
Hubungan Anemia dan Prestasi Belajar
Pendahuluan
Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih melanda berbagai negara, termasuk Indonesia. Pada usia sekolah, anemia bukan hanya berdampak secara fisik seperti kelelahan dan pucat, tetapi juga berpotensi memengaruhi proses pembelajaran, kemampuan konsentrasi, memori, dan kemampuan kognitif lainnya yang penting dalam konteks akademik. Penelitian menunjukkan bahwa anak sekolah dengan anemia atau defisiensi zat besi cenderung menunjukkan skor akademik yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami kondisi tersebut, sehingga anemia dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi pada hambatan pencapaian prestasi belajar yang optimal. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Hubungan Anemia dan Prestasi Belajar
Definisi Hubungan Anemia dan Prestasi Belajar Secara Umum
“Anemia” secara umum merujuk pada kondisi ketika darah memiliki kapasitas yang lebih rendah untuk membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh karena turunnya konsentrasi hemoglobin atau jumlah sel darah merah. Dalam konteks pendidikan, kondisi anemia dianggap dapat menghambat proses belajar siswa karena pasokan oksigen yang tidak optimal ke otak menyebabkan lemah konsentrasi, daya ingat, serta fungsi kognitif lain yang berperan dalam proses akademik. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Definisi Hubungan Anemia dan Prestasi Belajar dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), anemia didefinisikan sebagai “kekurangan kadar hemoglobin dalam darah atau kekurangan butir darah merah.” Definisi ini menekankan kondisi klinis anemia yang dapat berimplikasi pada kemampuan tubuh termasuk fungsi otak yang berperan dalam prestasi belajar. [Lihat sumber Disini - kbbi.web.id]
Definisi Hubungan Anemia dan Prestasi Belajar Menurut Para Ahli
-
Pollitt et al. (1993) menyatakan anemia (terutama karena defisiensi zat besi) merupakan faktor yang memengaruhi kemampuan belajar karena berdampak pada kemampuan konsentrasi dan performa akademik anak usia sekolah. [Lihat sumber Disini - publications.aap.org]
-
Bruner et al. (2000) menemukan bahwa anak sekolah yang mendapatkan suplementasi zat besi mengalami peningkatan dalam beberapa skor kognitif, termasuk perhatian dan memori, dibandingkan dengan kelompok kontrol. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Studies on Nutrition and Child Development (Grantham-McGregor & Ani, 2001) mengemukakan bahwa anemia pada anak berkorelasi dengan keterlambatan perkembangan kognitif dan prestasi belajar lebih rendah. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Yeboah et al. (2024) dalam studi terbaru melaporkan bahwa anemia defisiensi zat besi berkaitan dengan skor fungsi kognitif yang lebih rendah pada remaja, yang dapat berimplikasi pada prestasi akademik. [Lihat sumber Disini - bmcpublichealth.biomedcentral.com]
Dampak Kekurangan Hemoglobin terhadap Konsentrasi
Kadar hemoglobin yang rendah mencerminkan turunnya kemampuan darah untuk membawa oksigen. Ketika pasokan oksigen ke otak tidak mencukupi, sel-sel otak tidak bekerja optimal, sehingga kemampuan untuk mempertahankan fokus, konsentrasi, dan perhatian siswa selama proses pembelajaran menjadi terganggu. Penelitian observasional menunjukkan bahwa siswa dengan anemia defisiensi zat besi memiliki skor konsentrasi, daya ingat, dan hasil kognitif yang lebih rendah dibandingkan siswa dengan status hematologi normal. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Contohnya, dalam sebuah studi intervensi, suplementasi zat besi pada anak usia sekolah terbukti meningkatkan skor konsentrasi dan daya ingat dibanding kelompok yang tidak menerima suplementasi. Hal ini menunjukkan hubungan sebab-akibat antara peningkatan kadar hemoglobin melalui suplementasi zat besi dan peningkatan kemampuan konsentrasi serta fungsi kognitif. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
Peran Zat Besi dalam Fungsi Kognitif
Zat besi adalah mineral esensial yang berperan penting dalam produksi hemoglobin dan transport oksigen dalam tubuh. Selain itu, zat besi juga berperan dalam fungsi neurotransmitter di otak dan produksi energi seluler. Ketika tubuh kekurangan zat besi, fungsi otak, seperti perhatian, memori, dan pemrosesan informasi, dapat terganggu.
Berbagai studi jurnal menunjukkan bahwa kekurangan zat besi pada anak usia sekolah berkaitan erat dengan penurunan fungsi kognitif. Salah satu mekanisme utamanya adalah gangguan pada sintesis neurotransmitter yang dibutuhkan untuk komunikasi antar neuron, seperti dopamin dan serotonin. Selain itu, zat besi juga penting untuk metabolisme energi otak yang memengaruhi kemampuan belajar dan berpikir analitis. [Lihat sumber Disini - ulilalbabinstitute.id]
Penelitian meta-analisis terbaru menunjukkan bahwa suplementasi zat besi secara signifikan dapat meningkatkan aspek kognitif seperti memori, perhatian, dan konsentrasi pada anak usia sekolah, meskipun pengaruhnya pada performa akademik secara langsung masih beragam tergantung metodologi studi. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
Faktor yang Menyebabkan Anemia pada Anak Sekolah
Anemia pada anak usia sekolah tidak muncul begitu saja; terdapat berbagai faktor yang berkontribusi terhadap kondisinya. Faktor utama yang sering ditemukan dalam literatur ilmiah adalah:
-
Defisiensi Zat Besi (Iron Deficiency), Penyebab paling umum anemia pada anak sekolah, biasanya akibat asupan zat besi yang kurang atau faktor metabolik yang memengaruhi penyerapan zat besi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Infeksi Parasit dan Penyakit Tropis, Cacing usus dan infeksi lainnya dapat menyebabkan kehilangan darah yang kronis dan menurunkan kadar hemoglobin. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Kebiasaan Makan Tidak Seimbang, Asupan makanan yang rendah zat besi dan nutrisi penting lainnya meningkatkan risiko anemia, apalagi bila dikombinasikan dengan perilaku makan yang buruk. [Lihat sumber Disini - ulilalbabinstitute.id]
-
Kebutuhan Tumbuh Cepat, Masa pertumbuhan yang cepat pada anak dan remaja meningkatkan kebutuhan zat besi. Bila kebutuhan ini tidak tercukupi, anak rentan mengalami anemia. [Lihat sumber Disini - ulilalbabinstitute.id]
Gangguan-gangguan ini tidak hanya menyebabkan anemia tetapi juga dapat memperburuk status gizi anak secara umum, yang selanjutnya berdampak pada proses belajar dan perkembangan kognitif mereka.
Hubungan Status Gizi dengan Performa Akademik
Status gizi secara keseluruhan merupakan salah satu penentu utama performa akademik siswa. Tidak hanya anemia, namun kekurangan mikronutrien lain seperti seng, vitamin B12, dan nutrisi mikro lainnya juga dapat berkontribusi terhadap penurunan kemampuan belajar.
Beberapa penelitian di Indonesia menunjukkan hubungan signifikan antara status anemia dan prestasi belajar siswa sekolah dasar. Hasil penelitian di Aceh Tamiang menemukan hubungan signifikan antara status anemia dan prestasi belajar siswa, di mana siswa dengan anemia cenderung memiliki prestasi akademik yang lebih rendah dibandingkan siswa tanpa anemia. [Lihat sumber Disini - journal.poltekkesaceh.ac.id]
Studi lain di Palu menunjukkan prevalensi anemia defisiensi besi tinggi di kalangan remaja putri dan adanya hubungan antara anemia dan pencapaian akademik yang kurang optimal, meskipun hubungan dengan indeks massa tubuh tidak signifikan. [Lihat sumber Disini - jurnal.unismuhpalu.ac.id]
Korelasi semacam ini memperkuat hipotesis bahwa status gizi, khususnya anemia, dapat berdampak pada kapasitas belajar dan performa akademik siswa, terutama melalui mekanisme penurunan konsentrasi dan fungsi kognitif. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Upaya Pencegahan dan Penanganan Anemia
Mengingat dampak negatif anemia terhadap prestasi belajar, intervensi pencegahan dan penanganan menjadi penting. Beberapa strategi yang direkomendasikan dalam literatur ilmiah antara lain:
-
Program Suplementasi Zat Besi, Suplementasi zat besi pada anak usia sekolah terbukti meningkatkan kadar hemoglobin dan beberapa aspek fungsi kognitif seperti konsentrasi dan memori. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Pendidikan Gizi Sekolah dan Orang Tua, Edukasi mengenai pentingnya makanan kaya zat besi (seperti daging merah, sayuran hijau, dan biji-bijian) dapat membantu meningkatkan asupan zat besi anak. [Lihat sumber Disini - ulilalbabinstitute.id]
-
Screening dan Monitoring Kesehatan Berkala, Pemeriksaan kadar hemoglobin secara rutin di sekolah dapat membantu mengidentifikasi siswa dengan risiko anemia sejak dini. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Kebijakan Gizi Sekolah, Kebijakan yang mendukung penyediaan makanan bergizi di kantin sekolah dapat membantu mencegah defisiensi zat besi. [Lihat sumber Disini - ulilalbabinstitute.id]
Upaya-upaya ini tidak hanya akan meningkatkan status anemia tetapi juga secara tidak langsung dapat membantu memperbaiki konsentrasi dan performa akademik siswa.
Kesimpulan
Berdasarkan kajian literatur ilmiah, anemia, terutama akibat defisiensi zat besi, memiliki hubungan yang kompleks dengan prestasi belajar siswa usia sekolah. Kondisi anemia berdampak pada kapasitas darah dalam mengangkut oksigen yang penting untuk fungsi otak, sehingga dapat menghambat kemampuan konsentrasi, daya ingat, dan beberapa aspek fungsi kognitif lainnya. Hal ini berimplikasi pada performa akademik siswa yang cenderung lebih rendah dibandingkan dengan siswa yang kadar hemoglobinnya normal. Status gizi keseluruhan, termasuk asupan zat besi, memainkan peran penting dalam mendukung proses pembelajaran dan hasil akademik. Upaya pencegahan dan penanganan anemia, melalui suplementasi, pendidikan gizi, serta kebijakan gizi sekolah, dapat membantu meningkatkan status kesehatan siswa dan mendukung prestasi belajar mereka.