuk anak-anak dan remaja tertentu sebagai salah satu indikator anemia. [Lihat sumber Disini - openpublichealthjournal.com]
Penyebab Utama Anemia pada Remaja
Anemia pada remaja umumnya multifaktorial, tetapi penyebab yang paling sering ditemukan adalah defisiensi zat besi yang diakibatkan oleh ketidakseimbangan antara kebutuhan dan asupan. Penelitian menunjukkan bahwa rendahnya asupan makanan kaya zat besi, seperti daging merah, hati, sayuran hijau, serta vitamin dan mineral pendukung seperti vitamin C yang membantu penyerapan zat besi, merupakan kontribusi penting terhadap kejadian anemia. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Selain itu, kehilangan darah akibat menstruasi berulang pada remaja putri meningkatkan kebutuhan zat besi yang jika tidak dipenuhi akan memicu perkembangan anemia. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Peran Zat Besi dan Nutrisi Pendukung
Zat besi adalah komponen esensial dalam sintesis hemoglobin, yaitu protein yang bertanggung jawab dalam pengikatan dan pengangkutan oksigen dalam darah. Kekurangan zat besi mengakibatkan produksi hemoglobin yang kurang optimal, yang pada akhirnya menimbulkan anemia defisiensi besi, jenis anemia yang paling umum pada remaja. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Nutrisi pendukung lain seperti vitamin C meningkatkan penyerapan zat besi non-heme, sedangkan vitamin B12 dan folat penting dalam pembentukan sel darah merah secara efektif. Kekurangan mikronutrien ini juga dapat memperburuk kondisi anemia meskipun mungkin tidak sebesar dampak kekurangan zat besi langsung. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Faktor Sosial dan Kebiasaan Makan
Berbagai faktor sosial memengaruhi kejadian anemia pada remaja. Pengetahuan nutrisi yang rendah, pola diet tidak seimbang, konsumsi makanan cepat saji yang rendah mikronutrien, dan kebiasaan melewatkan makan merupakan faktor risiko yang signifikan. [Lihat sumber Disini - jurnal.umj.ac.id]
Selain itu, status ekonomi, pendidikan orang tua, dan akses terhadap makanan bergizi juga memengaruhi praktik konsumsi gizi remaja. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Dampak Anemia terhadap Perkembangan Remaja
Anemia pada remaja tidak hanya berdampak pada aspek fisik seperti mudah lelah, pucat, dan penurunan kapasitas fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan kognitif, konsentrasi belajar, dan produktivitas akademik. Kekurangan hemoglobin berarti jaringan tubuh, termasuk otak, menerima lebih sedikit oksigen yang dapat memperlambat fungsi kognitif. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Perilaku Konsumsi Suplemen Penambah Darah
Suplemen penambah darah yang mengandung zat besi dan folat sering direkomendasikan untuk mencegah atau mengatasi anemia, terutama pada remaja putri yang menstruasinya tinggi. Namun, kepatuhan terhadap konsumsi suplemen besi sering menjadi tantangan karena efek samping gastrointestinal atau kurangnya pemahaman tentang pentingnya suplementasi. [Lihat sumber Disini - jurnal.umj.ac.id]
Strategi yang efektif memerlukan edukasi kesehatan, ketersediaan suplemen, serta pengawasan medis untuk memastikan bahwa suplementasi dilakukan dengan benar.
Peran Edukasi Kesehatan dalam Pencegahan Anemia
Edukasi kesehatan memegang peranan penting dalam pencegahan anemia di kalangan remaja. Pendidikan yang memadai tentang pentingnya diet seimbang, asupan zat besi, serta dampak buruk anemia dapat meningkatkan kesadaran dan perubahan perilaku. Integrasi pendidikan gizi ke dalam kurikulum sekolah, pelatihan untuk orang tua, dan kampanye kesehatan masyarakat merupakan langkah yang direkomendasikan untuk menurunkan angka anemia. [Lihat sumber Disini - jurnal.umj.ac.id]
Hubungan Menstruasi dengan Risiko Anemia
Faktor fisiologis seperti menstruasi pada remaja putri berkaitan erat dengan risiko anemia. Kehilangan darah setiap bulan meningkatkan kebutuhan zat besi secara signifikan. Bila asupan tidak mencukupi untuk menggantikan kehilangan tersebut, risiko anemia meningkat. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Durasi siklus menstruasi yang panjang atau perdarahan berlebihan juga berkontribusi lebih jauh terhadap kehilangan zat besi. [Lihat sumber Disini - ejurnaladhkdr.com]
Hambatan Remaja dalam Memenuhi Asupan Gizi
Hambatan praktis seperti preferensi makanan rendah zat besi, kebiasaan jajan di luar rumah, konsumsi minuman yang menghambat penyerapan zat besi seperti teh atau kopi dekat waktu makan, serta pola tidur atau aktivitas yang padat dapat menghambat pemenuhan kebutuhan gizi remaja. [Lihat sumber Disini - midwifery.iocspublisher.org]
Deteksi Dini dan Penatalaksanaan Anemia
Deteksi dini anemia penting dilakukan melalui pemeriksaan kadar hemoglobin sekitar usia awal remaja, terutama untuk remaja putri. Pemeriksaan laboratorium sederhana dapat membantu mengidentifikasi anemia secara dini sehingga intervensi nutrisi dan terapi suplemen dapat dimulai sebelum kondisi memburuk. [Lihat sumber Disini - who.int]
Penatalaksanaan anemia mencakup peningkatan asupan zat besi melalui diet dan suplemen, edukasi diet seimbang, serta pemantauan berkala terhadap status hemoglobin.
Program Intervensi untuk Menurunkan Angka Anemia
Program kesehatan masyarakat yang berhasil melibatkan sekolah, puskesmas, pemerintah, dan keluarga dalam memberikan edukasi gizi, suplementasi zat besi, peningkatan ketersediaan makanan bergizi di sekolah, serta monitoring status nutrisi remaja. Pendekatan menyeluruh ini terbukti dapat membantu menurunkan prevalensi anemia di berbagai komunitas. [Lihat sumber Disini - jurnal.umj.ac.id]
Kesimpulan
Anemia pada remaja merupakan kondisi yang umum dan berdampak luas pada kesehatan fisik dan perkembangan. Penyebab utama umumnya adalah kekurangan zat besi akibat asupan nutrisi yang tidak memadai serta faktor fisiologis seperti menstruasi. Intervensi melalui edukasi kesehatan, deteksi dini, perbaikan pola makan, dan suplementasi zat besi adalah strategi kunci dalam pencegahan dan penatalaksanaan anemia pada remaja. Melalui kolaborasi lintas sektor, prevalensi anemia pada kelompok usia ini dapat ditekan secara signifikan dengan manfaat kesehatan jangka panjang.