
Hubungan Anemia dengan Kejadian Berat Badan Lahir Rendah
Pendahuluan
Anemia pada kehamilan tetap menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat penting di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi ini tidak hanya membahayakan kesehatan ibu, tetapi juga berpotensi memengaruhi pertumbuhan dan berat badan bayi saat lahir. Persoalan berat bayi lahir rendah (BBLR) memiliki implikasi jangka panjang terhadap kesehatan, tumbuh-kembang, dan survival bayi. Oleh karena itu, memahami hubungan antara anemia pada ibu hamil dan kejadian BBLR sangat penting untuk upaya pencegahan dan intervensi dini. Artikel ini membahas definisi anemia pada kehamilan, mekanisme pengaruhnya terhadap janin, data kejadian BBLR terkait anemia, serta peran suplementasi zat besi (Fe) dan faktor yang memperberat dampak anemia.
Definisi Anemia pada Kehamilan
Definisi secara umum
Anemia secara umum diartikan sebagai kondisi ketika tubuh memiliki jumlah sel darah merah yang terlalu sedikit atau penurunan konsentrasi hemoglobin dalam darah, sehingga mengurangi kapasitas darah membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
Definisi dalam KBBI
Menurut definisi formal (misalnya di KBBI), anemia adalah keadaan kekurangan darah atau kekurangan sel darah merah dalam darah. Namun, dalam konteks kehamilan, istilah ini lebih spesifik pada penurunan kadar hemoglobin atau sel darah merah akibat kebutuhan fisiologis bertambah dan asupan zat besi kurang.
Definisi menurut para ahli
-
Menurut World Health Organization (WHO): anemia pada kehamilan didefinisikan sebagai kondisi di mana kadar hemoglobin (Hb) ibu hamil kurang dari 11 g/dL. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-denpasar.ac.id]
-
Studi di Indonesia menyebut bahwa anemia kehamilan terjadi jika Hb < 11 g/dL pada trimester I dan III, atau < 10, 5 g/dL pada trimester II. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
-
Penelitian lain menyebut anemia sebagai penurunan konsentrasi hemoglobin darah akibat kekurangan zat besi, gangguan nutrisi, atau perdarahan. [Lihat sumber Disini - jurnal.htp.ac.id]
-
Dalam literatur obstetrik, anemia kehamilan dianggap sebagai “masalah gizi” yang paling umum pada ibu hamil, dan terkait dengan risiko morbiditas maternal serta hasil kehamilan yang buruk. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Penyebab dan Faktor Risiko Anemia pada Kehamilan
Banyak faktor yang dapat menyebabkan anemia pada ibu hamil, antara lain:
-
Kekurangan asupan zat besi (Fe) dari makanan. Asupan makanan yang kurang kaya zat besi menjadi penyebab paling umum. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperdharmawacana.ac.id]
-
Kekurangan asupan nutrisi lain seperti asam folat, vitamin B12, yang juga berkontribusi terhadap produksi sel darah merah. [Lihat sumber Disini - ejournal.nusantaraglobal.ac.id]
-
Status gizi buruk atau kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil, yang meningkatkan risiko anemia. [Lihat sumber Disini - journal.ipb.ac.id]
-
Faktor sosioekonomi rendah, akses antenatal care yang terbatas, dan kurangnya edukasi tentang gizi/tambah darah. [Lihat sumber Disini - journal.ipb.ac.id]
-
Perdarahan, baik perdarahan akut maupun kronis, yang bisa mengurangi jumlah darah dan sel darah merah. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperdharmawacana.ac.id]
Faktor-faktor tersebut sering saling tumpang-tindih, terutama di negara berkembang, sehingga meningkatkan prevalensi anemia pada ibu hamil. [Lihat sumber Disini - journal.ipb.ac.id]
Mekanisme Pengaruh Anemia terhadap Pertumbuhan Janin
Penurunan kadar hemoglobin (Hb) pada ibu hamil menyebabkan berkurangnya kapasitas darah membawa oksigen. Karena janin sangat bergantung pada suplai oksigen dan nutrisi dari ibu melalui plasenta, anemia dapat mengganggu proses pertumbuhan janin dengan beberapa mekanisme berikut:
-
Asupan oksigen ke janin berkurang → janin mengalami hipoksia ringan kronis, sehingga pertumbuhan intrauterin (intrauterine growth) bisa terhambat. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Perubahan pada vaskularisasi dan angiogenesis plasenta, akibat suplai besi dan oksigen yang kurang, dapat menyebabkan plasenta kurang optimal dalam mendukung pertumbuhan janin. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Nutrisi dan zat besi yang kurang juga mempengaruhi proses hematopoiesis dan perkembangan jaringan janin, sehingga berat badan lahir bisa lebih rendah. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Dengan demikian, anemia ibu hamil dapat memicu restriksi pertumbuhan janin, yang berujung pada BBLR.
Data Kejadian BBLR pada Ibu dengan Anemia
Berikut beberapa hasil penelitian terkini (tahun 2021, 2025 dan sebelum) yang mengaitkan anemia kehamilan dengan BBLR:
-
Penelitian di wilayah kerja Puskesmas Juwana (2025) menunjukkan bahwa anemia pada ibu hamil trimester III berkorelasi dengan berat bayi lahir rendah. [Lihat sumber Disini - ejr.umku.ac.id]
-
Sebuah penelitian di Indonesia (2022) menemukan bahwa ibu hamil dengan anemia memiliki risiko lebih tinggi melahirkan bayi BBLR dibandingkan ibu hamil tanpa anemia. [Lihat sumber Disini - thejmch.com]
-
Meta-analisis global menunjukkan bahwa anemia maternal meningkatkan odds ratio (OR) BBLR menjadi sekitar 1.23 (95% CI: 1.06, 1.43). [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Analisis terbaru (2025) memperkuat bahwa anemia kehamilan merupakan faktor risiko independen untuk BBLR dan persalinan prematur. [Lihat sumber Disini - bmcpregnancychildbirth.biomedcentral.com]
-
Selain itu, meta-analisis menunjukkan rata-rata pengurangan berat lahir pada bayi dari ibu anemis sekitar 60 gram dibanding bayi dari ibu normal. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Secara keseluruhan, bukti ilmiah cukup kuat bahwa anemia pada ibu hamil berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan kejadian BBLR.
Peran Suplementasi Fe dalam Mencegah BBLR
Suplementasi zat besi (Fe) selama kehamilan merupakan strategi utama untuk mencegah anemia dan komplikasi terkait, termasuk BBLR. Beberapa poin penting:
-
Pemberian tablet tambah darah (Fe) direkomendasikan sebagai bagian dari antenatal care untuk memenuhi kebutuhan zat besi tambahan, terutama bila asupan makanan kurang memadai. [Lihat sumber Disini - ejournal.stikesmajapahit.ac.id]
-
Intervensi gizi & suplementasi pada ibu hamil dapat memperbaiki status hemoglobin, mencegah anemia, serta mendukung pertumbuhan janin optimal, sehingga mengurangi risiko BBLR. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
-
Edukasi dan pemeriksaan dini (screening Hb) selama kehamilan juga penting agar anemia terdeteksi dan ditangani sejak awal, ideal sebelum trimester kedua agar suplai oksigen dan nutrisi optimal untuk janin. [Lihat sumber Disini - ejournal.pancabhakti.ac.id]
Dengan demikian, suplementasi Fe dan pemantauan status hemoglobin pada ibu hamil adalah intervensi kritis untuk mencegah BBLR.
Faktor yang Memperberat Dampak Anemia
Selain anemia itu sendiri, ada beberapa faktor yang dapat memperberat pengaruh anemia terhadap BBLR atau memperbesar risiko terjadinya anemia:
-
Status gizi buruk atau kurang energi kronis (KEK) → meningkatkan kemungkinan anemia serta menghambat pertumbuhan janin. [Lihat sumber Disini - journal.ipb.ac.id]
-
Asupan makanan yang kurang kaya zat besi maupun mikronutrien pendukung (asam folat, vitamin) → memperburuk kekurangan zat besi/hemoglobin. [Lihat sumber Disini - ejournal.nusantaraglobal.ac.id]
-
Kurangnya akses antenatal care, pemeriksaan Hb, edukasi maupun suplementasi, terutama di area dengan layanan kesehatan terbatas. [Lihat sumber Disini - journal.ipb.ac.id]
-
Faktor sosial ekonomi rendah: kemiskinan, kurangnya pengetahuan gizi, lingkungan dengan beban penyakit/inflamasi, dan faktor lainnya dapat memperparah anemia dan dampaknya. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Karena itu, menangani anemia tidak cukup hanya dengan suplementasi, faktor sosioekonomi dan akses kesehatan juga harus diperhatikan.
Dampak Anemia terhadap Kesehatan Ibu dan Bayi
Dampak anemia pada kehamilan tidak hanya pada berat lahir, tapi juga beragam konsekuensi bagi ibu dan bayi, antara lain:
-
Untuk ibu: kelelahan, pingsan, peningkatan denyut jantung, kesulitan tidur, risiko infeksi, preeklamsia, perdarahan saat persalinan, bahkan kematian maternal. [Lihat sumber Disini - mail.jik.stikesalifah.ac.id]
-
Untuk bayi: berat lahir rendah, kelahiran prematur, kematian neonatal atau perinatal, pertumbuhan dan perkembangan jangka panjang yang terganggu akibat rendahnya berat lahir. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Adanya risiko komplikasi persalinan, asfiksia neonatal, gangguan plasenta, dan morbiditas jangka panjang pada bayi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Dengan demikian, anemia kehamilan merupakan faktor risiko multifaset, menyentuh aspek kesehatan ibu, kelahiran, dan masa awal kehidupan bayi.
Kesimpulan
Anemia pada kehamilan, terutama apabila tidak dicegah atau ditangani, memiliki dampak serius terhadap kesehatan ibu dan bayi. Bukti dari berbagai penelitian dan meta-analisis menunjukkan bahwa anemia maternal secara signifikan meningkatkan risiko berat badan lahir rendah (BBLR), serta komplikasi terkait seperti persalinan prematur dan morbiditas neonatal. Penyebab anemia pada ibu hamil sangat beragam, mulai dari kekurangan asupan zat besi, status gizi buruk, sampai faktor sosioekonomi dan akses pelayanan kesehatan. Suplementasi zat besi (Fe), edukasi gizi, serta pemeriksaan Hb rutin selama kehamilan adalah intervensi utama yang direkomendasikan untuk menekan prevalensi anemia dan menurunkan kejadian BBLR. Namun demikian, untuk hasil optimal, pendekatan harus komprehensif, memperhatikan kondisi gizi, lingkungan sosial ekonomi, dan akses layanan antenatal.
Semoga artikel ini berguna dan bisa bantu edukasi masyarakat luas soal pentingnya deteksi dini dan pencegahan anemia pada ibu hamil.