
Dampak Media Sosial terhadap Tren Penggunaan Obat
Pendahuluan
Media sosial kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Dengan jutaan konten yang dibagikan setiap hari, platform seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan YouTube tidak hanya memengaruhi tren gaya hidup, tetapi juga membentuk cara orang memperoleh informasi kesehatan, termasuk tentang penggunaan obat-obatan. Penyebaran informasi, baik yang akurat maupun yang menyesatkan, dapat memengaruhi keputusan individu dalam mencari, memilih, dan menggunakan obat. Fenomena ini berdampak penting terhadap kesehatan masyarakat, terutama ketika konten yang beredar tidak selalu berasal dari sumber medis terpercaya. Para peneliti dan praktisi kesehatan kini semakin memperhatikan hubungan antara penggunaan media sosial dan perilaku penggunaan obat, termasuk praktik swamedikasi yang dipengaruhi oleh informasi online. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Dampak Media Sosial terhadap Tren Penggunaan Obat
Definisi Secara Umum
Dampak media sosial terhadap tren penggunaan obat adalah efek yang ditimbulkan oleh konten yang dibagikan melalui platform digital dan aplikasi media sosial terhadap pemahaman, sikap, serta perilaku individu dalam hal mencari, memilih, dan menggunakan obat-obatan. Media sosial memungkinkan informasi kesehatan tersebar dengan cepat, dari sumber resmi seperti lembaga kesehatan hingga konten dari individu atau influencer tanpa latar belakang medis. Informasi yang diterima oleh pengguna dapat memengaruhi persepsi mereka tentang manfaat, risiko, dosis, atau bahkan penggunaan non-reseptif obat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa paparan terhadap konten kesehatan di media sosial berhubungan dengan kecenderungan perilaku tertentu terkait obat, termasuk peningkatan swamedikasi atau penggunaan obat tanpa konsultasi profesional. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi dalam KBBI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, media sosial didefinisikan sebagai “saluran atau alat komunikasi yang bersifat sosial berbasis teknologi digital yang memungkinkan interaksi antar pengguna” (KBBI). Sementara “obat” didefinisikan sebagai “zat atau kombinasi zat yang digunakan untuk mencegah, menyembuhkan, mengobati, atau meringankan penyakit”. Dampak media sosial terhadap tren penggunaan obat secara terminologis adalah pengaruh yang ditimbulkan oleh media sosial terhadap pola penggunaan atau permintaan obat dalam masyarakat melalui penyebaran informasi, diskusi, dan rekomendasi yang terjadi di ruang digital tersebut. (Definisi istilah media sosial dan obat diambil dari KBBI online).
Definisi Menurut Para Ahli
-
Menurut Helmy (2024), dampak media sosial terhadap tren kesehatan termasuk penggunaan obat adalah efek dari paparan konten digital pada sikap dan perilaku kesehatan individu, yang mencakup kepercayaan terhadap informasi yang diterima dan kecenderungan untuk melakukan tindakan kesehatan tertentu berdasarkan informasi tersebut.
-
Menurut Powell et al. (2024), influencer di media sosial tidak hanya membentuk tren budaya populer, tetapi juga dapat memengaruhi keputusan kesehatan pengikutnya, termasuk pilihan tentang penggunaan obat atau terapi. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Suarez-Lledo & Alvarez-Galvez (2021) menyatakan bahwa kesehatan miskin informasi atau misinformation di media sosial mengubah persepsi risiko dan manfaat obat, sehingga memengaruhi perilaku penggunaan secara signifikan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Anestya (2021) dalam penelitian empirisnya menunjukkan bahwa media sosial merupakan sumber utama informasi obat bagi sebagian besar responden, yang meningkat seiring dengan tingkat penggunaan platform digital. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
Peran Influencer dalam Pembentukan Tren Obat
Influencer media sosial kini menjadi sumber referensi informasi kesehatan bagi banyak pengguna internet. Influencer termasuk individu yang memiliki sejumlah besar pengikut di platform seperti Instagram atau TikTok dan sering dianggap sebagai otoritas dalam topik tertentu oleh audiensnya. Pengaruh mereka terhadap tren penggunaan obat dapat bersifat positif maupun negatif.
Dalam konteks kesehatan, beberapa influencer membagikan pengalaman pribadi mereka terkait penggunaan obat, terapi kesehatan, atau suplemen tertentu. Informasi ini terkadang disajikan secara menarik, dengan narasi pribadi yang kuat, sehingga mampu menarik perhatian pengikut yang kemudian meniru pola tersebut tanpa konsultasi profesional. Powell et al. (2024) menunjukkan bahwa influencer dapat memengaruhi keputusan kesehatan pengikut, termasuk penggunaan obat, baik melalui pembelajaran sosial maupun normalisasi perilaku tertentu. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Fenomena patient influencers, yaitu individu yang berbagi pengalaman mereka terkait penyakit atau penggunaan obat, termasuk salah satu bentuk nyata dari dampak ini. Studi yang mengeksplorasi fenomena ini menunjukkan bahwa mereka sering menjadi sumber informasi bagi orang lain yang mencari saran non-formal tentang penggunaan obat, meskipun konten tersebut kadang sulit dipahami secara medis atau tidak sepenuhnya akurat. [Lihat sumber Disini - jmir.org]
Selain itu, buku ilmiah yang ditulis Fathiyyah Azizah menunjukkan bahwa influencer dapat memainkan peran dalam penyampaian literasi obat melalui konteks, komunikasi, kolaborasi, dan koneksi yang mereka bangun dalam platform digital. Namun, efektivitas mereka sangat bergantung pada tingkat literasi digital audiens serta kredibilitas informasi yang dibagikan. [Lihat sumber Disini - repositori.telkomuniversity.ac.id]
Interaksi antara pengikut dan influencer juga dapat memperkuat tren penggunaan obat tertentu. Ketika konten viral tentang suatu obat atau suplemen menyebar secara luas, hal ini dapat menciptakan persepsi positif atau normalisasi tentang penggunaan obat tersebut di kalangan pengguna media sosial, terutama yang kurang memiliki latar belakang kesehatan.
Tingkat Kepercayaan Masyarakat terhadap Informasi Online
Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap informasi online terkait obat menjadi faktor kunci dalam bagaimana media sosial memengaruhi tren penggunaan obat. Penelitian yang dilakukan terhadap pengguna media sosial menunjukkan bahwa sebagian besar orang mempercayai konten yang mereka temukan secara online cukup tinggi, terutama bila konten tersebut dibagikan oleh individu yang mereka anggap relevan atau berpengalaman. Anestya (2021) menemukan bahwa sebagian besar responden (63, 1%) mempercayai informasi obat yang mereka baca melalui media sosial karena alasan kemudahan akses dan kepraktisan platform. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
Namun, tingkat kepercayaan ini tidak selalu mencerminkan akurasi. Suarez-Lledo & Alvarez-Galvez (2021) mengidentifikasi tingginya prevalensi misinformation atau informasi kesehatan yang tidak akurat di media sosial, termasuk konten terkait obat, yang dapat mencapai sampai 87% dalam beberapa studi. Informasi yang salah atau menyesatkan ini mampu memengaruhi persepsi risiko atau manfaat obat secara tidak proporsional, sehingga dapat memperkuat keyakinan masyarakat terhadap obat tertentu tanpa dukungan bukti ilmiah yang kuat. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Faktor lain yang memengaruhi tingkat kepercayaan ini adalah keterbatasan literasi kesehatan digital masyarakat. Ketika individu tidak memiliki keterampilan untuk mengevaluasi kualitas informasi secara kritis, mereka cenderung menerima konten yang bersifat emosional atau anekdot pribadi sebagai fakta. Ini berpotensi memperkuat keputusan untuk melakukan praktik swamedikasi atau mengikuti tren penggunaan obat yang tidak aman atau belum terbukti manfaatnya secara klinis.
Risiko Informasi Obat yang Tidak Akurat
Misinformasi kesehatan yang tersebar di media sosial membawa konsekuensi nyata bagi perilaku penggunaan obat. Suarez-Lledo & Alvarez-Galvez (2021) menunjukkan bahwa konten yang salah atau menyesatkan, termasuk klaim tak berdasar tentang obat tertentu, bisa lebih cepat menyebar dibandingkan informasi ilmiah yang terverifikasi, terutama apabila dikemas dengan narasi kuat atau testimonial pribadi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Risiko ini termasuk penyalahgunaan obat, penggunaan obat yang tidak tepat dosisnya, atau pengambilan keputusan kesehatan tanpa konsultasi profesional. Hal ini bisa memperbesar bahaya efek samping, interaksi obat yang tidak diinginkan, hingga resistensi obat. Ketika informasi obat yang tidak akurat disebarkan secara luas, masyarakat mungkin memiliki keyakinan kuat terhadap klaim tertentu, meskipun klaim tersebut tidak didukung bukti klinis atau praktik medis yang benar.
Contoh nyata dari risiko informasi yang tidak akurat adalah penyebaran konten viral yang mempromosikan obat atau suplemen tertentu tanpa bukti ilmiah yang jelas. Konten semacam ini dapat membentuk tren yang tidak sehat, mendorong penggunaan obat yang tidak sesuai indikasi, atau memberikan harapan yang salah kepada individu tentang efek obat tertentu.
Pengaruh Media Sosial terhadap Swamedikasi
Swamedikasi adalah praktik menggunakan obat tanpa konsultasi dengan profesional kesehatan, sering kali berdasarkan informasi yang diperoleh sendiri, termasuk melalui internet atau media sosial. Studi di beberapa negara menunjukkan bahwa media sosial turut memengaruhi perilaku swamedikasi di masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara paparan konten online dengan peningkatan kecenderungan swamedikasi, baik untuk kondisi ringan maupun penggunaan obat tertentu yang lebih kompleks. [Lihat sumber Disini - jyoungpharm.org]
Salah satu riset cross-sectional menyimpulkan bahwa media sosial memengaruhi praktik swamedikasi, meskipun tidak selalu berpengaruh langsung terhadap hasil terapi, namun tetap teridentifikasi sebagai faktor perilaku yang signifikan. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Penyebab utama tingginya praktik swamedikasi yang dipengaruhi media sosial adalah mudahnya akses informasi tanpa keterlibatan tenaga medis, serta persepsi bahwa informasi tersebut cukup untuk pengambilan keputusan. Ketika orang menemukan narasi pengalaman pribadi tentang penggunaan obat tertentu dan merasa yakin akan manfaatnya, mereka cenderung mencoba obat tersebut meskipun tidak cocok atau aman bagi kondisi kesehatan mereka.
Strategi Edukasi Digital yang Aman
Untuk menghadapi dampak media sosial terhadap tren penggunaan obat, strategi edukasi digital yang aman dan efektif sangat diperlukan. Edukasi ini harus mencakup peningkatan literasi kesehatan digital masyarakat, sehingga mereka mampu mengevaluasi kualitas informasi secara kritis dan membedakan antara konten yang akurat dan yang menyesatkan.
Strategi yang bisa diterapkan antara lain:
-
Kampanye Informasi Terverifikasi: Pihak kesehatan pemerintah dan profesional medis perlu hadir secara aktif di media sosial dengan konten yang terpercaya dan mudah dipahami, guna mengimbangi konten yang tidak akurat atau menyesatkan.
-
Kolaborasi dengan Influencer yang Kredibel: Menggandeng influencer yang memahami literasi kesehatan dapat membantu menyebarkan informasi yang benar dan mengurangi penyebaran misinformation.
-
Peningkatan Literasi Digital: Masyarakat perlu dibekali dengan keterampilan untuk memeriksa sumber informasi, memahami konteks medis, serta mengevaluasi apakah klaim kesehatan yang beredar didukung oleh bukti ilmiah atau tidak.
-
Regulasi dan Pengawasan Konten: Platform media sosial dan otoritas terkait perlu bekerja sama dalam memantau konten kesehatan yang beredar, serta menandai atau menghapus informasi yang terbukti salah dan berbahaya.
Kesimpulan
Dampak media sosial terhadap tren penggunaan obat sangat kompleks dan mencakup pengaruh informasi yang tersebar secara online terhadap perilaku masyarakat. Media sosial telah menjadi sumber utama informasi kesehatan bagi banyak individu, tetapi tidak semua konten yang beredar bersifat akurat atau dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Influencer dan konten viral dapat membentuk persepsi serta praktik penggunaan obat, termasuk swamedikasi tanpa konsultasi profesional, yang membawa risiko kesehatan nyata. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk meningkatkan keterampilan literasi kesehatan digital dan bagi para pemangku kebijakan serta profesional kesehatan untuk menyediakan informasi terpercaya yang mudah diakses. Strategi edukasi digital yang aman dan kolaboratif antara pihak kesehatan dan platform media sosial menjadi langkah penting untuk meminimalkan dampak negatif sekaligus memaksimalkan manfaat informasi yang akurat dan bermanfaat dalam konteks kesehatan masyarakat.