Terakhir diperbarui: 11 January 2026

Citation (APA Style):
Davacom. (2026, 11 January). Budaya Viral: Konsep dan Perilaku Kolektif. SumberAjar. Retrieved 12 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/budaya-viral-konsep-dan-perilaku-kolektif 

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Budaya Viral: Konsep dan Perilaku Kolektif - SumberAjar.com

Budaya Viral: Konsep dan Perilaku Kolektif

Pendahuluan

Fenomena viral telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan digital modern. Dalam hitungan jam, bahkan menit, sebuah konten bisa tersebar luas ke jutaan pengguna di seluruh penjuru dunia, memengaruhi cara masyarakat berpikir, berbicara, dan bertindak. Cultural transmission di era digital tidak lagi berjalan secara lambat melalui media tradisional, tetapi berkembang pesat lewat jaringan sosial online yang melibatkan jutaan individu dalam interaksi simultan. Fenomena ini tidak hanya mencerminkan tren sementara, tetapi juga menggambarkan dinamika nilai budaya serta perilaku kolektif di masyarakat digital kontemporer. Budaya viral negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menunjukkan dampak signifikan terhadap nilai sosial, identitas generasi muda, serta bentuk komunikasi sosial secara umum.


Definisi Budaya Viral

Definisi Budaya Viral Secara Umum

Budaya viral secara umum merujuk pada fenomena di mana konten, berupa video, meme, tantangan, atau tagar, menyebar secara luas dan cepat melalui interaksi online dari satu pengguna ke pengguna lainnya. Konsep viral ini menyerupai cara kerja virus biologis yang berpindah dari satu host ke host lain, tetapi dalam konteks digital, ia berkaitan dengan kecepatan penyebaran informasi di jaringan sosial dan komunitas daring. Fenomena viral menunjukkan adanya proses social transmission di mana konten menjadi populer karena dikonsumsi, dibagikan, dan dimodifikasi oleh audiens yang luas dalam waktu singkat. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Definisi Budaya Viral dalam KBBI

Menurut definisi viral di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah “viral” berasal dari kata virus yang kemudian dipakai juga untuk menyebut sesuatu yang tersebar cepat seperti berita, gambar, atau video melalui internet. Viralitas adalah kualitas dari konten yang menjadi viral, yakni konten yang mampu menarik perhatian massa dan menyebar dengan cepat melalui media sosial serta platform digital tanpa perlu promosi berbayar. Selain itu, istilah budaya dalam KBBI merujuk pada keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat. Maka, budaya viral dapat dipahami sebagai praktek sosial baru yang berkembang terkait kebiasaan berbagi, mengonsumsi, serta memodifikasi informasi secara kolektif di era digital.

Definisi Budaya Viral Menurut Para Ahli

  1. Menurut penelitian Rachmad, konsep viral tidak semata-mata terjadi secara mekanis atau kebetulan, melainkan hasil interaksi antara konten, emosi manusia, audiens, dan sistem algoritma di media digital. Viral merupakan ekspresi dari perasaan bersama yang membentuk komunitas digital sementara yang kuat dan berdampak luas. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  2. Dalam kajian viral phenomenon, konten viral didefinisikan sebagai pola atau objek informasi yang mampu direplikasi dan menyebar secara cepat diantara pengguna karena adanya dorongan sosial untuk berbagi dan berpartisipasi dalam diskursus populer. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  3. Dalam kajian linguistik sosiokultural, viralitas ditandai oleh kemampuan konten untuk memicu interaksi social transmission antar pengguna serta menciptakan narasi kolektif yang mampu mempengaruhi opini publik dan perilaku sosial.

  4. Dalam konteks budaya digital, viralitas konten mencerminkan proses difusi budaya melalui teknologi komunikasi modern yang mengubah cara masyarakat berbagi makna, norma, dan praktik budaya.


Mekanisme Terbentuknya Konten Viral

Konten viral tidak terjadi begitu saja; ada beberapa faktor mekanis yang berperan dalam proses ini. Pertama, emosi memainkan peran penting dalam penyebaran informasi digital. Konten yang memicu emosi kuat, baik itu rasa kagum, lucu, marah, atau inspiratif, lebih mungkin dibagikan oleh pengguna karena kebutuhan psikologis untuk mengekspresikan pengalaman tersebut. [Lihat sumber Disini - faculty.wharton.upenn.edu]

Kedua, relevansi sosial dan konteks budaya turut menentukan viralitas. Konten yang berkaitan dengan pengalaman bersama, seperti tren budaya populer, tantangan di media sosial, atau tagar yang mencerminkan kesadaran sosial, menjadi lebih mudah diterima dan disebarkan oleh audiens yang besar. Ketiga, teknologi algoritma pada platform sosial seperti TikTok, Instagram, maupun X memainkan peran penting dalam mempercepat laju viralitas. Sistem ini memprioritaskan konten dengan tingkat engagement tinggi (mis. like, komentar, dan pembagian ulang), sehingga semakin cepat sebuah konten mendapat respons, semakin banyak pula yang melihatnya. Selain itu, social contagion, yaitu proses di mana satu orang menularkan perilaku atau informasi ke orang lain, juga merupakan bagian dari mekanisme di balik viralitas konten, karena pengguna sering kali meniru tren yang mereka lihat dalam jaringan sosial mereka.

Proses ini dapat diperkuat oleh struktur jaringan digital, di mana konten yang awalnya dibagikan oleh influencer atau figur populer lebih cepat ditemukan oleh komunitas yang lebih luas, sehingga menciptakan fenomena cascade atau gelombang penyebaran informasi yang massif.


Budaya Viral dan Perilaku Kolektif

Fenomena budaya viral memiliki hubungan erat dengan perilaku kolektif di era digital. Ketika konten menjadi viral, itu berarti jutaan individu berinteraksi dengan informasi yang sama pada waktu yang relatif bersamaan, yang pada akhirnya membentuk pola perilaku kolektif. Misalnya, penayangan massal video tantangan dance di platform TikTok, partisipasi dalam tagar sosial, atau respon terhadap meme budaya menunjukkan bagaimana individu tidak hanya mengonsumsi informasi tetapi juga ikut memproduksi dan memodifikasi konten tersebut sesuai dengan konteks sosial mereka.

Perilaku kolektif ini berbeda dari perilaku massa tradisional karena terjadi dalam domain digital yang heterogen: individu dari latar belakang budaya, usia, dan kepentingan yang berbeda dapat berpartisipasi dalam arus yang sama sekaligus mempertahankan kebebasan ekspresi mereka sendiri. Dalam konteks ini, viralitas menciptakan narasi kolektif sementara yang bisa memperkuat identitas kelompok, menyebarkan norma sosial baru, atau bahkan membentuk opini publik secara cepat.

Studi kasus viralitas juga menunjukkan bahwa proses ini mampu membentuk modal sosial dalam masyarakat, di mana interaksi online membentuk ikatan sosial baru yang mendorong kerja sama serta aksi kolektif terhadap isu sosial tertentu yang muncul dari fenomena viral itu sendiri. [Lihat sumber Disini - journal.formosapublisher.org]


Peran Media Sosial dalam Budaya Viral

Media sosial merupakan arena utama di mana budaya viral beroperasi. Platform-platform ini menyediakan infrastruktur teknis untuk produksi, distribusi, dan konsumsi konten secara instan di seluruh dunia. Melalui fitur berbagi, like, komentar, dan rekomendasi algoritma, media sosial menciptakan ekosistem di mana konten dapat tersebar secara eksponensial.

Selain itu, media sosial juga memungkinkan representasi identitas digital dan partisipasi aktif dari pengguna sebagai produsen konten. Penelitian menunjukkan bahwa melalui participative culture di media sosial, individu tidak lagi sekadar sebagai konsumen pasif tetapi bertransformasi menjadi produsen aktif yang berkontribusi pada penyebaran tren dan nilai budaya baru. [Lihat sumber Disini - kanal.umsida.ac.id]

Penting juga dicatat bahwa media sosial memiliki kekuatan ganda: di satu sisi, ia dapat mempercepat penyebaran informasi positif serta memperkuat hubungan sosial dan kreativitas; di sisi lain, media sosial juga dapat memfasilitasi penyebaran disinformasi, manipulasi virality, dan pola perilaku negatif apabila tidak diatur secara etis dan kritis. [Lihat sumber Disini - journals.usm.ac.id]


Dampak Budaya Viral terhadap Nilai Sosial

Dampak budaya viral pada nilai sosial sangat kompleks dan bersifat multidimensional. Di satu sisi, budaya viral dapat memperkuat nilai sosial positif dengan mendorong partisipasi, kreativitas, dan solidaritas dalam komunitas digital. Konten-konten viral yang menyangkut isu sosial misalnya dapat meningkatkan kesadaran akan masalah penting seperti kesehatan mental atau perubahan iklim, serta membuka ruang dialog antar generasi dan kelompok sosial.

Namun, budaya viral juga dapat membawa dampak negatif terhadap nilai sosial tradisional. Misalnya, penelitian yang mengkaji konten viral di komunitas pedesaan menunjukkan bahwa viralitas konten dapat mempercepat transformasi budaya yang terkadang mereduksi nilai moral serta tanggung jawab sosial yang ada dalam masyarakat lokal. [Lihat sumber Disini - journal.unesa.ac.id]

Selain itu, adanya praktik manipulatif, seperti penggunaan bot, akun palsu, pembayaran buzzers untuk memanipulasi virality, dapat merusak kualitas dialog sosial dan memperlemah deliberasi publik yang sehat. [Lihat sumber Disini - journals.usm.ac.id]


Budaya Viral dalam Masyarakat Digital

Dalam masyarakat digital, budaya viral mencerminkan cara baru manusia berinteraksi dengan informasi dan sesama pengguna. Individu tidak lagi hanya berperan sebagai pemirsa, tetapi sebagai agen aktif yang tidak hanya menerima tetapi juga menciptakan narasi budaya melalui konten mereka sendiri. Budaya viral menunjukkan fenomena kolektif yang dinamis, di mana tren budaya baru muncul secara cepat dan sering kali mengubah cara pandang serta interaksi sosial dalam jangka pendek.

Budaya digital kontemporer memperluas ruang publik tradisional, memungkinkan dialog dan partisipasi antar komunitas lintas batas geografis dan sosial. Namun, hal ini juga menuntut literasi media yang lebih tinggi agar pengguna dapat menavigasi informasi secara kritis, menyaring konten dengan nilai sosial positif, serta menghindari dampak negatif dari penyebaran konten yang tidak etis atau destruktif.


Kesimpulan

Budaya viral merupakan fenomena sosial-digital yang khas di era media sosial, di mana konten tertentu menyebar dengan cepat dan melibatkan perilaku kolektif dari individu di seluruh jaringan online. Fenomena ini bukan hanya soal popularitas konten semata, tetapi juga mencerminkan proses komunikasi budaya yang kompleks, termasuk bagaimana nilai sosial diproduksi, diinterpretasikan, dan dimodifikasi oleh masyarakat digital. Media sosial memainkan peran sentral dalam mempercepat viralitas, menciptakan ruang bagi identitas digital dan partisipasi aktif pengguna, tetapi juga memunculkan tantangan seperti manipulasi virality dan risiko erosi nilai sosial tradisional. Budaya viral menunjukkan bahwa di tengah dinamika digitalisasi, masyarakat terus beradaptasi dengan pola interaksi baru yang berbasis teknologi, menegaskan pentingnya pemahaman kritis terhadap fenomena ini agar dapat memaksimalkan dampak positifnya bagi perkembangan sosial dan budaya.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Budaya viral adalah fenomena sosial di mana suatu konten menyebar dengan sangat cepat melalui media digital dan media sosial, sehingga membentuk pola perilaku, cara berpikir, dan interaksi kolektif di masyarakat.

Konten dapat menjadi viral karena memicu emosi yang kuat, relevan dengan pengalaman sosial, mudah dibagikan, serta didukung oleh algoritma media sosial yang memprioritaskan konten dengan tingkat interaksi tinggi.

Budaya viral mendorong perilaku kolektif karena banyak individu secara bersamaan mengonsumsi, membagikan, dan meniru konten yang sama, sehingga membentuk tindakan dan respons sosial yang seragam di ruang digital.

Media sosial berperan sebagai sarana utama penyebaran budaya viral dengan menyediakan fitur berbagi, interaksi, dan sistem algoritma yang mempercepat distribusi konten ke audiens yang lebih luas.

Budaya viral dapat memperkuat nilai sosial seperti solidaritas dan partisipasi, tetapi juga berpotensi melemahkan nilai moral dan etika jika konten viral bersifat negatif atau manipulatif.

Dalam masyarakat digital, budaya viral membentuk cara baru berkomunikasi, mengekspresikan identitas, serta membangun opini publik, sekaligus menuntut kemampuan literasi digital yang lebih kritis.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Perilaku Kolektif: Konsep dan Manifestasi Sosial Identitas Kolektif: Konsep dan Pembentukan Kelompok Homogenisasi Budaya: Konsep dan Kritik Sosial Globalisasi Budaya: Konsep dan Implikasi Sosial Identitas Budaya: Konsep, Pembentuk, dan Perannya Aktivisme Digital: Konsep dan Gerakan Sosial Baru Budaya Populer: Konsep dan Konstruksi Sosial Analisis Naratif: Ciri dan Contoh Penggunaan Perubahan Budaya: Konsep dan Faktor Pendorong Manajemen Penggunaan Antibiotik Rasional Gerakan Sosial: Konsep, Jenis, dan Tahapannya Perilaku Komunal: Konsep dan Praktik Kolektif Akulturasi Budaya: Konsep dan Proses Interaksi Norma Budaya: Konsep dan Pengaruh Perilaku Dampak Media Sosial terhadap Tren Penggunaan Obat Budaya Organisasi: Konsep, Elemen, dan Dampaknya Kebudayaan Kontemporer: Konsep, Unsur, dan Ciri Cross Cultural Research: Definisi, Tujuan, dan Contoh Penerapan Relativisme Akademik: Pengertian dan Dampaknya Interaksi Antarbudaya: Konsep dan Tantangan Sosial
Artikel Terbaru
Kepercayaan Publik terhadap Pemerintah: Konsep dan Legitimasi Kebijakan Publik: Konsep dan Dampak Sosial Advokasi Sosial: Konsep dan Perubahan Kebijakan Good Governance: Konsep dan Akuntabilitas Sosial Civil Society: Konsep dan Peran Sosial Demokrasi Sosial: Konsep dan Partisipasi Warga Identitas Kolektif: Konsep dan Pembentukan Kelompok Dinamika Kelompok Sosial: Konsep dan Interaksi Internal Inklusi Sosial: Konsep dan Keadilan Sosial Eksklusi Sosial: Konsep dan Marginalisasi Minoritas Sosial: Konsep dan Relasi Kekuasaan Mayoritas Sosial: Konsep dan Dominasi Sosial Polarisasi Sosial: Konsep dan Konflik Kepentingan Interaksi Antarbudaya: Konsep dan Tantangan Sosial Relasi Sosial Virtual: Konsep dan Perubahan Makna