
Faktor yang Mempengaruhi Berat Badan Lahir Bayi
Pendahuluan
Berat badan lahir bayi adalah salah satu indikator utama kesehatan neonatal dan prognosa tumbuh kembangnya di masa depan. Bayi dengan berat lahir normal cenderung memiliki peluang lebih baik untuk bertahan hidup, tumbuh optimal, dan mengurangi risiko komplikasi jangka pendek atau panjang. Sebaliknya, bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) atau tidak ideal sering menghadapi risiko kematian neonatal, gangguan tumbuh-kembang, dan masalah kesehatan di kemudian hari. Oleh karena itu, penting untuk memahami berbagai faktor yang mempengaruhi berat badan lahir, mulai dari faktor genetika, nutrisi ibu, kesehatan ibu selama kehamilan, hingga faktor lingkungan dan pelayanan antenatal. Artikel ini membahas faktor-faktor tersebut secara mendalam berdasarkan bukti ilmiah terkini.
Definisi Berat Badan Lahir
Definisi Berat Badan Lahir Secara Umum
Berat badan lahir (birth weight) merujuk pada berat seorang bayi pada saat dilahirkan. Secara umum, berat lahir bayi baru lahir dikategorikan sebagai “normal” bila berada pada kisaran antara 2.500 gram hingga 4.000 gram, meskipun rentang ini dapat sedikit berbeda tergantung pedoman kesehatan lokal dan kebijakan rumah sakit. Bayi dengan berat lahir kurang dari 2.500 gram sering disebut sebagai “berat lahir rendah” (low birth weight / LBW).
Definisi Berat Badan Lahir dalam KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “berat lahir” berarti “berat badan bayi pada waktu lahir”. Istilah “berat badan lahir rendah” digunakan untuk menggambarkan bayi yang lahir dengan berat badan di bawah batas normal, meskipun KBBI tidak selalu mencantumkan angka spesifik seperti 2.500 gram sebagai ambang batas.
Definisi Berat Badan Lahir Menurut Para Ahli
Berikut beberapa definisi dari literatur/ahli:
-
Menurut WHO dan banyak penelitian perinatal, bayi dikategorikan sebagai LBW jika berat lahir < 2.500 gram.
-
Dalam kajian ilmiah di Indonesia, peneliti seperti Astuti & Yunita (2022) mendefinisikan BBLR sebagai bayi lahir dengan berat < 2.500 gram. [Lihat sumber Disini - gk.jurnalpoltekkesjayapura.com]
-
Selain kategori “normal” dan “rendah”, beberapa literatur juga membedakan “berat lahir tinggi” (macrosomia), meskipun fokus artikel ini lebih pada faktor penurunan berat lahir.
-
Para peneliti kesehatan ibu dan anak menyepakati bahwa berat lahir bukan hanya hasil dari genetika, tetapi dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara faktor maternal, lingkungan, dan pelayanan kesehatan. [Lihat sumber Disini - jurnal.unw.ac.id]
Dengan demikian, berat badan lahir mencerminkan hasil akhir dari proses kehamilan, dari fertilisasi hingga persalinan, dan menjadi indikator awal kondisi kesehatan bayi.
Faktor Genetik dan Keturunan
Faktor genetik dan keturunan dari orang tua berperan dalam menentukan ukuran bayi saat lahir, termasuk berat badan. Genetika dapat mempengaruhi aspek-aspek seperti tinggi dan kerangka tubuh orang tua, metabolisme, kemampuan plasenta dalam mengalirkan nutrisi, serta predisposisi terhadap kondisi medis tertentu.
Meski demikian, literatur yang menitikberatkan hanya pada genetika relatif terbatas dibandingkan penelitian tentang faktor maternal dan lingkungan. Hal ini dikarenakan berat badan lahir merupakan hasil akhir dari interaksi kompleks, genetika memberikan “potensi dasar”, tetapi manifestasinya sangat dipengaruhi oleh kondisi ibu selama kehamilan (nutrisi, kesehatan, lingkungan, pelayanan).
Karena keterbatasan bukti kuantitatif terkini yang spesifik mengisolasi efek genetika terhadap berat lahir (terutama di Indonesia), peran genetika sering dianggap sebagai “faktor predisposisi”, bukan determinan tunggal. Oleh karena itu, dalam upaya menurunkan kejadian BBLR, intervensi biasanya lebih difokuskan pada faktor maternal dan lingkungan.
Pengaruh Nutrisi Ibu Selama Kehamilan
Status nutrisi ibu hamil adalah salah satu faktor paling penting yang memengaruhi berat badan lahir bayi. Asupan energi, makronutrien (protein, karbohidrat, lemak), serta mikronutrien (seperti zat besi, asam folat, dan vitamin) sangat menentukan pertumbuhan janin.
Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa ibu dengan status gizi buruk atau defisiensi gizi lebih rentan melahirkan bayi dengan berat lahir rendah. [Lihat sumber Disini - jurnal.fk.uisu.ac.id]
Kekurangan zat besi, yang dapat menyebabkan anemia, adalah salah satu indikator buruknya asupan dan cadangan nutrisi. Anemia pada ibu hamil mempengaruhi suplai oksigen dan nutrisi ke janin, sehingga menghambat pertumbuhan intrauterin. Beberapa penelitian di RS dan Puskesmas menunjukkan bahwa kadar hemoglobin (Hb) ibu hamil berhubungan signifikan dengan berat lahir bayi. [Lihat sumber Disini - gk.jurnalpoltekkesjayapura.com]
Lebih lanjut, kekurangan energi kronis (chronic energy deficiency, CED) pada ibu hamil juga dikaitkan dengan peningkatan risiko BBLR, karena tubuh ibu tidak memiliki cadangan energi dan nutrisi cukup untuk mendukung pertumbuhan janin. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Dengan demikian, asupan nutrisi yang adekuat selama kehamilan, termasuk konsumsi makanan bergizi, suplemen zat besi/folat, dan pemantauan status gizi ibu, adalah strategi krusial untuk mencegah BBLR dan mendukung pertumbuhan janin optimal.
Kondisi Kesehatan Ibu (Anemia, Hipertensi, Diabetes, dll.)
Kesehatan ibu selama kehamilan memainkan peran besar dalam menentukan berat badan lahir bayi. Berbagai kondisi medis seperti anemia, hipertensi (termasuk preeklampsia/eklampsia), dan diabetes gestasional atau melitus dapat mempengaruhi suplai oksigen dan nutrisi ke janin, pertumbuhan plasenta, dan durasi kehamilan.
Misalnya, penelitian di RS di Kalimantan Timur menemukan bahwa anemia dan usia gestasi berpengaruh signifikan terhadap kejadian BBLR. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikescendekiautamakudus.ac.id]
Penelitian lain melaporkan bahwa hipertensi kehamilan (seperti preeklampsia) secara dominan terkait dengan berat lahir rendah. [Lihat sumber Disini - oahsj.org]
Kondisi-kondisi ini bisa menghambat perfusi plasenta, sehingga oksigen dan nutrisi tidak tersalurkan dengan optimal ke janin, atau memicu kelahiran prematur, yang keduanya berdampak pada berat badan bayi saat lahir. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Dengan demikian, pemantauan kondisi kesehatan ibu, termasuk pemeriksaan Hb, tekanan darah, glukosa darah, dan komplikasi kehamilan, serta penanganan tepat selama kehamilan, adalah aspek penting untuk mencegah BBLR.
Faktor Lingkungan dan Kebiasaan Ibu
Di luar faktor biologis dan medis, lingkungan tempat ibu tinggal serta kebiasaan sehari-hari juga berpengaruh terhadap berat badan lahir bayi. Faktor seperti status sosial ekonomi, polusi udara, stres, paparan racun lingkungan, ketersediaan makanan bergizi, dan akses terhadap layanan kesehatan dapat memengaruhi kesehatan ibu dan janin.
Menurut tinjauan literatur terbaru, paparan lingkungan, termasuk kualitas air, sanitasi, polusi udara, serta kondisi sosial ekonomi dan akses pelayanan kesehatan termasuk dalam faktor risiko kejadian BBLR. [Lihat sumber Disini - callforpaper.unw.ac.id]
Misalnya, penelitian di daerah industral dengan polusi tinggi menunjukkan peningkatan insiden BBLR. [Lihat sumber Disini - journal.unnes.ac.id]
Kebiasaan ibu seperti makanan tidak sehat, konsumsi kurang protein/kalori, kurang suplemen, atau kurang kunjungan antenatal juga dapat memperburuk risiko ini. Kombinasi antara lingkungan yang kurang mendukung dan kebiasaan kurang sehat meningkatkan kemungkinan bayi lahir dengan berat kurang ideal.
Pengaruh Usia dan Paritas (Jumlah Kehamilan Sebelumnya)
Usia ibu saat hamil dan paritas (jumlah kehamilan sebelumnya) adalah dua faktor maternal yang sering dikaitkan dengan berat badan lahir bayi.
Beberapa penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa ibu di usia “risiko” (misalnya < 20 tahun atau > 35 tahun) memiliki kecenderungan lebih besar melahirkan bayi dengan BBLR. [Lihat sumber Disini - gk.jurnalpoltekkesjayapura.com]
Selain itu, paritas juga penting: ibu primipara (melahirkan pertama kalinya) atau ibu dengan paritas tinggi dapat memiliki risiko berbeda dibanding ibu dengan paritas sedang. Dalam penelitian Astuti & Yunita (2022), paritas memiliki hubungan bermakna dengan berat lahir bayi. [Lihat sumber Disini - gk.jurnalpoltekkesjayapura.com]
Beberapa penelitian lain mendukung bahwa kombinasi usia ibu dan paritas, terutama kehamilan pertama di usia sangat muda ataupun kehamilan banyak dengan interval pendek, dapat meningkatkan risiko BBLR. [Lihat sumber Disini - jurnal.fk.uisu.ac.id]
Faktor ini bisa berkaitan dengan kesiapan fisik dan biologis ibu, cadangan nutrisi, serta kemampuan tubuh ibu dalam menopang kehamilan secara optimal.
Peran Pemeriksaan ANC (Antenatal Care) terhadap Berat Badan Lahir
Pelayanan antenatal care (ANC) selama kehamilan memiliki peranan penting dalam mendeteksi dan menangani faktor risiko yang berpotensi menurunkan berat lahir bayi, seperti anemia, hipertensi, malnutrisi, gizi buruk, serta komplikasi kehamilan lain.
Tinjauan literatur menunjukkan bahwa akses ke perawatan antenatal, konseling nutrisi, suplementasi, serta monitoring kondisi ibu dapat membantu menurunkan kejadian BBLR. [Lihat sumber Disini - callforpaper.unw.ac.id]
Misalnya, dalam penelitian di Puskesmas Situbondo (2020), kadar Hb ibu saat hamil, yang mempengaruhi BBLR, dianalisis bersama variabel seperti paritas, usia ibu, status gizi, dan interval kehamilan. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
ANC memungkinkan deteksi dini dan intervensi terhadap anemia, tekanan darah tinggi, gizi buruk, dan faktor risiko lainnya, sehingga mendukung tumbuh kembang janin secara optimal dan mengurangi risiko bayi lahir dengan berat badan rendah.
Dampak Berat Badan Lahir terhadap Kesehatan Bayi
Berat badan lahir bayi, terutama bila terlalu rendah, berdampak langsung terhadap kesehatan neonatal dan potensi tumbuh kembang di masa depan.
Bayi dengan BBLR memiliki risiko lebih tinggi untuk:
-
Kematian neonatal atau morbiditas di masa neonatus. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikescendekiautamakudus.ac.id]
-
Gangguan tumbuh kembang dan perkembangan kognitif karena cadangan nutrisi dan organ tubuh yang belum optimal. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikescendekiautamakudus.ac.id]
-
Risiko masalah kesehatan jangka panjang, seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, gangguan metabolik, jika kondisi “programming” janin tidak optimal. Ini sejalan dengan teori Thrifty phenotype dan Metabolic imprinting: kekurangan nutrisi atau oksigen selama masa intrauterin dapat mempengaruhi struktur organ dan fungsi fisiologis sehingga mengubah risiko penyakit di masa dewasa. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Dengan demikian, menjaga agar berat lahir berada dalam kisaran ideal bukan hanya penting untuk kelangsungan hidup neonatal, tetapi juga untuk mendukung tumbuh kembang jangka panjang dan mencegah penyakit kronis.
Kesimpulan
Berat badan lahir bayi dipengaruhi oleh banyak faktor, dari genetika dan keturunan, nutrisi ibu selama kehamilan, kondisi kesehatan ibu (seperti anemia, hipertensi, diabetes), faktor lingkungan dan kebiasaan ibu, usia ibu dan paritas, hingga kualitas pelayanan antenatal (ANC). Interaksi kompleks dari faktor-faktor ini menentukan apakah bayi akan lahir dengan berat ideal atau berisiko BBLR.
Upaya pencegahan BBLR harus bersifat multipronged: memastikan ibu hamil mendapat nutrisi memadai, suplementasi bila diperlukan, pemantauan kondisi kesehatan ibu secara rutin, mengoptimalkan ANC, serta memperhatikan lingkungan dan gaya hidup. Dengan demikian, diharapkan bayi lahir dengan berat ideal, yang akan meningkatkan peluang tumbuh kembang optimal dan menurunkan risiko komplikasi baik jangka pendek maupun panjang.